
Hansen dan Dion telah sampai di bandara. Mereka dijemput supir untuk selanjutnya diantar pergi ke Hotel tempat Hansen dan Dion akan menginap.
Dalam perjalanan Dion membacakan jadwal Hansen hari itu. Hansen mendengarkan sambil menatap ke luar kaca mobil. I menikmati pemandangan kota yang ia datangi.
"Pak, Anda mendengarkan saya?" tanya Dion menatap Hansen.
Hansen mamalingkan pandangan manatap Dion, "Tempat apa yang bisa aku kunjungi di kota ini?" tanya Hansen. Yang kembali memalingkan pandangannya ke luar kaca mobil.
"Anda ingin jalan-jalan?" tanya Dion.
"Apa kamu hanya akan mengurungku di dalam kamar Hotel?" jawab Hansen menyindir Dion.
"Bagaimana bisa Anda berkata begitu, Pak? Saya kan hanya bertanya. Seandainya Anda ingin jalan-jalan keliling Dunia pun saya tidak akan melarangnya," jawab Dion tidak enak hati.
Dion lalu memberitahu tempat-tempat wisata dan tempat lain yang bisa dikunjungi. Salah satu diantaranya adalah Galeri yang dikelola oleh Audrey. Karena nama Galeri teesebut cukup terkenal dikalangan para wisatawan asing.
"Bagaimana? Apa ada tempat yang membuat Anda tertarik?" tanya Dion.
"Galeri, ya? di sana hanya akan ada lukisan, kan? hmm ... kalau ada waktu saja kita pergi ke Galeri itu. Aku juga penasaran ingin melihat-lihat," jawab Hansen.
Dion menganggukkan kepala. Untuk berjaga-jaga ia mengosongkan jadwal Hansen satu minggu setelah menghadiri undangan.
***
Audrey , Cello dan Cella sampai di Hotel. Mereka disambut General Manger Hotel dan diantar langsung ke Suite Room yang sudah disediakan khusus untuk tamu-tamu VIP yang menghadiri acara lelang amal.
"Silakan, Nyonya. Jika Anda perlu sesuatu, silakan beritahu kami." kata General Manger tersenyum pada Audrey.
"Ya, Terima kasih sudah mengantar kami." jawab Audrey.
Genaral Manager pergi setelah mengantar Audrey dan si kembar. Audrey dan si kembar pun segara masuk ke dalam kamar untuk istirahat.
"Wahh ... keren." Gumam Cella.
"Semua hal yang bagus terlihat keren dimatamu, ya? Dasar anak-anak," kata Cello mengejek.
"Hei, kamu bicara seakan kamu bukan anak-anak. Kamu juga anak-anak, mengerti?" kata Cella mengerutkan dahi.
"Kamu yang anak-anak. Aku lebih besar darimu," kata Cello.
"Kita cuma berbeda lima menit. Memang aku belum tinggi sepertimu. Awas saja kalau aku sudah dewasa, aku akan menghajarmu, huh!" kesal Cella berpaling muka.
Cello pun ikut berpaling muka. Keduanya saling beradu punggung, membelakangi satu sama lain.
Audrey yang mendengar pun segera melerai perselisihan antara Cello dan Cella. Audrey mengingatkan agar Cello dan Cella tidak bertengkar apalagi saling menyakiti. Meminta keduanya saling mengaitkan jari kelingking masing-masing sebagai tanda berbaikan.
"Maaf," kata Cello.
"Maaf juga," kata Cella.
Keduanya saling mengaitkan jari kelingking, lalu berpelukan erat. Mereka melepas pelukan dan saling tersenyum.
Audrey senang melihat dua anak kembarnya akur. Ia mengusap kepala si kembar dengan lembut.
"Mama, Mama, ayo kita mandi," ajak Cella.
"Ah, baiklah. Kebetulan Mama juga ingin berendam." jawab Audrey.
Audry Menggandeng Cello dan Cella pergi ke kamar mandi. Mereka bertiga akan mandi dan berendam bersama.
***
Mobil yang ditumpai Hansen dan Dion telah sampai di Hotel. Melihat ada tamu VIP yang datang, General Manager pun menyambut dan mengantar Hansen juga Dion ke Suite Room.
"Selamat datang, Pak." sapa General Manger.
"Ya, terima kasih." jawab Hansen singkat.
Mereka berjalan menuju Suite Room. Ternyata letak kamar Hansen tepat berada di depan kamar Audrey dan si kembar.
"Silakan menikmati waktu istirahat. Jika ada masalah atau butuh bantuan, Anda bisa menghubungi kami. Permisi," kata General Manager Hotel menjelaskan, lalu berpamitan pergi.
Hansen menganggukkan kepala. Dion menjawab dan mengucapkan terima kasih sudah diantar. Setelaj General Manager Hotel pergi, Dion pun berpamitan. Ia tidak ingin mengganggu Hansen.
"Tidak ada. Kamu bisa pergi dan istirahat, Dion." kata Hansen.
Dion menganggukkan kepala. Ia pun segera pergi setelah melihat Hansen masuk dalam kamar dan menutup pintu.
Hansen berjalan mendekati sofa. Ia langsung membuka jas dan meletakkan jas di sofa. Ia lantas duduk barsandar dan melepas dasinya. Satu persatu kancing Hansen dilepasnya sendiri, memperlihatkan dada bidang dan perut kotak berotot. Bentuk tubuh Hansen benar-benar sempurna.
"Hahhh ..." hela napas Hansen panjang.
Ia merasa ada sesuatu yang mengganjal dihatinya dan mengganggu pikirannya, tapi tidak tahu pasti apa itu.
Hansen memejamkan mata. Tiba-tiba bayangan wanita yang biasa datang dalam mimpinya muncul. Ia pun terkejut dan langsung membuka matanya.
"Apa yang aku pikirkan? bisa-bisanya bayangan wanita itu muncul, padahal aku tidak sedang tidur." gumam Hansen.
Karena tidak ingin larut dalam pikiran yang tidak-tidak. Hansen pun memutuskan untuk mandi. Ia berdiri dari duduknya, melepas kemejanya dan berjalan menuju kamar mandi.
***
Audrey mengajak Cello dan Cella pergi jalan-jalan melihat pemandangan malam. Sekian lama sibuk dengan pekerjaan dan jarang menikmati waktu jalan-jalam malam, Audrey pun tak melewatkan kesempatan.
"Mama, aku keluar dulu, ya ... " kata Cella.
"Mama masih lama?" Tanya Cello.
"Sayang, jangan ke mana-mana. Mama sedang bicara dengan Bibi Stela," kata Audrey melarang anak-anaknya pergi keluar kamar.
Bukannya mendengar, Cello dan Cella begitu saja keluar dari kamar dan berdiri di depan pintu. Mereka berdua sengaja ingin menjahili Audrey.
Tiba-tiba Cello dan Cella menoleh bersamaan ke pintu yang ada di belakangnya. Dan mereka melihat Hansen yang hendak keluar kamar. Hansen menatap dua anak dihadapannya, yang berdiri di depan pintu kamar.
Melihat dirinya ditatap tajam, membuat Hansen bingung. Ia pun menutup pintu kamarnya dan menghampiri si kembar.
"Apa ada sesuatu di wajahku?" tanya Hansen menatap lembut Cello dan Cella.
Cello dan Cella menggeleng bersama-sama, tapi tidak menjawab.
"Hm, kalau begitu ... kenapa kalian berdua menatapku tajam?" tanya Hansen.
"Paman keren," jawab Cello.
"Paman tampan," jawab Cella.
Cello dan Cella menjawab bersamaan dengan jawaban yang berbeda. Membuat Hansen terkejut, lalu tertawa.
"Hahahaha ... kalian ini. Ada-ada saja. Oh, ya, kalian sedang apa di sini? di mana orang tua kalian? jangan berkeliaran hanya berdua saja, berbahaya." kata Hansen menasihati.
"Kami datang dengan Mama. Mama sedang bertelepon di dalam. Kami sengaja keluar karena ingin menjahili Mama. " Jawab Cello.
"Di mana Papa kalian? Apa dia datang terlambat atau sibuk bekerja dan tidak bisa ikut?" tanya Hansen ingin tahu.
Cella menggeleng, "Tidak ada Papa. Hanya ada Mama," jawab Cella.
"Apa? A ... " kata-kata Hansen terhenti karena mendengar suara wanita menanggil Cello dan Cella.
"Anak-anak ... kalian di mana? pakai jaket dulu." teriak Audrey terdengar sampai keluar kamar.
Cello dan Cella kaget. Mereka saling bertatapan.
"Ayo, kita harus segera masuk." kata Cello.
"Ya, bisa-bisa Mama mengeluarkan gigi taringnya. Ayo," sahut Cella.
Cella menatap Hansen, "Paman tampan, kami masuk ke dalam dulu, ya. Dahh ... " kata Celle melambaikan tangan sambil tersenyum, lalu masuk ke dalam kamar.
"Dahh, Paman." kata Cello mengikuti Cella masuk dalam kamar.
Deg ... deg ... deg ....
Jantung Hansen berdegup kencang tiba-tiba. Hansen terdiam, ia berpikir jantungnya sedang bermasalah.