Our High School

Our High School
Gara-gara Nona



Daffin membawa Nona menuju area gudang belakang sekolah. Dengan tatapan yang berbeda, napas yang masih terengah, dia melepaskan cengkraman tangannya.


"Sebenarnya apa maumu?" tanya Daffin.


"Kenapa kamu kabur dariku?"


Daffin terlihat frustasi melihat sikap Nona. Ia bahkan tidak mau meladeninya lagi. Daffin berniat meninggalkan Nona, namun Nona menghadang Daffin dengan teriakannya yang memenuhi area gudang.


"Aku tanya kenapa kamu kabur dariku?"


Saat itu, di dalam mata Nona dipenuhi dengan kemarahan dan kecemburuan. Daffin mengenali tatapan mata itu. Tatapan mata yang siap membuat hidupnya menderita. Tatapan yang siap menghancurkan semua kebahagiaan yang ia rasakan saat ini.


"Ada yang harus aku selesaikan dengannya saat itu, kau puas?" ujar Daffin.


Nona tersenyum tak percaya dengan ucapan Daffin. Meninggalkannya saat itu adalah kesalahan besar yang harus ditebus oleh Daffin. Nona pun memperlihatkan foto saat Aya tengah mengecup pipi Daffin. Hal itu sontak membuat Daffin emosi dan membanting ponsel Nona ke lantai. Ia mendekati Nona dan mencengkeram kerah seragamnya.


"Kau mengikutiku?" teriak Daffin.


Kali ini amarahnya benar-benar tak bisa ia bendung. Hal yang paling dibencinya adalah dikhianati orang yang ia kenal. Dan melihat Nona mengikutinya, sudah cukup menjadi alasan untuk meledakkan amarahnya saat itu juga.


Cengkeraman tangan Daffin membuat Nona tersedak karena napasnya sesak. Melihat perbuatannya menyakiti perempuan, Daffin melepaskan tangannya dari kerah baju Nona. Meski ia membencinya sekalipun, ia tidak pernah menyerangnya seperti ini, karena Nona tetaplah perempuan.


"Kalau kamu nggak pengen Aya dihujat anak-anak, putuskan dia sekarang!"


Nona masih saja mengancam Daffin dengan kelemahannya. Padahal dirinya masih terbatuk setelah hampir dicekik oleh Daffin. Mungkin Daffin menyesal telah melepaskan cengkeramannya tadi.


"Terserah apa katamu, aku nggak bisa lagi mengikuti semua perintahmu" pungkasnya.


Daffin meninggalkan Nona yang berteriak-teriak memintanya kembali. Beruntungnya dia membawa gadis freak itu ke area belakang, sehingga teriakannya tak akan sampai ke telinga guru.


***


Aya sibuk menegur anak-anak yang sedang gencar membicarakan Daffin. Banyak yang menyebutnya sebagai gadis yang ada di selebaran itu. Entah kenapa Aya pun tidak melakukan penyangkalan atas rumor itu. Yang dilakukannya hanya mengomeli anak-anak yang melakukan gibah di sekolah, entah dia kenal atau tidak.


Di luar Aya mengomeli banyak hal, sampai perkara ada anak menjatuhkan makanan ringan di lantai juga dia omeli. Namun di dalam hatinya Aya mengkhawatirkan keadaan Daffin. Dimana anak itu? Apa yang ia bicarakan dengan si Nona centil itu?


Tiba-tiba Daffin memasuki kelas Aya dan menuju mejanya. Aya terkejut melihat pacarnya memandangnya dengan tatapan yang berbeda, tatapan yang belum pernah ia lihat.


"Ayo ikut aku!" kata Daffin.


Tanpa menjawab Aya hanya mengangguk dan mengikutinya. Sementara anak-anak lainnya mulai mendengungkan gibahan mereka seperti suara tawon. Seolah mereka sudah mendapatkan bukti tentang siapa gadisnya Daffin.


Aya mengikuti Daffin yang mengajaknya ke atap. Seolah tempat itu menjadi tempat rahasia mereka. Dan memang setiap mereka ke tempat itu, tidak pernah ada siapapun di sana.


"Apa kamu baik-baik saja, Fin?" tanya Aya khawatir.


"Kenapa kamu nggak menyangkalnya?" tanya Daffin balik.


Sama seperti kejadian Arka yang mengorbankan diri demi adiknya. Aya pun menggantinya dengan posisinya saat ini, dikejar oleh Nona karena menjaga adiknya.


"Fin, bisa nggak..kita nggak usah saling menyelamatkan dan mengorbankan diri satu sama lain?" ujar Aya mulai kesal.


"Apa Nona menyakitimu?" Daffin akhirnya mengalah, ia mulai khawatir dengan Aya.


Aya hanya menggeleng. Ia berganti menatap gedung lain di seberang. Perasaannya campur aduk. Ia senang Daffin perhatian dan menjaga dirinya. Tetapi ia bukan gadis manja seperti Nona yang harus selalu menempel pada laki-laki.


Akhirnya mereka sepakat untuk mengabaikan Nona. Selama masih bisa mereka tahan, akan mereka lakukan. Masalah rumor yang beredar saat ini, itu pun akan mereka abaikan. Daffin tidak akan diperiksa guru hanya karena rumor tak berdasar dan tanpa bukti yang kuat.


Aya mengajak Daffin untuk segera turun dan kembali ke kelas. Mereka sudah absen satu jam pelajaran hanya demi meladeni permainan Nona.


Semester ini penting bagi mereka, dimana mereka akan naik ke kelas tiga. Meskipun nilai mereka tidak sebaik anak yang lain, mereka harus naik kelas.


Untuk itu Aya meminta Daffin untuk segera menyelesaikan apa yang ingin dia lakukan di kafe Benny, dan segera berhenti menjadi budak mereka. Karena cepat atau lambat, situasi itu akan merugikan Daffin dan Arka.


***


Daffin sengaja meminta Arka untuk mengantar dan menemani Aya pulang. Nona bisa saja menyerang Aya lagi mengingat mentalnya yang sedikit berbeda. Arka yang memang sejak pagi absen dari sekolah, tidak mengetahui peristiwa yang terjadi di sekolah. Daffin menceritakan semuanya dan Arka setuju untuk mengantar Aya pulang.


Ia menunggu Aya di depan sekolah. Namun yang pertama kali muncul dan menyapanya justru Nona. Melihat Arka di depannya dan nampak seperti menunggu seseorang, ia mendatanginya.


"Hai, Arka!" pekiknya dari kejauhan sambil melambaikan tangannya.


Arka hanya membalasnya dengan lambaian tangan. Meski ia juga mengenal Nona, tapi ia sendiri juga merasa tak nyaman berada di sekitar gadis itu.


"Hai, Ar! Gimana kabarnya? Masih jadi pecundang seperti dulu?" ejeknya sambil tertawa keras.


Arka hanya menaikkan salah satu sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman sinis. Ia memilih tidak meladeni gadis yang merepotkan ini. Tapi ia khawatir jika Aya muncul saat Nona masih bersamanya. Dan tidak ada tanda-tanda gadis ini akan segera pergi. Ia malah merengek meminta Arka untuk makan siang bersamanya.


Disaat Arka masih berpikir, Aya muncul dari balik gerbang. Untungnya dia melihat Arka dan Nona terlebih dahulu sebelum mereka melihatnya. Ia memilih kembali ke dalam sekolah demi menghindari gadis sialan itu.


Akhirnya Arka memilih mengantar Nona, karena Aya tidak kunjung muncul. Ia mengirim pesan pada Daffin bahwa dia tidak bisa mengantar Aya karena dihadang Nona. Dan meminta Daffin segera mencari dan mengantar Aya pulang.


***


Aya menghabiskan waktunya dengan bermain bola basket di aula olahraga. Ia merasa sedikit aneh dan takut tatkala memasuki aula itu. Masih ingat jelas di kepalanya, saat dia dan Daffin melihat adegan penganiayaan pada seseorang.


Ia membayangkan seandainya saat itu dia tidak terlambat, ia tak akan dihukum. Maka ia tak akan pergi ke aula ini. Dia juga tidak akan melihat adegan pemukulan itu, dan mungkin seumur hidup dia tidak akan berurusan dengan preman-preman narkoba itu. Tapi menyesal bukan solusi. Ia bersyukur karena ia bisa bertemu dengan Daffin, meski ujungnya seperti ini.


Lama-lama Aya merasa bosan, ia juga tidak tahu apakah Nona dan Arka sudah pergi dari depan sekolah.


"Apa aku keluar aja ya, bosan juga disini" gumamnya sendirian.


Akhirnya ia memilih meninggalkan tempat itu. Dengan harapan tidak ada lagi yang mengganggunya sampai tiba di rumah.