
Laura terkejut karena Daffin tidak tertidur seperti yang ia kira. Padahal ia yakin bahwa ia telah memasukkan obat tidur di dalam minuman yang diminum Daffin.
“Daffin..”
“Hentikan semuanya, Laura!" teriak Daffin.
"Enggak! Aku nggak akan berhenti sebelum dapetin kamu!” teriak Laura.
“Dasar cewek gila! Ayo Fin, kita pergi dari sini!” ajak Aya seraya menarik tangan Daffin.
Mereka berdua melangkah keluar dari rumah Laura tanpa mempedulikan si pemilik rumah yang berteriak memanggil sekuriti untuk menangkap mereka.
Menyadari dirinya dan Aya tengah dalam bahaya, Daffin segera mengajak Aya untuk berlari secepat yang ia bisa. Mereka hampir tertangkap sekuriti jika Daffin tak berinisiatif mencari pintu lain selain pintu gerbang depan. Setelah mereka berhasil keluar dari rumah Laura, Aya melepaskan tangannya dari genggaman tangan Daffin.
"Kita udah keluar..” kata Aya.
Ia melangkah meninggalkan Daffin, tetapi dengan sigap Daffin memeluk Aya dari belakang. Awalnya Aya meronta ingin melepaskan diri, namun Daffin justru mempererat pelukannya.
“Please, Ay. Jangan tinggalin aku lagi! Aku minta maaf..” ucap Daffin lirih.
Aya mengunci mulutnya, namun air matanya kembali menuruni wajahnya. Sebenarnya ia sangat merindukan Daffin. Namun hatinya masih terluka dengan sikap Daffin tempo hari.
“Kamu mau aku gimana? Aku harus gimana, Fin?” tanya Aya sambil menangis.
Mendengar suara Aya yang tengah menangis, Daffin membalik tubuh Aya hingga kini mereka saling bertatapan. Dengan lembut Daffin mengusap air mata yang membanjiri wajah Aya. Sementara Aya malah semakin terisak ketika Daffin menyentuh wajahnya.
“Maafin aku, Ay!” ucap Daffin lagi.
Aya tak bisa menahan dirinya lagi. Ia pun menghamburkan dirinya ke dalam pelukan Daffin. Aya menangis sejadinya di dalam pelukan Daffin yang sudah lama ia rindukan.
“I miss you, Ay” ucap Daffin.
“I miss you too, Fin” balas Aya.
***
Peristiwa di rumah Laura membuat Aya dan Daffin kembali dekat. Untuk menjaga Aya dari Laura, Daffin terus menemani Aya kemanapun ia pergi. Bahkan ketika Aya hendak ke toilet, Daffin juga mengantarnya. Daffin sampai menjadi tontonan siswi-siswi yang keluar masuk toilet saat menunggu Aya.
“Gue nggak ngapa-ngapain kok” kata Daffin mengklarifikasi pada setiap anak yang melihatnya.
Aya terkejut melihat Daffin masih berada di luar toilet dan menunggunya. Ia lebih terkejut lagi karena mendengar dia mengatakan hal itu agar tidak dianggap aneh oleh anak-anak lain. Aya pun tertawa kecil dibuatnya.
“Ngetawain aku?” tanya Daffin.
“Ho oh. Abisnya kamu lucu banget pas ngomong gitu tadi” jawab Aya sambil tertawa, kali ini lebih keras.
“Cih. Padahal aku disana jagain kamu loh” protes Daffin.
“Iya, iya. Aku tahu kok. Makasih ya!”
Wajah Daffin langsung berubah sumringah seketika setelah Aya mengucapkan terimakasih padanya. Daffin juga berani menggenggam tangan Aya saat mengantarnya kembali menuju kelas. Awalnya Aya tampak kaget, tapi setelah itu ia pun membalas genggaman tangan Daffin. Kini mereka tak lagi menyembunyikan hubungan yang selama ini mereka sembunyikan dari anak-anak lain di sekolah.
“Aya sialan!” gerutu Laura dengan geram.
“Lau, kata lo kemarin rencana yang lo buat berhasil. Kenapa dia malah balikan lagi sama Daffin?” tanya Bonita.
“Iya. Tuh liat si cewek gatel itu sok banget!” sahut Diana.
“Berisik kalian semua! Gue lagi nggak mood buat bahas tuh cewek sialan” pungkas Laura sambil berlalu.
Mereka mengekor di belakang Laura. Ketiga gadis itu langsung memikirkan rencana lain untuk membalas dendam pada Aya. Target mendapatkan Daffin kini telah bertambah dengan rencana menghancurkan Aya.
Begitu bel sekolah berbunyi dan pelajaran terakhir telah selesai, Daffin langsung berlari ke kelas Aya untuk menjemputnya. Ia tak bisa melewatkan satu hari pun tanpa menjaga Aya. Daffin yakin betul bahwa Laura dan teman-temannya tak akan tinggal diam setelah kejadian di rumah Laura. Benar saja, Daffin sempat melihat Bonita dan Diana berada di sekitar kelas Aya, seolah sedang mengawasinya.
“Kamu kok udah di sini?”
Sapaan Aya membuat Daffin terkejut karena tengah fokus melihat ke arah menghilangnya kedua teman Laura.
“Eh, udah keluar. Iya dong, nanti kamu diculik Laura lagi” jawab Daffin terkekeh.
Mereka pun membahas Laura dan kejadian itu saat berjalan keluar dari sekolah.
“Kalaupun tuh anak mau jahatin aku, bakalan aku banting tuh dia” kata Aya dengan wajah khas ngedumelnya.
“Woohhooo, mentang-mentang udah bisa gelud” ejek Daffin.
Aya tertawa. Memang benar bahwa Aya yang sekarang akan dengan mudah membanting seseorang terlebih jika orang itu hanya wanita manja seperti Laura. Semenjak ia diajari taekwondo oleh Daffin, ia selalu melampiaskan amarahnya dengan menambah ilmu bela dirinya. Saat membanting lawan, hati Aya sedikit merasa lega karena emosi dan amarahnya tersalurkan dengan positif.
“Fin, menurutmu dia akan ngelakuin apa lagi ya?” tanya Aya.
“Ya nggak tahu, tapi moga aja enggak ngapa-ngapain” jawab Daffin.
“Dih, mana mungkin. Anak kayak dia, nggak akan diem dan nyerah gitu aja”
Daffin pun mengangguk setuju. Laura memang senekat itu. Tanpa sengaja, mereka berdua berpapasan dengan Arka dan Nona. Melihat Daffin menggandeng tangan Aya, wajah mereka berdua berubah, seperti ketakutan dan cemas. Tentu saja, karena mereka secara terang-terangan mengkhianati Daffin dan Aya. Terlebih usaha mereka nampak gagal.
“Ayo, Ay! Nggak usah lihat ke arah mereka” ajak Daffin.
Aya hanya diam dan terus mengintimidasi mereka dengan tatapan matanya yang tajam. Meskipun agak jauh, ia yakin amarah dalam tatapan matanya akan sampai di hati mereka berdua.
“Oya, Fin. Kemarin gimana kok kamu bisa bangun gitu? Kan kamu ngeyel minum minuman itu!” tanya Aya heran.
Sebenarnya Daffin memang sudah tahu rencana Laura yang ingin menjebaknya. Saat Aya memberinya tatapan penuh arti pada Daffin, dia mulai mencurigai minuman yang saat itu ia pegang. Dan tanpa sepengetahuan Laura dan Aya yang sedang bersitegang, Daffin menukar minumannya dengan minuman lain yang sejenis. Ia pun harus berpura-pura pingsan demi menyelamatkan Aya dan Haira dari tempat itu.
“Oh, jadi karena tatapan aku?” tanya Aya dengan percaya diri.
“Dih, kumat lagi dia.”
“Lah emang kan? Karena aku ngode pakek tatapanku yang tajam ini, kamu jadi tahu” cerocos Aya.
Daffin memilih berhenti berdebat dan tidak membalas omelan Aya. Melihat pacarnya sudah kembali mengomel, Daffin yakin bahwa dia sudah baik-baik saja. Ia senang karena hubungannya bersama Aya telah kembali membaik. Meski berkali-kali putus dan nyambung, dia yakin perasaannya dan Aya sudah semakin dalam dan saling mempercayai satu sama lain. Dan itu membuat Daffin bahagia.