One + One (One Night Stand)

One + One (One Night Stand)
One + One (38)



Malam harinya. Karena Cello dan Cella tidak mau berpisah dengan Papanya, Mereka pun memilih tidur di Hotel bersama sang Papa. Tentu saja atas izin Mama mereka. Audrey meminta Cello dan Cella tidak berulah, atau mengganggu Hansen jika sedang sibuk.


"Ingat pesan Mama, ya?" kata Audrey menatap Cello dan Cella.


"Ya, Mama ... " jawab Cello dan Cella serentak.


"Kamu tidak mau menginap bersama kami?" tanya Hansen menatap Audrey.


Audrey menatap Hansen, "Aku harus bicara dengan Sherly beberapa hal. Jika nanti aku tidak bicara apa-apa dan langsung pergi, maka dia akan sedih. Tolong jaga anak-anak, ya?" jawab Audrey sekalian menitipkan si kembar pada Hansen.


"Jangan khawatir. Anak-anak aman bersamaku. Kamu bicaralah baik-baik dengan Sherlyn. Jika ada apa-apa, segera hubungi aku." kata Hansen.


Audrey menganggukkan kepalanya perlan. Hansen mencium dan memeluk Audrey, ia menggandeng tangan anak-anak pergi masuk ke dalam gedung Hotel. Audrey menatap Hansen dan anak-anakny sudah masuk dan menghilang dari pandangannya. Ia pun segera masuk ke dalam mobil dan mengemudikan mobilnya pergi meninggalkan lobby Hotel.


***


Sementara itu ada orang dari jauh yang mengambil foto Hansen dan Audrey, juga si kembar saat mereka ada di lobby Hotel, sebelum Audrey pergi. Orang itu terlihat sejak Hansen dan Audrey di Caffe milik Nicholas. Bahkan sebelumnya orang itu sudah mengikuti Hansen yang mendatangi gedung Galeri.


Setelah mendapat apa yang diinginkannnya. Orang itu pergi. Ia mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang. Meminta bertemu dengan seseorang yang dihubunginya. Mereka lantas janjian di sebuah Caffe tak jauh dari gedung Hotel tempat Hansen dan si kembar menginap.


Seseorang itu pergi berjalan menuju Caffe tempat janjian. Setelah sampai ia langsung duduk dan memesan minuman pada pelayan. I kembali memeriksa hasil foto di kameranya. Ia berharap atasannya puas dengan hasil kerjanya.


Seseorang itu menunggu cukup lama hampir dua puluh menit. Seseorang yang ditunggu pun datang. Seorang wanita cantik dengan anggun berjalan mendekat dan duduk. Ia menatap seseorang di hadapannya.


"Jadi bagaimana? apa yang kamu dapat?" tanya seseorang itu. Yang tak lain adalah Anastasia.


Anastasia diam-diam mengintai Hansen dengan menyewa orang untuk memata-matai Hansen. Ia sangat ingin tahu, apa saja yang Hansen lakukan dan juga dengan siapa saja Hansen bertemu.


Seseorang menyerahkan kameranya. Anastasia menerima kamera dan melihat semua foto-foro yang diperoleh.


"Foto yang membawa bunag, dia datang ke sebuah Galeri. Galeri itu cukup terkenal. Di sana dia sepertinya menjemput wanita itu. Mereka pergi ke sekolah. Dari sekolah mereka pergi ke Caffe. Lihat foto yang ada di Caffe. Dia bertemu orang lain dan mereka terlihat serius membicarakan sesuatu .... "


Seseorang itu menceritakan semua yang dia tahu dan lihat tanpa terlewat sedikit pun.


Anastasia meletakkan kamera yang dipegangnya di atas meja. Ia mengambil sebuah amplop dari tasnya dan memberikan pada seseorang itu.


"Pergilah! cukup untuk hari ini." perintah Anastasia.


Seseorang itu mengangguk, ia menerima amplop dan mengambil kameranya, lalu pergi meninggalkan Anastasia sendirian di Caffe.


"Jadi kamu mengabaikanmu dan malah bersenang-senang, ya. Tidak semudah itu, Hans. Apapun yang terjadi, aku tidak akan menyerah untuk bisa mendapatkanmu." batin Anastasia.


Tidak lama, Anastasia pergi menginggalkan Caffe. Ia ingin pergi ke suatu tempat untuk bertemu seseorang.


***


"Lyn, kamu tidak marah padaku, kan?" tanya Audrey.


Sherlyn nenatap Audrey, "Marah? Kenapa aku harus marah padamu?" tanya Sherlyn.


"Aku dan anak-anak kan mau pergi. Aku akan kembali ke negara tempatku dilahirkan dan meninggalkanmu di sini sendirian. Aku takut kamu marah dan kecewa. Bagaimanapun, selama ini kan kita saling bergantung satu sama lain. Jadi ... " kata-kata Audrey tertahan. Mata Audrey memerah, ia ingin menangis.


"Jadi ... " sambung Sherlyn. Ingin Audrey lanjut berbicara.


"Jadi, aku mau minta maaf. Aku pergi karena Hansen ingin membawa anak-anak menemui orang tuanya. Dan aku juga harus menemui orang tuaku untuk mengenalka Hansen. Kami sudah sepakat untuk menikah. " Jelas Audrey.


Sherlyn tersenyum, "Hei, Re. Kamu sudah kenal aku berapa lama? sejauh kamu mengenalku sampai detik ini, apa pernah aku mengorek hatimu walaupun aku sangat ingin? aku selalu menunggu kamu bercerita lebih dulu, baru aku bertanya. Aku sangat menghargai perasaanmu dan tidak mau menjadi teman yang sok ikut campur. Sejak awal kamu datang, aku sudah katakan juga. Apapun keputusanmu, aku akan mendukungmu. Jangan merasa terbebani dan tidak enak hati begini. Aku tidak apa-apa." kata Sherlyn.


Sherlyn menambahkan. Memang berat karena harus berpisah dan jauh dari Audrey juga anak-anak asuhnya. Namun Sherlyn juga ingin Audrey dan si kembar bahagia.


"Kebahagiaanmu dan si kembar adalah kebahagiaanku juga." ucap Sherlyn.


"Terima kasih, Lyn. Kamu memang sahabat terbaikku di dunia ini. Aku menyayangimu," kata Audrey memeluk Sherlyn.


Sherlyn mengusap punggung  Audrey, "Ya, aku juga menyayangimu." jawab Sherlyn.


Mereka lanjut bicara. Sherlyn bertanya apa saja rencana Audrey setelah kembali? Audrey menjelaskan apa saja yang akan ia lakukan selama kembali. Pertama-tama ia harus menyapa orang tuanya lebih dulu. Membawa si kembar untuk bertemu Kakek dan Nenek mereka setelah sekian lama. Audrey akan mencoba bicara, ia berharap orangtuanya mau mengerti.


Banyak hal ingin dilakukan Audrey. Kali ini ia tidak mau mundur dan menghindar lagi seperti dulu. Ia sudah bertekat untuk tidak melepas kebahagiaan yang datang padanya.


***


Audrey tidak bisa tidur. Biasanya ia pasti akan melihat anak-anak jika mau tidur. Sekarang anak-anaknya sedang bersama Hansen dan ia merasa kesepian.


"Apa aku pergi ke Hotel saja, ya?" batin Audrey.


Audrey lantas bangun dari posisinya berbaring. Ia segera turun dari tempat tidur dan berganti pakaian. Ia ingin pergi menyusul si kembar di Hotel. Ia merasa tak akan bisa tidur tanpa melihat wajah si kembar kesayangannya.


Sebelum pergi, Audrey ingin berpamitan pada Sherlyn. Tapi Sherlyn sudah tidur. Audrey lantas menulis sesuatu di kertas dan meninggalkan kertas itu di nakas. Ia lantas pergi dari kamar Sherlyn.


***


Audrey sampai didepan kamar Hotel. Ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Hansen. Panggilan langsung diterima oleh Hansen. Audrey meminta pada Hansen untuk dibukakan pintu, ia mengatakan kalau ia ada di depan pintu saat itu.


Hansen langsung mengakhiri panggilan dan tidak lama pintu terbuka. Hansen keluar, ia melihat Audrey berdiri di depan pintu. Audrey tersenyum cantik menatap Hansen. Ia menyapa Hansen. Melihat Audrey, Hansen langsung menarik tangan Audrey masuk ke dalam kamarnya.