Our High School

Our High School
Sesuatu yang Mengejutkan



Aya meninggalkan ruang guru dengan raut wajah tak bersemangat. Ia tidak menyangka akan melakukan kebohongan seperti ini. Kebohongan yang sama sekali berbeda dengan tidak mengerjakan tugas atau terlambat datang ke sekolah.


Ketika ia kembali ke dalam kelas, bel jam istirahat telah berbunyi. Dengan berlari Aya langsung menemui Daffin yang mengiriminya pesan untuk bertemu di atap seperti biasa.


“Gimana, Fin? Apa Arka udah ketemu?” tanya Aya begitu menghampiri Daffin.


Daffin hanya menggeleng. Ia menceritakan pertemuannya dengan Nona yang juga tidak menghasilkan sesuatu.


“Jadi kamu ketemu lagi sama si Nona?” tanya Aya dengan tampang yang sengaja disangarkan.


“Iya, dia sedikit berbeda..tapi..”


Daffin menghentikan ucapannya dan kemudian melirik ke arah Aya yang sudah melipat kedua tangannya di dada, dan menatapnya dengan tatapan tajam.


“Jadi kamu mengamati si Nona?” tanya Aya cemburu.


“Bukan mengamati, tapi keliatan. Orang perubahannya beda banget" jawab Daffin santai.


“Beda apanya emang, jadi lebih cantik?”


“Iya, dia juga nggak pake..” ucapan Daffin terpotong oleh ucapan Aya.


“Oh, jadi dia sekarang lebih cantik? Berarti dulu dia juga cantik di mata kamu?”


Daffin menelan ludahnya hingga jakunnya bergerak. Ia baru menyadari bahwa sedari tadi pacarnya tengah mengujinya. Dan ia telah melakukan kesalahan besar dengan menyebut gadis lain cantik di depan pacarnya sendiri.


Namun di sisi lain Daffin merasa senang dan gemas melihat kecemburuan Aya yang membuatnya lebih cantik ketika marah. Ia bahkan ingin menggodanya lagi.


“Tentu saja dia cantik, kalau enggak mana mungkin aku mau pacaran sama dia” goda Daffin.


“Cih, sekarang udah pede ya bahas mantan di depan pacarnya langsung?” sindir Aya kesal.


“Kenapa nggak pede, kan cuma ngomongin masa lalu”


Daffin semakin menahan tawa tatkala sang pacar menggerutu dengan memajukan bibirnya yang berwarna merah muda.


Ia memanfaatkan momen itu untuk memandang wajah Aya. Selama ini dia hanya mengajaknya berjalan kaki, bertemu di atap, berlarian menghindari preman, dan lainnya yang sama sekali tidak mencerminkan bahwa mereka adalah seorang pasangan kekasih. Bahkan memegang tangannya saja ia hampir jarang melakukannya.


“Kenapa liat-liat? Udah capek ngomongin mantannya?” sindir Aya lagi.


Daffin tertawa dan langsung menarik Aya ke dalam pelukannya. Bahkan ia mempererat pelukannya saat gadis itu berontak ingin lepas darinya.


“Hmmm..bisa begini bentar aja nggak?” ucap Daffin lirih di telinga Aya.


Aya mulai berhenti berontak di dalam pelukan Daffin. Selain karena tenaganya yang semakin berkurang, pelukan Daffin membuatnya sedikit merasa berbeda.


Aya juga merasa sentimentil. Selama ini dia hanya mengomeli Daffin. Mereka adalah pasangan yang lebih sering bertengkar daripada menunjukkan rasa sayang mereka. Dan begitu Daffin memeluknya dengan erat, Aya merasa bersalah padanya.


“Kamu kenapa? Apa kamu sakit?” tanya Aya.


Daffin melepas pelukannya namun tangannya masih melingkar di pinggang Aya dengan manis.


“Kenapa tiap aku mau romantis, pertanyaanmu selalu ‘apa aku sakit’”? ucap Daffin.


Aya memanyunkan bibirnya, tapi Daffin lagi-lagi ‘menyerangnya’ dengan mengecup pipinya. Pipi Aya langsung berubah menjadi merah. Mereka saling berpandangan selama sepersekian detik sebelum mendengar suara langkah yang menuju tempat mereka berada.


Daffin dan Aya langsung melepas pelukan mereka dan berlari sembunyi di sisi lain dari atap gedung itu.


“Si Arka sudah diberesin, tapi gadis itu belum. Kata si bos kita harus menunggu waktunya tiba” kata salah seorang dari mereka.


Namun ucapan mereka selanjutnya tak terdengar lagi karena mereka sudah meninggalkan tempat itu. Daffin dan Aya saling pandang dengan rasa penasaran mereka.


“Itu tadi siapa, Fin. Kenapa mereka bahas Arka?” tanya Aya.


“Aku juga nggak tahu, tapi kayaknya mereka tahu dimana Arka sekarang. Kita harus mengejar mereka!” ucap Daffin sambil berlari keluar mengejar orang itu.


Tapi mereka telah kehilangan jejak. Karena Daffin maupun Aya tidak melihat satupun wajah mereka, tidak ada cara untuk mencari siapa orang-orang itu.


***


Di tempat lain, Nona menghubungi Daffin dan mengajaknya bertemu. Karena Aya sangat mencurigai Daffin dan Nona, dia pun terpaksa diikutkan dalam pertemuan itu.


"Kenapa dia di sini?" tanya Nona kesal karena dia masih mengharapkan Daffin menjadi pacarnya.


“Cih, emang kenapa kalau aku di sini, nggak boleh?” teriak Aya.


Melihat sebentar lagi akan ada peperangan jika ia biarkan, Daffin menghalangi Aya melangkah mendekati Nona dan mulai mengalihkan pembicaraan.


“Gimana, sudah kau temukan keberadaan Arka?” tanya Daffin.


“Aku nggak tahu pasti dimana dia sekarang, tapi aku menemukan informasi ini” kata Nona.


Nona masih menempatkan pandangannya pada Aya. Mereka masih saling melempar sinar laser dari mata mereka berdua. Lantas Nona memberikan sebuah amplop berwarna cokelat pada Daffin.


Daffin langsung menerima dan membuka amplop tersebut. Setelah melihat isinya, Daffin melempar amplop itu ke tanah sambil berteriak keras hingga membuat Aya terkesiap.


"Ada apa, Fin?”


“Apa maksudnya ini? Nona, apa maksudnya ini?” teriak Daffin lagi.


Aya melihat ke arah Nona yang hanya terdiam dan tak menjawab pertanyaan Daffin. Aya memungut amplop itu berikut isinya yang berserakan.


Mata Aya berkedip cepat saat melihat beberapa foto yang sangat familiar di matanya. Tangannya tiba-tiba bergetar hebat hingga beberapa foto berjatuhan dari genggamannya. Ia menatap Daffin sambil berkaca-kaca, suaranya pun mulai bergetar.


“Fin, kenapa Arka bersama orang-orang ini?” tanya Aya.


Namun Daffin tak menjawab. Ia terus saja berteriak dan mengacak rambutnya yang berwarna cokelat. Sementara Nona juga hanya menarik napas panjang dan menghelanya pasrah.


Aya terus memukul-mukul tubuh Daffin dan meneriakinya karena Daffin tak segera menjawabnya.


“DAFIIN...!!!”


Kini Aya mulai terkulai lemas. Ia menangis hebat. Hari itu seolah adalah hari terberat dalam hidupnya. Jika dia bisa memilih, Aya ingin memutar waktu hingga saat dia belum bertemu dengan Daffin. Ia ingin kembali pada hidupnya yang biasa, tanpa mengkhawatirkan masalah obat terlarang atau apapun. Ia ingin kembali di saat Ayahnya masih hidup dan selalu menjaganya. Ia ingin kembali di saat keluarganya hidup tenang dan harmonis tanpa diganggu oleh siapapun.


Namun kenyataannya hal itu mustahil untuk dilakukannya. Ia sudah kehilangan semua masa lalunya yang biasa namun indah baginya. Ia sudah kehilangan sang ayah untuk selamanya.


Di sisa kesadarannya, Aya merengkuh kembali amplop cokelat itu beserta isinya. Ia merobek satu foto yang ada di genggamannya dan setelah itu ia tak lagi sadarkan diri.


Melihat Aya pingsan di depannya, Daffin kembali berteriak histeris. Sementara Nona yang awalnya begitu membenci Aya, kini mulai merasa kasihan dengan gadis itu.


Bagaimana tidak, malam itu Aya kembali melihat foto ketiga orang yang ia curigai sebagai orang yang bertanggung jawab atas kematian ayahnya. Namun mereka tidak hanya bertiga, melainkan ada satu orang lagi yang bersama mereka. Orang itu terekam sedang memberikan sebuah amplop kecil kepada tiga orang itu. Entah apapun isi amplop yang nampak tebal itu, namun Aya hanya fokus pada sang pemberi amplop, yang tak lain adalah Arka.