Our High School

Our High School
Hilangnya Arka



*Satu tahun yang lalu*


Hari ini adalah hari ke tiga puluh sejak Daffin berada di panti rehabilitasi. Ketika polisi melakukan penyergapan pada anak buah Benny, dia tengah melakukan pengiriman. Sialnya saat hendak melarikan diri, ia malah terdorong hingga terjatuh dan akhirnya tertangkap.


Namun dengan tekad dan keinginannya yang kuat agar bisa terlepas dari obat-obatan terlarang itu, akhirnya Daffin mengikuti seluruh pengobatan yang harus ia terima.


Setiap Daffin sakaw dan berontak meminta diberi obat, akan ada lima petugas yang selalu menghalangi tubuh Daffin yang bereaksi hebat.


Sama seperti hari ini, Daffin harus berjuang melawan keinginannya selama dua jam. Banyak petugas yang merasa iba saat melihat Daffin yang tengah meraung dan berteriak-teriak kesakitan.


Daffin sakaw untuk yang kesekian kali dalam satu bulan pertamanya di tempat itu. Kedua matanya tidak fokus dan terus berputar, dan kepalanya terasa seperti dihantam ribuan palu.


Daffin menjerit keras hingga suaranya memekakkan telinga seluruh orang yang memeganginya. Butuh lima orang untuk memegangi tangan, kaki, dan tubuh Daffin yang bongsor.


*Masa Kini*


Aya mendengarkan cerita Daffin dengan serius. Sebenarnya ia tidak keberatan jika Daffin tak mau menceritakannya, karena itu adalah masalah pribadi. Tetapi bagi laki-laki itu, membagi kesedihannya dengan seseorang yang disukainya bukan menjadi sebuah masalah. Ia bahkan melanjutkan ceritanya lagi hingga bagian yang paling sensitif.


Dia mengatakan bahwa sebagian kehidupan masa mudanya penuh dengan kegelapan. Dia menjalani saat-saat dimana harusnya ia masih bergaul dengan teman sebayanya, justru dengan menahan sakit di sebuah ruangan kecil dan pengap. Naasnya, tidak pernah ada keluarga yang menjenguknya selama ia di sana, selain neneknya.


Kedua orang tua Daffin bercerai saat ia masih duduk di bangku smp. Hal itulah yang membuatnya berlari ke dunia obat terlarang untuk menyembunyikan kesedihannya. Setelah itu ibunya menikah lagi dengan seorang duda beranak satu yang kemudian ia anggap sebagai kakaknya, yaitu Arka.


Namun Daffin masih memilih untuk tinggal bersama neneknya. Sebab itulah Arka terlihat lebih terurus sedangkan dia terlihat seperti anak yang terlalu bebas dan lepas dari pengawasan orang tua, meskipun sebenarnya tidak demikian.


“Terus, kenapa kamu bisa tinggal sama Arka sekarang?”


“Karena kupikir dia sudah berubah”


“Berubah?” tanya Aya heran.


Daffin pun melanjutkan ceritanya lagi. Bahwa dulu Arka pernah melakukan hal serupa. Ia pernah memasukkan sebuah obat di dalam tas Daffin. Obat itu memang tidak ilegal tapi cukup dilarang bagi anak dibawah umur. Dan dia sengaja melakukannya agar Daffin dikembalikan ke panti rehabilitasi. Saat itu dia tidak menyukai Daffin karena sang ibu yang lebih sering memperhatikannya dibanding Arka.


“Terus?”


Daffin melihat ke arah jendela dan ternyata langit sudah berubah menjadi gelap.


“Lanjutin kapan-kapan!” kata Daffin seraya memutar bahu Aya agar dia melihat ke arah jendela.


“Hish..” gerutu Aya.


Daffin pun memutuskan mengantar Aya pulang. Ia tidak mungkin menyuruhnya menginap di rumahnya dan menimbulkan rumor baru lagi.


***


Arka tidak muncul di sekolah bahkan setelah berhari-hari semenjak rumor itu dipasangnya di mading sekolah.


Bahkan ketika Daffin mencarinya di rumah, Arka juga tak terlihat. Ponselnya pun juga tidak aktif. Daffin mencoba mencariny ke kafe Benny tapi juga tak mendapatkan hasil apapun.


“Apa kau tahu mereka kemana?” tanya Daffin dari balik telepon.


Sayangnya mereka hanya melihatnya dari jauh dan tidak mencari tahu lebih lanjut mengenai kemana mereka membawa Arka.


Hanya satu nama yang memungkinkan untuk Daffin tanyai. Ia pun bergegas mencari orang tersebut dengan menghubunginya.


“Lo dimana? Temui gue di kafe Benny”


***


Daffin sudah tiba di kafe tapi ia tak menemukan orang yang ia ingin temui. Ketika dia mencoba menghubunginya lagi, tiba-tiba orang itu datang mengejutkannya dari belakang.


“Hai, kangen aku ya?”


Nona sudah berdiri di depannya dengan beberapa perubahan pada dirinya. Ia memangkas rambutnya menjadi pendek. Ia juga tak lagi memakai anting tindik yang biasa tergantung di telinga kanannya. Yang lebih mengejutkan Daffin, Nona tak lagi memakai rok seragamnya di atas lutut. Kini bahkan ia menggunakan rok seragamnya dengan celana olahraga di baliknya karena rok sekolah mereka memang terlalu pendek. Daffin mematung sejenak tatkala melihat perubahan super spektakuler itu.


“Fin, lo kok diem aja? Kagum ya?” tanya Nona dengan tertawa.


“Oh, lumayan” jawab Daffin.


“Ada apa? Katanya mau ngomongin sesuatu soal Arka?”


Daffin pun menceritakan semua yang ia tahu soal Arka pada Nona. Memang ada beberapa bagian yang melibatkan Nona di dalamnya, tapi Daffin hanya fokus pada mencari keberadaan Arka saat itu.


“Aku nggak tahu pasti sih, Fin. Tapi kalau aku nggak salah, Arka pernah cerita soal hutang” ucap Nona serius.


“Hutang? Maksudmu Arka punya hutang?”


“Dia cuma bilang harus kerja lagi, buat bayar hutang katanya. Makanya dia minta kerjaan lagi sama Benny” jelasnya.


Daffin berpikir apakah Benny tahu soal keberadaan Arka. Apakah dia terlibat dengan orang-orang berbaju hitam itu. Ia pun meminta Nona mengabarinya jika menemukan sesuatu mengenai Arka, apapun itu, dan Nona menyanggupinya.


Meskipun Daffin sedikit tidak percaya dengan kemampuan Nona, apalagi dengan perubahannya yang entah dengan tujuan apa, tapi untuk saat ini hanya dia satu-satunya harapan Daffin untuk menemukan Arka.


***


Meskipun rumor tentang Aya dan Arka masih tersebar dan menjadi bahan omongan, Aya memberanikan diri untuk kembali masuk ke sekolah. Tentu saja dia masih gugup dan bergetar saat melewati koridor menuju kelasnya. Sebab semua pandangan anak-anak tertuju pada dirinya. Belum lagi mulut mereka yang seolah tidak dipasangi penyaring melainkan pengeras suara. Mereka menggunjing tepat di depan Aya tanpa rasa bersalah sama sekali.


Namun Aya berusaha mengabaikan hal itu. Dia mencoba masa bodoh dan fokus pada sekolahnya saja. Tapi pada kenyataannya otaknya sama sekali tidak bisa fokus ke dalam pelajaran. Pikiran Aya tidak berada di dalam kelas, melainkan melayang mencari keberadaan Arka. Mau ijin tidak masuk pun juga tidak mungkin, karena dia dan Daffin sedang dalam pengawasan wali kelas mereka.


Tingkat stresnya bertambah saat wali kelasnya memanggilnya ke ruang guru untuk diinterograsi mengenai foto dirinya. Dan pastinya dia kesulitan menjawab karena hal itu akan merembet kemana-mana, termasuk perihal obat terlarang.


Aya tidak ingin Daffin semakin terseret, hingga akhirnya dia terpaksa berbohong bahwa itu hanyalah editan Arka karena cemburu dengan kedekatannya bersama Daffin. Aya tahu alasan itu tak cukup kuat, tapi setidaknya wali kelasnya tidak bisa mengonfirmasi jawaban Aya pada Arka selama ia belum ditemukan.


Ada sedikit harapan Aya agar rumor itu segera mereda sehingga saat Arka kembali, ia bisa meminta Daffin untuk membuatnya mengaku sesuai jawaban yang Aya buat.