
Terlihat Hansen terus berusaha menenangkan Cella yang masih menangis, walaupun tidak bersuara. Hansen menatap Cello, dan bertanya, apakah Mamanya ada di rumah atau tidak? Cello menjawab, jika Mamanya ada dan sedang membaca buku.
Baru saja Hansen ingin meminta bantuan Cello dipanggilkan Mamanya, pintu kamar terbuka dan Audrey pun muncul.
Audrey menatap Cello, lalu menatap Hansen yang sedang menggendong Cella. Audrey bingung, kenapa Cella digendong Hansen, lantas bertanya.
"Ada apa ini? kenapa kamu menggendong Cella?" tanya Audrey khawatir. Apalagi saat dilihat Cella menagis.
"Apa kamu terluka? kenapa menangis?" tanya Audrey mengusap wajah cantik Cella yang asih digendong Hansen.
"Mama ... " panggil Cella dengan suara serak.
"Ya, sayang? katakan, ada apa?" tanya Audrey.
Ternyata Cella ingin Mamanya merawat pipi Hansen yang merah akibat ditampar Anastasia. Audrey terkejut, ia merasa aneh saja kalau harus melakukan itu. Ia pun mencoba berbicara pada Cella, berniat menolak permintaan Cella.
"Cella sayang, hm ... bagaimana kalau begini saja. Cella ikut Mama dan biarkan Paman mengompres wajahnya sendiri. Ok," kata Audrey menyarankan.
Cella menggelengkan kepala, "Tidak mau. Aku mau Mama merawat Paman. Aku mohon."kata Cella dengan wajah memelas.
Audrey menatap Hansen dengan tatapan sedikit kesal, tapi Hansen pura-pura tidak tahu, dan memalingkan pandangan ke arah lain.
"Ya, baiklah. Mama akan merawatnya," jawab Audrey terpaksa.
Audrey pun membuka pintu, mempersilakan Hansen masuk ke dalam kamarnya. Hansen menggendong Cella masuk ke dalam kamar diikuti Cello dan Audrey.
Cella minta diturunkan. Ia menggandeng tangan Hansen dan meminta Hansen duduk si sofa. Cella melihat wajah Hansen yang masih merah. Ia ingat pada Anastasia dan kesal.
"Dasar Bibi jahat!" kata Cella menggerutu.
Hansen tersenyum, "Ya, kamu benar. Bibi tadi sangat jahat dan juga menyebalkan. Karena itu Paman tidak suka padanya." kata Hansen mengusap kepala Cella.
Audrey datang dengan membawa handuk kecil yang sebelumny sudah direndam air dingin. Ia begitu saja menempel handuk di pipi kiri Hansen dan menepuk-nepuk pipi Hansen dengan sengaja.
"Lain kali hati-hati agar tidak ditampar lagi, mengerti?" kata Audrey menatap Hansen.
"Kamu tahu?" tanya Hansen.
"Tentu saja tahu. Cello menceritakan apa yang terjadi padamu. Lagipula, kenapa kamu bertengkar di depan kamar? apa tidak ada tempat lain?" kata Audrey mengomel.
"Tidak ada. Di depan kamar lebih baik, daripada kami harus bertengkar di dalam kamar atau di tempat lain yang ramai." jawab Hansen.
Audrey tidak senang. Ia merasa Hansen ini menyebalkan. Entah sifatnya yang seperti itu, atau karena sedang kesal setelah ditampar. Hansen agak sensitif.
"Apa cuma perasaanku saja, ya? tatap matanya dan ucapannya seperti orang yang sedang kesal," batin Audrey.
Selesai dikompres, Cella mengajak Hansen bermain. Awalnya Audrey melarang. Ia takut Hansen tidak mau bermain bersama, tapi melakukannya dengan terpaksa. Bisa saja Hansen jadi kesal.
Tapi Hansen mau dan akhirnya bermain bersama Cella. Itu di luar dugaan Audrey. Ia tidak sangka Hansen ternyat bersedia dan terlihat senang saat bermain bersama putrinya.
Audrey melihat dari jauh, Hansen dengan sabar membantu Cella mewarnai gambar. Audrey menemukan pemandangan yang langka, di mana Ayah dan putrinya sedang bermain bersama. Sayangnya kenyataan itu hanya diketahui oleh Audrey saja.
***
Audrey dan Hansen duduk di sofa. Keduanya mengamati Cello dan Cella yang sedang bermain bersama.
"Apa wanita itu kekasihmu?" tanya Audrey tiba-tiba.
Hansen menatap Audrey, "Siapa?" tanya Hansen tidak mengerti maksud Audrey, karena ia fokus memperhatikan si kembar.
Audrey menatap Hansen, "Jangan pura-pura. Siapa lagi, tentu wanita yang menamparmu." kata Audrey kesal.
Audrey berdiri, tapi tangannya di pegang Hansen. Audrey minta tangannya dilepaskan, tapi Hansen malah meminta imbalan, kalau Audrey minta tangannya dilepaskan.
"Apa yang kamu mau, hah?" tanya Audrey.
"Hm ... apa, ya? bagaimana kalau ciuman? yang kemarin itu rasanya kurang." kata Hansen tanpa tahu malu.
Audrey melebarkan mata, "Apa kamu bilang? dasar gila," kata Audrey menepis kasar tangan Hansen, lalu pergi.
Hansen bergegas mengikuti Audrey. Baru saja kaki Audrey melangkah masuk ke dalam kamar, Hansen ikut menerobos masuk dan langsung memojokkan Audrey ke dinding kamar tidur.
"A-apa yang kamu lakukan? Kamu sudah gila, Hans?" sentak Audrey.
"Sstt .... jangan keras-keras kalau bicara, atau nanti anak-anak curiga." kata Hansen.
Audrey mendorong tubuh Hansen menjauh darinya, "Makanya jangan tidak sopan seperti ini. Kenapa juga kamu ikut masuk ke dalam kamar?" kata Audrey tidak senang.
Hansen sudah tidak bisa menahan diri untuk mencium Audrey. Ia pun mendekat, menangkup wajah Audrey dan mencium bibir Audrey dengan gemas.
"Umh ... " gumam Audrey terkejut sampai memebulatkam mata.
Audrey memukul-mukul lengan Hansen, "Pria ini. Sangat kurang ajar!" batin Audrey.
Hansen tersenyum, "Mana bisa aku membiarkanmu begitu saja. Salah siapa bertingkah menggemaskan," batin Hansen.
Ciuman Hansen terlepas, "Kamulah orang yang sudah membuatku gila. Karena itu, aku minta pertanggung jawabanmu." kata Hansen tersenyum.
Audrey mendorong Hansen menjauh darinya sambil mengomel. Ia berkata, jika Hansen tidak boleh lagi menyentuhnya sembarangan. Kali ini Audrey akan memaafkan perbuatan lancang Hansen, tidak untuk selanjutnya. Mendengar itu Hansen hanya tersenyum.
***
Audrey dan Hansen keluar dari kamar. Mereka ketahuan oleh Cello dan Cella. Karena curiga, Cello pun bertanya apa yang dilakukan Audrey dan Hansen di kamar.
Audrey bingung. Ia tidak tahu harus apa. Melihat Audrey yang kebingungan, Hansen pun angkat bicara.
"Tadi Mama minta tolong menggeser tempat tidur. Karena ada barang Mama kalian yang terselip di bawah tempat tidur," jawab Hansen beralasan.
"Terselip? apa yang terselip. Orang ini beralasan saja tidak bisa. Dasar ... " batin Audrey.
"Mereka akan percaya, kan? harusnya percaya," batin Hansen khawatir.
"Oh, begitu. Mama, apa kita jadi pergi?" tanya Cello.
Audrey baru ingat, kalau ia ada janji dengan seorang pemilik salon. Sebagai tamu VIP, ia ingin penampilannya terlihat anggun.
"Oh, iya, Hampir saja Mama lupa. Nah, kalian bersiaplah ... " perintah Audrey.
Cello dan Cella pergi ke kamar untuk mengambil jaket mereka. Mendengar percakapan Audrey dan dua anaknya, Hansen pun penasaran ingin tahu ke mama Audrey ingin pergi.
"Kamu mau keluar dengan anak-anak?" tanya Hansen menatap Audrey.
"Ah, iya. Aku mau merapikan rambut Cello yang sudah panjang. Juga sekalian perawatan wajah. Malam ini kan ada undangan, mau tak mau aku harus bersiap." jawab Audrey.
"Undangan?" Sambung Hansen ingin tahu lagi.
"Ya, undangan. Kenapa?" tanya Audrey.
"Undangan apa? kamu akan pergi ke pesta itu dengan pria lain?" tanya Hansen cemburu.
Audrey bingung, tidak mengerti maksud Hansen. Ia pun menjelaskan, jika ia diundang sebagai tamu VIP acara lelang amal nanti malam. Karena itu ia janjian dengan salah satu salon dan ia hampir lupa, kalau saja tidak diingatkan Cello.