Our High School

Our High School
Jawaban dari Jebakan



“Nggak, Ay! Nggak lagi! Kita bisa minta dia untuk bersaksi, kan?” kilah Daffin sambil menunjuk ke arah gadis itu.


Gadis yang kini telah berpakaian itu pun kembali ketakutan dan enggan menatap Daffin dan Aya. Dia terus menunduk dan panik seolah-olah seseorang akan segera datang untuk menangkapnya.


"Dia nggak akan bisa bersaksi, Fin" ucap Aya lesu.


"Kenapa?"


"Ada bukti yang mereka pegang dan bisa langsung mereka bawa ke kantor polisi saat ini juga” katanya lagi.


“Bukti apa?” teriak Daffin tak percaya.


Aya mengatakan apa yang dikatakan oleh penelepon itu sebelumnya. Cairan yang Aya temukan dan lihat di tubuh gadis itu, adalah cairan milik Daffin. Tentu saja Aya tak bisa membuktikan itu hanya dengan melihatnya. Namun si penelepon bilang bahwa cairan itu milik Daffin, dan merekalah yang sengaja menaruhnya di tubuh gadis itu.


Menceritakan hal seperti itu pada pacarnya sendiri membuat batin dan hati Aya remuk. Tidak ada rasa malu namun perasaannya hancur. Sementara Daffin tak percaya begitu saja dengan apa yang Aya ceritakan. Bagaimana mungkin cairannya bisa keluar sedangkan dia tengah tak sadarkan diri karena pengaruh obat tidur.


“Ay, itu tidak mungkin!” teriak Daffin.


“Aku nggak tahu, Fin! Yang jelas mereka mengatakan itu! Dan lagi mereka bilang punya video kamu dan gadis itu” kata Aya lirih, air matanya mulai turun.


Daffin mulai kesal. Ia tak mungkin melakukan hal itu apalagi dalam kondisi tak sadar. Ini jelas jebakan dan kebohongan. Ancaman bodoh ini dilontarkan pada Aya karena ia tak tahu apa-apa. Sedangkan Daffin pun akan kesulitan membuktikan dirinya tak bersalah karena posisi dan keadaannya dalam keadaan yang tak menguntungkan. Apalagi gadis yang bersamanya sama sekali tak bisa diajak bicara.


Namun satu hal yang masih mengganggu pikiran Daffin adalah siapa yang bisa melakukan hal ini padanya. Mereka terlihat seperti profesional dan sudah menyiapkan segalanya. Bahkan mereka mengambil ponsel Daffin dan menipu Aya dengan itu.


Hanya ada satu nama yang bisa ia pikirkan dan mampu melakukan ini semua. Tapi Daffin tak punya bukti apapun. Daffin hanya menyuruh Aya untuk pulang sementara Daffin akan membawa gadis itu ke rumahnya.


***


Bukan tanpa alasan Daffin membawa gadis itu ke rumah. Dia ingin membuat gadis itu mengaku dan memberitahunya segala yang ia tahu.


Awalnya Aya menentang ide itu. Membiarkan Daffin membawa seorang perempuan asing ke rumahnya, sama saja dengan memberikan risiko besar pada hubungan mereka. Ditambah gadis itu terluka di seluruh tubuhnya, dan dituduh melakukan hal tak senonoh dengan Daffin. Tapi Daffin meyakinkan Aya bahwa dia tidak akan berbuat hal-hal yang membuat Aya khawatir. Dia juga terus mengatakan akan mencari cara untuk menyelesaikan masalah ini.


Mau tak mau Aya pun harus menyetujui keputusan Daffin. Tapi dia berpesan pada pacarnya itu agar selalu berhati-hati dan tetap waspada. Aya juga mengatakan akan membantu sebisanya untuk mencari dalang dibalik semua ini.


Ketika sampai di rumah Daffin, Aya yang turut serta mengantar gadis itu pun juga mengatakan sesuatu pada gadis itu.


“Siapa nama kamu?” tanya Aya perlahan.


“Pristy” jawab gadis itu dengan takut-takut.


“Oke, Pristy. Aku dan dia tidak akan menekan kamu untuk bicara jujur. Aku juga tahu bagaimana perasaanmu saat ini. Tapi jika kamu ingin memberi pelajaran pada orang yang melakukan ini sama kita, kamu harus jujur, ya!” kata Aya.


Gadis yang bernama Pristy itu mengangguk perlahan. Masih ada ketakutan dan kepanikan yang ada di sikap yang ditunjukkan oleh gadis itu. Aya dan Daffin sepakat untuk bertanya padanya secara halus dan perlahan. Mereka tak mau terburu-buru hingga membuat Pristy semakin trauma.


Setelah mengantar Pristy tidur di kamar yang disediakan Daffin, Aya pun keluar menemui Daffin yang sedang berdiri di teras. Dan ketika Daffin melihatnya serta ingin menariknya agar lebih dekat, Aya justru sedikit menjaga jarak hingga membuat Daffin menjadi canggung.


“Kamu masih marah sama aku? Kamu masih curiga?” tanya Daffin.


“Aku nggak tahu, Fin. Aku jadi kepikiran. Kita ini masih muda, masih sekolah, tapi apa yang kita hadapi bukan seperti masalah anak remaja” kata Aya.


“Apa kamu udah tahu kira-kira siapa yang ngelakuin semua ini?” tanya Aya mengalihkan pembicaraan. Ia juga masih canggung untuk membahas masalah hubungannya dengan Daffin.


“Aku nggak yakin, tapi sepertinya hanya Laura yang bisa ngelakuin ini semua” jawab Daffin.


“Laura?”


Daffin mengangguk. Gadis itu berasal dari keluarga kaya dan berpengaruh. Melihat rumah dan banyaknya penjaga serta anak buahnya saja sudah bisa membuat kecurigaan itu semakin bertambah.


Tapi Daffin belum bisa melakukan apapun sebelum ada bukti. Sementara Aya juga kepikiran masalah sekolahnya. Mereka sudah kelas 12, tapi masalah yang terjadi justru tak kunjung berhenti.


“Fin, aku pulang dulu. Besok usahakan kamu masuk sekolah. Jangan bolos!” kata Aya.


Daffin mengangguk seraya meraih tangan Aya. Gadis itu menoleh dan melihat ke arah tangannya yang sedang digenggam Daffin.


“Ay..”


“Kita bahas lain kali ya, Fin!” ucap Aya dengan senyum yang dipaksakan.


Daffin kembali ke dalam rumah bersamaan dengan Pristy yang baru saja keluar dari kamar mandi. Dengan malu-malu dia bertanya pada Daffin apakah dia memiliki baju yang bisa ia pakai.


“Aku ambilin. Tunggu sebentar” jawab Daffin.


Pristy menunggu Daffin yang sedang mengambil pakaian dari kamarnya. Ia melihat-lihat sekeliling dan menemukan sebuah foto yang berisi gambar Daffin dengan keluarganya. Tiba-tiba Pristy menjadi panik dan cemas saat melihat ada foto Arka di samping Daffin.


Ketika Pristy tengah mengatasi kepanikannya, Daffin keluar dari kamar dengan membawa satu stel pakaian. Tapi begitu melihat Pristy panik, Daffin pun langsung menghampirinya.


“Ada apa, Pris?”


Dengan panik dan ketakutan Pristy menunjuk foto keluarga di depan mereka.


“Ada apa dengan foto ini?” tanya Daffin.


“Si-siapa dia?” tanya Pristy terbata.


Daffin melihat ke arah orang yang ditanyakan Pristy. Dan ketika dia tahu bahwa orang yang ditunjuk gadis itu adalah Arka, Daffin mulai curiga. Terlebih sikapnya yang tiba-tiba berubah menjadi panik.


“Ada apa dengan dia? Apa kamu kenal?” tanya Daffin perlahan.


Pristy mengangguk. Matanya mulai berair. Sementara Daffij yang mulai berpikir sesuatu, mencoba mengonfirmasinya dengan Pristy.


“Apa dia yang melakukannya?”


Pristy menangis hebat. Tapi kepalanya langsung memberikan jawaban atas pertanyaan yang diberikan Daffin. Dan inti dari permasalahan mereka akhirnya terkuak saat itu juga. Ternyata Arka lah yang melakukan itu pada Pristy. Daffin yang sama sekali tidak kepikiran akan kemungkinan itu pun ikut terkejut dengan jawaban Pristy. Beberapa waktu terakhir ini dia sama sekali tidak pernah melihat apalagi berhubungan dengan Arka.


Tanpa diminta dan tanpa dipaksa, akhirnya peran Pristy sangat membantu Daffin menyelesaikan masalahnya. Malam itu juga dia memberikan pernyataannya pada Daffin.