One + One (One Night Stand)

One + One (One Night Stand)
One + One (9)



Sherlyn mengantar Audrey mengunjungi rumah sakit. Ia ingin memeriksakan kandungan Audrey. Di sana ternyata ada beberapa orang juga yang sedang mengantri untuk menunggu giliran dipanggil masuk. Sherlyn dan Audrey mencari tempat duduk dan mereka duduk tepat di ujung.


"Ramai juga, ya." gumam Sherlyn.


"Apa biasanya juga seramai ini?" tanya Audrey manatap sekeliling.


"Ah, entahlah. Aku baru ini ke bagian kandungan. Kalau bagian lain pernah. Pelanggan di sini cukup banyak, karena pelayanan di sini bagus. Mungkin karena itu banyak yang berminat datang ke sini." jawab Sherlyn menjelaskan.


Ponsel Sherlyn bergetar. Sherlyn mendapatkan panggilan. Karena itu panggilan mendesak, Sherlyn pun izin sebantar pada Audrey untuk menerima panggilan. Audrey menganggukkan kepala sambil tersenyum. Sherlyn mengusap lembut tangan Audrey, ia bergegas pergi dan segera menerima panggilan yang masuk ke ponselnya.


Audrey diam menunggu kembalinya Sherlyn. Seseorang disamping Audrey bertanya pada Audrey. Berapa bulan Audrey megandung? Audrey menjawab perkiraan kehamilan saat terakhir ia periksa. Melihat Audrey yang gugup, seseorang itu langsung menduga itu adalah kehamilam pertama bagi Audrey. Seseorang itu mengatakan, jika ia dulu juga gugup. Sama seperti Audrey saat kehamilan pertama. Terlebih dulu saat memeriksakan kandungan, ia jarang didampimgi suami karena suaminya sedang sibuk bekerja.


"Ya, begitulah. Aku tidak punya pilihan lain selain pergi sendiri, kan? Meski tidak didampingi, aku bersyukur memiliki suami yang bertanggung jawab." kata seseorang itu tersenyum.


Seseorang itu bertanya lagi, apakah Audrey hanya berdua dengan saudaranya? di mana suaminya? Mendengar pertanyaan yang tidak terduga, membuat Audrey kebingungan. Ia tidak tahu harus menjawab apa.


"A-apa yang harus aku katakan? bagaimana aku menjawabnya, ya?" batin Audrey.


Audrey diam cukup lama, ia lalu menjawab, jika ia dan suaminya sudah bercerai. Suaminya bahkan tidak tahu kalau Audrey sedang hamil.


Jawaban Audrey langsung membuat seseorang itu melebarkan mata. Ia tidak sangka akan jawaban yang didengarnya. Ia pun langsung meminta maaf, karena telah bersikap tidak sopan dan seharusnya memang tidak banyak bertanya.


"Maaafkan aku, aku tidak menyangka kamu mengalami hal itu. Sungguh, aku minta maaf." kata seseorang itu tidak enak hati.


Audrey menggelengkan kepala, ia mengatakan ia tidak apa-apa. Mungkin sudah takdirnya seperti itu.


"Tidak perlu merasa tidak enak begitu. Ini memang sulit, tapi aku kan tidak boleh menyerah begitu saja." kata Audrey tersenyum lebar.


Merasa bersalah, seseorang itupun memberikan semangat dan mendoakan yang terbaik bagi Audrey.


"Semangat, ya. Aku doakan kamu selalu bahagia kedepannya. Kandunganmu sehat dan persalinanmu lancar. Jika takdir berkata lain, semoga diberikan seseorang yang bisa mengisi kekosongan hatimu." kata seseorang itu dengan perasaan tulus.


"Ya, terima kasih banyak. Doa terbaik juga untukmu sekeluarga," jawab Audrey.


Sherlyn datang. Ia meminta maaf karena terlalu lama meninggalkan Audrey. Audrey tersenyum, menjawab tidak apa-apa.


Sherlyn bertanya, apakah Audrey kenal seseorang itu? Audrey menggelengkan kepala, dan menjawab tidak kenal. Hanya saja keduanya sempat berbincang saat Sherlyn menerima panggilan tadi. Sherlyn mengangguk-anggukan kepala, sembari ber-oh ria.


***


Pemeriksaan kandungan selesai. Sherlyn terkejut dengan hasil pemeriksaan Audrey, yang ternyata sedang mengandung janin kembar. Sherlyn bertanya, apakah Audrey sudah tahu sebelumnya? karena sikap Audrey begitu tenang saat pemeriksaan. Audrey mengiakan pertanyaann Sherlyn. Ia menjelaskan, jika sebelumnya ia sudah memeriksakan kandungannya untuk memastikan gejala yang ia rasakan.


Audrey meminta maaf, ia bukan sengaja mau menutupi  tentang janin kembarnya. Hanya saja Audrey sibuk dengan memikirkan hal lain. Sherlyn tersenyum menggenggam tangan Audrey. Ia tahu dan mau mengerti. Sherlyn tidak akan mempermasalahkannya lagi. Baginya mendengar Audrey dan janin kembar Audrey dalam keadaan sehat saja sudah lebih dari cukup.


Sherlyn lantas mengajak Audrey pergi makan dessert di tempat yang biasa ia kunjungi. Ia ingin mencoba menyenangkan Audrey dan memperkenalkam Audrey pada lingkungan tempat tinggalnya. Agar Audrey terbiasa nantinya.


"Ini tempat yang biasa aku datangi kalau ingin makan dessert. Selain rasa semua dessert di sini enak dan banyak macam, pemilik tempat ini teman sekolahku. Nanti aku kenalkan padamu." kata Sherlyn.


"Oh, ok. Aku menyukai tempatnya," jawab Audrey tersenyum. Melihat sekeliling.


"Apa rencanamu ke depannya?" tanya Sherlyn menatap Audrey.


Audrey menatap Sherlyn, "Apa lagi, tentu saja aku harus bekerja, kan. Mana bisa aku diam saja berpangku tangan," jawab Audrey.


Audrey menjelaskan, jika ia ingin mandiri tanpa merepotkan Sherlyn. Meski begitu, bukan berarti ia tidak butuh bantuan juga dukungan Sherlyn. Intinya ia hanya ingin bekerja, agar bisa menghasilkan uang secara pribadi dan punya kesibukan.


Pikirannya tidak boleh terpaku pada hal-hal yang membuatnya sedih.


"Aku sudah bertekat memulai kehidupan baru di sini. Tentu saja aku tidak boleh setengah-setengah dengan tekatku itu, kan. Bekerja adalah hal wajar kalau ingin bertahan. Bisa punya pengalaman dan mengenal orang-orang baru lebih baik lagi. Bukankah begitu?" kata Audrey mengutarakan pemikirannya.


Sherlyn terharu. Matanya berkaca-kaca ingin menangis.  Ia bangga memiliki sahabat baik dengan pemikiran dewasa seperti Audrey. Padahal keduanya seumuran, tapi Sherlyn merasa pemikirannya masih jauh dinawah Audrey. Terkadang ia masih suka mengeluh bahkan bertinggah bak anak kecil yang manja. Kini Sherlyn menyadari satu hal, kedewasaan seseorang bukan dilandasi umur, melainkan pemikiran, sikap, dan tutur katanya.


"Aku merasa diriku sendiri menyedihkan, Re. Kamu yang seperti ini begitu kuat dan sabar. Jika itu aku pasti akan langsung gila," kata Sherlyn menyeka air matanya yanh sedikit keluar.


Audrey menepuk bahu Sherlyn, "Kamu juga hebat, Lyn. Di sini kamu tinggal sendiri dan memulai karirmu sendiri. Ya, meski masih tinggal satu negara dengan orang tua, tapi setidaknya kamu mampu menujukkan kalau kamu sekarang bisa membanggakan beliau berdua. Makanya, ajari aku sepertimu. Aku juga ingin menunjukkannya pada Papa dan Mamaku, jika putrinya ini hidup dengan baik dan membanggakan." kata Audrey.


Sherlyn tersenyum. Ia sungguh senang memiliki sahabat baik seperti Audrey. Banyak kelebihan dari Audrey yang memang sejak dulu dikagumi Sherlyn. Selain paras cantik Audrey, sifat dan cara bicara Audrey. Juga masih banyak hal lainnya.


Sesuai ucapan Sherlyn, ia mengenalkan Audrey pada temannya yang merupakan pemilik Caffe. Teman Audrey adalah seorang pria bernama Nicholas. Biasanya Sherlyn memanggilnya Nik. Nik dan Sherlyn berteman semasa sekolah sampai masuk univeesitas. Hanya saja keduanya mengambil jurusan berbeda. Saat masuk Universitas, karena keduanya sama-sama tidak punya teman di jurusan yang sama, mereka pun sering pergi bersama. Baik dalam urusan kuliah maupun mengisi waktu kosong di akhir pekan. Begitulah Nik, sampai sekarang masih menjalin pertemanan dengan Sherlyn. Nik senang, saat dikenalkan pada Audrey, yang mana Audrey adalah teman masa kecil Sherlyn.