
Melihat Nona dan Arka berada di depannya bersama para perisak itu, membuat darah Daffin mendidih. Entah dia yang naif dan mudah dibodohi atau memang mereka sejak awal tidak pernah menganggapnya sebagai teman.
Yang membuat dia merasa muak adalah sikapnya dengan mudah memaafkan dan menerima mereka kembali dalam hidupnya. Ia menolak dan melupakan semua perbuatan mereka hanya karena perasaan sentimentil yang harusnya bukan sifat yang dimiliki Daffin.
Dalam otaknya terbersit semua kesalahan yang mereka perbuat dan betapa menderitanya Aya oleh perbuatan mereka di masa lalu. Dan saat ini, tanpa rasa bersalah anak-anak itu berpesta merayakan keberhasilan dari perbuatan buruk mereka.
“Akting lo bagus juga, Ar. Darimana lo tahu kalau dia bakalan buka-buka hape lo?” tanya Laura sambil meneguk kembali minuman yang ada di depannya.
“Gue tahu Aya pura-pura hapenya ketinggalan di kelas, dan minjem hape gue buat nyari info soal lo” jawab Arka.
“Jadi bener dia emang lagi nyari info tentang gue?” tanya Laura.
Arka mengangguk. Sementara Nona hanya diam sambil mengunyah makanan yang diberikan padanya.
Rupanya Arka dengan sengaja meminjamkan ponselnya pada Aya karena dia tahu gadis itu tengah berusaha mencari informasi mengenai Laura. Ia juga tahu Aya menargetkan dirinya karena dia terhubung dengan Laura. Setelah Aya meminjam ponselnya, Arka memberitahu Laura dan menyuruh gadis itu menelepon ke ponselnya. Arka menyuruh Laura mengatakan kalimat seperti apa yang didengar Aya waktu itu. Dan begitulah rencana mereka berhasil dengan baik terlebih Daffin juga tidak memberi Aya kesempatan untuk berbicara saat itu.
Daffin benar-benar menyesal telah mengabaikan Aya waktu itu. Ia bahkan dengan bodoh menuruti Arka yang menahannya saat ingin mengejar Aya. Sekarang ia mendengar sendiri pengakuan yang keluar dari mulut mereka.
Butuh waktu beberapa saat bagi Daffin untuk memutuskan apakah dia akan keluar dari tempatnya bersembunyi atau tidak. Akhirnya dia memilih untuk tidak membalas mereka saat itu juga. Daffin akan mempermalukan mereka di saat dan waktu yang tepat. Ia tetap menunggu disana sampai mereka membubarkan diri meskipun emosinya sudah sangat memuncak.
***
Kini Daffin memulai aksi balas dendamnya sendirian. Ia tidak akan melibatkan Aya dalam proses ini. Tetapi dia juga tidak akan membiarkan mereka mendekati atau menyentuh Aya sedikit pun.
Daffin tetap menjaga Aya dari jauh. Beberapa kali ia meminta bantuan anak kelas lain untuk menjadi perpanjangan tangannya saat menjaga dan membantu Aya. Ia harus tetap menjaga jarak dari Aya agar para pengkhianat itu tidak curiga dan yakin bahwa mereka telah putus. Meski pada kenyataannya mereka memang sudah mengakhiri hubungan itu.
Hanya saja perasaannya sedikit terasa perih saat Aya menunjukkan sikap acuhnya. Daffin bisa melihat kebencian besar di dalam matanya. Ia merasa ini adalah hukumannya karena telah meragukan pacar yang disayanginya. Daffin mulai menyadari arti kepercayaan dan pengkhianatan yang sebenarnya.
Setelah memastikan Aya dalam keadaan baik, Daffin mulai merancang aksi balas dendamnya. Ia akan membuat Laura berhenti mengganggu hidupnya. Dan untuk kedua pengkhianat itu, Daffin berencana akan membuat mereka menyesal telah membuat kepercayaannya hancur.
Namun rencana Daffin bisa dibilang cukup ekstrim kali ini. Dia ingin membuat Arka, Nona, dan Laura cs saling berkhianat. Daffin ingin menghancurkan kelompok tak berguna itu dari dalam. Untuk melakukan hal itu, dia harus berada dalam jarak dekat dengan mereka. Dan dia memilih untuk mencoba mendekati Laura agar dia bisa menjadi pacar Laura. Dengan begitu dia akan lebih mudah menghancurkan mereka.
Tentu saja itu hal mudah baginya. Dalam hitungan hari setelah Aya memutuskan Daffin, Laura sudah memulai aksi pendekatannya pada Daffin. Ia memberinya banyak hadiah mahal yang dikirim melalui anak buahnya. Ia juga membayar semua makanan yang Daffin makan di kantin. Bahkan yang paling ekstrim, Laura memberikan sebuah motor dengan harga fantastis hanya untuk menunjukkan betapa dia menyukai Daffin dan ingin memilikinya.
Tentunya Daffin harus berpura-pura menerima hadiah itu meski ia merasa muak. Ia bahkan langsung menelepon Laura dan memberinya ucapan terimakasih. Dirasa kurang meyakinkan, Daffin menambahnya dengan mengajak gadis itu pergi hangout dan berkencan.
“Apa kamu yakin?” tanya Laura ketika mendengar Daffin mengajaknya nge-date.
Seketika Laura langsung merasa di atas awan. Ia merasa akan bisa memiliki Daffin dengan segera. Ia sudah sangat yakin Daffin akan menembaknya saat itu.
Namun di balik itu semua, Daffin cukup menderita. Dia harus menutupi amarah dan rasa muaknya dengan wajah sumringah dan penuh keceriaan. Ia juga harus merahasiakan misi ini dari Aya. Karena jika gadis itu tahu, ia akan berpikir Daffin benar-benar mengkhianatinya.
Naasnya, harapan Daffin tidak berjalan sesuai keinginannya. Dia bertemu dengan Aya dan Haira saat tengah menjalankan misi mengajak Laura berkencan di bioskop. Mereka bertemu dan saling bertatap mata saat Laura tengah menggelayutkan tangannya di lengan Daffin, persis seperti Aya dulu.
Daffin bisa melihat hati dan perasaan Aya sangat hancur. Ia juga merasa marah dengan dirinya sendiri. Daffin ingin berlari memeluk Aya saat itu juga. Tetapi dia tidak bisa. Dia sedang menerima hukumannya karena telah menyakiti Aya berkali-kali. Ia harus menahannya agar bisa menghentikan tingkah buruk mereka.
Berbeda dengan Aya dan Daffin, Laura justru sumringah saat melihat Aya berada di depannya. Dengan sikap bangga, ia menunjukkan pada Aya bahwa dialah pemenangnya. Ia terus menempel pada Daffin tanpa tahu bahwa laki-laki itu sangat membencinya. Bahkan tanpa rasa malu dia menyuruh Daffin agar dia menyapa Aya.
“Sapa aja, Fin! Santai aja!” ucapnya lirih.
Daffin ingin sekali melempar gadis itu ke pojokan bioskop yang penuh dengan tempat sampah. Namun lagi-lagi ia harus menahannya.
“Udahlah, kita masuk aja!” jawab Daffin.
Yang paling protes adalah Haira. Dia yang sama tak tahunya dengan Aya, lebih terlihat tak terima dengan sikap dan perlakuan Daffin pada kakaknya. Haira bahkan tak malu untuk meneriaki Daffin dan Laura saat mereka dengan acuh masuk ke bioskop dan bersikap seperti tak melihat Aya dan Haira.
“Apaan sih lu teriak-teriak gitu!” protes Aya.
“Kok kamu diem aja sih, Kak? Kak Daffin kok jadi bego banget gitu sih?” cerocos Haira.
Aya hanya terdiam dan menyuruh Haira menutup mulutnya yang cerewet. Ia memang malu dengan sikap heboh adiknya, tetapi dalam hati ia lebih merasa marah dan kecewa saat melihat sikap Daffin yang berubah 180 derajat.
Daffin dan Aya sama-sama tidak fokus dengan film yang mereka tonton. Mereka yang secara ironis duduk berdekatan, saling menahan diri dari perihnya perasaan mereka saat itu. Daffin ingin sekali menggenggam tangan Aya yang berada di sebelah kanannya, namun di sebelah kirinya duduk seorang Laura, sebuah kenyataan yang harus ia hadapi saat ini.
“Kak, kenapa sih kita bisa duduk sebelahan sama mereka? Nyebelin banget!” ucap Haira lirih.
“Hai, bisa nggak kita tukeran tempat duduk?” tanya Aya.
Haira mengangguk dan segera menukar tempat duduk mereka. Haira juga kasihan dengan Aya yang harus melihat kemesraan yang ditampilkan oleh gadis sialan itu.
Aya yang sedari tadi menahan tangis, kini tak kuasa lagi membendungnya. Tanpa sepengetahuan Haira, Aya menangis sejadinya di dalam kegelapan dan di tengah gelegar suara dalam bioskop itu.