
Audrey yang tidak berpikir buruk, menurut saja saat diminta menjemput Alvaro disebuah kamar. Saat sampai di kamar Hotel, Audrey mendapati pria paruh baya yang hanya mengenakan jubah mandi. Seperti sedang menunggu seseorang datang. Audrey berpikir salah kamar dan hendak pergi, tapi dicegah oleh pria paruh baya itu. Beruntung Audrey bisa lolos setelah menendag sela-sela kaki pria tua itu. Ia bergegas pergi meninggalkan kamar dan berlari hendak mencari bantuan.
Pada saat itulah Audrey bertemu seseorang yang berkata meminta bantuan. Ia sudah menolak dan berusaha melarikan diri, tapi pada akhirnya Audrey berhasil diseret masuk ke dalam sebuah kamar dan menghabiskan waktu bersama pria itu. Audrey yang terbangun di pagi hari langsung pergi pulang tanpa bicara pada pria yang mengajaknya tidur bersama. Begitulah Audrey bercerita, ia tidak menyinggung detail pria yang tak lain adalah Hansen.
"Setelah tahu aku hamil, aku memutuskan pergi. Karena itulah aku pergi pada saat itu. Tidak mungkin bagiku pergi mencari siapa pria yang bersamaku malam itu. Bahkan wajahnya saja aku lupa," jelas Audrey.
Rose dan Andrew terdiam. Mereka berusaha mencerna semua cerita Audrey agar tidak menimbulkan kesalahpahaman. Diana ikut menjelaskan. Agar semua semakin jelas.
"Karena dia tidak mau menjadi seorang yang jahat dengan membuang anak-anaknya, ia pun memilih melahirkan dan akan merawat kedua anaknya. Ia tahu, anak-anaknya tidaklah bersalah. Anak-anak yang mungil itu tidak tahu apa-apa," kata Diana.
Rose menunduk dan menangis, "Ahh ... bagaimana ini? apa aku memang Mama yang bodoh? anakku dalam kesusahan dan aku tidak tahu apa-apa saat itu," kata Rose sedih.
Audrey berdiri dari duduknya dan menghampiri Mamanya. Ia duduk bersimpuh dilantai dan memeluk kaki Mamanya.
"Mama tidak salah. Audrey minta maaf, Ma. Audrey yang bersalah." kata Audrey menangis tersedu-sedu.
Rose memeluk Audrey, "Tidak, sayang. Tidak. Kamu tidak bersalah. Mama yang tidak peka. Mama sedih, bagaiamana bisa membiarkanmu yang sedang hamil tinggal jauh dan kesusahan di negeri orang. Maaf, Re. Maafkan Mama." kata Rose mengeratkan pelukannya.
Cukup lama Rose dan Audrey saling berpelukan dan menangis tersedu-sedu bersama. Diana dan Sherlyn juga ikut meneteskan air mata karena terharu. Sedangkan Andrew hanya diam mengusap lembut kepala Audrey.
Pelukan terlepas. Rose menyeka air mata Audrey. Meminta Audrey untuk tidak menangis lagi. Audrey menganggukkan kepala, ia juga menyeka air mata Mamanya. Meminta hal yang sama pada Mamanya. Setelah berpelukan dengan Rose. Audrey gantian memeluk Andrew dan meminta maaf.
Andrew dan Audrey saling menatap. Andrew menyeka air mata Audrey dan mencium kening putrinya itu.
"Meski penjelasamu terlambat, tapi Papa berterima kasih, Nak. Setidaknya kamu mau bercerita apa yang terjadi. Papa bangga padamu, yang bisa berjuang sampai sejauh ini. Kamu adalah Ibu yang hebat. Kamu hebat, Anakku." Kata Andrew.
Audrey memeluk kaki dan Papanya. Merebahkan kepalanya diantata kaki Papa dan Mamanya. Perasaan sesak Audrey perlahan menghilang. Ia kini bisa bernapas lega karena apa yang menjadi bebannya sudah tidak ada lagi.
***
Rose menggendong Cello dan Andrew menggendong Cella. Mereka senang bermain dengan cucu-cucu yang menggemaskan.
"Mereka mirip Audrey dan Alvaro, ya." kata Andrew.
"Ya, kamu benar. Saat dulu anak-anak masih bayi, kamu sibuk membantuku sepulang kerja. Aku masih ingat saat kamu ketiduran masih dengan memakai kemeja." kata Rose bercerita.
Melihat Papa dan Mamanya bahagia bermain dengan anak-anaknya, Audrey pun ikut bahagia. Ia duduk di meja makan, dari jauh memperhatikan Papa dan Mamanya.
Diana menepuk bahu Audrey, "Kamu luar biasa, sayang." kata Diana bangga pada keberanian Audrey.
"Oh, Mama. Ya, terima kasih, Ma." jawab Audrey.
"Mereka sepertiku. Langsung jatuh cinta begitu melihat si kembar. Anak-anakmu memang punya pesona menahlukkan hati seseorang, Re." puji Diana.
Audrey berpikir. Jika memang apa yang dikatakan Diana benar, maka asal pesona itu bukan darinya, melainkan Hansen. Audrey tidak akan pernah lupa wajah tampan Hansen dengan rambut yang berantakan, pada awal mereka bertemu di Hotel. Audrey juga tidak akan pernah lupa wajah Hansen yang dilihatnya di rumah sakit.
Seketika Audrey tersadar, "Ahh ... apa yang aku lakukan. Kenapa aku memikirkannya?" batin Audrey.
Audrey pun mengajak Diana untuk bergabung bersama Papa dan Mamanya di ruang tengah untuk berbincang, agar hubunga Diana dan orang tunya lebih akrab.
***
Hansen bermimpi. Dalam mimpinya ia sedang bersama seorang wanita yang wajahnya buram. Mereka menghabiskan malam panas membara. Hansen begitu buas, dan bersemangat. Sedangkan wanita yang bersamanya hanya bisa mengerang sembari memejamkan mata. Kedua tangan wanita itu memeluk erat tubuh Hansen yang berkeringat.
Mata Hansen terbuka. Napasnya naik turun seperti habis berolah raga berat. Ia mengusap wajahnya kasar, saat tahu ia baru saja bermimpi.
"Hahh ... ini gila. Aku bisa gila," gumam Hansen.
Hansen perlahan bangun dan duduk bersandar bantal. Ia mengambil ponselnya di atas nakas. Dilihatnya apa ada pesan atau panggilan masuk saat ia terlelap tidur. Ternyata ada dua panggilan dari Mamanya dan beberapa pesan dari Dion.
Hansen membaca dan membalas pesan Dion. Ia langsung memanggil balik Mamanya. Karena ingin tahu alasan sang Mama menghubunginya. Panggilan Hansen dijawab. Sang Mama senag bisa mendengar suara putra kesayangannya.
Hansen bertanya apa urusan Mamanya telepon. Sang Mama menjawab, jika Hansen harus ikut acara makan malam karen Kakek Hansen datang berkunjung.
"Kamu tahu kan, kalau Kakekmu tidak suka ada anggota keluarganya yang suka beralasan. Jadi luangkan waktumu. Undur saja pekerjaan yang membuatmu harus lembur," kata sang Mama.
Hansen menguap rambutnya, "Soal itu aku harus lihat jadwalku dulu, Ma. Aku akan hubungi Kakek dan bicara. Mama tidak perlu khawatir," jawab Hansen.
Panggilan Hansen dan Mamanya berakhir. Hansen meletakkan ponselnya di nakas, ia merapikan tempat tidurnya sendiri dan pergi dari kamar untuk segera mandi.
***
Baru saja ingin mengeluarkan bahan untuk membuat sarapan. Bell rumah Hansen berbunyi. Tidak lama ada suara pintu dibuka dan ternyata Dion datang dengan membawa sarapan untuk Hansen.
"Kamu ke sini pagi-pagi begini, untuk apa?" tanya Hansen melihat Dion.
"Untuk apa? tentu saja untuk memberikan ini pada Anda. Orang tua saya datang, dan membuat makanan khusus untuk Pak CEO. Beliau berdua ingin memberikan langsung, tapi waktunya tidak sempat karena harus kembali secepatnya." jelas Dion. Meletakkan sebua tas berisi makanan di atas meja makan.
Dion meminta Hansen duduk. Ia mengambil piring dan peralatan makan, lalu mengeluarkan kotak dari dalam tas. Ada cukup banyak makanan yang dibuat orang tua Dion untuk Hansen. Dion menata kotak-kotak berisi makanan di hadapan Hansen, agar mudah bagi Hansen untuk mengambilnya.
"Apa ini semua buatan Mamamu?" tanya Hansen.
"Ya, Pak. Silakan dimakan," kata Dion.
"Hm, begini ... kalau makan semua ini aku tidak akan sanggup. Apa kamu sudah makan? ayo makan bersamaku." ajak Hansen.