One + One (One Night Stand)

One + One (One Night Stand)
One + One (14)



Di tempat lain. Saat sedang rapat dengan para stafnya. Tiba-tiba jantung Hansen berdegup kencang tidak beraturan. Keringat membasahi kedua telapak tangannya. Ia merasa seluruh tubuhnya sakit terutama area perut dan bawah perutnya. Dahi Hansen berkerut. Ia tidak bisa pergi begitu saja dari rapat hanya karena gangguan kecil yang ia alami.


"Apa ini? tubuhmu kenapa tidak nyaman begini?" batin Hansen.


Dion menatap Hansen. Ia mendekat dan berbisik. Ia tahu terjadi sesuatu pada Hansen karena wajah Hansen tampak pucat dan terlihat tidak nyaman.


"Pak, ada apa?" bisik Dion.


Hansen menggelengkan kepala, "Tidak ada apa-apa. Lanjutkan saja rapatnya, agar bisa segera berakhir." Bisik Hansen.


Dion menganggukkan kepala. Ia meminta staf melanjutkan rapat. Meski Dion tahu ada sesuatu yang aneh dengan Hansen, tapi karena Bossnya itu berkata "Baik-baik saja" maka ia akan anggap demikian.


Semakin lama ia merasa semakin sakit di area perutnya. Padahal Hansen yang tidak salah makan. Rapat berakhir dan Hansen masih diam di tempatnya. Ia pun akhirnya menyerah dan meminta Dion untuk mengantarnya ke rumah sakit.


"Dion ... " panggil Hansen.


Dion berjalan cepat menghampiri Hansen, "Ya, Pak. " jawabnya.


"Apa jadwalku selanjutnya?" tanya kairos.


Dion langsung mengambil tablet dari atas meja dan memeriksa jadwal Hansen.


"Hari ini Anda memiliki janji makan siang dengan ... " kata-kata Dion dipotong oleh Hansen


"Jadwalkan ulang. Ayo kita ke rumah sakit. Perutku sakit sekali," kata Hansen mengeryitkan dahi menatap Dion.


Dion kaget. Seketika ia memapah Hansen dan membawa Hansen pergi dari ruang rapat. Dengan menggunakan mobil pribadinya mengantar Hansen ke rumah sakit karena khawatir.


Di perjalana menuju rumah sakit, Dion menghubungi Sekretaris Hansen. Meminta menangani kantor saat ia dan Hansen tidak ada di kantor. Ia juga memberitahukan, jika ada hal mendesak yang membuatnya dan Hansen harus pergi sebentar. Panggilan pun berakhir, kini Dion hanya harus fokus pada Hansen yang terus merintih kesakitan di bangku penumpang. Kecepatan ditambah, mobil melaju sedikit lebih kencang dari sebelumnya.


***


Si rumah sakit. Hansen telah menerima perawatan. Ia harus tinggal dan dipasang infus. Hansen sempat menolak, dengan alasan masih banyak pekerjaan di kantor. Sayangnya Dokter melarang Hansen pergi. Mau tidak mau Hansen menurut dan tinggal sementara waktu karena harus dilakukan peemriksaan menyeluruh pada tubuhnya.


"Pak, jangan khawatir tentang kantor. Ada Bu Sekretaris yang akan menangani. Silakan Anda beristirahat, untuk pemulihan." kata Dion.


"Aku tidak suka rumah sakit," gumam Hansen mengerutkan dahi.


"Anda kan sedang sakit. Jadi harus dirawar. Dokter masih akan memeriksa ulang keadaan Anda karena khawatir ada apa-apa." kata Dion.


Beberapa waktu setelah mendapatkan perawatan. Keadaan Hansen sudah lebih baik. Bahkan Hansen bisa terlelap tidur, karena pengaruh dari obat.


Saat tertidur, Hansen bermimpi. Dalam mimpinya ia sedang bersama seorang wanita yang wajahnya buram. Hanya terlihat rambut hitam panjang yang tergerai. Wanita itu tergeletak di atas tempat tidur, tepat dibawahnya. Seberapa besar Hansen berusa untuk melihat wajah wanita itu, penglihatannya tetap buram seperti tertutup kabut.


Hansen lantas terbangun. Matanya seketika terbuka dan ia langsung duduk dari posisi berbaring.


"Haaahh ... (menghela napas) mimpi itu lagi," gumamnya.


Hansen mengeryitkan dahi, ia bertanya-tanya pada diri sendiri. Kenapa ia sampai memimpikan sesuatu yang sama sekali tidak ia mengerti? ia merasa tidak pernah memiliki hubungan istimewa dengan wanita mana pun. Hanys ada satu wanita yang gencar mendekatinya, yakni Anastasia. Meski begitu, Hansen yakin wanita dalam mimpinya bukan Anastasia. Melainkan wanita lain yang entah siapa.


"Siapa?" batin Hansen.


Saat kembali ingin mengingat, kepala Hansen terasa berat dan menjadi pusing. Ia pun menyerah untuk mengingat-ingat siapa wanita yang pernah dekat dengannya.


"Aaahhh ... sial! Kenapa tiba-tiba kepalaku sakit," gumam Hansen.


Pintu ruangan terbuka. Dion masuk dengan membawa sebuah bungkusan. Ternyata Dion pergi membeli kopi dan cemilan karena merasa lapar. Melihat Hansen merintih dan memegangi kepala, Dion lantas mendekat dan bertanya area yang terasa sakit.


"Pak, Anda baik-baik saja?" tanya Dion.


Hansen mengangkat tangannya, "Ya, aku tidak apa-apa. Hanya sedikit pusing saja," jawab Hansen.


Dion membantu Hansen berbaring. Ia menyelimuti Hansen dan meminta izin pergi hendak memanggil Dokter. Hansen melarang Dion memanggil Dokter, ia ingin Dion pergi saja dan makan diluar. Karena ia ingin istirahat tanpa gangguan.


"Tidak perlu memanggil Dokter atau siapapun. Kamu pergilah dan makan diluar. Tinggalkan aku sendiri. Aku ingin istirahat," kata Hansen.


"Apa tidak apa-apa seperti itu, Pak? saya khawatir," tanya Dion memastikan.


"Ya, tidak apa-apa. Aku akan tidur untuk meredakan rasa pusingnya. Kamu makanlah dengan nyaman dan jangan khawatirkan aku." jawab Hansen.


Dion tidak ingin banyak bicara lagi. Ia pun pergi dan membiarkan Hansen istirahat. Meski rasa khawatir masih tetap dirasakannya, ia tidak ingin juga membuat Hansen harus mengulang kata-kata dan kesal.


***


Di luar ruangan. Dion menunggu sembari menikmati kopi dan cemilannya. Tiba-tiba ia mendapatkan sebuah panggilan. Saat ia melihat layar ponselnya. Ia melihat "Pak Ketua Pimpinan" dilayar ponselnya.


Ia segera menggeser panel hijau dilayar ponselnya dan menerima panggilan itu. Dion tidak boleh mengabaikan panggilan penting dari Kakek Hansen.


Dion beebincang dengan Kakek Hansen. Saat Kakek bertanya tentang keadaan cucunya, Dion menjelaskan sesuatu. Ia memberitahu apa yang terjadi dan kondisi Hansen saat ini. Mendengar cucunya dilarikan ke rumah sakit, sang Kakek pun panik. Ia meminta alamat rumah sakit agar bisa segera datang melihat.


"Aku akan datang ke sana segera," kata sang Kakek diujung panggilan.


"Ba-baik. Saya akan sampikan pada Pak CEO kalau Anda akan datang, Kek." kata Dion.


"Tidak perlu. Jangan katakan apapun karena aku ingin memberikan kejutan padanya. Kamu diam saja, mengerti?" jawab cepat sang Kakek. Meminta Asisten cucunya untuk tutup mulut.


Dion keget, "Ah, i-iya. Saya mengerti. Hati-hati di jalan, Kakek." kata Dion.


Panggilan berakhir. Dion seketika menghela napas lega. Dion dilema, ia yakin pasti Hansen akan mengomelinya, karena mengira telah melapor tanpa sengaja. Padahal Kakek Hansen dulu lah yang menghubungi dan mau tidak mau membuat Dion bicara. Menjawab jujur karena tidak ingin berbohong.


Dion menatap ruang perawatan Hansen, "Ya, Apapun itu aku tidak mungkin ditendang, kan. Yang seperti ini sudah biasa, jadi Pak CEO pasti mengerti." batin Dion.


Dion kembali menikmati kopi dan makan cemilan yang dibelinya dari luar, sambil bermain ponsel. Ia menunggu sampai ada panggilan dari Hansen, sekalian menunggu kedatangan Kakek Hansen ke rumah sakit.