
Di awal semester baru, sekolah Aya mengadakan pertandingan basket antar sekolah dalam rangka menyambut hari jadi ulang tahun sekolah yang ke lima puluh dua. Meski kelas dua belas tidak diperkenankan mengikuti pertandingan itu, tapi mereka diwajibkan untuk mendukung sekolah mereka dengan hadir dalam acara rutin tahunan tersebut.
Mendengar ada pertandingan bola basket antar sekolah, Aya terlihat sangat antusias. Dia sangat menyukai basket, meski dia tidak bisa memainkan olahraga populer itu.
Dan hari pertama sekaligus pembukaan acara itu, sekolah Aya akan melakukan pertandingan pembuka melawan sekolah lain yang tak jauh dari tempat mereka.
“Lawan mana sih?” tanya Aya pada teman sekelasnya.
“Bina Bangsa, Ay” jawab temannya itu.
Aya terkejut saat mendengar nama sekolah yang akan melawan sekolahnya. Ia mulai mencari tahu line up pemain dari SMA Bina Bangsa. Setelah mendapat informasi itu dari panitia pertandingan, Aya terkejut bukan main. Sebab ia mengenali salah seorang pemain yang tertulis dalam catatan panitia.
“Divo?” gumam Aya lirih.
“Siapa Divo?”
Aya terlalu fokus membaca catatan milik panitia sampai tak menyadari bahwa Daffin ada di belakangnya.
“Siapa, Ay?” tanya Daffin lagi.
“Oh, temen smp aku” jawab Aya.
Begitu pertandingan dimulai, Aya memfokuskan pandangannya pada pemain Bina Bangsa yang tengah keluar dari basecamp mereka. Bahkan Aya sampai tak menjawab pertanyaan Daffin yang dilontarkan padanya.
“Ay!”
“Hah? Apa?”
“Kok kamu nggak jawab pertanyaan aku sih?” protes Daffin.
“Maaf. Aku lagi nyari posisi temen aku” kata Aya.
“Si Divo itu?” tanya Daffin penuh curiga.
Aya mengangguk dan ekspresi Daffin langsung berubah badmood. Terlebih setelah Aya menjelaskan bahwa Divo adalah mantan pacarnya sewaktu SMP. Divo adalah cinta pertama Aya dan bertahan cukup lama. Awalnya Aya dan Divo hanya bersahabat. Dan setelah beberapa bulan saling mengenal, Aya sempat ditembak oleh Divo saat duduk di kelas dua SMP, tapi Aya menolaknya karena saat itu dia sedang mengincar cowok lain. Dengan dalih "nggak mau pacaran sama sahabat sendiri" dia memasang dinding besar nan kokoh antara dirinya dan Divo.
Saat pandangan Aya tertuju pada seorang pemain bernomor punggung sepuluh, Aya menjadi terdiam. Bayangan flashback semasa sekolah menengah pertama pun kembali terlintas di benaknya.
***
Februari 2014
"Hai, kamu Aya, kan?" seseorang menyapa Aya dari arah lapangan basket.
"Iya.." Aya membalasnya singkat karena dia tidak tahu siapa yang menyapanya.
"Aku Dirga, kapten tim basket. Kamu sekelas sama Debi kan, aku kakaknya Debi" jelas laki-laki yang berdandan khas anak basket itu.
Aya hanya mengangguk, Debi memang teman sekelasnya. Dia sedikit sangsi bahwa Dirga adalah kakak Debi, karena mereka sedikit tidak mirip.
"Aku cuma mau menyapa aja, salam kenal" Dirga bergegas pergi meninggalkan Aya setelah beberapa anak memanggilnya dari lapangan basket.
Namun belum sampai lima langkah, Dirga berbalik dan kembali mendekati Aya.
"Eh, nanti aku ada pertandingan basket jam empat sore, aku mau kamu nonton. Aku tunggu, jangan lupa!"
"Apaan sih, nggak jelas banget" batin Aya dan kembali melangkah menuju kelas.
Bel sekolah berbunyi begitu juga dengan ponsel Aya.
-Aku tunggu di lapangan ya. Dirga-
Aya mendecak ketika membaca pesan masuk di ponselnya. Dari mana Dirga mendapat nomor ponselnya, pikir Aya saat itu. Namun otaknya langsung mengarah pada satu nama, Debi.
Malas bercampur penasaran, akhirnya Aya pergi ke lapangan basket. Begitu sampai di sana, tempat itu sudah riuh dan penuh dengan suporter serta tim cheerleaders. Aya sedikit takjub, dia tidak pernah sekalipun menonton pertandingan basket apalagi secara live. Dan untuk ukuran anak SMP, pertandingan ini lumayan besar dan meriah. Aya mengakuinya.
"Hai, Aya!"
Aya menoleh mencari sumber suara. Dan ketika menemukan dan melihat siapa yang menyapanya, ia mulai menepis kekagumannya akan acara ini.
"Akhirnya kamu datang juga, aku udah nyari dari tadi. Makasih ya udah mau datang" kata si penyapa yang tak lain adalah Dirga.
Aya pun hanya membalasnya dengan sedikit tersenyum. Beruntungnya Dirga segera berlalu, kalau tidak Aya akan canggung meladeni ocehannya. Secara kenal juga belum, tapi sudah dibuat tak nyaman.
Melihat barisan tribun masih banyak yang kosong, Aya beranjak dari tempatnya berdiri dan mengisi salah satunya. Dia melihat sekeliling, dia tidak menemukan Debi. Ah, Aya memang ingin bertemu dengan Debi dan menanyakan perihal nomornya yang disebar tanpa ijin. Tapi sampai pertandingan jalan setengah permainan, dia belum melihat Debi di manapun.
Aya heran, katanya Dirga adalah kakaknya, tapi kenapa Debi tidak menonton pertandingan kakaknya?
Tetapi Aya masih positif thinking. Mungkin saja memang tidak bisa menonton, bukan karena tidak ingin.
Pertandingan sudah berjalan setengah permainan, dan Aya melewatkan setengahnya itu karena sibuk mencari keberadaan Debi. Dirga pun sesekali tertangkap sedang mencuri pandang ke arah tempat duduk Aya. Tapi Aya justru mengabaikan Dirga.
Suara peluit pergantian pemain membuat pandangan Aya fokus ke salah satu pemain yang hendak masuk ke lapangan. Pemain itu memakai jersey dengan nomor punggung sepuluh, angka favorit Aya. Dan itu juga yang membuat Aya mulai fokus dengan pertandingan.
Namun yang membuat Aya lebih fokus lagi adalah wajah dan postur pemain itu. Dia sangat tinggi, mungkin sekitar 160 cm. Badannya juga tegap, bahunya lebar untuk sekelas anak SMP. Jika bukan acara sekolah mungkin Aya pikir ia adalah pemain profesional. Gerakannya juga sangat lincah, gesit dan tepat sasaran tiap menembak dan mengoper bola.
"Wah, ada yang begini juga di tim basket kita?" gumam Aya sambil tersenyum sendiri.
Dan hingga permainan selesai dengan kemenangan sekolah Aya, pandangannya hanya tertuju pada pemain bernomor sepuluh. Sayangnya dia tidak tahu nama pemain itu. Dan dari kelas yang mana. Karena sudah tidak melihat pemain incarannya di area lapangan, Aya pun berniat pulang ke rumah tapi Dirga menghadangnya lebih dulu.
"Mau kemana, Ay? Aku baru aja selesai, aku mau ngajak kamu sebentar, yuk!"
"Mau kemana? Aku harus segera pulang" sahut Aya dingin.
"Udah, ikut aja! Nanti juga tahu. Yuk!"
Tanpa persetujuan Dirga langsung menarik tangan Aya dan menggeretnya ke arah gudang di belakang sekolah. Perasaan Aya campur aduk, pikirannya terus menerus memikirkan hal yang tidak-tidak.
"Ngapain kita kesini?" tanya Aya, mencoba menutupi rasa gugupnya.
"Aku mau kenalin kamu sama anak-anak basket" kata Dirga santai.
Aya mengernyitkan dahinya, berpikir ulang tentang keputusannya menuruti ajakan Dirga. Berkali-kali dia bertanya dalam hati "kenapa bertemu harus di gudang belakang sekolah?". Tapi Aya menepisnya, karena dia pikir memang biasanya anak laki-laki selalu kongkow di belakang sekolah.
Dan benar saja, di area gudang belakang sudah berkumpul banyak anak laki-laki, tapi ada beberapa anak perempuan juga di sana. Mungkin anak cheerleaders, pikir Aya.
"Wih, gandengan baru nih bro?" celetuk salah seorang dari mereka.
"Yoi! Kenalin, Aya. Kenalin temen-temen aku" kata Dirga sambil menyuruh Aya untuk menerima salaman teman-temannya.
"Aya."
Aya memperkenalkan dirinya singkat. Entah kenapa dia merasa ada yang janggal. Di sana dia melihat banyak benda aneh seperti botol minuman energi, bukan minuman keras tapi jumlahnya sangat banyak, tidak wajar melihat mereka yang berkumpul tidak sebanyak itu juga.
Lagi-lagi Aya positif thinking, mungkin hanya sampah dari gudang. Tapi baru beberapa menit Aya di sana, dia mulai melihat keanehan lain. Beberapa dari mereka nampak bersikap aneh, pijakan kakinya pun goyah. Dan kagetnya Aya ketika salah seorang anak perempuan yang Aya pikir anak cheers, berjalan merangkul satu laki-laki dan mulai menciuminya dengan brutal.
"Hah.." Aya berteriak kecil saking terkejutnya, membuat Dirga terkekeh melihat Aya berteriak setelah menonton adegan panas itu.
"Rileks, Ay! Mereka cuma melepas rindu" kata Dirga diikuti tawanya yang pecah.
Aya yang mulai yakin tempat, orang-orang dan suasana di tempat itu sangat aneh, memutuskan untuk beranjak dari area gudang. Namun lagi-lagi tangannya ditarik oleh Dirga dengan sigap.
"Mau kemana? Giliran kamu belum mulai lho!" Dirga mulai bicara melantur, posisi berdirinya pun mulai goyah sama seperti beberapa anak tadi.
"Aku mau pulang" Aya berusaha melepas cengkeraman tangan Dirga.
"Gue bilang giliran lo belum dimulai, brengsek!" Dirga mengayunkan tangannya ke arah wajah Aya.
"Aaakkk.." aya berteriak dan menutup matanya. Tetapi kenapa tidak terjadi apapun, pikir Aya. Karena posisi tangan Dirga sudah dipastikan tangannya akan mendarat di wajah Aya.
Dan dia pun memberanikan diri membuka matanya. Ternyata ada tangan lain yang menahan tangan Dirga di udara. Aya melihat wajah seseorang yang ia kenali.
Dia si nomor punggung sepuluh.
"Cukup, Ga! Jangan ganggu dia" kata si nomor sepuluh masih dengan menahan tangan Dirga.
"Apa urusan lo, lepasin tangan gue!" Dirga berusaha menarik tangannya namun gagal.
"Lo udah over doping, Ga. Hentikan atau aku akan lapor ke guru" ancam si nomor sepuluh itu. Ah, Aya frustasi karena tak tahu siapa namanya.
Tanpa basa basi si nomor sepuluh itu melepas tangan Dirga dan membawa Aya meninggalkan area gudang. Mereka berjalan ke arah depan sekolah tanpa bicara sepatah kata pun. Tapi Aya mempunyai banyak pertanyaan yang ia dengungkan di otaknya berkali-kali. Tentang siapa nama anak ini, dari kelas berapa, kenapa dia menolongnya dan masih banyak lagi.
Memang benar dugaan Aya, mereka memang memakai obat. Dan pastinya obat terlarang. Tapi Aya tidak kepikiran bahwa ini ada hubungannya dengan doping atlet. Mereka pasti memakai zat atau obat untuk membantu mereka tetap bugar dan bisa memenangkan pertandingan. Mereka bisa saja memakai doping saat bertanding tadi. Dan efeknya masih ada atau justru mereka memang menambahnya setelah pertandingan.
"Sialan.." celetuk Aya, membuat si nomor sepuluh menyadari bahwa sedari tadi tangannya masih menarik tangan Aya.
Dikira 'sialan' tadi untuknya, ia segera melepas genggaman tangannya.
"Sorry, kelupaan" kata si nomor sepuluh.
Menyadari kesalahpahaman akan 'sialan' tadi, Aya buru-buru menjelaskan.
"Eh, bukan, bukan! Bukan kamu kok yang sialan, eh..gimana sih" Aya belibet dan membuat si nomor sepuluh tertawa.
"It's okay, aku paham" lanjut anak itu.
"Ngomong-ngomong, makasih ya! Udah nolongin aku tadi" ucap Aya lebih santai.
Anak itu hanya mengangguk dan tersenyum.
"Kamu namanya siapa, sih?" Aya memberanikan diri bertanya lebih dulu, dia frustasi sedari tadi menyebut dia si nomor sepuluh dalam pikirannya.
"Kenapa? Kamu tertarik sama aku, penasaran sama aku?" goda anak itu sambil tersenyum nakal, membuat Aya menggeleng heran melihat tingkahnya.
"Enggak juga sih, frustasi aja. Dari tadi aku nyebut kamu 'si nomor sepuluh' di otak aku" jawab Aya dengan polosnya.
Mendengar jawaban dan kepolosan Aya saat itu lantas membuat anak itu kembali tertawa.
"Jadi kamu ngeliat aku sejak tanding di lapangan tadi? Wah, kirain baru ketemu ini tadi" timpal anak itu.
Aya meringis karena ketahuan memperhatikan dia sejak tadi. Dia pun memasang wajah malu-malu kucingnya.
"Aku Divo, kamu Aya, kan?" jawab si nomor sepuluh.
***
Lamunan Aya buyar ketika Daffin menepuk bahunya. Setelah menoleh ke arah sang pacar, ia baru menyadari bahwa di samping Daffin sudah berdiri seseorang yang Aya kenal.
“Hai, Aya! Apa kabar!” sapa Divo.