
Sikap Daffin dan Aya setelah pertandingan berakhir, sebenarnya sangat mudah dikenali sebagai sikap sepasang remaja yang sedang kasmaran.
Aya yang begitu senang karena memenangkan sebuah handphone mahal dengan usahanya, dan Daffin yang selalu menatap Aya dengan matanya yang berbinar.
Akan tetapi lucunya semua itu tetap tidak bisa mengalihkan perhatian Laura cs dari Nona. Karena semenjak aksi gelayutan dan geledotan Nona tadi, Laura terus menembakkan laser dari matanya ke arah gadis itu.
Nona yang memang sangat usil dan ingin membalas dendam karena sudah membuatnya dihukum, masih menggoda Laura dengan terus menempel pada Daffin.
“Nona Nona, lakukan dengan secukupnya!” ujar Aya sambil membuka dus ponsel barunya.
Nona mendengus karena Aya memergokinya menggaet lengan Daffin sambil menyandarkan kepalanya di bahu pacarnya itu.
Sementara Daffin malah tak bisa menahan tawanya lagi ketika Aya mengatakan hal itu. Seharian ini Daffin sudah jatuh cinta pada pacarnya sebanyak ia memandangnya.
Di kubu lain, Laura yang sudah makin panas melihat adegan romantis yang dilakukan Nona, mulai mengumpulkan anggota gengnya kembali.
“Gengs, kita harus cari cara buat misahin si cewek gatel itu dari Daffinku” kata Laura.
“GImana caranya, Lau? Dia kayaknya sangar banget” jawab Diana.
Laura langsung memicingkan matanya ke arah Diana.
"Lo takut sama gadis cupu itu?” sindir Laura.
Diana memang memiliki firasat yang benar. Ia seolah tahu bahwa Nona memang bukan gadis sembarangan. Tapi mengatakan hal itu di depan Laura, sama dengan melempari tubuhnya sendiri dengan batu. Laura pasti akan mengoloknya habis-habisan.
Sebuah ide muncul dari otak Bonita. Dia sangat yakin idenya ini akan berhasil membuat Daffin dan Nona putus.
Laura mencoba mendengarkan ide yang diutarakan oleh temannya itu. Dia tampak sumringah dan yakin dengan ide itu. Mereka bertiga berencana mengeksekusinya di malam pentas dan api unggun.
***
Sepanjang hari perhatian Aya teralihkan dengan ponsel barunya. Ia bahkan seperti gadis bebas yang tak memiliki pacar, ditambah pacarnya tengah ‘dipinjam’ oleh teman barunya itu. Daffin berulang kali meminta Aya berbicara dengannya, tapi usahanya selalu gagal.
“Ay, kok kamu jadi nyuekin aku terus sih?” protes Daffin.
“Enggak ah, lagian kamu kan lagi jadi pacarnya Nona” jawab Aya enteng.
“Idih, jadi aku dibuang nih?”
Aya meletakkan ponselnya dan memeriksa area sekitar panggung dengan menolehkan kepalanya. Lalu dengan sigap dan cepat ia menghadiahi Daffin sebuah kecupan manis di pipi kanan pacarnya itu.
Wajah Daffin langsung memerah karena malu, bukan karena pantulan dari cahaya api unggun yang berkobar. Hatinya mendadak hangat, mulutnya terkunci dan tak lagi mengeluh soal posisi dan statusnya. Dan itulah tujuan Aya melakukan hal yang menggelikan itu.
Beruntung Laura cs tidak ada yang memergoki kelakuan Aya dan Daffin. Mereka masih sibuk mengurus dan menata rencana yang akan dilakukan pada malam hari nanti.
“Lau, lu yakin kita bakal aman ngelakuin ini?” tanya Bonita ragu.
“Udah lo diem aja! Mending kita cepet-cepet pergi dari sini!” jawab Laura.
Laura berjalan meninggalkan area belakang panggung tepat setelah Aya dan Daffin meninggalkan area depan panggung. Mereka berencana menjebak Nona dengan pria suruhan Laura. Mereka berpikir dengan Nona yang tertangkap bersama pria lain, Daffin akan membenci dan memutuskannya.
***
Malam pun tiba.
Sebenarnya Aya sangat kesal dan ingin melabrak gadis perisak itu, tetapi iya yakin Daffin akan melarangnya dengan alasan keamanan dirinya.
Ia juga berpikiran yang sama. Jika Laura harus berakhir adu jambak dengan salah satu dari mereka, tentu Nona akan lebih bisa menangani Laura.
“Lo mau ngapain lagi? Bilang dulu sama gue!” kata Daffin pada Nona.
“Tenang aja! Gue nggak akan makan elo kok” jawab Nona sinis.
Daffin merasa dirinya diperalat bagi kedua gadis itu. Ia ditinggal pacarnya hanya demi sebuah ponsel. Parahnya lagi ia harus berpura-pura menjadi pacar dari mantan pacarnya. Sangat ribet hidup para gadis, pikir Daffin.
Ketika acara api unggun dimulai, mata Daffin tidak memperhatikan ke arah panggung. Ia terus memantau Aya dari jauh. Daffin takut kejadian buruk menimpa Aya kembali.
Tiba-tiba Nona menarik tangan Daffin untuk merangkul dirinya. Daffin agak risih tapi Nona tetap memaksanya. Dan ketika Aya mengetahui adegan itu dari jauh, ia hanya mengode Daffin untuk menjaga tangan dan pandangannya.
Akhirnya dengan terpaksa ia meneruskan sandiwara itu di depan pacarnya sendiri.
“Lo liat, Fin. Mereka udah mulai” kata Nona.
Daffin mengalihkan pandangan ke arah Laura yang tengah memandangnya dengan senyuman manis. Nona sudah mengetahui rencana yang dibuat Laura cs untuknya. Dia memasang sebuah penyadap hidup di antara mereka.
Nona geli saat mendengar rencana jebakan itu. Tetapi ia justru menantikan dengan siapa ia akan dijebak.
Daffin sebenarnya merasa beruntung memiliki teman seperti Nona. Jika saja dia tidak mau melakukan hal sejauh ini, maka Aya yang pasti akan mengalaminya.
Ia memasang mode siaga demi menjaga Aya dan Nona. Ketika rencana dimulai, Nona diajak oleh seseorang yang ia kenali sebagai teman sekelasnya.
Dan tiba-tiba tanya alasan yang jelas, temannya itu menyodorkan sebuah minuman padanya. Nona menatap botol air itu dengan senyum kecil yang ia sembunyikan.
Semenit kemudian Laura menghampirinya dengan basa basi bahwa ia ingin meminta maaf pada Nona atas hukuman yang ia terima karena ulahnya.
Gadis savage itu langsung beralih ke mode aktingnya yang cukup memukau. Ia menerima permintaan maaf itu beserta ajakan Laura yang ingin membawanya ke suatu tempat.
Daffin terus mengikuti dan memantau keadaan. Ia mengajak Aya agar bisa memantau keduanya sekaligus.
“Wah, si Laura ngebet banget pengen jadian sama kamu” gerutu Aya.
“Jangan sekarang, Ay. Kita harus mastiin Nona aman!” jawab Daffin yang mencegah pacarnya mengomel lebih jauh.
Aya melihat Laura membawa Nona ke dalam suatu bangunan yang cukup jauh dari area perkemahan. Ia tak tahu darimana mereka bisa tahu ada bangunan seperti itu.
Sementara itu, Nona menuruti permainan Laura dengan menunggu pria yang ingin dikenalkan padanya.
Sebenarnya rencana Laura cukup payah bagi Nona yang sudah lebih pro di dunia tipu menipu. Tetapi karena ia mencoba berlagak bodoh, jadi rencana itu terasa seperti sempurna di mata Laura cs.
Mereka berempat menunggu kedatangan seseorang. Ditambah Aya dan Daffin yang bersembunyi dari jarak aman.
Tiba-tiba seseorang muncul dari kegelapan dan melangkah mendekati posisi mereka berempat. Dan saat ia semakin dekat, wajahnya mulai terlihat karena ada cahaya yang memantul di sekitarnya.
Nona, Daffin dan Aya sontak terkejut melihat siapa sosok laki-laki yang mendatanginya. Sebab mereka mengenali sosok itu dengan baik.
Dia adalah Arka.