
Film masih belum berakhir namun Aya dan Haira sudah beranjak keluar dari bioskop itu. Aya tidak mau Daffin melihat dirinya dalam keadaan menangis seperti itu. Namun sayangnya, Daffin sudah melihatnya. Saat Aya menangis di tengah-tengah film, Daffin melihat ke arah Aya tanpa sepengetahuannya.
Tapi Daffin hanya bisa diam dan tak bisa mengejar Aya. Dia hampir lupa bahwa di sampingnya sedang duduk seorang pembuat onar dan perusak kebahagiaan orang. Padahal Daffin sangat ingin mengejar Aya, meraih tangannya, memeluknya, menenangkannya, dan menghapus air matanya. Begitu sadar dengan posisinya saat ini, Daffin mengutuk semua orang yang menyebabkan semua ini terjadi, termasuk dirinya sendiri.
Laura mengajak Daffin pergi makan malam di sebuah kafe yang juga pernah didatangi oleh Daffin dan Aya. Seolah merasakan flashback, Daffin lebih banyak diam dan tak mendengarkan ocehan Laura. Sampai akhirnya dia mendapat pukulan kecil dari gadis itu.
“Fin, kok kamu diem aja sih?” protes Laura.
“Sorry, gue lagi nggak enak badan kayaknya” jawab Daffin.
“Oh ya? Kalau gitu kita pulang aja, aku anter kamu pulang ya!” kata Laura.
Daffin menolaknya dengan halus dan justru menawarkan diri untuk mengantar Laura pulang. Selain dia tidak ingin Laura tahu dimana dia tinggal, dia juga ingin tahu dimana rumah Laura dan mencari tahu apakah ada hal yang bisa digunakan untuk melawan Laura.
Tentu saja Laura menyukai gagasan itu. Dia langsung menghubungi asisten rumah tangganya untuk segera menyiapkan makan malam. Awalnya begitu mendengar dia menyiapkan makan malam untuknya, Daffin menolaknya. Dia merasa tidak harus melakukannya, dan ia juga sangat malas meladeni gadis manja itu. Tetapi jika dia menolaknya lagi, Laura akan semakin bertingkah dan lebih membuatnya pusing.
Laura terus menyediakan makanan untuk Daffin padahal sebenarnya dia juga tahu Daffin tidak merasa nyaman bersamanya. Ia bahkan menyediakan minuman beralkohol di depan Daffin, membuatnya menggeleng tak percaya.
“Gadis sialan!” gumam Daffin lirih saat Laura terus menyodorkan sekaleng minuman beralkohol padanya.
***
Sementara itu, Aya dan Haira melanjutkan rencana jalan-jalan mereka dengan pergi ke sebuah toko kosmetik untuk membeli sebuah liptint dan pembersih wajah. Ketika mereka akan memasuki pintu toko itu, Aya mendengar seseorang membicarakan dan menyebut nama Daffin. Karena penasaran, dia tidak langsung masuk ke toko dan memilih mendengarkan percakapan orang itu terlebih dahulu.
“Hari ini bakal jadi sejarah buat Laura.”
“Kenapa emang?”
“Dia akan melakukan hal besar hari ini!”
Mendengar kelanjutan percakapan orang-orang itu, Aya langsung menghampiri mereka, yang tak lain adalah Bonita dan Diana. Aya menarik kerah baju Bonita hingga kepalanya tertarik dan mendongak ke atas.
Melihat sikap Aya, Diana dan Bonita tidak terima. Diana berteriak begitupun dengan Bonita yang sudah berontak agar terlepas dari tangan Aya. Haira sendiri pun terperangah melihat aksi kakaknya yang diluar dugaan.
“Heh! Apa-apaan lo!” teriak Diana.
“Cewek gila! Lepasin gue!” seru Bonita sambil menarik kerahnya dari tangan Aya.
“Kalian! Cepat kasih tahu dimana Daffin sekarang!” teriak Aya.
“Huh, ogah!” ledek Diana.
Aya memelintir tangan Diana dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya masih memegang kerah baju Bonita. Haira benar-benar hanya terdiam dan melongo melihat kekuatan Aya yang menakjubkan.
Entah mendapat kekuatan dari mana, saat itu Aya memang sangat kuat. Ia belajar melatih dirinya saat berkencan bersama Daffin. Saat itu ia melatihnya bela diri agar bisa melawan orang yang akan menjahatinya suatu hari. Karena Daffin berpikir tidak selamanya dia bisa menjaga Aya. Dan benar saja, hari itu Daffin pun tidak berada di sisinya saat dia berusaha melawan orang-orang jahat itu.
“Cepat katakan!” teriak Aya geram.
Karena Aya semakin berubah menakutkan, akhirnya Bonita memberitahunya dimana rumah Laura berada.
Bukan tanpa alasan Aya melakukan semua hal tersebut. Dia mendengar percakapan Bonita dan Diana tentang Laura yang berniat menjebak Daffin. Dia sudah menyiapkan sebuah minuman yang ia campur dengan obat. Laura nekat melakukan itu agar dia bisa memiliki Daffin dan agar Aya tidak bisa lagi mengambilnya. Ia sangat tergila-gila dengan Daffin.
Haira menemani Aya menuju rumah Laura. Aya juga masih berusaha menghubungi Daffin, tetapi ia selalu gagal.
Daffin yang mulai merasa risih, mencoba menolak semua ajakan brutalnya dengan halus.
“Lau, hentikan! Lo udah kebanyakan minum!” kata Daffin.
Dia benar-benar tidak habis pikir ada gadis SMA yang hidup dengan cara seperti ini.
Namun Laura tidak mungkin menyerah. Dia memang banyak minum, tapi minuman yang ia teguk bukan minuman beralkohol. Ia hanya berpura-pura mabuk. Ketika dia gagal memberi Daffin minuman, dia pun menukar minumannya. Ia menyodorkan minuman tak beralkohol agar Daffin mau meminumnya.
Namun sesuai rencana yang telah dibeberkan Bonita, Laura mencampur obat tidur pada minuman soda yang ia berikan pada Daffin. dan Daffin pun seperti tak menaruh curiga ada minuman itu.
Di saat Daffin hampir meminum air itu, pintu rumah Laura terbuka dengan keras. Baik Daffin maupun Laura sama-sama terkejut melihat Aya dan adiknya datang ke rumah itu dengan ekspresi tajam seperti siap bertarung.
“Heh, ngapain lo disini?” teriak Laura.
“Gue mau jemput Daffin!” balas Aya.
“Fin, ayo pulang!” seru Aya lagi.
Daffin yang masih tak percaya dengan penglihatannya, hanya terdiam dengan ekspresi bingung. Ia tak tahu bagaimana Aya bisa sampai di rumah itu.
“DAFFIN!” teriak Aya.
Laura tertawa melihat Daffin yang hanya diam sementara mantan pacarnya berteriak-teriak memanggilnya.
“Heh, ****** sialan! Dia udah nggak mau sama lo, nyadar dong!” teriak Laura.
“Udah, Fin. Kita lanjutin aja, lanjutin minum minuman kamu!” ucap Laura.
Aya memberi isyarat pada Daffin agar tidak meminum minuman itu. Laura pun sudah memanggil para anak buahnya dan sekuriti untuk membawa Aya dan Haira keluar. Sementara Daffin hanya diam karena dia dia sedang berpikir apa yang harus dia lakukan saat itu.
Jika dia menyelamatkan Aya dan Haira, itu akan membuat Laura mencurigainyaa. Jika dia menuruti Laura, dia akan menyakiti perasaan Aya yang sudah rela menyusulnya ke rumah itu dan membahayakan dirinya.
Akhirnya setelah menatap mata Aya beberapa saat, Daffin memutuskan untuk meminum air yang ia pegang. Dan tak butuh waktu lama, Daffin pun tumbang ke sofa.
Aya berteriak berusaha mendekati Daffin, namun Laura yang justru tersenyum karena rencananya berhasil, menahan Aya mendekat ke arah Daffin.
“Fiin!” teriak Aya.
“Diem lo! Mulai hari ini Daffin akan jadi milik gue!” teriak Laura.
“Apa yang lo lakuin? Kenapa Daffin bisa pingsan?” teriak Aya.
“Gue kasih obat tidur di minuman dia. Kenapa?”
“Dasar brengsek!”
Aya berteriak dan menyerang Laura dengan menjambak rambutnya. Tentu saja Laura bukan hanya gadis biasa yang tak mempunyai kekuatan. Dia tidak dijuluki sebagai legenda perisak tanpa alasan. Dia pun membalas serangan Aya hingga kedua gadis itu saling terhuyung.
Dan ketika tangan Laura terangkat ke udara dan mengarah ke wajah Aya, tiba-tiba ada sebuah tangan seseorang menahan tangan Laura di udara. Begitu Laura menoleh untuk melihat siapa yang berani menahannya, dia terkejut karena orang itu adalah Daffin.
"Hentikan, Laura!"