
Cello dan Cella datang menemui Audrey. Melihat dua anaknya yang berjalan menghampirinya dari arah pintu, Audrey pun tahu, kalau si kembar keluar. Padahal ia sudah melarangnya.
"Apa kalian keluar?" tanya Audrey menatap Cello dan Cella bergantian.
Karena takut Audrey marah, kedua anak itu hanya menganggukkan kepala.
Audrey mengusap kepala dua anaknya, "Mama tidak marah, sayang. Mama hanya tanya, apa kalian dari luar?" tanya Audrey lagi.
"Ya, Ma." jawab Cello dan Cella bersamaan.
"Jangan diulangi, ya. Di sini kita tidak kenal siapa-siapa. Meski ini adalah Hotel yang bagus, penjahat pun bisa saja berkeliaran. Kalian mengerti?" tanya Audrey lagi.
"Ya, Ma. Maafkan kami," jawab Cello.
"Maaaf, Ma ... " ucap Cella.
Karena tidak tega Audrey pun tidak bicara lagi dan memeluk kedua anaknya. Ia mencium kepala si kembar bergantian.
"Ya, sudah kalau begitu. Pakai jaket kalian dan kita pergi," kata Audrey.
Cello dan Cella memakai jaket mereka masing-masing. Begitu juga Audrey. Cella pun bercerita pada Audrey, jika ia bertemu dengan "Paman Tampan" di depan pintu. Mengatakan, jika Paman tampan itu tinggal di kamar depan.
Audrey lantas bertanya, apa Paman tampan yang dimaksud terlihat mencurigakan? mengingatkan Cello dan Cella agar tidak mudah dibujuk orang asing. Terutama orang yang baru dijumpai.
Cella pun mengatakan dengam tegas, jika Paman tampan yang ia maksud bukanlah orang jahat. Cello pun setuju dengan ucapan Cella dan mengataka, jika Paman itu keren.
"Kalian ini ada-ada saja, ya." kata Audrey tersenyum.
Mereka bertiga masuk ke dalam lift. Pintu lift tertutup, Lift pun membawa mereka ke lantai dasar.
"Ayo," ajak Audrey. Sesaat setelah pintu lift terbuka.
Audrey menggandeng Cello dengan tangan kiri, dan Cella dengan tangan kanan. Cello dan Cella sibuk membicarakan Paman tampam dan keren yang baru mereka temui. Audrey hanya diam mendengarkan, dan menjadi penasaran akan rupa Paman tampan dan keren yang dilihat anak-anaknya.
"Seberapa tampan dan kerennya orang itu? apa lebih tampan dari dia?" batin Audrey yang lagi-lagi terbayag wajah Hansen.
Audrey menggelengkan kepala. Ia segera menepis bayangan Hansen dari kepalanya. Wajah Hansen sangatlah tampan, Audrey tidak yakin ada yang lebih tampan dari Ayah anak-anaknya itu.
Audrey menawari si kembar untuk tempat yang akan mereka tuju. Si kembar berkata ingin melihat dan jalam-jalan di taman tak jauh dari Hotel. Audrey pun setuju, dan berkata hanya main sebentar saja karena udara begitu dingin. Jika terlalu lama, maka bisa-bisa mereka bertiga membeku.
***
Setelah puas berkeliling taman, Audrey pun mengajak dua anaknya ke Caffe. Ia ingin menghangatkan tubuh anak-anaknya dengan cokelat hangat. Ia sendiri ingin minum kopi.
"Apa kalian senang?" tanya Audrey menatap Cello dan Cella bergantian.
"Ya, Ma. Senang sekali." jawab Cella.
"Ma, kapan acarannya dimulai? aku ingin makan banyak cake," kata Cello.
"Besok malam. Makanya kita sekarang jalan-jalan. Karena besok sampai esok lusa Mama tidak bisa pergi mengajak kalian jalan-jalan. Mama takut kelelahan, karena harus menghadiri pesta malam harinya," jelas Audrey.
Audrey yakin anak-anaknya akan mengerti saat ia beri penjelasan. Cello dan Cella bukanlah anak yang manja dan suka merengek. Justru mereka berdua adalah sosok yang perhatian dan peduli, terlebih kepada Mama mereka.
"Oh, kalau begitu kita langsung kembali saja ke Hotel. Agar Mama bisa tidur cepat," kata Cello.
"Apa tidak apa-apa begitu? kalian tidak mau jalan-jalan lagi?" tanya Audrey memastikan.
"Sebenarnya ingin, tapi Mama kan tidak boleh lelah. Nanti kalau Mama sakit kami sedih," kata Cello.
"Kalau Mama sakit, siapa yang akan merawat kami? Mama Elyn kan sibuk," sahut Cella.
"Papa Nico. Apa Papa Nico tidak bisa merawat anak-anak Mama ini denga baik?" tanya Audrey.
Ponsel Audrey berdering. Ia mendapatkan panggilan dari Stella. Karena ia juga ingin ke kamar mandi, ia pun izin sekalian menerima telepon kepada si kembar.
Sebelum pergi, Audrey berpesan agar Cello dan Cella tetap tenang. Mengizinkan keduanya untuk memesan dessert atau menu lain yang diinginkan. Setelah mendapatkan kepastian dari dua anaknya, Audrey pun pergi dengan tenang.
***
Cello dan Cella minum cokelat panas. Mereka tidak sengaja bertemu Hansen yang baru saja datang ingin memebeli kopi. Melihat sosok yang dikenali, Cello dan Cella pun langsung memanggil.
"Paman, Paman ... " panggil Cello.
"Paman Tampan, di sini ..." kata Cella.
Hansen mengikuti arah suara, ia terkejut melihat dua anak yang dilihatnya di Hotel sedang duduk tak jauh darinya.
"Hai ... " sapa Hansen mendekati si kembar setelah memesan kopi pada penjaga Caffe.
"Paman mau beli apa?" tanya Cella.
"Mau beli kopi. Kalian ke sini dengan Mama? Di mana Mama?" tanya Hansen khawatir, kalau-kalau kedua anak di depannya keluar sendirian.
"Mama ke belakang. Menerima telepon," jawab Cello.
"Paman ayo pesan kopi dan duduk bersama kami," ajak Cella.
"Cella, kamu tidak dengar apa kata Mama? Mau Mama mengomel?" bisik Cello.
"Kenapa? Paman ini kan tinggal di depan kamar kita. Dan tadi kita bertemu Paman ini juga," bisik Cella.
Melihat kedua anak didepannya bisik-bisik. Hansen hanya bisa tersenyum. Keduanya sangat imut seperti anak kelinci.
"Apa Mama kalian marah karena Paman adalah orang asing? kalau begitu, bagaimana dengan perkenalan? Paman akan beritahu nama Paman, kalian juga beritahu nama masing-masing. Setuju?" kata Hansen tersenyum hangat.
"Setuju!" seru Cella bersemangat.
"Nama Paman siapa?" tanya Cello menatap Hansen.
"Nama Paman Hansen. Kalian bisa panggil Paman Hans saja." jawab Hansen memperkenalkan diri.
"Hallo, Paman Hans. Aku Gracella. Paman bisa memanggilku Cella," kata Cella memperkenalkan diri.
"Oh, Hallo Cella. Senang berkenalan denganmu." sahut Hansen mengusap kepala Cella. Ia menatap Cello dan bertanya nama Cello, "Kalau kamu?" tanya Hansen.
"Aku Gracello," jawab Cello singkat.
"Ah, Cella dan Cello, ya. Nama yang cantik dan tampan. Cocok untuk kalian," puji Hansen.
Pelayan mengantar pesanan Hansen. Meletakakn kopi Hansen di atas meja, lalu pergi. Hansen melihat Kopinya, lalu melihat si kembar.
"Jadi, apa sekarang kita berteman? kita kan sudah berkenalan," kata Hansen.
"Ya, ya, berteman. Paman, ayo duduk di sana." ajak Cella. Menunjuk kursi di samping kursi Audrey.
"Di sini? Apa boleh?" tanya Hansen memastikan.
"Paman duduk saja. Kami kan sudah tahu nama Paman dan tahu tempat menginap Paman." kata Cella.
"Kami akan kenalkan Paman pada Mama. Agar Mama tahu, siapa Paman dan tidak mencurigai Paman sebagai orang jahat." kata Cello.
Cella menganggukkan kepala, ia berkata sudah tidak sabar memperkenalakan "Paman Tampan" pada Mamanya. Cella bahkan mengatakan pada Hansen, jika Mamanya adalah wanita paling cantik di dunia. Dan juga baik, kata Cello menambahkan.