
Seminggu berlalu semenjak liburan sekolah dimulai. Kini mereka harus kembali memasuki babak baru di sekolah. Sama halnya dengan Daffin dan Arka yang harus memutar otak dan mengatur urusan sekolah dengan urusan pengirimannya.
"Fin, kalau mereka menyuruhmu melakukannya di sekolah gimana?" tanya Aya.
Daffin dan Aya mulai meresmikan hubungan indah masa remaja mereka. Bahkan saat ini mereka telah berani berjalan berdampingan sambil bergandengan tangan menuju sekolah.
"Mm, kayaknya iya" jawab Daffin.
Melihat pacarnya sesantai itu, Aya mulai mengambil ancang-ancang untuk mengomelinya lagi.
"Heh, bisa banget ya sesantai itu? Nggak punya rasa takut?" omelnya.
"Tunggu.." lanjut Aya
"..jangan-jangan kamu.."
Aya mulai mencurigai Daffin yang bisa bersikap santai padahal keselamatannya dalam bahaya. Ia mengira Daffin kembali mengonsumsi obat, sehingga dia bisa bersikap acuh seperti itu.
"Apa kamu sudah tidak waras? Kenapa aku mau balik lagi ke tempat gelap itu" kilah Daffin yang paham maksud ucapan Aya.
"Terus, kenapa bisa sesantai ini?" gerutu Aya.
"Aku nggak akan balik makai lagi, kamu tenang aja. Urusan mereka biar aku dan Arka yang mikir" ujar Daffin sambil mengelus rambut Aya lembut.
Lagi-lagi hati Aya berdesir. Berpegangan tangan sepanjang jalan sudah cukup membuatnya panas dingin karena canggung, kini dia malah melakukan hal yang membuat hatinya semakin meleleh.
Melihat Aya yang tersenyum malu sendiri, Daffin justru mengejeknya.
"Dih, malu dia.." ejeknya sambil tertawa.
Sementara Aya yang diejek hanya mengerucutkan bibirnya sembari memukul kepala belakang Daffin.
Begitu sampai di depan gerbang sekolah, kedua sejoli muda itu melepas tangan mereka yang masih saling terkait. Mereka sudah cukup pusing dengan kejadian kemarin yang bertubi-tubi. Jika ada yang melihat mereka bergandengan tangan, bisa panjang dan rumit ke depannya.
Sebab Daffin tergolong murid pria yang cukup terkenal di sekolah. Gayanya yang stylish meski hanya berseragam, sikap dinginnya bak kulkas berjalan, membuat dirinya menjadi incaran gadis-gadis. Bahkan ada salah satu geng gadis yang menyebut diri mereka DF girls alias Gadis gadis Daffin. Beruntungnya Aya belum mengetahui hal ini. Kalau Aya bertemu mereka, Daffin pasti akan kesulitan menangani emosi gadis itu.
Satu hal lain yang membuat Aya sumringah pagi itu. Pak Teguh telah kembali bekerja dan nampak sehat. Dalam hatinya mengatakan bahwa pengorbanan Daffin dan Arka tidak sia-sia. Mempertaruhkan nyawa mereka demi membantu orang lain, bukan hal yang bisa dilakukan siapa saja. Dan Aya sangat membanggakan itu, meski pacarnya harus kembali berkutat di dunia yang pernah menyesatkannya.
Daffin dan Aya berjalan dengan jarak. Aya berjalan lebih dahulu, dengan Daffin yang mengekor di belakang. Persis adegan drama korea The Heirs, hanya saja Daffin tidak menarik karet rambut Aya.
Memasuki koridor kelas, Aya melihat banyak anak yang berkumpul di depan mading sekolah. Aya berpikir mereka tengah mengerumuni papan pengumuman nilai atau semacamnya. Namun ternyata mereka sedang membaca sebuah pengumuman yang ditempel di sana.
"Minggir, minggir, gue mau lihat" seru Aya sambil menyibak kerumunan di depannya.
Jantung Aya seperti mendadak berhenti. Ia melihat sebuah pengumuman yang menulis bahwa Daffin telah menjadi pengedar narkotika, parahnya lagi disitu tertulis bahwa dia melakukannya demi seorang gadis yang tidak dituliskan identitasnya. Dengan tangan gemetar Aya langsung menarik selebaran yang menempel di papan dan berniat membawanya pergi.
Tetapi baru saja ia berbalik dan siap berlari, Daffin telah berdiri di depannya. Aya berusaha menyembunyikan kertas yang ia bawa, tapi Daffin malah merebutnya. Ditambah lagi anak-anak lain yang membicarakan dirinya.
Daffin justru membuka kertas itu dan membacanya. Ia tersenyum seoalah mengetahui siapa pelaku di balik kejadian ini. Ia berbalik dan keluar meninggalkan tempat itu.
Aya yang merasa khawatir segera berlari mengejarnya. Tetapi kecepatannya tidak bisa mengimbangi kecepatan lari Daffin yang lebih cepat darinya, hingga Aya telah kehilangan jejaknya.
Tak menyerah, Aya pun mencoba mencarinya di atap, tempat anak itu biasa menghilang dan tidur. Namun setelah mencarinya di segala sudut, ia tetap tidak menemukannya.
Selain mengkhawatirkan Daffin, Aya lebih mengkhawatirkan berita yang tersebar itu. Jika ada yang memasangnya di mading sekolah, berarti dia tahu tentang Daffin dan dirinya. Tapi siapa? Berulang kali Aya mencoba berpikir tapi tidak ada orang yang terlintas di pikirannya.
Ia harus menemukan Daffin agar bisa membicarakan hal ini. Beruntungnya tidak ada nama gadis yang ditulis di papan pengumuman. Jika anak lain tahu bahwa gadis itu Aya, akan semakin rumit urusannya.
***
Waktu sudah menunjukkan jam istirahat siang, namun Daffin tidak juga masuk ke dalam kelas. Aya hendak keluar dan mencarinya, namun langkahnya terhenti. Ia melihat seseorang dengan banyak pengikut di belakangnya, sedang menghadang dirinya di depan pintu kelas.
Aya mengernyit heran. Ia mengenali orang itu, tetapi bagaimana mungkin dia bisa berada di sini.
"Elo? Kenapa lo bisa ada di sini?" tanya Aya sinis.
Orang itu mendekati Aya perlahan sambil tersenyum, membuat Aya spontan melangkah mundur. Kemudian orang itu membisikkan sesuatu di telinga Aya.
"Gimana, suka dengan hadiah selamat datang dariku?" ucapnya dengan nada dingin.
Mendengar ucapan itu membuat Aya yakin bahwa dia lah pelaku yang menempelkan selebaran itu di mading sekolah. Pertanyaan yang sedari tadi membuatnya tidak fokus pada pelajaran, kini mulai terjawab semuanya. Dan semua menjadi cukup masuk akal. Melihat orang itu berdiri di depannya dengan memakai seragam sekolahnya, berarti dia telah mengikuti mereka sampai ke sini.
"Jadi elo pelakunya?" ucap Aya geram pada orang yang ternyata adalah Nona.
"Kalian saling kenal?" seru salah seorang gadis yang ikut berbaris di belakang Nona.
"Iya, kalian mau tahu siapa gadis yang membuat Daffin melakukan itu?" kata Nona dengan volume yang sengaja dikeraskan.
Aya mengepalkan tangannya. Tangannya bergetar, dia sedang menahan emosinya. Jika gadis itu berani menyebutkan namanya, ia juga akan melayangkan tinjunya ke wajah menyebalkan itu.
"Hentikan! Atau kubuat kau menyesal" gertak Aya.
Nona tertawa mendengar ancaman Aya yang terdengar menggelikan baginya. Tentu saja Aya tidak seberani itu. Mentalnya tidak senekat Nona yang pernah masuk dunia gelap itu. Tapi jika Nona nekat menyebut namanya di kelas, maka ia tidak akan tinggal diam. Aya sudah cukup muak berurusan dengan gadis itU.
Brakk
"Minggir!!!" teriak Daffin dari belakang anak-anak yang menghadang pintu.
Setelah kerumunan itu tersibak, Daffin langsung menarik tangan Nona dan membawanya keluar dari kelas. Aya hanya terdiam melihat adegan menyebalkan di depannya. Ia tidak bisa melakukan apapun karena Daffin memberinya isyarat untuk diam dan tidak mengikutinya.
"Hish" gumam Aya sebal.