Our High School

Our High School
Perkemahan Akhir Semester



Daffin menarik tangan Aya untuk mengajaknya berbicara empat mata. Dia cukup terperangah mendengar Aya ingin bertemu dengan Arka.


“Kamu yakin mau ketemu Arka?” tanya Daffin memastika.


Aya mengangguk. Dia memang sudah lama memiliki keinginan untuk bertemu dengan Arka. Ia ingin bertanya padanya dan mendengar jawabannya secara langsung.


“Tapi dari mana kamu tahu kalau aku dan Nona menemukan Arka?” tanya Daffin.


Aya memicingkan pandangannya. Ia melirik protes pada sang pacar yang tak memberitahu ataupun melibatkan dirinya.


“Aku tahu karena aku ngikutin kamu sama Nona” jawab Aya santai.


Daffin menggeleng tak percaya melihat kelakuan dan keberanian gadis itu. Dia tidak mempedulikan keselamatannya sendiri dan dengan bangga mengatakan hal itu tanpa rasa bersalah.


“Augh, bener-bener. Aku nggak bisa sedikitpun melonggarkan pengawasanku” kata Daffin sambil mencubit kedua pipi Aya.


Tapi sayangnya Daffin tidak mengijinkannya untuk bertemu dengan Arka. Ia tidak mungkin mempertemukan mereka berdua dengan keadaan Arka yang masih seperti itu.


Tentu saja bukan Aya kalau tidak mengomel dan protes dengan keputusan Daffin. Ia mendesaknya untuk mengatakan alasan dibalik larangannya itu. Daffin pun harus memutar otak untuk mengatakan alasan yang tepat agar tidak membuat gadis itu semakin penasaran dan kembali mengikutinya.


Akhirnya Daffin mengatakan bahwa dia sedang menitipkan Arka di tempat kenalannya. Dia mengatakan Arka membutuhkan perawatan karena ia dicekoki banyak obat. Daffin juga menyebut bahwa Arka tak lagi tinggal di rumahnya karena harus menginap di tempat kenalannya yang berprofesi sebagai dokter itu.


“Kamu nggak bohong kan?” cecar Aya curiga.


“Enggak, lagian kamu tuh harusnya mikirin nilai kamu!” seru Daffin mengalihkan pembicaraan.


Ucapan Daffin ada benarnya. Ia harus memikirkan nilainya yang tidak memuaskan sama sekali. Ditambah kejutan dari Daffin bahwa dia adalah murid yang berotak encer, itu sangat mengganggunya.


“Cih, mentang-mentang..” kata Aya kesal.


Daffin hanya tertawa dan mengajak Aya kembali ke kelas.


***


Hari itu kelas-kelas terdengar lebih riuh dari sebelumnya. Sebab hari itu adalah hari terakhir sebelum mereka masuk masa liburan akhir semester dua.


Seluruh murid kecuali kelas tiga, akan mengikuti acara camping yang diadakan oleh pihak sekolah. Semua tampak sibuk membicarakan acara itu, tak terkecuali Aya dan Nona yang telah menjadi teman satu geng.


“Ay, lo mau pindah? Listnya segini amat?” tanya Nona tak percaya saat melihat daftar panjang barang bawaan yang ditulis oleh Aya.


Aya hanya membalasnya dengan gidikan bahunya. Menurutnya kemah atau camping adalah acara paling ribet dan membutuhkan banyak barang bawaan.


“Huft, kasian si Daffin. Pasti dia akan menderita di kemah nanti” sindir Nona.


Aya hanya meresponnya dengan kepalan tangan yang diarahkan ke depan wajah Nona.


Melihat interaksi antara Nona dan Aya yang bertolak belakang dengan saat pertama kali mereka bertemu, sungguh membuat hati Daffin mendadak terenyuh untuk pertama kalinya.


Sebelumnya mereka seperti musuh, sekarang mereka bisa menampilkan adegan yang bahkan mengalahkan adegan teman lama.


Saat melihat Daffin berdiri di depan pintu kelasnya, Aya langsung melambaikan tangannya untuk menyuruh Daffin masuk.


“Fin, kamu ikut acara camping itu kan?” tanya Aya.


“Enggak!” jawab Daffin pendek.


“Beneran? Kenapa?” tanya Aya dengan nada protes yang keras.


“Karena lo ngrepotin!” sahut Nona asal.


Kini tangan Aya tidak lagi mengepal di udara, melainkan sudah melingkar di leher Nona. Ia memberinya ‘pelajaran’ atas mulutnya yang terlalu mudah terbuka.


Aya berubah girang saat panitia mengumumkan bahwa akan ada lomba pasangan dengan hadiah sebuah ponsel bermerk yang terkenal dengan logo apelnya.


Ia langsung mengajak Daffin untuk ikut serta dalam lomba itu. Akan tetapi begitu membaca selebaran lombanya, Daffin menolaknya dengan keras.


“Ogah! Aku nggak mau ikut!” sentaknya.


“Ah, Daffin. Kenapa?” tanya Aya sebal.


Bagaimana Daffin tidak menolak jika di dalam lomba tersebut disebutkan bahwa akan ada perubahan partner dalam lomba gendong pasangan.


Ia juga malas memperlihatkan interaksinya dengan pasangan di depan umum dan ditonton banyak orang.


Tetapi Aya bersikeras untuk tetap mengikuti lomba itu karena mengincar hadiah yang ditawarkan.


“Oke, oke! Kalau menang kamu dapet hape, lalu aku dapet apa?” tanya Daffin.


“Mm, kamu bisa minta satu permintaan ke aku” jawab Aya dengan penuh percaya diri.


Akhirnya Daffin tidak bisa mendebatnya lagi. Seketika setelah ia menyetujuinya, Aya langsung mendaftarkan nama mereka.


***


Acara perkemahan pun akhirnya tiba. Seluruh siswa yang ikut diwajibkan mengikuti setiap acara yang sudah dirancang oleh panitia.


Mereka juga harus belajar mendirikan tenda sendiri, memasak sendiri, dan tidak boleh keluar dari area perkemahan tanpa ijin. Mereka juga dilarang masuk ke area terlarang seperti hutan dan danau yang ada di sekitar area perkemahan itu.


Karena kelompok tidak dibentuk berdasakan kelas, Aya dan Nona membentuk tim mereka sendiri. Aya tidak memiliki banyak teman, sehingga kelompok mereka berisi dua teman Aya dan dua teman Nona, ditambah Aya dan Nona itu sendiri.


Meski agak canggung, ternyata anggota dari geng Nona tidak seburuk pandangan anak-anak lain.


Justru saat mereka mendirikan tenda, teman-teman Nona yang terkenal urakan malah begitu cekatan membentuk tenda mereka.


Lain halnya dengan beberapa anak yang berkumpul dalam satu kelompok di sisi yang lain. Mereka tampak riuh dan berisik. Mereka berteriak-teriak tak jelas sehingga membuat anak-anak lain terganggu.


Nona yang memang dari awal sudah merasa terganggu, akhirnya tidak bisa menahan dirinya lagi. Ia menerobos barisan anak-anak lain dan menghampiri kelompok yang berisik tersebut. Aya yang merasakan firasatnya tak enak, ikut mengekor di belakang Nona.


“Sorry, kalian bisa sedikit kecilin suara nggak? Anak-anak lain pada keganggu sama suara kalian yang keras” kata Nona.


Semua mata yang ada di sana menatap Nona dari atas sampai bawah dengan pandangan tak suka.


Lalu seorang gadis yang nampak seperti ketua kelompok, maju mendekati Nona dengan gaya yang mendominasi. Gadis itu berpakaian stylish, rambutnya sedikit berwarna meski disembunyikan dengan warna gelap, ditambah semua barang yang dikenakannya nampak bermerk dan mahal.


“Lo siapa? Kenapa ganggu kita di sini?” hardik gadis itu.


Merasa ditantang oleh gadis itu, Nona pun tak tinggal diam. Jiwa preman yang pernah ada dalam dirinya pun ia keluarkan kembali.


“Yang ada kalian yang ganggu kita semua. Kalau nggak bisa pasang tenda, minta tolong apa gimana gitu. Jangan pakai teriak-teriak!” kata Nona tegas.


Gadis itu langsung tertawa dan diikuti teman-teman lainnya. Ia yang memakai name tag bertuliskan Laura itu memasang wajah ketus dan berteriak di depan wajah Nona.


“Lo nggak usah urusin urusan orang! Urus aja tenda lo sendiri!”


Frustasi menghadapi sikap angkuh geng baru itu, Nona pun juga membalasnya dengan teriakan. Tak bisa dihindari lagi, akhirnya mereka bertengkar dan saling menjambak rambut lawannya. Aya yang berusaha melerai pun ikut menjadi korban penjambakan mereka.


Daffin yang berniat mengecek keadaan pacarnya, bingung karena tak mendapati gadis itu di tendanya. Ketika ia mendengar suara ribut, Daffin melihat Aya ikut berada di dalam keributan itu.


Daffin pun berusaha melerai pertengkaran gadis-gadis itu. Dan saat mereka sudah terlerai, gadis yang bernama Laura itu terlihat mengalihkan pandangannya ke arah Daffin. Dari pancaran matanya, bisa dikatakan bahwa gadis itu terpesona dengan visual Daffin. Bahkan bisa dibilang, ia terpesona dengan aksi kerennya yang melerai pertengkaran mereka.