Our High School

Our High School
Dia Berkhianat



Semester baru telah datang bersamaan dengan tahun ajaran baru yang sudah dimulai. Kini Daffin, Aya, Nona telah memasuki tahapan terakhir di masa SMA mereka. Sementara Arka terpaksa harus mengulang karena telah melewatkan banyak kelas dan tingkat absennya melebihi batas wajar.


Mereka bertiga menghibur Arka dengan mengajaknya berpesta di atap gedung sekolah mereka. Berulang kali Nona mengatakan bahwa Arka tidak perlu khawatir meski harus mengulang kelas. Dia mengatakan bahwa ia lebih suka Arka mengulang kelasnya daripada tidak bisa mengulang untuk menata hidupnya.


Mendengar Nona mengatakan hal menggelikan seperti itu, Daffin, Aya, dan Arka sontak memuntahkan angin dari mulut mereka secara bersamaan, dilanjutkan dengan gelak tawa mereka yang memenuhi area rooftop siang itu.


“Oya, gimana soal rencana kita itu? Kapan kita mengeksekusinya?” tanya Nona.


Semua langsung menghentikan tawa mereka dan berubah memasang wajah serius.


“Kita langsung eksekusi aja sebelum kalian ribet sama pelajaran kelas dua belas!” ucap Arka.


Kalimat yang diucapkan Arka ada benarnya. Kelas dua belas adalah kelas paling merepotkan di dalam dunia sekolah menengah atas. Dalam waktu cepat mereka akan dihujani dengan tes, praktek dan ujian-ujian. Belum lagi les dan kelas tambahan yang menyita waktu hingga malam. Jika mereka masih meladeni kelakuan Laura hingga saat itu, bisa dipastikan hari-hari mereka akan sangat menyiksa.


Setelah mereka memutuskan kapan hari ekskusi rencana mereka, Aya pun juga telah menetapkan hari dimana ia akan menghadapi Laura sendirian.


Iya merasa Laura tidak akan berhenti walau teman-temannya sudah melakukan rencana itu padanya.


Namun Aya belum tahu bagaimana cara dia menemukan kontak Laura. Ia harus menghubunginya secara langsung, agar tidak ada yang mengetahui bahwa dia dan Laura akan bertemu.


Satu-satunya orang yang tahu nomor kontak Laura dan bisa memberikan nomor itu padanya, hanyalah si Arka. Tapi bagaimana Aya memintanya? Pikiran itu terus mengusiknya hingga jam sekolah berakhir.


Di saat Aya sedang mengepak buku-bukunya dan bersiap untuk pulang, ia mendengar beberapa anak tengah membicarakan soal ponsel baru. Pikiran Aya pun tertuju pada ponsel barunya.


Aya mulai terpikirkan sebuah rencana. Dengan sengaja ia mencari Arka di kelasnya untuk mengajaknya pulang bersama. Dan di tengah perjalanan, Aya mengatakan bahwa ponselnya hilang atau mungkin tertinggal di dalam kelas. Ia pun mencoba meminjam ponsel milik Arka dengan alasan untuk menelepon ponselnya.


Tanpa curiga Arka pun meminjamkan ponselnya pada Aya. Setelah meminta kode untuk membuka ponsel itu, Aya meninggalkan Arka dengan berpamitan akan mencari di kelasnya terlebih dahulu. Ia meminta Arka menunggunya di depan gerbang dan ia berkata akan segera menyusulnya.


Arka yang percaya begitu saja, langsung meninggalkan Aya dan menunggunya di depan gerbang sesuai permintaan gadis itu. Sementara Aya berusaha menelepon Laura dengan menggunakan ponsel Arka.


Tuutt


“Gimana, Ar? Lo udah bilang rencana itu ke mereka? Kita harus bikin Aya dan Daffin putus hari itu juga pokoknya!”


Aya langsung membungkam mulutnya dengan telapak tangannya yang kecil. Ia juga langsung menutup telepon itu sebelum Laura mengetahui bahwa bukan Arka yang meneleponnya.


Benar saja, Laura langsung mencurigai aksi tutup telepon itu. Ia mengirim pesan yang menanyakan tujuan dari teleponnya barusan.


Aya melihat bahwa Laura belum terlalu menyadari bahwa bukan Arka yang meneleponnya. Ia pun mengetikkan pesan balasan yang menyatakan bahwa ia hanya tidak sengaja menekan tombol telepon.


Untungnya Laura hanya membalas dengan emotikon dua jari yang berarti ‘mengerti’.


Aya menghela napasnya lega. Pikirannya masih bercampur. Jika maksud dari yang didengarnya adalah apa yang ia pikirkan, berarti Arka bekerja sama dengan Laura untuk menghancurkan hubungan Aya dan Daffin.


Aya langsung merutuki sikap bodohnya yang terlalu gampang memaafkan dan mempercayai perubahan sikap Arka.


“Brengsek..!” gumam Aya geram.


Ia pun berlari menuju gerbang dan berniat mengonfirmasinya dengan Arka secara langsung. Akan tetapi begitu dia sampai di depan, Aya melihat Arka tengah menunggunya bersama dengan Daffin. Ia pun ragu dan mengurungkan niatnya untuk melabrak Arka. Aya memutuskan untuk bersikap seperti tidak ada yang terjadi.


“Hei, kok lama banget? Udah ketemu belum hapenya?” tanya Daffin.


“Udah kok. Bener ada di kelas, untung nggak ilang” jawab Aya.


“Ini ponsel kamu, Ar. Makasih!” lanjutnya lagi sambil meyodorkan ponsel milik Arka pada pemiliknya.


Aya telah menghapus semua riwayat pesan dan telepon terbaru dari nomor Laura. Ia yakin Arka akan selalu mengecek ponselnya setiap saat. Dan jika dia menemukan keanehan di aplikasi pengirim pesannya, maka Arka akan mencurigai Aya sebagai pemegang terakhir ponselnya.


“Ay!” seru Daffin yang mencoba menyadarkan Aya dari lamunannya.


“Ayo pulang, Fin! Aku capek.”


Akhirnya mereka bertiga beranjak dari depan gerbang sekolah dan menuju rumah masing-masing. Selama perjalanan pulang, Aya hanya terdiam karena Arka sedang bersama mereka. Padahal Aya ingin sekali mengatakan hal yang ia dengar pada Daffin.


Hingga mereka sampai di rumah Aya pun, dia masih belum bisa mengatakan apapun pada Daffin. Aya pun menyerah dan masuk ke dalam rumah tanpa melakukan apapun.


***


Esok harinya, Aya terus mencoba mengatakan kelicikan Arka pada Daffin. Tetapi ia selalu gagal karena Daffin selalu berjalan bersama Arka dan Nona.


“Tuh anak kenapa jadi ngegeng gitu sih..” gerutu Aya.


Karena hingga akhir jam sekolah dia masih belum bisa mengatakan hal itu pada Daffin, akhirnya Aya menyerah.


Rencana yang mereka rencanakan untuk membuat Laura jera mengejar Daffin pun akhirnya dilakukan.


Arka meminta Aya untuk menemui Laura dan mengatakan bahwa dirinya telah mengandung anak dari Daffin. Sontak Aya, Daffin, dan Nona terkejut mendengar rencana gila itu. Mereka juga terkejut karena Arka mengubah rencana tanpa membicarakannya terlebih dahulu dengan mereka.


“Ogah! Lo gila ya?” teriak Aya.


“Jangan salah paham dulu, Ay! Ini agar Laura tidak mengejar Daffin lagi” balas Arka dengan yakin.


Sayangnya, Daffin dan Nona yang awalnya terkejut, malah mulai merasa bahwa cara itu mungkin ampuh untuk membuat Laura berhenti mengejar Daffin.


“Aku tidak mau, Fin!”


“Terus gimana? Kamu ada cara lain? Arka bilang rencana awal kita udah bocor ke Laura” jawab Daffin.


Aya tidak bisa menahan mulutnya lagi. Ia pun nekat membongkar kelicikan Arka di depan mereka.


“Ya iyalah bocor. Arka emang kerja sama ama si Laura itu buat misahin kita” seru Aya.


Mendengar Aya mengetahui rencananya, Arka yang memang bekerja sama dengan Laura pun mencoba menutupi kebohongannya dengan aktingnya.


“Apa maksud kamu, Ay? Aku nggak mungkin ngelakuin itu” ujar Arka.


“Kamu kenapa, Ay? Kenapa kamu bisa ngomong kayak gini?” tanya Daffin bingung.


“Lo kenapa sih, Ay? Lagi baper lo?” celetuk Nona.


Aya pun menceritakan apa yang dia dengar sewaktu mencoba menelepon Laura dari ponsel Arka. Tapi sayangnya ia tidak bisa menunjukkan bukti karena riwayat pesan dan telepon di aplikasi milik Arka telah ia hapus dengan tangannya sendiri.


“Aya, apa kamu masih membenciku karena kejadian yang menimpa ayahmu? Aku sudah mengakui kesalahanku, Ay. Apa kamu masih dendam padaku?” ucap Arka memelas.


Tiba-tiba saja Aya merasa semua orang termasuk Daffin pacarnya, tidak mempercayai seluruh ucapannya. Ia juga tidak percaya Arka bisa sebrengsek itu dengan memutarbalikkan keadaan.


Akhirnya Aya dengan tangisnya, memilih berlari meninggalkan mereka semua. Harga dirinya, kepercayaannya, semua telah hancur dalam sekejap oleh pengkhianatan Arka yang kedua kalinya.