One + One (One Night Stand)

One + One (One Night Stand)
One + One (40)



Tiba hari keberangkatan Hansen, Audrey dan si kembar. Sherlyn dan Nicholas mengantar sampai bandara. Mereka pun saling berpelukan dan mengucap salam perpisahan. Sherlyn menangis, tapi ia tersenyum sambil melambaikan tangan ke arah Audrey dan si kembar yang pergi perlahan menjauh darinya.


Si kembar sedih, ia harus berpisah dengan Mama asuh dan Papa asuh mereka. Sherlyn dan Nicholas berjanji pada si kembar, jika mereka berdua akan sering-sering datang berkunjung. Meminta si kembar untuk menjaga diri dan kesehatan dengan baik.


Audrey pun sedih harus pergi. Ia harus meninggalkan negara yang selama tujuh tahun ini ia tinggali. Banyak kenangan, suka duka yang membuat Audrey berat untuk pergi.


Hansen menggenggam tangan Audrey, "Jika urusan kita sudah selesai. Kamu bisa kembali ke sini. Mau itu hanya berkunjung atau kembali menetap di sini. Aku tidak akan melarangku, Audrey." kata Hansen.


Audrey menatap Hansen dan tersenyum, ia senang mendengar apa yang baru saja Hansen katakan. Audrey menggandeng Cello di sisi kanan, dan Hansen di sisi kiri. Sedangkan Hansen menggandeng Cella di sisi kiri dan Audrey di sisi kanan. Mereka berjalan perlahan menuju pesawat yang akan membawa mereka untuk pergi.


***


Nicholas baru saja sampai di Caffenya. Ia turun dari dalam mobil dan melihat seorang wanita berdiri di depan Caffenya. Melihat wanita asing yang belum pernah ia lihat, Nicholas pun mendekat dan bertanya, kenapa wanita itu berdiri di depan Caffenya?


"Maaf, Anda sedang apa? Butuh bantuan?" tanya Nicholas.


Wanita itu menatap Nicholas, "Caffe ini kenapa tidak buka?" tanyanya kasar.


Nicholas kaget, "Ah, itu. Karena ada urusan, Caffe ini buka sedikit telat dari jam biasanya." jawab Nicholas.


"Huh, mengesalkan saja. Apa kamu pemiliknya? atau pekerja di sini?" tanya wanita itu.


"Apa? Aku pemiliknya." jawab Nicholas.


"Wanita ini aneh sekali. Dia ini siapa?" batin Nicholas merasa aneh melihat wanita yang berdiri dihadapannya.


"Bisa buka sekarang? aku haus dan mau minum. Aku sudah berdiri hampir tiga puluh menit di sini." kata wanita itu.


Nicholas tidak menjawab, i segera mengeluarkan kunci dan membuka pintu Caffenya. Nicholas masuk, ia mempersilakan wanita itu juga masuk dalam Caffenya. Wanita itu masuk, berjalan mengikuti Nicholas. Ia melihat sekeliling dan tidak lama duduk.


"Mau minum apa?" tanya Nicholas.


"Es Amerikano." jawab wanita itu.


Nicholas segera pergi dan membuatkan pesanan wanita yang menurutnya aneh itu. Meski sedikit kesal karena wanita itu terkesanan memerintahnya, ia tidak bisa mengabaikan seorang pelanggan.


Tidak lama Nicholas datang dengan membawakan pesanan wanita itu. Wanita itu menatap Nicholas dan menyuruh Nicholas untuk duduk, karena mau menanyakan sesuatu.


"Duduklah. Ada yang mau aku tanyakan," kata wanita itu.


Nicholas duduk di hadapan wanita itu, "Katakan, apa yang ingin kamu tanyakan padaku." jawab Nicholas.


Wanita itu mengeluarkan sebuah foto dan memberikannya pada Nicholas. Ia meminta Nicholas melihat foto itu.


"Apa kamu kenal dia?" tanya wanita itu.


Nicholas mengambil foto dan melihat foto itu, "Ini ... siapa kamu? bagaimana bisa kamu mengambil foto orang tanpa izin. Ini tindak kejahatan." kata Nicholas.


"Jawab saja pertanyaanku. Kamu kenal wanita itu, atau tidak?" tanya wanita itu lagi menatap tajam ke arah Nicholas.


"Kamu katakan dulu. Siapa kamu dan apa tujuanmu," jawab Nicholas.


Wanita itu mengernyitkan dahi karena kesal. Ia tidak senang pada Nicholas yang tak lagsung menjawab pertanyaannya.


Nicholas mengerutkan dahi menatap Anastasia, "Apa kamu bilang? priamu direbut olehnya? priamu itu, Hansen?" tanya Nicholas.


"Ya, di adalah calon tunanganku. Entah dari mana, wanita itu muncul bahkan mengaku-aku melahirkan anak Hansen. Apa itu masuk akal?" kata Anastasia kesal.


Nicholas langsung paham maksud kedatangan Anastasia. Ia pun hanya menanggapi perkataan Anastasia dengan senyuman dan menggelengkan kepala.


Melihat ia ditertawakan, Anastasia pun kesal. Ia pun menegur Nicholas dan bertanya kenapa menertawakannya? Nicholas langsung diam. Ia menggelengkan kepala tanpa menjawab apa-apa.


"Dasar menyebalkan!" gerutu Anastasia.


"Minumlah es kopimu. Agar kepalamu dingin. Aku sudah melihat dua tanduk tumbuh dari kepalamu." kata Nicholas.


Mendengar perkataan Nicholas, Anastasia kaget. Tanpa sadar ia meraba kepalanya dengan ekspresi wajah yang aneh. Hal itu pun membuat Nicholas kembali tertawa.


"Aku heran saja. Kamu ini mudah sekali termaka ucapan orang lain, ya. Belajarlah untuk menilai kata-kata orang lain dulu. Jangan asal menerima semua yang orang katakan." kata Nicholas.


"Ke-kenapa kamu jadi menceramahiku. Pergi sana!" kata Anastasia mengusir Nicholas dari pandanganya.


"Tidak perlu kamu suruh pegi pun, aku akan tetap pergi. Lagipula banyak pekerjaan yang harus aku lakukan." kata Nicholas.


Nicholas pun pergi meninggalan Anastasia sendirian. Ia harus segera bersiap-siap menyelesaikan pekerjaannya sebelum para tamu berdatangan.


Nicholas berpikir, apapun yang dikatakan Anastasia, ia tidak berhak ikut campur masalah Audrey dan Hansen tanpa diminta. Sebagai teman dekat, ia yakin Audrey bukan dengan sengaja merebut Hansen.


***


Setelah hampir lima jam perjalan. Akhirya Hansen, Audrey dan si kembar sampaiĀ  ditujuan. Audrey tersenyum cerah begitu ia menginjakkan kaki dibandara. Setelah sekian lama, ia akhirnya kembali.


"Selamat datang, Rere." batin Audrey menyambut diri sendiri.


"Mama, Papa ... apa kita akan tinggal di sini?" tanya Cello.


"Ya, sementara ini kita akan tinggal di sini. Hanya sampai urusan Papa dan Mama selesai. Setelah itu terserah Mama dan kalian, mau kembali atau tetap di sini. Papa tidak akan memaksa," kata Hansen mengusap kepala Cello.


"Cello, Cella ... kita akan bertemu Kakek dan Nenek. Apa kalian senang?" tanya Audrey menatap kedua anaknya bergantian.


Cello dan Cella terseyum. Mereka menjawab kalau mereka sangatlah senang. Hansen menambahi, jika Cello dan Cella nantinya akan dikenalkan pada Kakek dan Neneknya yang lain.


Hansen melihat supirnya datang menjemput. Ia langsung minta supirnya pulang naik taksi, karena ia akan mengemudikan sendiri mobilnya.


"Kamu tidak bilang Papa dan Mama aku datang, kan?" tanya Hansen pada supirnya.


"Tidak, Tuan. Saya tidak memberitahu siapapun," jawab si supir.


"Baiklah kalau begitu. Kamu bisa pulang dan istirahat. Aku akan mengemudi sendiri karena masih harus mengantar istri dan anak-anakku." kata Hansen.


Si supir langsung keget. Ia melebarkan mata tidak mengerti maksud Hansen. Tapi ia tidak menolak perintah dan langsung pergi meninggalkan Hansen setelah memberikan kunci mobil.


"A-apa barusan aku salah dengar, ya? telingaku sepertinya bermasalah. Belum ada sebulan Tuan muda pergi, tapi pulang dengan membawa istri dan anak-anak katanya? Hahhh ... aku tidak tahu betapa rumitnya hidup orang kaya." batin si supir. Ia langsung menumpangi taksi dan pergi meninggalkan bandara.


Hansen, Audrey dan si kembar ada di dalam mobil yang terparkir di parkiran. Tidak berselang lama, Hansen mengemudikan mobil pergi meninggalkan parkiran menuju kediaman Audrey.