
Daffin membelalakkkan matanya lebar. Ia tak mempercayai apa yang baru saja ia dengar.
"Kamu mau kita putus? Kenapa?"
Aya terdiam sejenak, menarik napasnya pendek dan mengembuskannya.
"Aku sudah capek kayak gini terus" jawab Aya dingin.
"Aku pengen kembali ke hidupku yang sebelumnya, saat belum mengenal kamu" lanjutnya lagi.
Daffin mulai nampak kebingungan dan tidak bisa menerima keputusan Aya. Ia memegang bahu Aya dan mengguncangkannya dengan cukup keras.
"Apa maksud kamu, Ay?" tanya Daffin.
Sebenarnya Daffin mengerti maksud dari ucapan Aya. Ia pun memahaminya. Ia hanya tidak bisa menerima keputusan sepihak yang diambil Aya secara tiba-tiba. Terlebih setelah mendiamkan dan menghindarinya selama berhari-hari.
"Udahlah, Fin! Aku tahu kamu paham maksudku. Aku capek, aku mau pulang."
Aya berjalan meninggalkan Daffin yang masih terpaku. Bahkan ia juga berani mengibaskan tangan laki-laki itu ketika mencoba menahannyaa untuk pergi.
Akhirnya Daffin memilih melepaskannya tanpa perlawanan apapun lagi. Sebenarnya ia juga merasa bersalah karena semenjak mengenal dirinya, Aya mengalami banyak hal yang mengerikan hingga kehilangan sang ayah.
Namun Daffin tidak berencana melepas Aya untuk selamanya. Ia hanya akan membiarkannya 'istirahat' sejenak dari hubungan mereka dan dari semua tekanan yang dia terima. Daffin akan kembali mencoba mendekatinya jika semua permasalahan sudah mereka selesaikan.
***
Nona menghubungi Daffin untuk memberikan informasi mengenai Arka. Ia telah berhasil menemukan rekaman cctv yang terpasang di sekitar jalan menuju atap gedung sekolah mereka.
Saat Nona berjalan bersama Daffin di lorong kelas, mereka berpapasan dengan Aya yang baru saja kembali dari kantin. Melihat mereka berdua, Aya berhenti dan terdiam sejenak, dan langsung kembali berjalan menuju kelasnya. Ia masih saja memasang wajah datar dan dingin di depan Daffin. Bahkan saat Nona mencoba menyapanya, Aya mengabaikannya.
"Aya kenapa, Fin? Apa dia masih cemburu sama aku?" tanya Nona.
"Dia mutusin aku kemarin" jawab Daffin pendek.
"Hah?" Nona terkejut karena dia memang belum mengetahui berita itu.
"Apa karena aku?" tanyanya lagi.
Daffin menggeleng dan mengajaknya segera menemui anak-anak yang mereka cari.
Sesuai permintaan Daffin, Nona menemukan anak-anak yang berada di atap waktu itu dan membicarakan tentang Arka. Daffin mengejar mereka karena merasa informasi mengenai Arka akan bisa ia dapatkan dari mereka.
Begitu menemukan anak-anak itu, Daffin langsung menyeret mereka menuju tempat pembuangan sampah di area belakang sekolah. Ia langsung mencecar mereka dengan banyak pertanyaan.
"Siapa kalian?" tanya salah satu anak yang mereka temukan.
"Nggak perlu tahu siapa kita. Katakan dimana Arka sekarang!" teriak Daffin.
"Oh, kalian temennya si Arka? Gimana dong, gue nggak tahu dimana dia" jawab anak itu.
Daffin menatapnya tajam. Ia berusaha menekan mereka dengan caranya sendiri. Bahkan dia mencoba menghajar mereka walaupun dihentikan oleh Nona.
"Tahan, Fin! Kita lagi di sekolah" kata Nona.
Nona pun mengambil alih peran Daffin untuk menekan mereka. Ia merasa perannya saat ini lebih dibutuhkan daripada tekanan seorang laki-laki seperti Daffin.
Ia pun mendekati anak-anak itu dengan gerakan yang sedikit nakal. Daffin melihatnya dengan tatapan bingung dan sulit dijelaskan. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh gadis nekat itu. Nona bisa saja melakukan hal-hal gila diluar dugaannya.
Benar saja, Nona menggoda mereka dengan membisikkan sesuatu di telinga salah satu anak yang terlihat seperti pemimpin geng itu. Bisikannya pun terlihat sangat mempengaruhi anak itu, karena dia tampak tersenyum licik dan penuh harap.
Setelah membisikkan sesuatu itu, Nona beringsut mundur dengan melayangkan sebuah kecupan udara dan kedipan nakal dari satu matanya.
Anak-anak itu langsung meninggalkan tempat itu dengan senyum lebar dan tawa yang meledak.
Daffin memicingkan matanya ke arah Nona dan menatapnya penuh curiga.
"Apa yang kamu lakukan barusan? Terus acara bisik-bisik tadi ngapain?"
"Apa ini? Apa kamu cemburu?" ledek Nona.
Daffin menggeleng tak percaya dengan jawaban yang keluar dari mulut Nona.
"Aku janjiin mereka ngedate sama aku kalau mereka ngasih info ke kita" lanjut Nona.
"Hah? Dasar gila!"
"Kenapa? Yang penting kita dapetin si Arka" kata Nona terkekeh.
Mereka meninggalkan tempat itu karena bel telah berbunyi dan mereka harus kembali ke kelas. Anak-anak itu juga berjanji akan membawa mereka bertemu Arka seusai pulang sekolah.
***
Tak lama mereka sampai di sebuah gudang yang letaknya cukup jauh dari sekolah. Gudang itu cukup besar namun berada di sebuah kawasan yang sepi penduduk. Daffin terkejut mengetahui ada tempat seperti itu di daerah yang cukup penuh dengan bangunan dan gedung pencakar langit.
Begitu pintu gudang dibuka, Daffin langsung melihat seseorang terikat di satu kursi dengan mulut yang disumpal kain dan mata yang ditutup.
"Itu Arka!" gumam Nona menahan keterkejutannya.
Daffin dan Nona mendekat ke arah Arka tanpa mengeluarkan suara. Sementara ketiga anak yang bersama mereka membuka penutup mata Arka dan sumpalan mulutnya.
Arka terkejut karena begitu membuka mata, yang terlihat pertama kali adalah Daffin dan Nona yang berdiri mematung di depannya.
"Daffin!" ucap Arka.
Daffin melangkah mendekati Arka. Ia membungkukkan badannya hingga wajahnya sejajar dengan wajah Arka.
"Brengsek! Apa yang lo lakuin ke ayahnya Aya?" Daffin mencengkeram kerah baju Arka dengan penuh emosi.
Arka tidak mengatakan apapun. Ia terlihat kebingungan dan sedikit ada rasa takut di wajahnya.
"Ar, lo jujur aja! Kita punya bukti foto yang di dalamnya ada gambar lo dengan orang-orang itu" kata Nona.
"****!"
Tiba-tiba saja Arka meronta dan berontak. Ia berusaha melepaskan diri dari ikatan yang melilit tubuhnya. Ia juga mulai berteriak-teriak tidak jelas seperti orang yang kehilangan kesadaran.
Daffin dan Nona terperangah melihat sikap Arka yang tiba-tiba berubah dalam waktu cepat, terlebih setelah membahas ayah Aya.
"Hei, kenapa dia?" teriak Nona panik.
Daffin berlari memegangi Arka sebab dia sudah semakin kehilangan kesadaran diri. Ia berusaha menahan pergerakan tubuh Arka yang terus meronta hebat.
Namun saat Daffin dan Nona kebingungan melihat perubahan sikap Arka, ketiga anak itu justru diam santai dan hanya mengamati mereka. Bahkan saat Nona melirik ke arah mereka, ketiga anak itu justru terlihat tersenyum kecil dan mengejek.
"Hei, kalian! Jelaskan kenapa dia bisa jadi kayak gini!" teriak Nona sambil melempar sebuah botol ke arah ketiga anak yang berdiri diam itu.
"Tenang aja, setiap hari dia kayak gitu. Nanti juga diam lagi" kata mereka.
Nona mengumpati mereka meski hanya dibalas tawa. Ia langsung mendekati Daffin yang masih memegangi tubuh Arka.
"Fin, kita harus bawa Arka keluar dari sini!" ucap Nona lirih.
Daffin nampak berpikir cepat dengan wajah penuh emosi. Ia pun melepas tangannya dari tubuh Arka dan berlari ke arah anak-anak yang berdiri di samping belakang mereka. Daffin langsung menghajar mereka dengan sekuat tenaganya agar bisa menumbangkan mereka dengan cepat. Ia setuju dengan ucapan Nona bahwa ia harus membawa Arka keluar dari sini terlebih dahulu.
Namun anak-anak itu ternyata tidak mudah ditumbangkan. Mereka memiliki kemampuan bela diri yang cukup lumayan bisa menandingi kemampuan Daffin yang merupakan pemegang sabuk hitam Taekwondo.
Sementara itu, Nona berusaha melepas ikatan Arka. Meskipun sedikit kesulitan, akhirnya dia bisa melepasnya dengan pisau kecil dari gunting kuku yang ia bawa di dalam tasnya.
Arka yang tadinya meronta hebat saat masih terikat, kini justru menarik tangan Nona ke belakang dan berteriak untuk menghentikan pertarungan Daffin dan anak-anak itu.
"Hentikan!"
Daffin berhenti dan menoleh ke arah suara teriakan itu. Namun ia melihat Arka sedang mengancam mereka dengan meletakkan pisau kecil di leher Nona.
"Ar! Lo ngapain? Lepaskan Nona!" teriak Daffin marah.
Ketiga anak itu pun mengumpati Daffin yang tak percaya dengan ucapan mereka agar membiarkan Arka dengan sikapnya tadi.
"Gue udah bilang biarin dia! Dia itu makek obat, kalau kambuh dia ngamuk. Makanya kita ikat" kata salah seorang anak itu.
Arka kembali berteriak dan meminta mereka minggir agar dia bisa keluar dari tempat itu. Daffin berusaha menurutinya sambil memikirkan langkah apa yang harus ia ambil. Ia tidak menyangka Arka bisa menjadi separah ini. Ia mencoba mengajaknya bicara terlebih dahulu.
"Ar, apa mau lo? Katakan!" ucap Daffin dengan nada yang diturunkan.
"Gue mau pergi dari sini!" teriak Arka.
"Oke, tapi katakan dulu, apa lo yang membuat ayah Aya meninggal?" tanya Daffin.
"Iya! Gue yang ngelakuin! Tapi gue nggak sengaja!" teriak Arka lagi.
Daffin menahan emosinya agar tidak meledak setelah mendengar pengakuan Arka. Ia sangat ingin menghajarnya saat itu, namun ia juga harus memikirkan keselamatan Nona yang masih disandera Arka.
Daffin pun memutuskan.
"Baiklah! Lo boleh pergi dari sini, tapi lepaskan Nona, jangan sakiti dia!" kata Daffin, dalam hatinya ia bersumpah akan mencari dan menghajarnya nanti.
Beruntungnya Arka mau mendengarkan permintaan Daffin. Arka memang hanya ingin keluar dari tempat itu secepatnya. Ia tidak tertarik untuk melukai siapapun saat itu. Ia pun melepaskan Nona dan mendorongnya ke arah Daffin hingga dia terhuyung.
Setelah berhasil melewati hadangan dari ketiga anak itu, Arka pun berlari keluar gudang dengan kondisi yang penuh luka bekas ikatan di tangan dan kakinya.