
Hansen menepuk-nepuk pelan punggung Audrey. Ia khawatir, karena Audrey terus terbatuk.
"Apa kamu baik-baik saja? perlu kita ke rumah sakit?" tanya Hansen menatap Audrey.
Audrey mengambil gelas berisi air putih dan meminum perlahan sembari mengatur napas. Perlaha batuknya mulai reda. Audrey pun menghela napas lega.
"Hahhh ... " hela napas Audrey penjang sambil menundukkan kepala.
Audrey meletakkan kembali gelas ke atas meja. Ia menatap Hansen dan mengatakan, kalau ia baik-baik saja. Audrey berterima kasih atas bantuan Hansen dan sapu tangan Hansen.
"Nanti aku cuci dan aku kembalikan," kata Audrey.
"Sungguh kamu tidak apa-apa? wajahmu pucat," kata Hansen. Yang tiba-tiba mengusap lembut wajah Audrey.
Audrey terkejut, ia pun teringat akan sentuhan Hansen pada saat keduanya menghabiskan malam panas bersama-sama. Jantung Audrey berdebar, ia bisa merasakan sentuhan Hansen begitu lembut dan hangat.
"Ahhh ... aku ti-tidak apa-apa." kata Audrey perlahan menepis tangan Hansen.
Audrey sadar, ia tidak boleh terbuai dengan keadaan. Hansen tidak mengingatnya, ia tidak mau berharap apa-apa dari Hansen.
"Aku mengingatmu ... " kata Hansen.
Audrey terkejut, "Apa?" tanya Audrey menatap Hansen.
"Apa ingtannya sudah kembali? dia ingat apa yang sudah kami lakukan malam itu?" batin Audrey bertanya-tanya.
"Bukankah kamu pernah datang saat aku dirawat di rumah sakit tujuh tahun lalu karena kecelakaan?" tanya Hansen menatap Audrey.
Audrey pun terlihat kecewa. Ternyata Hansen megingatnya saat ia datang kerumah sakit, karena ingin memberitahukan kehamilannya.
"Apa yang aku harapkan?" gumam Audrey.
"Ya? kamu bergumam apa?" tanya Hansen mendekatkan wajahnya ke wajah Audrey.
"Tidak ada. Syukurlah kalau kamu ingat padaku. Bagaimana ingatanmu sebelum kecelakaan? apa ada sesuatu yang kamu ingat?" tanya Audrey.
Hansen menganggukkan kepala. Ia mengaikan pertanyaan Audrey. Ia pun menyebutkan hal-hal apa saja yang ia ingat pada Audrey. Mengingat tentang anggota keluarga, Kakek, Papa dan Mamanya. Juga Dion yang merupakan teman baiknya sekaligus Asistennya. Dan tentu saja pekerjaan yang selama ini ia kerjakan.
"Untungnya aku megingat tentang pekerjaanku," kata Hansen tersenyum.
"Kamu bahkan tidak mengingatku," kata Audrey dengan suara pelan.
Hansen mengerutkan dahi, "Sudah aku katakan aku ingat. Kamu datang dan memperkenalkan diri. Kamu bilang kamu adalah kenalanku dan aku merasakan kalau saat itu kamu ingin menyampaikan sesuatu padaku. Saat aku sadar akan hal itu, dan mencarimu, kamu menghilang begitu saja tanpa jejak." jelas Hansen.
Audrey melebarkan mata. Ia bertanya ulang, apakah Hansen mencarinya? setelah ia datang ke rumah sakit?
"Ya, aku mencarimu. Bahkan aku terus mencarimu sampai beberapa tahun terakhir." jawab Hansen.
Mata Audrey berkaca-kaca, tapi ia merasa ia tidak boleh menangis di depan Hansen. Ia tidak ingin menunjukkan sisinya yang menyedihkan.
"Audrey ... kamu baik-baik saja?" tanya Hansen. Ia bertanya karena melihat Audrey terus diam.
Audrey menganggukkan kepala, "Ya, aku baik-baik saja." jawab Audrey.
Hansen melihat sekeliling, "Mau bicara berdua denganku?" tanya Hansen.
Audrey menatap Hansen, "Bicaralah kalau ada yang ingin kamu sampaikan, Hans." jawab Audrey.
"Hm, maksudku kita bicara di tempat lain. Tidak di sini," kata Hansen.
"Di mana?" tanya Audrey.
Hansen berpikir. Ia tidak tahu tempat yang nyaman untuk bicara. Sampai Audrey pun menawari untuk bicara di kamarnya.
"Mau ke kamarku?" tanya Audrey.
"Ka-kamarmu? apa tidak apa-apa, tengah malam begini aku ke kamarmu?" tanya Hansen ragu-ragu.
Hansen terdiam sesaat lalu bertanya, apakah nantinya akan baik-baik saja, kalau Audrey hanya berduaan saja dengannya?
"Bagaimana kalau suamimu marah dan salah paham padaku?" Tanya Hansen.
Audrey mengerutkan dahi, "Suami? aku tidak punya suami. Anak-anakku lahir tanpa pernihakan, dan akulah yang membesarkan mereka berdua." jawab Audrey.
Jawaban Audrey membuat Hansen terdiam. Ia tidak tahu, bagaimana bisa Audrey memiliki anak tanpa terikat pernikahan. Hansen pun berpikir, mungkin Audrey dan kekasihnya dulu melakukan kesalahan dan mereka berpisah saat Audrey hamil karena si pria tidak mau bertanggung jawab.
"Pria seperti apa tega melakukan itu padamu? bisa-bisanya dia tidak mau tanggung jawab," kata Hansen emosi.
Audrey menatap Hansen, "Kenapa kamu bicara begitu? Kalau digambarkan, dia itu pria tampan dan seksi. Memang salahku, aku tidak langsung datang menemuinya dan meminta pertanggung jawaban setelah kami bermalam bersama. Baru setelah aku hamil, aku pergi mencarinya dan ... " kata-kata Audrey terhenti.
Hansen mengerutkan dahinya penasaran, "Dan ... apa?" tanya Hansen.
Audrey berdiri dari duduknya, "Ayo, kita pindah tempat." ajak Audrey.
Audrey ingin membayar wine nya, tapi Hansen mengembalikan kartu Audrey dan meminta kasir menggunaka kartunya untuk transaksi pembayaran.
Audrey menatap Hansen, "Terima kasih," kata Audrey.
"Ya, sama-sama." jawab Hansen.
Pembayaran selesai. Hansen dan Audrey pun pergi meninggalkan bar untuk kembali ke kamar.
***
Akhirnya Hansen memilih kamar Audrey sebagai tempatnya untuk bicara. Audrey dan Hansen duduk di sofa. Mereka saling diam, karena tidak tahu harus bicara apa.
"Kenapa kamu diam saja? bukankah kamu ingin bicara?" tanya Audrey.
Hansen mengusap tengkuk lehernya, "Ah, iya. Aku sempat bingung ingin bicara apa. Oh, ya, aku ingin memastikan sesuatu. Apa boleh?" tanya Hansen..
Audrey menatap Hansen, "Memastikan apa?" tanya Audrey.
"Boleh aku tahu, apa yang ingin kamu sampaikan saat aku dirawat di rumah sakit?" tanya Hansen.
Audrey diam. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Hansen menjelaskan, jika ia terus kepikiran sampai kadang tidak bisa tidur. Hatinya tidakĀ tenang, dan terus ada yang mengganjal.
"Kenapa kamu terlihat yakin, kalau aku mau mengatakan sesuatu?" tanya Audrey.
"Entahlah. Hatiku berkata begitu. Mungkin karena itu hatiku tidak tenang," jawab Hansen.
"Lupakan saja. Semua sudah tidak ada gunanya lagi." kata Audrey.
Audrey hendak berdiri, tapi Hansen menarik tangan Audrey hingga Audrey jatuh kepangkuannya. Keduanya saling bertatapan.
Hansen merasakan sesuatu. Ia sama sekali tidak merasa aneh, atau tidak suka bersentuhan langsung dengan Audrey. Berbeda saat ia bersentuhan dengan wanita lain. Termasuk Anastasia, yang dikatakan anggota keluarganya adalah tunangannya.
"Kenapa aku baik-baik saja? padahal saat tanganku disentuh Anastasia saja aku langsung merasa kesal. Tapi wanita ini bahkan duduk dipangkuanku," batin Hansen.
"Siapa kamu?" tanya Hanse menatap Audrey dalam.
"Ya? apa maksudmu?" tanya Audrey.
"Apa kita saling kenal? bukan, sepertinya kita lebih dari saling mengenal, kan?" tanya Hansen.
"Apa maksud pria ini? kenapa tiba-tiba dia seperti ini?" batin Audrey.
"A-aku tidak mengerti maksudmu. Lepaskan tanganmu, aku mau berdiri," kata Audrey berusaha melepaskan tangan Hansen yang memeluknya.
Hansen merasa ada yang disembunyikan Audrey darinya. Ia pun langsung mencium bibir Audrey.
Audrey tersentak, ia meronta dan berusaha melepaskan diri. Tapi Hansen tidak mau memenuhi keingianan Audrey. Bahkan Hansen langsung menahan tengkuk leher Audrey agar ciumannya tak terlepas.