Our High School

Our High School
Cemburu



Aya menemui wali kelasnya di ruang guru karena waktu belajar bersama Fino akan segera dimulai. Sebenarnya dia berusaha melarikan diri dari Daffin yang membuat jantungnya berdegup kencang seperti mau perang. Bisa-bisanya dia melakukan itu di sekolah. Aya meninju perutnya sebelum melarikan diri ke ruang guru, meskipun dia sebenarnya juga menyukainya.


Di ruang guru ia melihat Fino sudah berdiri di samping meja wali kelasnya yang tak bertun. Aya mendekatinya dengan perlahan dan malu-malu. Tiba-tiba bayangan dirinya yang dulu menaruh hati pada anak itu muncul kembali.


“Hai, Fin”


Dia merasa aneh saat memanggil namanya. Kenapa rasanya dia seolah memanggil satu nama dengan dua orang yang berbeda.


“Hai, Ay” jawab Fino ramah.


“Kamu sendiri?”


“Iya, aku udah selesai ngomong sama wali kelas. Beliau minta kita mulai besok di perpustakaan” jawab Fino.


Aya mengangguk santai. Dia meninggalkan ruang guru bersama Fino. Saat berjalan menyusuri lorong menuju kelas, Aya merasa situasi di antara mereka sangat canggung. Ia mencoba mencari topik pembicaraan, tapi hingga mereka sampai di depan kelas Aya, mereka tetap diam.


“Sampai ketemu besok, Ay” ucap Fino sambil melambaikan tangannya.


Karena mereka melakukan adegan perpisahan itu di depan ruang kelas Aya, seluruh anak yang melihat mereka sontak berteriak menyoraki mereka. Terang saja sebab mereka tahu Fino adalah bintang sekolah yang terkenal jomblo dan tak pernah berkencan dengan siapapun. Bahkan mereka juga tidak pernah melihatnya berjalan berdua bersama seorang gadis.


Begitu melihat dia bersama Aya, wajar jika mereka histeris karena mengira mereka berkencan. Ditambah lagi mereka belum tahu soal hubungan Aya dengan Daffin.


“Woww, apa kalian berkencan?” teriak seseorang pada Aya.


Aya tersipu malu karena mereka bertanya hal seperti itu di depan semua orang di kelasnya.


“Enggak lah, apaan sih. Kita cuma temen, dia mau bantu aku belajar” jawab Aya lugas.


Dia memang menjawab tidak, tapi ekspresinya masih malu-malu kucing. Begitu dia masuk ke dalam kelas, dia merasakan udara tiba-tiba menjadi sangat dingin.


“Guys, apa kalian menyalakan AC?” tanyanya polos.


Namun sebelum ia mendapat jawaban dari pertanyaannya, ia melihat Daffin duduk di kursi belakang dan menatapnya dengan tatapan penuh laser yang siap menembakinya.


Aya membelalak karena ia baru sadar kalau Daffin pasti menyaksikan adegan so sweetnya bersama Fino barusan. Dari tatapan matanya, ia tahu pasti bahwa Daffin sedang mengintimidasinya.


"Fin, kenapa lu melototin Aya kayak gitu?” tanya seseorang yang melihat Daffin melihat Aya dengan pandangan siap menerkam.


Daffin tidak menyahut dan hanya melengos sambil meletakkan kepalanya di atas meja. Sementara Aya yang merasa bersalah dengan sang pacar hanya bisa diam sambil menggigit bibirnya.


***


“Kamu marah ya?” tanya Aya pada Daffin saat mereka di perjalanan pulang.


Daffin hanya melengos tak menjawab. Dia melakukan aksi mogok ngomong sama pacarnya. Aya memang sedikit merasa tidak enak pada Daffin, tetapi melihat Daffin yang dingin dan cuek bisa bertingkah cemburu seperti itu, dia menjadi gemas padanya.


“Kenapa senyum-senyum, keinget tadi pas bercanda sama Fino?” sindir Daffin.


Aya memang terlihat senyum-senyum sendiri saat berjalan bersama Daffin. Tetapi dia tidak membayangkan Fino, melainkan membayangkan betapa gemasnya Daffin jika dia melakukan aegyo, yang dalam bahasa korea berarti ‘bertingkah lucu dan menggemaskan’.


“Ih, cemburu nih ceritanya?” ledek Aya.


“Cih, enggak” jawab Daffin mengeles.


Bahkan aksi mogok Daffin yang menggemaskan itu masih berlangsung hingga malam hari. Dia yang biasanya menelepon Aya untuk memastikan semua baik-baik saja, malam ini tidak melakukannya. Aya mencoba menghubunginya terlebih dulu, tetapi berakhir kesal karena teleponnya direject terus oleh Daffin.


“Hihhh, nih anak tadinya gemesin sekarang ngeselin” gerutu Aya sambil membanting ponselnya ke kasur.


“Siapa, Kak?” tanya Haira penasaran.


“Daffin tuh”


“Emang Kak Daffin kenapa?” lanjut Haira.


Haira mengernyit heran. Sepertinya Aya lupa bahwa Haira belum mengetahui hubungannya dengan Daffin.


“Cemburu? Kamu pacaran sama Kak Daffin?” tanya Haira.


Aya gelagapan dan salah tingkah. Bisa-bisanya dia lupa memberitahu adiknya dan malah membukanya sendiri.


“Gue belum bilang ya? Sorry” kata Aya sambil terkikik.


Aya kembali mencoba menghubungi Daffin tapi tetap saja direject.


Keesokan paginya saat Aya ingin memesan ojek online untuk berangkat ke sekolah, tiba-tiba seseorang menarik tangannya.


“Daffin!”


Aya benar-benar kesal dengan Daffin. Setelah aksi marah yang tidak lagi menggemaskan, mengacuhkan teleponnya, dan kini menyeretnya sesuka hati.


“Lepas! Kamu kenapa sih” teriak Aya.


Daffin tidak menanggapi teriakan Aya. Dia terus saja menariknya entah ke mana.


“Kita udah telat, Fin”


Daffin berhenti di sebuah taman kota dekat sekolah dan mengambil sesuatu dari dalam saku celananya. Ia mengeluarkan sebuah cincin berwarna silver dengan beberapa permata kecil di tengahnya.


Dengan romantisnya Daffin memasangkan cincin itu di jari manis kiri milik Aya.


“Mulai hari ini aku mau kita kasih tahu temen-temen soal hubungan kita!” kata Daffin lembut.


Aya tercengang karena Daffin melakukan hal yang ekstrem ini. Dia bukan hanya memintanya mengumumkan dirinya sebagai pacar, tapi juga ‘mengikat’ dirinya dengan cincin itu.


“A..apa maksudnya ini? Kamu sok sok-an melamarku gitu?”


“Kalau mau dibilang melamar, oke nggak masalah” jawabnya sambil tersenyum.


“Dasar gila!” celoteh Aya.


Meski mulutnya berkata demikian, tapi dalam hatinya Aya menari kegirangan. Wajahnya memerah karena hal romantis itu. Ia berusaha menyembunyikannya karena tak mau Daffin melihat ekspresi malu-malunya itu. Bagi Aya itu sedikit menggelikan.


Untung saja begitu mereka sampai di sekolah, pintu gerbang belum sepenuhnya ditutup oleh Pak Teguh. Mereka langsung berlari menuju kelas sebelum wali kelas mereka kembali memberinya hukuman.


***


Aya, Daffin, dan Fino kini duduk bersama di perpustakaan. Mereka tidak bisa pulang atau keluar dari ruang itu jika kegiatan tutor sebaya itu belum selesai. Daffin yang bersikeras ingin mengumumkan hubungannya dengan Aya, ternyata hanya ingin membuat Fino tidak bisa mendekati pacarnya.


Dia tidak tertarik sama sekali dengan acara belajar bersama itu, dia juga tidak peduli tentang nilai atau ujian. Yang dia lakukan di sana hanyalah duduk sambil memandang Aya dan Fino, lebih tepatnya mengawasi mereka.


Sementara Aya yang sudah mulai cuek dengan sikap Daffin, hanya terus fokus pada belajarnya. Ia mendengarkan dengan serius semua yang diajarkan Fino padanya.


“Seneng banget kayaknya yang baru belajar bareng mantan gebetan” sindir Daffin.


“Oh, tahu darimana soal itu?” tanya Aya blak-blakan.


Ia sudah tak tahan lagi dengan sikap cemburu Daffin. Padahal otaknya sudah penuh dengan istilah-istilah dan rumus yang Fino ajarkan. Ia memulai rencana balas dendam agar anak itu berhenti menambah beban otaknya.


“Cih, jadi sekarang udah ngaku nih?" ejek Daffin.


"Hilih, kamu juga kesenengan pas Nona manja itu deket-deket sama kamu” balas Aya kesal.


“Dan itu jelas mantan pacar kamu, sedangkan Fino cuma mantan crush aku, tapi liat cemburunya, wuahh..” lanjutnya lagi.


Omelan Aya membuat Daffin tidak bisa berkutik lagi. Padahal niatnya hanya menggoda gadis itu, tapi feedback yang dia dapat justru amukan dan omelan. Sungguh pasangan yang tidak bisa dimengerti.