One + One (One Night Stand)

One + One (One Night Stand)
One + One (39)



Hansen memojokkan Audrey ke dinding dan mencium bibir Audrey. Tidak beberapa lama ciuman keduanya terlepas.


"Aku senang kamu datang," kata Hansen.


"Ah, itu ... sebenarnya aku datang karena ingin melihat anak-anak. Aku tidak akan bisa tidur tanpa melihat mereka," jawab Audrey.


Hansen terlihat sedih. Wajahnya langsung murung. Ia merasa tidak dianggap oleh Audrey. Melihat wajah Hansen yang murung, Audrey pun mencium pipi Hansen sebagai permintaan maaf.


"Maaf, ya ... " kata Audrey.


Hansen menatap Audrey, "Cium aku lagi," pinta Hansen penuh harap.


Audrey tersenyum. Ia mencium kening, hidung, kedua pipi, dan dagu Hansen.


"Sudah, kan?" kata Audrey.


"Apa kamu sengaja?" Tanya Hansen.


"Sengaja apa?" sahut Audrey.


Hansen tersenyum. Ia tahu Audrey sengaja menggodanya. Audrey tersenyum, sepertinya ia ketahuan sudah menjahili Hansen. Keduanya saling tersenyum dan berpelukan. Hansen berbisik, jika ia merindukan Audrey.


Audrey melepas pelukan dan mendorong Hansen menjauh, "Jangan macam-macam." kata Audrey.


Audrey hendak pergi, ia ingin melihat si kembar. Tangan Audrey ditarik Hansen, sampai wajah Audrey dan Hansen saling berhadapan.


"Mau ke mana? kita selesaikan dulu urusan kita, sayang." kata Hansen.


"Urusan apa? sudah aku katakan ja ... " kata-kata Audrey terhenti karena Hansen keburu menciun bibirnya.


Audrey mendorong Hansen, "Kamu ... dasar mesum!" kata Audrey mengerutkan dahinya.


Hansen tersenyum, "Kamu mengataiku mesum, tapi wajahmu merona? Jujur saja, kamu menyukainy, kan?" goda Hansen.


Audrey memalingkan pandangan. Jantungnya berdegup tidak karuan. Suhu tubuhnya pun meningkat. Ia tidak tahu, kenapa tubuhnya bereaksi seperti itu pada Hansen padahal hanya berciuman.


Audrey dibuat kaget oleh Hansen yang tiba-tiba mencium pipinya. Ciuman Hansen berpindah ke leher, lalu Hansen berbisik sesuatu. Ia mengatakan kalau Audrey sangatlah cantik. Mendengar pujian itu, wajah Audrey semakin memerah.


Hansen menghisap, lalu menggigit lembut daun telinga kanan Audrey. Membuat Audrey mendesah pelan karena menahan agar suaranya tidak keluar.


"Apa ingin melakukannya di kamar mandi?" bisik Hansen.


Audrey menganggukkan kepala. Ia berpikir di kaman mandi jauh lebih baik daripada di ruang tamu. Hansen menggandeng tangan Audrey dan mengajaknya pergi ke kamar mandi.


"Tu-tunggu, Hans ... " kata Audrey. Ia menghentikan langkahnya.


Hansen juga menghentikan langkah, "Ya? ada apa?" tanya Hansen.


"Tidakkah kita pastikan dulu keadaan anak-anak? nanti ... " kata-kata Audrey terhenti.


Hansen mengerti maksud Audrey. Ia menggandeng Audrey pergi ke kamar untuk melihat anak-anak. Mereka memastikan, apakah si kembar tidur dengan nyaman atau tidak.


Setelah melihat si kembar, Audrey pun mengajak Hansen. Ia menarik tangan Hansen agar cepat mengikutinya keluar kamar. Begitu keluar dari kamar, Audrey langsung mengalungkan tangan dan mencium bibir Hansen. Ciuman itu tentu saja disambut dengan senang hati oleh Hansen. Mereka berciuman cukup lama sampai akhirnya mereka berdua masuk ke dalam kamar mandi.


***


Hansen dan Audrey bersama-sama keluar dari kamar mandi. Setelah memuaskan satu sama lain, mereka mandi bersama.


"Hahaha ... " tawa Hansen senang menggoda Audrey.


"Jangan tertawa! Apa kamu sesenang itu, membuatku mandi tengah malam begini?" kata Audrey memukul lengan Hansen.


Audrey mengangguk. Ia dan Hansen lantas minum berdua di sambil menikmati pemandangan tengah malam.


"Kamu sudah bicara pada temanmu?" tanya Hansen mengusap rambut Audrey.


"Ya, sudah. Dia tidak masalah dengan kepergianku. Dan memintaku melakukan apa saja yang aku inginkan." jawab Audrey.


"Kamu dan dia, sedekat apa kalian? aku penasaran saja, makanya bertanya." tanya Hansen.


Audrey pun menceritakan kisah pertemannya dengan Sherlyn. Ia sudah seperti saudari bagi Audrey, mereka memang sangat  dekat sejak dulu.


Audrey menatap Hansen, "Kamu berencana sampai kapan di sini? tidak pulang?" tanya Audrey.


"Tidak. Kita pulang sama-sama saja." jawab Hansen.


Audrey tiba-tiba teringat sesuatu yang ingin ia tanyakan. Tapi ia tidak yakin, apakah Hansen mau menjawabnya atau tidak.


"Umh, Hans ... " panggil Audrey. Ia ragu-ragu ingin menyampaikan pertanyaannya.


"Ya?" jawab Hansen menatap Audrey.


Audrey melebarkan mata. Ia sadar kalau ingatan Hansen belum kembali. Jadi meski ditanya pun, Hansen tidak mungkin akan tahu jawabannya.


Hansen mecolek hidung Audrey, " Hei, kenapa melamun? kamu memanggiku ada apa?" tanya Hansen.


Audrey menggelengkan kepala, "Tidak jadi. Sepertinya kamu juga tidak akan bisa menjawabnya." kata Audrey.


Hansen lantas mendesak Audrey agar bicara. Ia sangat penasaran, apa yang mau Audrey tanyakan. Audrey pun akhirnya membuka suara karena terdesak.


"Ya, baiklah. Aku akan bicara." kata Audrey.


Hansen dia menatap Audrey. Ia ingin tahu, pertanyaan ssperti apa yang akan Audrey tanyakan.


"Aku tidak tahu. Kamu mengingat sesuatu atau tidak. Tapi aku memang sangat penasaran sampai sering memikirkannya dan berharap bisa bertanya langsung padamu. Pada malam saat kita bertemu pertama kali, kamu berkali-kali meminta bantuanku. Berkata, "Tolong bantu aku" dengan ekspresi wajah tidak biasa. Wajahmu sangat merah, kamu juga berkeringat banyak. Kamu pun sampai hilang kendali atas dirimu sendiri dan menyerangku tanpa belas kasihan. Yang ingin aku tahu, apakah kamu minum sesuatu, selain alkohol?" tanya Audrey.


Hansen diam berpikir. Ia kembali mengingat, tapi tak ada satupun yang ia ingat dari kejadian tersebut. Ia pun mengatakan, kalau ia sama sekali tidak ingat apa-apa. Dan meminta maaf pada Audrey.


"Maaf, aku sungguh tidak ingat apa-apa." kata Hansen.


"Tidak apa-apa. Aku hanya bertanya saja. Aku tahu pasti kamu tidak mengingatnya. Jujur, Hans. Aku curiga kamu diberi obat oleh orang dan dibuat menggila seperti itu." kata Audrey.


Hansen menegrutkan dahi, "Makdumu, ada orang yang ingin menjebakku?" tanya Hansen menatap Audrey.


"Entah apa tujuannya. Yang tahu hanya si pelaku, kan. Karena ingatamu juga hilang, sulit menerka apa kira-kira alasan pelaku membuatmu seperti itu. Kamu diberi obat dan berada di hotel. Aahh ... (Audrey melebarkan mata seolah berpikir sesuatu) jangan katakan kamu dijebak untuk tidur bersama seorang wanita. Karena kebetulan aku yang lewat sana, lalu kita melakukannya." kata Audrey menerka-nerka.


"Kalau memang benar seperti yang Audrey katakan, apa alasannya? dan siapa pelakunya? Sebenarnya apa yang terjadi saat itu. Kenapa aku sama sekali tidak ingat meski sudah berusaha keras." batin Hansen kesal.


Hansen kembali mengingat. Kepalanya tiba-tiba terasa sakit, membuat pandangan matanya kabur.


"Ahh .... "


Audrey melihat Hansen memegang kepalanya, "Hans, kamu kenapa? apa kepalamu sakit?" tanya Audrey khawatir.


"Aku berusaha mengingat, tapi tidak tahu kenapa rasanya kepalaku mau pecah dan penglihatanku kabur." jawab Hansen.


Audrey mengusap dan memijit kepala Hansen, "Tenangkan dirimu. Jangan terlalu memaksakan diri. Pelan-pelan saja. Aku yakin meskipun kamu tidak ingat, masalah itu pasti akan terbongkar suatu saat." kata Audrey.


Audrey meminta Hansen berbaring dipangkuannya. Hansen menurut. Ia tidur dipangkuan Audrey dan kepalanya diusap-usap oleh Audrey. Hansen merasa nyaman, rasa sakit kepalanya mulai berkurang meski sedikit.