
Hari pernikahan sudah ditentukan. Dan undangan sudah bagikan pada tamu tertentu. Pernikahan Audrey dan Hansen akan diselenggarakan secara tertutup.
Audrey dan Hansen sibuk mempersiapkan semuanya. Terutama kedua keluarga besar. Cello dan Cella bahkan menanti-nantikan pernikahan Papa dan Mamanya.
***
Di bandara ....
Sherlyn beru saja tiba. Ia berjalan cepat menuju lobby. Di tengah jalan ia tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang.
"Ah, maaf ... " Kata Sherlyn.
"Maaf juga. Sepertinya aku terlalu fokus pada ponselku. " Kata seseorang itu mengambil ponselnya yang jatuh, lalu menatap Sherlyn.
Sherlyn kaget melihat seseorang itu. Ia merasa wajahnya tidaklah asing.
"Kamu ... Alvaro?" tanya Sherlyn mengerutkan dahi.
"Ya? kamu mengenalku?" tanya Alvaro.
"Jadi benar, kamu Alvaro? saudara kembar Audrey?" tanya Sherlyn memastikan lagi.
"Ya, itu aku. Kamu siapa? apa kita saling kenal?" tanya Alvaro bingung.
Sherlyn tertawa lebar. Ia memukul bahu Alvaro dengan keras. Ia pun memperkenalkan diri, agar Alvaro ingat padanya.
"Aku Sherlyn. Tetangga sebelah rumahmu dulu," jawab Sherlyn.
Alvaro terkejut, "Apa? Sherlyn?" gumamnya.
Sherlyn tersenyum cantik. Ia bertanya apa yang dilakukan Alvaro di bandara? Alvaro menjawab, jika ia baru saja tiba dan mau naik taksi pulang ke rumah. Sherlyn mengatakan, ia juga baru datang. Ia datang lebih awal karena ingin membantu Audrey lebih banyak untuk persiapan pernikahan
Pada akhirnya mereka berdua bebarengan naik taksi yang sama kerena tujuan mereka sama, yakni rumah Alvaro.
***
Sepanjang perjalanan keduanya saling diam. Sherlyn merasa canggung karena saudara teman baiknya itu hanya diam saja. Sherlyn mencuri pandang. Ia terkejut karena Alvaro sudah tumbuh menjadi pria dewasa, dari yang dulunya hanya anak ingusan berumus delapan tahun.
"Aku sampai tidak mengenalimu tadi. Andai wajahmu tidak mirip Audrey, aku pasti tidak tahu itu kamu." kata Sherlyn.
Alvaro diam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Ia takut salah bicara dan malah membuat teman saudarinya itu sakit hati. Padahal niatannya bukan seperti itu.
"Bagaimana kabarmu, Al?" tanya Sherlyn mencoba akrab dengan Alvaro.
"A-aku baik," jawab Alvaro gugup.
"Kesibukanmu apa?" tanya Sherlyn lagi.
"A-aku seorang Guru. Aku mengajar anak SMA." jawab Alvaro.
"Uwahhh ... keren sekali. Tapi apa dulu cita-citamu jadi Guru? aku tidak ingat tuh," kata Sherlyn.
Alvaro terkejut. Ia malu bercerita kalau ia sebenarnya menjadi Guru untuk bisa mendidik anak didiknya tidak menjadi penjahat sepertinya. Selama ini Alvaro hidup sendirian di negeri asing. Bahkan orang tua Alvaro hanya sesekali datang dan itupun tidak lama.
Alvaro tahu, kesalahannya memang tak termaafkan. Ia sudah melakukan kesalahan besar pada Kakaknya sehingga membuat Kakaknya merugi. Dari pengalaman itulah, Alvaro belajar mengendalikan dirinya. Ia yang gemar berjudi dan main wanita, kini sangat membenci perjudian apalagi wanita.
Sherlyn bingung. Kenapa orang di sampingnya hanya diam saja. Ia pun ikut diam. Sherlyn mengira kalau ia terlalu tidak tahu malu untuk menjadi sok akrab dengan Alvaro.
***
"Selamat datang, Nak." kata Andrew berbisik. Ia mendekap erat tubuh putranya.
"Aku pulang, Pa. Aku merindukan kalian semua," kata Alvaro menangis.
Andrew menepuk-nepuk punggung putranya. Meski dulu ia bertidak diluar batas dan diasingkan, ia tetaplah anaknya, darah dagingnya sendiri. Sehingga berat rasanya untuk membenci.
Pelukan dengan sang Papa terlepas. Alvaro langsung memeluk Mamanya erat-erat. Ia mengatakan, ia merindukan Mamanya dengan terisak. Sang Mama pun tidak bisa juga mengendalikan perasaannya.
Alvaro melepas pelukan dan menunduk, menyeka air matanya. Ia merasa sedih, dan terharu keluarganya masih mau menyambutnya.
"Kamu tidak mau menyapaku dan memelukku, Al?" tanya Audrey yang berdiri tepat di belakang Alvaro.
Alvaro terkejut, ia berbalik dan menatap Audrey. Dilihatnya Kakak kebarnya itu beberapa saat, sebelum ia menyapanya.
"Rere ... " panggil Alvaro.
"Ya, ini aku. Hm ... apa kamu mengubah gaya rambutmu? penampilanmu juga berubah," kata Audrey.
"Ah, i-iya." jawab Alvaro. Ia bingung, tidak tahu harus apa.
"Kenapa kamu diam begitu? kamu tidak senang melihatku atau apa?" tanya Audrey.
Alvaro segera menggeleng. Ia menjawab, jika ia merasa aneh saja. Rasanya hati dan pikirannya campur aduk. Alvaro mengatakan, ia senang bisa kembali dan melihat seluruh keluarga menyambut kedatangannya.
Audrey tersenyum, ia langsung memeluk Alvaro dengan erat. Sebagai saudara kembar, bohong kalau Audrey tidak merindukan Alvaro. Selama berpisah dengan kembarannya, terkadang ia diam-diam menangis sendirian di tempat sepi, agar tidak katahuan Sherlyn.
"Aku merindukanmu, Re. Maaf ... " gumam Alvaro memeluk erat Audrey.
Audrey tersenyum, "Minta maaflah yang benar. Dasar pria jahat!" kata Audrey menangis.
Mata yang mengering kembali basah karena Alvaro tak kuasa menahan tangis. Ia sangat merasa bersalah, juga bersyukur, setelah melihat Audrey mau memeluknya.
Audrey melepas pelukan, "Apa kamu jadi rajin olah raga? tubuhku keras dan semakin berotot," tanya Audrey.
"Ah, iya. Aku rutin berolah raga setiap hari. Sepertinya usahaku membentuk otot berhasil, ya." jawab Alvaro.
Audrey pun ingat, jika ia harus mengenalkan Alvaro pada Hansen dan si kembr. Saat tahu kembaranny sudah punya anak, Alvaro pun terkejut.
"Mereka ... anakmu?" tanya Alvaro menatap Audrey, setelah menatap Cello dan Cella.
"Ya, mereka anakku. Kenapa? apa tidak mirip denganku?" tanya Audrey menatap Alvaro sembari melebarkan mata.
"Bu-bukan itu. Aku hanya terkejut saja, kamu sudah memiliki anak. Jadi aku sekarang sudah jadi Paman, ya?" kata Alvaro tersenyum.
Audrey dan Alvaro berbincang empat mata. Audrey menceritakan apa yang belum sempat ia ceritakan. Jika ia hamil dengan pria yang menghabiskan malam dengannya. Dan pria itu tidak lain adalah Hansen. Audrey juga menceritakan kisahnya selama tinggal jauh di luar negeri. Intinya Audrey dan Alvaro sama-sama menjalani kehidupan jauh dari orang tua. Hanya saja Audrey berjuang bersama anak-anaknya, dan Alvaro berjuang untuk bisa menemukan jati diri.
"Bagaimana, ya. Dulu mungkin aku sangat kesal, tapi sekerang aku rasa ada kebiakan didalamnya. Kalau bukan karenamu, aku tidak mungkin ke Hotel itu dan bertemu Hansen. Kalau bukan karena malam itu, aku tidak akan memiliki dua malaikat lucu seperti Cello dan Cella." kata Audrey.
"Tetap aja, aku merasa bersalah. Jujur aku terus hidup dalam ketakutan selama ini. Aku takut selamanya akan diasingkan. Meski terakhir kali berkunjung menemuiku, Papa dan Mama memintaku kembali, tapi pada akhirnya aku menolak keinginan mereka.
"Aku masih merasa bersalah. Ingin mencari tahu tentangmu, takut akan ada kesalahpahaman yang memicu pertengkaran. Jadi aku memilih diam dan merenungkan semua kesalahanku. Aku bertekad akan meninggalkan semua kebiasaan burukku dan mau menjadi orang yang lebih baik." kata Alvaro.
Audrey senang, Alvaro punya pemikiran yang dewasa. Ia bangga pada Alvaro. Audrey juga menyampaikan, ia tidak lagi membenci Alvaro. Kejadian sebelumnya adalah pengalaman. Kejadian yang sekarang adalah anugerah. Dan kejadian masa depan adalah harapan.