
Hari terakhir masa liburan akhirnya digunakan Daffin dan Aya untuk menonton film di bioskop dan jalan-jalan ke taman bermain. Mereka benar-benar memanfaatkan waktu sebelum mereka masuk ke kelas dua belas. Karena setelah tahun ajaran baru dimulai, mereka tak akan bisa lagi bertemu satu sama lain apalagi berkencan.
Di saat berkencan pun, Daffin dan Aya selalu berdebat mengenai hal-hal kecil. Seperti hari itu, mereka sedang dalam perdebatan sengit mengenai film yang akan mereka tonton.
“Pokoknya aku mau nonton horor!” keluh Aya.
“Aku nggak mau! Horor banyak gelapnya” balas Daffin.
“Ya kalau terang bukan horor namanya!” teriaknya lagi.
“Udah nonton romance aja!” sahut Daffin lagi.
Dan perdebatan seperti itu berlangsung sampai pintu bioskop sebagian sudah dibuka. Akhirnya Aya memenangkan pertarungan sengit itu.
Aya terus menggoda Daffin bahwa ia sebenarnya takut dengan setan dan semacamnya. Sementara Daffin tetap bersikukuh bahwa ia ingin menonton romance bukan karena takut dengan hantu atau setan, melainkan karena ingin beromantis-romantis ria bersama pacarnya.
Setelah mereka masuk ke dalam teater, mereka duduk di kursi yang sudah mereka pilih. Daffin dan Aya memilih kursi dengan baris atas dan dekat dengan anak tangga. Namun ada satu kursi kosong di sebelah tempat duduk mereka.
Ketika film berjalan selama beberapa menit, ada seseorang yang menduduki kursi kosong di sebelah mereka. Kebetulan kursi kosong itu berada di sebelah kursi yang diduduki Daffin.
Dan mereka berdua cukup terkejut saat mengetahui siapa yang menduduki kursi itu. Dia adalah Laura. Sontak Aya langsung mengerucutkan bibirnya dan menjadi tidak fokus dengan film yang ia tonton. Sementara Laura dengan sikap berpura-puranya menyapa Daffin seolah pertemuan mereka tidak disengaja.
Melihat pacarnya terlihat tak nyaman dengan keberadaan Laura, Daffin berbisik di telinga Aya agar menukar tempat duduknya dengan milik Daffin. Namun di luar dugaannya, ternyata Aya justru menolaknya. Ia mengatakan pada Daffin bahwa ia tidak mau terlihat cemburu di depan Laura.
“Aku nggak mau dia mikir aku lemah” bisik Aya.
Daffin mengusap rambut Aya dengan gemas karena jawabannya yang dewasa. Laura yang melihat sikap romantis mereka tepat di depan matanya, mencoba menahan emosi dan kecemburuannya.
Hingga film berakhir, Laura tetap berada di sekitar mereka berdua. Meski sedikit menjaga jarak, Daffin mulai merasa tak nyaman. Ia pun menghampiri Laura dan mencoba berbicara dengannya.
"Hai, Lau! Sendirian aja tadi. Temen-temen lo nggak ikut?” tanya Daffin basa basi.
“Hai juga, Fin! Iya mereka nggak ikut” jawab Laura pendek.
“Mm..lo, nggak sengaja kan?” tanya Daffin lagi.
“Hm, apa maksud kamu?”
“Sorry, tapi kemarin gue udah ngomong sama lo, kan? Dan lo udah paham, kan?” tanya Daffin.
Sebenarnya Laura tahu apa yang dimaksud oleh Daffin. Akan tetapi Laura mencoba meyakinkannya bahwa keberadaannya di sana benar-benar tidak sengaja dan sebuah kebetulan.
Daffin pun menerima jawabannya dan meninggalkan Laura setelah mendapat pesan dari Aya yang sudah keluar dari toilet.
“Ngomong apa lagi dia?” tanya Aya.
“Bilangnya sih kebetulan” jawab Daffin.
Aya hanya menghela napas dan mengajak Daffin keluar dari bioskop. Mereka pun menuju tempat kedua yang ada di daftar kencan mereka hari itu, yaitu taman bermain.
Tempat bermain memiliki arti penting bagi Aya. Ia sering mengunjungi taman bermain bersama sang ayah dan adiknya, Haira. Kenangan masa kecilnya itu kembali terlintas di benaknya saat melihat wahana-wahana bermain yang pernah ia mainkan dulu.
“Aku seneng banget kamu ajakin ke sini, Fin” teriak Aya kegirangan.
Aya mengangguk dengan antusias. Ia mulai menikmati permainan-permainan yang ada di sana, sementara Daffin hanya mengawasinya dari kejauhan.
Tidak ada yang terjadi selama di taman bermain itu. Setelah puas bermain mereka berdua pun menuju satu tempat makan favorit mereka.
Lucunya, di kafe itu mereka bertemu dengan Nona dan Arka.
“Kalian di sini?” sapa Aya dari arah pintu masuk.
“Iya, dia minta ditemenin hangout katanya” jawab Nona seraya menunjuk Arka.
Akhirnya mereka berempat duduk dalam satu meja dan saling melempar cerita. Aya pun menceritakan pertemuannya dengan Laura di bioskop, lengkap dengan cerita mengenai kursinya.
Secara mengejutkan, Nona dan Arka justru bercerita bahwa mereka juga bertemu dengan Laura yang keluar dari pintu gerbang taman bermain ketika mereka menuju kafe tersebut.
Mendengar Laura berada di taman bermain, otomatis Daffin dan Aya pun terkejut. Mereka tidak mengira bahwa Laura akan mengikuti mereka seperti itu.
“Hah? Jadi kalian ada di taman bermain itu juga?” tanya Nona terkejut.
Daffin dan Aya kompak mengangguk.
“Wah, tuh anak sakit sih gue rasa. Kayaknya dia obsessed sama lo deh, Fin” kata Nona.
Daffin dan Arka pun berpikiran hal yang sama. Begitu Aya mendengar kata obsesi, raut wajahnya langsung berubah kecut.
“Kayaknya kita harus segera mengatasi gadis itu deh, Fin” kata Arka.
Semua berakhir diam karena memikirkan bagaimana cara untuk menghentikan gadis itu. Rasa ketertarikan yang Laura rasakan pada Daffin telah berubah menjadi obsesi yang berlebihan. Dan jika hal itu dibiarkan, maka akan semakin membahayakan semua orang yang terlibat.
Aya berpikir jika peringatan Daffin tidak berhasil membuatnya berhenti, berarti harus ada yang menghentikannya dengan cara yang lebih keras.
Saat dia ingin mendaftarkan diri untuk menghadapi Laura secara langsung, Daffin langsung melarangnya bahkan sebelum dia membuka mulutnya.
“Cih, apa aku nggak boleh jagain pacar aku sendiri?” protesnya pada Daffin.
Ucapan Aya yang menggelikan itu langsung membuat Nona menggerakkan mulutnya seperti ingin muntah. Dan seperti biasa Daffin justru cengar-cengir mendengarnya.
Di saat mereka masih memikirkan rencana itu, Nona yang tengah memandang ke luar kafe, tidak sengaja melihat Laura yang sedang berdiri dan memandang ke arah mereka.
“Wah gila! Tuh cewek ada di depan kafe dong!” ucap Nona lirih sambil meminta mereka semua tidak melihat ke arah Laura.
"Tuh kan, lama-lama dia nyeremin, Fin!” komplen Aya.
“Huft, sepopuler inikah gue sampe ada cewek yang begitu nekat ingin memilikiku?” kelakar Daffin.
Aya langsung menghadiahinya dengan sebuah pukulan di lengannya.
"Gue ada ide buat berhentiin obsesi dia dari Daffin” kata Arka.
Arka pun mengungkapkan rencananya. Mereka tampak setuju dan siap membantu mengeksekusi rencana itu. Aya pun juga sudah mulai muak dengan Laura yang terus membayanginya. Ia mempercayai Daffin tak akan tergoda dengan gadis perisak itu, tapi keberadaannya yang meresahkan membuatnya ingin membangunkan singa dalam dirinya yang sudah lama tertidur. Menurutnya, selain Laura mengincar Daffin, ia juga menginginkan Aya. Entah hanya berbicara dengannya, atau langsung ingin menyingkirkan Aya dari pandangannya.
Yang jelas Aya pun tak akan tinggal diam. Ia akan berusaha melindungi apa yang ia sayangi dan menyayanginya.