
Hansen dan Dion sarapan bersama. Suasan sunyi, Dion dan Hansen hanya fokus pada makanan yang ada di atas meja. Tiba-tiba Hansen menanyakan pertanyaan yang mengejutkan. Ia bertanya, apakah sebelum kecelakaan dan hilang ingatan, ia memiliki teman kencan? atau wanita yang disukai? Tentu saja Dion yang mendengar langsung kaget.
"Apa saya tidak salah dengar, Pak?" tanya Dion menatap Hansen.
Hansen menatap Dion, "Jawab jujur, Dion. Kamu kan orang yang paling tahu bagaiamana aku karena kamu dan aku sudah bekerja bersama bertahun-tahun. Katakan saja, aku tidak akan marah. Sungguh," kata Hansen penasaran.
Dion bingung harus menjawab apa. Ia pun menjelskan, jika ia tidak pernah sekalipun ikut campur masalah pribadi Hansen.
"Maaf, Pak. Selama ini saya tidak pernah sekalipun terlibat dan tahu tentang masalah percintaan Anda. Dari yang saya ketahui, Anda tidak pernah menyukai seseorang, ataupun berhubungan dengan seseorang. Kalau wanita yang mengejar Anda, itu jangan ditanyakan. Saya sampai sakit kepala menangani mereka," jawab Dion menjelaskan.
"Apa diantara wanita yang kamu bereskan. Ada wanita berambut panjang hitam dan ada tahi lalat di dagunya?" tanya Hansen.
Dion mengerutkan dahi, "Apa lagi maksudnya ini? apa Pak CEO sakit kepala dan ingatannya kacau?" batin Dion khawatir
"Pak, apa kita perlu ke rumah sakit? meski ini hari libur, saya akan hubungi Dokter agar anda diperiksa." kata Dion berdiri dari duduknya dan berdiri si samping Hansen.
Hansen pun menjelaskan. Jika ia tidak sakit atau ada masalah dengan kepalanya. Meminta Dion duduk dan tidak berpikir yang macam-macam.
Karena bingung dengan apa maksud Hansen, Dion pun bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Meminta penjelasan Hansen agar tidak salah paham atau berpikir macam-macam.
Hansen pun mau tidak mau menjelaskan. Ia juga harus tahu, siapa wanita yang terus menerus menghantuinya dalam mimpi. Meski malu, ia menceritakan apa yang ada dalam mimpinya.
"Hm, begini ... aku memimpikan sesuatu yang membuatku bingung. Dimimpi, aku ... hm, aku ... aahh, bagaimana ya menjelaskannya. Intinya wanita berambut panjang hitam dan memiliki tahi lalat didagu terus muncul dimimpiku. Dia dan aku terlihat dekat, karena sepertinya kami juga tidur bersama." jelas Hansen ragu-ragu.
Dion tekejut sampai matanya membulat sempurna. Ia tidak menyangka Bossnya akan membicarakan sesuatu hal yang membuatnya tercengang. Ini pertama kalihya ia mendengar masalah pribadi Hansen. Biasanya Hansen hanya akan membicarakan soal pekerjaan atau klien dan semacamnya yang berhubungan dengan pekerjaan
Melihat Dion yang terkejut sampai tidak bisa berkata-kata membuat Hansen malu. Ia merasa tidak semestinya ia menceritakan pada Dion masalah pribadinya. Ia takut Dion mengejeknya dan berpikir yang tidak-tidak tentangnya.
"Hm, itu ... soal mimpiku lupakan saja. Toh aku tidak tahu siapa dia," kata Hansen.
"Bu-bukan itu, Pak. Maaf, jika saya terdiam tidak bisa berkata-kata. Saya hanya terkejut. Ini pertama kalinya Anda menceritakan masalah pribadi Anda." kata Dion mengutarakan apa yang dirasakannya.
"Aku sendiri juga terkejut. Bisa-bisanya mengatakan itu tadi. Ini bukan seperti yang kamu pikirkan. Aku bukan orang mesum yang memimpikan hal-hal vulgar. Apa kamu paham?" kata Hansen menjelaskan.
Dion tersenyum. Baru kali ini ia melihat Bossnya khawatir akan sesuatu. Dion paham maksud Hansen. Ia juga tidak mungkin sampai sejauh itu berpikir Hansen adalah seorang mesum yang suka dengan hal-hal vulgar.
"Saya mengerti, Pak. Jadi ... bisa coba jelaskan kembali apa yang Anda ingin ketahui? Bagaimana bisa Anda tidak mengenali wanita yang ada di dalam mimpi Anda?" tanya Dion ingin tahu.
Hansen menarik napas, lalu mengembuskan napas perlahan.
"Hahh ... itulah masalahnya. Wajahnya buram tidak terlihat. Meski berulang kali aku memimpikannya, wajahnya tetap tidak terlihat. Aku hanya bisa melihat bentuk tubuh, rambutnya dan tahi lalatnya saja. Aneh, kan." jawab Hansen.
Dion diam berpikir. Ia melipat tangannya memutar otak. Ini hal baru baginya. Seperti Dion yang sibuk berpikir, Hansen juga diam membisu. Suasana seketika hening.
Setelah lama berpikir, Dion pun mengutarakan pendapatnya. Ia punya pendapat, kalau seseorang dalam mimpi Hansen kemungkinan seseorang yang Hansen temui sebelum hilang ingatan akibat kecelakaan. Karena banyaknya ingatan sebelum kecelakaan yang hilang, ingatan tentang wanita itupun ikut hilang.
"Aku saja tidak tahu siapa wanita itu. Bagaimana bisa merindukannya?" sahut Hansen.
"Kalau begitu, wanita itulah yang merindukan Anda. Mimpi bisa datang kalau salah satu diantara dua orang sedang rindu." jawab Dion.
Hansen terkejut, "Apa maksudmu?" tanya Hansen.
Dion mengambil napas dalam-dalam, lalu membuang napas perlahan. Ia pun menjelaskan tentang ucapannya, agar Hansen mengerti.
Mendengar pejelasan Dion, tanpa sadar wajah Hansen memerah. Entah kenapa ia juga merasa malu. Hansen lalu mengubah pembicaraan mengenai pekerjaan. Ia tidak ingin diejek oleh Dion.
***
Rose dan Andrew memutuskan untuk tinggal sementara. Selain ingin melepas rindu, keduanya ingin menghabiskan waktu lebih lama dengan si kembar. Audrey tidak bisa, juga tidak mungkin melarang. Ia senang Papa dan Mamanya mau tinggal.
Karena sangat ingin menempel dengan si kembar, Rose dan Andrew pun meminta izin Audrey untuk bisa tidur bersama si kembar.
"Boleh kami tidur dengan si kembar?" tanya Rose.
"Ya, tentu saja. Aku akan bawakan asi ke kamar Papa dan Mama nanti." jawab Audrey.
Rose dan Andrew pun membawa si kembar ke dalam kamar tamu. Sementara Audrey masuk ke kamarnya untuk mengambil stok asi yang harus disiapkan untuk si kembar.
***
Audrey mengetuk pelan pintu kamar tamu yang ditempati Papa dan Mamanya. Ia masuk dengan membawa kotak berisi stok asi untuk si kembar.
"Ma, ini asinya. Kalau kurang Mama ke datanglah ke kamarku. Atau telepon aku saja." kata Audrey meletakkan kotak di meja tak jauh dari tempat tidur.
"Ya, kamu tidurlah. Mama dan Papa yang akan menjaga si kembar. Menjadi ibu tunggal tidaklah mudah, apalagi menjaga dua anak sepertimu. Jika kamu kesulitan, sebaiknya menyewa jasa pengasuh saja." kata Rose khawatir.
"Mama tidak perlu khawatir. Aku bisa melakukannya sendiri untuk saat ini. Sherlyn juga ada untuk membantuku. Kalau aku benar-benar butuh bantuan orang lain, aku akan cari pengasuh." jawab Audrey menjelaskan. Ia tidak ingin Mamanya khawatir.
Rose mengajak Audrey untuk duduk dan mengobrol. Rose menceritakan sedikit tentang Audrey dan Alvaro saat masih kecil. Di mana keduanya sakit dan terus menangis semalaman. Saat itu Rose dibantu Andrew mengurus dua anaknya yang sakit.
"Kalau bukan karena Papamu, Mama tidak akan sanggup." kata Rose.
Audrey paham maksud ucapan Mamanya yang khawatir putrinya akan kdsusahan saat merawat dua anak sendirian.
Audrey memegang tangan Mamanya, "Ma, meski aku sendirian. Aku yakin bisa menjaga Cello dan Cella. Kata-kata Mama juga tidak salah. Menjadi Ibu tunggal memang tidak mudah. Tetapi kalau mau berusaha dan mencoba, hasilnya akan berbeda, kan?" kata Audrey tersenyum.
Rose tersenyum mengusap kepala putrinya. Ia bangga, putrinya memiliki pemikiran dewasa dan sudah bisa hidup mandiri.