Our High School

Our High School
Hari Terakhir Camping



Daffin, Nona, dan Aya kompak terkejut saat melihat sosok laki-laki di depan mereka adalah Arka. Yang lebih mengejutkan lagi, Arka mempunyai hubungan dengan Laura. Entah apapun hubungan itu, fakta bahwa mereka saling mengenal sudah sangat mencengangkan.


“Kenalin, dia temen gue, namanya Dio” kata Laura.


“Dio?” pekik Nona terkejut.


“Iya, lo kenal?” tanya Laura lagi.


Nona melihat Arka memberinya sebuah sinyal untuk tidak mengatakan apapun soal dirinya. Setelah memahami arti dari sinyal itu, Nona tersenyum kecut dan langsung mengubah ekspresinya.


“Oh, enggak.”


Akhirnya Laura menyuruh Nona dan Arka menuju sebuah tempat yang sudah ia siapkan. Laura masih saja menganggap bahwa rencananya sedikit lagi berhasil dengan sempurna.


Sementara Nona, Daffin dan Aya sudah tidak mempedulikan lagi soal permainan mereka. Ketiganya kini lebih fokus pada keberadaan Arka di tempat itu.


Terlebih Aya, yang sudah lama ingin bertemu dengan Arka. Sementara Daffin langsung melihat reaksi Aya. Ia takut Aya kembali tersakiti atau teringat semua kejadian-kejadian sebelumnya.


Aya langsung berlari mengejar Arka dan Nona, disusul Daffin di belakangnya. Arka cukup terkejut tatkala melihat Aya dan Daffin yang ternyata mengikutinya.


“Wuah, ada apa sebenarnya hari ini?” seru Nona sambil meregangkan tubuhnya.


“Hai, Ar!” ucap Aya.


Ketiga orang selain Aya, mendadak diam karena kaget dengan respon Aya terhadap Arka.


“Ay, lo baik kan?” tanya Nona.


Aya hanya tersenyum.


“Lo kemana aja, Ar? Apa lo baik-baik aja?” tanya Aya lagi.


“Dih, gue dicuekin” gerutu Nona.


“Gue baik. Makasih, Ay” jawab Arka canggung.


Melihat pacarnya yang tampak sudah berbaikan dengan keadaan, Daffin pun tersenyum lega. Setidaknya ia sudah tahu kalau keadaan Aya sudah baik-baik saja.


Mereka berempat akhirnya hanya mengobrol di ruangan itu. Ruangan yang harusnya menjadi tempat penjebakan Nona, berakhir menjadi tempat reuni mereka.


“Lo kenal sama Laura, Ar? Kok bisa?” tanya Daffin.


“Iya nih, hampir aja gue dijebak suruh one night sama lo” kelakar Nona ceplas ceplos.


Arka bercerita bahwa perkenalannya dengan Laura sudah berlangsung lama. Ia mengenal gadis itu saat dia terciduk tengah memesan salah satu obat terlarang bersama kedua anggota gengnya.


“Astaga, jadi dia juga makek?” tanya Nona tak percaya.


“Pantesan dia sok banget, ternyata anak orang kaya” tambahnya lagi.


“Terus lo bisa kesini gimana ceritanya?” tanya Daffin.


Ia cukup bingung karena perubahan Arka sangat terlihat jelas. Terakhir ia meninggalkannya di rumah, keadaan Arka tidak seperti ini. Hari itu dia terlihat sangat rapi dan bersih. Ia juga sangat normal dan stabil, tidak seperti sebelumnya.


“Gue berobat, Fin” jawab Arka.


Arka pun melanjutkan ceritanya. Setelah Daffin mengijinkan dia tinggal di rumahnya, Arka berusaha mengontrol dirinya. Dengan uang yang diberikan Daffin padanya waktu itu, Arka pergi menemui dokter yang menangani Daffin saat berada di rehabilitasi.


Ia berjuang keras untuk menyembuhkan ketergantungannya dengan obat yang mulai menggerogoti tubuhnya. Arka juga berjuang melawan ketakutannya.


“Ay, aku turut berduka atas apa yang terjadi dengan ayahmu. Aku minta maaf” kata Arka.


Suasana kembali hening dan canggung. Namun Aya dengan cepat berusaha mencairkannya kembali.


“Aku udah ikhlas kok. Aku juga udah nggak mikir apapun lagi. Semua udah terjadi” jawab Aya ringan.


***


Malam terakhir camping yang harusnya menjadi keberhasilan rencana Laura cs, justru berubah menjadi hari comebacknya Arka.


Menyadari rencananya telah gagal, Laura pun kembali mengamuk. Ia merasa dibodohi oleh ketiga anak itu. Terlebih setelah tahu bahwa Nona bukanlah pacar Daffin, melainkan Aya. Ia mengetahuinya setelah mendengarnya langsung dari Daffin yang mendatanginya.


Saat mereka tengah mengemasi alat-alat kemahnya, Daffin menghampiri Laura dan mengajaknya bicara.


Ia merasa sudah saatnya menghentikan permainan itu. Daffin sudah tidak nyaman terus berpura-pura menjadi pacar Nona. Ia juga tidak mau Laura terus mengejarnya dan mengira ada harapan untuknya.


Daffin dengan tegas menyatakan bahwa dia tidak memiliki ketertarikan apapun pada Laura. Ia juga meminta Laura untuk berhenti mengganggunya atau teman-temannya, termasuk Aya.


Tetapi tidak semudah itu membuat Laura berhenti. Di depan Daffin, gadis itu mengatakan akan berhenti menyukainya. Tapi dalam hatinya, ia berjanji akan membuat gadis yang dipacari Daffin menyesal telah membuatnya malu di depan Daffin.


“Aya sialan!” teriak Laura setelah Daffin pergi meninggalkannya.


Kedua temannya pun ikut mengompori masalah itu. Mereka juga merasa dibodohi dan dipermainkan oleh Nona dan teman-temannya.


“Udah Lau, lanjutin aja!” kata Diana.


“Iya tuh, rebut aja si Daffin dari si Aya. Lebih mudah malahan kalau lawanmu si Aya itu” sahut Bonita.


Laura tersenyum licik setelah mendengar ucapan kedua temannya. Ia merasakan hal yang sama. Akan lebih mudah jika lawannya adalah Aya, yang tampak lebih lemah dan cupu di mata Laura.


“Kalian tenang aja, gue udah ada cara baru untuk ngasih gadis itu pelajaran” pungkasnya.


***


Setelah acara perkemahan itu berakhir, Daffin ingin mengaja Aya menghabiskan sisa liburan mereka untuk pergi berdua saja. Semenjak mereka berdua menjalin hubungan, mereka belum pernah sekalipun melakukan dating atau kencan. Yang mereka lakukan hanya berlari, membolos, berurusan dengan obat, dan lainnya.


Daffin ingin mengajak Aya berkencan seperti pasangan muda lainnya. Mendengar ide konyol yang keluar dari mulut seorang Daffin, tentu saja Aya mengejeknya terlebih dahulu sebelum akhirnya menerimanya.


“Jiaahh, ngajak nge-date kok baru sekarang sih?” ejeknya.


“Bisa jawab aja nggak sih, mau apa enggaknya” gerutu Daffin.


“Kalau aku nggak mau?” lanjut Aya.


Daffin mulai kesal dengan sikap pacarnya ini. Setiap ia berniat serius, gadis itu selalu mengajaknya bercanda. Dia pun berpikiran untuk membalas ejekannya dengan hal yang bisa membuatnya diam.


Ia berjalan mendekati Aya secara perlahan hingga tubuh gadis itu berakhir menabrak dinding di belakangnya. Dihentakkannya tangan kanannya ke dinding dengan gaya khas drama Korea yang pernah ia lihat di youtube. Ditatapnya mata gadis itu dengan tatapan dingin dan mengintimidasi.


“Kalau kamu nggak mau, aku akan memaksamu” ucapnya lirih.


Aya sedikit gugup dengan sikap Daffin yang mendadak romantis itu.


“Kamu mau ngapain, sana mundur!” kata Aya.


“Kenapa? Kamu takut aku menciummu?” ucapan Daffin begitu frontal.


“Takut apanya, emang kenapa aku takut?” tantang Aya.


“Oh, jadi kamu nggak takut aku cium?”


Aya hendak menjawab ucapan Daffin lagi, tapi dengan gesit Daffin sudah mendaratkan sebuah ciuman manis di bibir Aya.


Setelah melakukannya selama beberapa lama, Aya pun mendorong tubuh Daffin agar menjauh darinya. Anak itu berhasil membuat seekor kupu-kupu terbang mengitari hatinya.


“Ini yang terjadi kalau kamu terus mengejekku” kata Daffin.


“Dasar mesum!”