
Daffin tersadar beberapa jam setelah tumbang. Dengan mata mengerjap ia berusaha mengembalikan kesadarannya. Begitu matanya terbuka lebar, ia melihat dirinya sedang berada di ruangan yang tak biasa. Ruangan itu adalah sebuah kamar yang sangat elegan dan ada kesan mewah di dalamnya. Daffin yang masih ingat pergerakan terakhir sebelum ia tak sadarkan diri, mulai berpikir keras. Ia ingat betul saat itu dirinya tengah berjalan ke gudang di belakang sekolah. Tapi sekarang dirinya telah berada di sebuah kamar yang entah dimana.
Daffin hendak bangun dari tempat tidurnya namun matanya membelalak kaget saat ia tahu dirinya hanya terbalut sebuah selimut. Ia lebih terkejut lagi saat melihat ada seorang gadis yang tengah meringkuk di pojokan kamar dengan keadaan yang menyedihkan.
Gadis itu juga berbalut sebuah selimut, namun Daffin yakin dia berada dalam keadaan tak berbusana. Ia juga melihat banyak luka di wajah dan beberapa area di tubuhnya yang masih terlihat. Gadis itu menangis dan tampak ketakutan.
Daffin berpikir keras tentang apa yang terjadi saat itu. Tapi kepalanya seperti berat dan tak mampu memikirkan apapun. Ia juga tak mengenal gadis itu, ataupun dimana keberadaannya saat ini. Daffin mencari baju seragam dan ponsel yang ia ingat ada di saku seragamnya, namun ia tak menemukannya di manapun. Ia berusaha bertanya pada gadis itu, namun dia justru menangis.
“Kamu si-siapa?” tanya Daffin terbata.
Gadis itu tak menjawabnya. Ia hanya menangis dengan ekspresi ketakutan seolah telah mengalami trauma yang luar biasa. Daffin bisa menyimpulkan hal itu dari luka-luka yang ada di tubuh gadis itu.
Di saat Daffin masih berusaha mencari pakaian dan ponselnya, pintu kamar pun terbuka dengan keras. Sontak Daffin menoleh ke arah pintu dan betapa terkejutnya dia saat melihat Aya berdiri di ambang pintu dengan ekspresi yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Aya memandangnya dengan tatapan kosong, namun ada perasaan tak percaya, kesedihan sekaligus amarah di dalam matanya. Daffin buru-buru menghampiri Aya yang juga memandang ke arah gadis yang bersama Daffin.
“Ay, ini semua salah paham!” kata Daffin.
Aya hanya terdiam. Dengan perlahan ia mendekat ke arah gadis yang makin ketakutan di pojokan. Dengan air mata yang mulai turun, Aya membuka selimut yang membalut gadis itu. Sontak Daffin langsung mengalihkan pandangannya ke arah pintu.
Dan betapa terkejutnya Aya saat melihat banyak luka di sekujur tubuh gadis itu. Banyak lebam seperti bekas pukulan benda tumpul. Dan lebih mengejutkan lagi, ketika Aya hendak menutup kembali selimut itu, dia melihat sesuatu yang membuatnya syok.
Dengan cepat Aya bangkit setelah menutup selimut gadis itu. Ia berbalik hendak keluar dari kamar tersebut namun Daffin menahannya dengan sigap.
“Ay, Ay, tunggu dulu, Ay!” seru Daffin keras.
Secara mengejutkan Aya menangkis dan menghentakkan tangan Daffin ke udara. Dengan tatapan yang penuh air mata, Aya mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.
“Halo, kantor polisi. Saya mau melaporkan..”
Daffin menyambar ponsel Aya hingga terjatuh. Ia tidak percaya pacarnya akan langsung melaporkan dirinya ke polisi tanpa mendengarkan penjelasan darinya.
“Apa-apaan kamu, Ay?” teriak Daffin.
“Kamu yang apa-apaan? Kenapa kamu melakukan ini?”teriak Aya.
“Aku nggak ngelakuin apapun!”
“Oh ya? Lalu itu apa? Kenapa bisa ada cairan itu di tubuh dia?” cecar Aya.
Daffin terperanjat saat mendengar kata-kata Aya. Ia tahu apa yang Aya maksud, tapi ia sama sekali tak mengetahuinya. Tentu saja karena dia tak mungkin menyingkap selimut gadis itu dan memeriksanya.
***
Saat di sekolah, Aya tiba-tiba tidak bisa menemukan Daffin. Setelah aksi mereka yang malu-malu membahas ciuman mereka sebelumnya, Daffin ‘menghilang’ dari sekolah. Aya berusaha mencarinya untuk mengajaknya pulang, tapi dia tak menemukannya. Setelah memutuskan pulang sendiri, Aya mendapat pesan dari Daffin bahwa dia pulang lebih dulu karena ada urusan mendadak.
Tak menaruh curiga, Aya pun pulang seperti biasa. Beberapa jam setelahnya ia kembali mendapat pesan, namun kali ini dari seseorang yang tak ia kenal. Nomor asing itu mengirimkan pesan yang menuliskan bahwa Daffin telah melecehkan seorang gadis dan menganiayanya. Orang itu juga menyertakan sebuah foto dan alamat di bawahnya.
Dengan hati yang luluh lantak, Aya bergegas menuju alamat itu. Dan benar, ia menemukan Daffin bersama gadis itu dengan keadaan seperti yang sama persis seperti yang ia lihat di foto itu.
Setelah memikirkan semua itu, Aya mulai berpikir ucapan Daffin ada benarnya. Sebab setelah mereka berdiam selama beberapa waktu, ponsel Aya berdering. Ada sebuah panggilan masuk dari nomor yang tak ia kenal, tapi nomor itu nomor yang sama dengan pengirim pesan dan foto itu.
Daffin berusaha merebut ponsel Aya, tapi Aya lebih dulu menjauh darinya untuk menerima panggilan itu.
“Halo, siapa ini?” tanya Aya ketus.
Aya tak bicara lagi dan hanya mendengar apa yang orang itu katakan dari dalam telepon. Daffin tetap berusaha merebut ponsel itu tapi selalu gagal karena kesulitan bergerak dengan selimut yang masih berbalut di tubuhnya.
Setelah beberapa saat Aya menjatuhkan lengannya dan mengakhiri telepon itu. Dengan wajah yang sayu dia menyuruh Daffin untuk mengambil bajunya yang ada di dalam lemari. Segera Daffin menuruti ucapan Aya dengan penuh penasaran. Ia masih fokus memakai bajunya kembali.
Saat Daffin mengganti pakaiannya di kamar mandi, Aya membantu gadis itu untuk berpakaian juga. Ia mengambil pakaian yang tersimpan di lemari yang sama dengan tempat Daffin menemukan pakaiannya. Aya memapahnya dan segera membantunya berpakaian sebelum Daffin keluar.
Setelah Daffin keluar dari kamar mandi, ia mendapati Aya dan gadis itu sudah duduk di atas tempat tidur dengan keadaan rapi.
“Ay, kita harus pergi dari tempat ini! Cepat!” kata Daffin sambil menarik tangan Aya.
Namun Aya justru menampik tangan Daffin hingga membuatnya terkejut.
“Sebelum pergi, aku harus mengatakan ini. Setelah hari ini, jangan pernah temui aku lagi!” kata Aya sambil menahan tangis.
Tentu saja Daffin kaget dengan ucapan itu dan langsung menolaknya. Ia mengira Aya masih tak mempercayainya.
Namun Aya langsung menjelaskan bahwa dia dan Daffin harus menerima keputusan itu jika tak ingin memperburuk keadaan. Aya menjelaskan telepon masuk yang ia terima sebelumnya. Memang benar bahwa semua ini hanyalah jebakan. Seseorang menyerang Daffin di sekolah itu bukan tanpa alasan. Orang itu dengan sengaja membawa Daffin dan gadis itu ke tempat tersebut.
Orang itu mengancam akan melaporkan Daffin sebagai pelaku pelecehan seksual dan penyerangan terhadap gadis itu. Aya harus melakukan apa yang mereka minta agar Daffin tidak dilaporkan ke polisi.
“Jadi itu yang mereka minta?” tanya Daffin panik.
“Aku harus putus denganmu” ucap Aya sedih.