
Hari kedua sampai hari terakhir, kelas tutor Fino berlangsung dengan lancar. Daffin tak lagi merengek cemburu dan Aya juga tak lagi mengomelinya. Sepertinya upaya Aya membahas Nona cukup berhasil untuk menghentikan sikap Daffin yang dirasa Aya terlalu seperti anak kecil.
Hari ini pun saat Aya kembali berpapasan dengan Fino di kantin sekolah, Daffin hanya diam dan melanjutkan makan siangnya.
“Kok makan duluan sih, aku nggak diajak?” tanya Aya kesal karena tidak diajak makan bareng.
“Tadi temanmu bilang kamu masih ganti baju olahraga, jadi aku kesini dulu” jawab Daffin sambil melahap sepotong ayam goreng.
“Cih..”
Aya pun berjalan ke buffet untuk mengantri sebelum mengambil makan siangnya. Saat ia menunggu antrian berjalan, dari kejauhan Aya melihat Arka masuk ke dalam area kantin.
Aya mencoba mengalihkan pandangannya agar tidak mata mereka tidak saling kontak. Ia juga mulai merasa tak nyaman. Ia berharap bisa segera keluar dari kantin, tapi perutnya sudah lapar setengah mati karena dari pagi ia belum makan sama sekali.
Tiba-tiba Daffin datang menghampirinya dan mengajaknya keluar dari kantin sebelum Arka melihatnya. Namun sayangnya, Arka lebih dulu melihat mereka walaupun dia hanya memandang mereka sejenak.
Perut Aya makin keroncongan saat Daffin terus menarik tangannya menuju atap.
“Fin, aku belum makan. Kenapa kita kesini?”
“Kamu makan di sini aja!” jawab Daffin sambil menyodorkan sebuah kotak makan siang yang berisi makanan lengkap.
“Wow, dapet darimana makanan ini?” tanya Aya.
“Tadi aku pesan yang bungkusan buat kamu, jaga-jaga kalau kamu nggak mau makan di kantin karena Arka”
Aya tersentuh melihat betapa perhatiannya Daffin padanya. Setelah memastikan keadaan aman, Aya langsung menghamburkan dirinya ke dalam pelukan Daffin. Tentu saja Daffin terkejut saat Aya berani memeluknya di sekolah.
“Hey, kamu nggak takut dilihat anak-anak?” tanya Daffin.
“Enggak! Meskipun mereka semua ada di sini aku udah nggak takut” ucap Aya.Kini ia melepas pelukannya dan menatap Daffin dengan tatapan yakin.
“Ayo kasih tahu anak-anak soal kita!”
Ajakan Aya langsung disambut anggukan oleh Daffin. Ia memang sudah lama ingin mempublikasikan hubungan mereka. Namun selalu saja tidak menemukan timing yang pas.
Saat mereka turun dan menuju ke ruang kelas, Aya melihat banyak anak berlarian sambil teriak-teriak. Pemandangan yang tak asing ini mengingatkan Aya pada sesuatu. Ia ingat saat anak-anak berlarian menuju mading untuk melihat rumor yang dipajang Nona untuk mempermalukan Daffin.
Napas Aya tiba-tiba saja sesak, seperti berada di dalam ruang sempit yang penuh dengan banyak orang. Entah kenapa dia bisa merasakan bahwa sesuatu yang sama akan terulang kembali.
Benar saja, Aya dan Daffin mengikuti anak-anak yang berlari, dan mereka memang menuju papan pengumuman sekolah. Mereka terlihat sangat heboh dan saling beradu pendapat.
Begitu melihat Aya dan Daffin mendekat, mereka semua menyingkir sambil menunjuk-nunjuk ke arah Aya. Gadis itu mulai takut sesuatu yang buruk akan menimpanya kali ini.
Dan saat Aya melihat papan pengumuman itu, ia langsung terkulai lemas. Kakinya gemetar dan tidak bisa lagi menopang tubuhnya untuk berdiri. Daffin yang belum membaca apa yang pacarnya baca, ikut terhuyung karena Aya terjatuh di depannya.
“Ay, Aya!” teriak Daffin.
Aya terlihat panik dan tidak mendengarkan teriakan Daffin. Dia hanya menunjuk ke arah papan pengumuman itu. Daffin penasaran dengan apa yang sudah dilihat Aya sampai seperti itu. Dia mendongak ke atas untuk melihatnya.
Sepertinya Daffin sedang bersiap menghajar seseorang. Tangannya mengepal dan bergetar sangat hebat hingga pembuluh darahnya terlihat.
Bagaimana dia tidak emosi jika apa yang terpampang di papan itu adalah foto Aya yang tengah tertidur dengan pakaian yang sedikit terbuka bersama seseorang yang juga berbaring di sampingnya. Dan orang itu adalah Arka.
***
Sementara anak-anak yang lain masih terus membahas foto yang mereka lihat di papan pengumuman, Aya menangis seorang diri di dalam ruang kesehatan. Ia tak tahu lagi harus berbuat apa untuk menghadapi rumor itu. Bagaimana bisa Arka setega itu padanya, pada pacar adiknya sendiri.
Aya merasa malu dan takut. Banyak pikiran buruk bercampur dalam kepalanya. Bagaimana jika ibunya sampai tahu soal ini. Bagaimana jika hal ini membuat pihak sekolah mengusirnya. Semua pikiran itu membuatnya kalut.
Namun setelah menyadari Daffin meninggalkannya, ia justru mengkhawatirkannya. Sebab Aya tahu bahwa Daffin tengah mengejar Arka. Ia takut Daffin melakukan hal yang akan membuatnya menyesal suatu saat nanti. Dirinya yang dikuasai emosi tidak akan bisa membuatnya berpikir jernih, dan itulah yang gadis itu takutkan.
“Fiiin, angkat teleponnya!” ucap Aya panik.
Tetapi Daffin tetap tidak mengangkatnya. Ia terus mencari keberadaa Arka yang entah ada dimana. Daffin memutuskan untuk kembali menemui Aya. Ia berjanji pada dirinya sendiri, bahwa dia akan ‘menghabisinya’ jika ia menemukannya di luar sekolah.
"Fin!” teriak Aya sambil menangis saat melihat Daffin kembali menemuinya.
"Kamu nggak apa-apa?” tanya Daffin.
“Apa kamu menemukannya? Apa kamu menghajarnya?” tanya Aya diantara tangisnya.
“Kamu tenang aja, aku akan melakukannya nanti” jawab Daffin sambil mengelus kepala Aya untuk menenangkannya.
Aya menggeleng keras. Ia menyuruh Daffin untuk tidak melakukannya.
“Jangan, Fin! Kita yang akan rugi” kata Aya.
“Kamu sadar nggak apa yang dia lakukan sama kamu?” seru Daffin.
“Aku tahu. Tapi..”
“Sudah, istirahatlah! Aku akan mengantarmu pulang nanti. Urusan dia biar aku yang urus” kata Daffin.
Aya sudah tidak tahu harus menahan pacarnya dengan cara apa lagi. Dia hanya tidak ingin Daffin merugikan dirinya sendiri hanya karena perbuatan Arka.
***
Daffin ingin mengantar Aya pulang ke rumah, namun gadis itu memaksa untuk mengantarnya ke toko kuenya. Daffin menolak karena kemungkinan Arka mengganggunya lagi masih besar, karena mereka berdua belum memberikan respon apapun.
Untuk itu Daffin mengantar Aya menuju rumahnya. Rumah yang tak seorang pun tahu, rumah yang sangat Aya sukai karena tenang dan sunyi. Aya pun menyetujuinya.
Sesampaianya di rumah itu, Daffin meminta Aya untuk istirahat karena dia akan meninggalkannya sebentar.
“Fin, kamu harus tahan diri kamu. Biar bagaimana pun dia adalah kakak kamu” ucap Aya.
Daffin menggeleng pelan.
“Dia bukan kakak kandungku”
Aya terkejut mendengar pengakuan Daffin. Bahkan ia memintanya untuk mengulang kembali perkataan itu.
Tapi berapa kali pun Daffin mengulangnya, hal itu tidak akan berubah. Arka memang bukanlah kakak kandung Daffin. Meski begitu, Aya tetap berusaha menahan Daffin yang ingin segera menghajar Arka.
“Kalau kamu nggak mau dengerin aku lagi, aku nggak akan mau bertemu denganmu lagi. Selamanya” ancam Aya karena jengah dengan sifat keras kepala pacarnya.