One + One (One Night Stand)

One + One (One Night Stand)
One + One (35)



Hansen menunggui si kembar yang sedang tidur. Ia mengusap kepala Cello dan Cella, lalu mencium kening mereka bergantian. Hansen masih merasa seperti mimpi, dua Anak yang terlelap di hadapannya adalah Anak-anaknya.


"Maafkan Papa, sayang. Papa terlambat mengetahuinya. Jika sejak awal Papa tahu, kalian tidak akan hanya dibesarkan dan dirawat oleh Mama. Maaf," batin Hansen sedih. Tanpa terasa air matanya keluar.


Hansen menangis. Ia kecewa pada diri sendiri. Ia juga menyalahkan keadaan yang membuatnya harus terpisah dengan anak-anaknya selama ini.


"Paman ... " panggil Cella yang terbangun. Cella mengusap-usap matanya yang masih terasa lengket.


Hansen segera menyeka air matanya dan menatap Cella, "Hai, sayang. Kenapa bangun? Ini masih sangat pagi," kata Hansen.


"Aku mau ke kamar mandi. Paman ada di sini? Mama di mana?" tanya Cella.


"Mama di kamar Paman. Tadi kami berbincang dan Mama ketiduran. Cella mau Paman Antar ke kamar mandi? Mau Paman gendong?" tawar Hansen.


Cella menganggukkan kepala, "Ya, Mau ... " jawab Cella.


Hansen pun segera berdiri. Ia membantu Cella duduk dan langsung menggendong Cella ke kamar mandi. Hansen mendekap erat tubuh putrinya.


Sesampainya di kamar mandi. Hansen menurunkan Cella dan membukakan pintu kamar mandi. Setelah Cella masuk, Hansen menutup pintu dan mengatakan, jika akan menunggu di depan pintu sampai Cella selesai.


"Paman, tunggu, ya ... jangan pergi." kata Cella dari dalam kamar mandi.


"Ya, Paman di sini menunggumu. Pelan-pelan saja," jawab Hansen.


Hansen memikirkan, bagaimana caranya memberitahu Cello dan Cella, kalau ia adalah Papa kandungĀ  keduanya. Sibuk berpikir, Hansen sampai tidak sadar Cella sudah berdiri di hadapannya.


"Paman ... " panggil Cella memegang tangan Hansen.


Hansen terkejut, "Ah, sudah selesai? Maaf, Paman melamun." kata Hansen.


"Ya, tidak apa-apa. Paman, aku mau minum." kata Cella.


Hansen menggandeng tangan Cella pergi ke ruang tamu. Cella duduk, dan minum air dari botol air miliknya berwarna merah muda. Hansen duduk di samping Cella, dan bertanya, apakah Cella tidak mau tidur lagi?


Cella menjawab, jika ia tidak mengantuk lagi. Cella ingin bermain dengan Hansen.


"Paman, ayo bermain." ajak Cella.


Hansen menganggukkan kepala, "Ya, mau main apa?" tanya Hansen.


Cella bermain permainan penjual dan pembeli. Cella berperan sebagai penjual dan Hansen sebagai pembeli. Cella menjual kue, roti dan puding. Hansen mengikuti alur permaianan Cella. Mereka pun bermain dengan seru dan tertawa bersama.


Sampai tiba-tiba Hansen mengatakan sesuatu pada Cella. Ia ingin tahu, bagaimana reaksi dan tanggapan Cella atas pertanyaannya.


"Cella ... boleh Paman bertanya?" tanya Hansen menatap Cella.


"Ya, Paman mau tanya apa?" tanya balik Cella.


"Apa Cella tidak mau punya Papa?" tanya Hansen.


"Tentu saja mau. Semua teman-teman sekolah kami punya Papa. Bahkan saat acara yang dihadiri orang tua, mereka datang bersama Papa dan Mama mereka. Hanya kami yang tidak punya Papa. Sampai-sampai ada teman yang mengejek kami dan hampir dipukul Cello. Kata Mama, Papa bekerja di tempat yang jauh mencari uang untuk kami. Agar kami bisa bersekolah," jawab Cella bercerita.


Hati Hansen terasa seperti tersayat mendengar cerita putrinya. Ia benar-benar merasa bersalah pada Audrey, juga dua anak mereka.


"Kalau begitu. Cella mau tidak jadi anak Paman? Paman menyukai Cella yang cantik dan menggemaskan ini," kata Hansen.


"Paman mau jadi Papa? Papa seperti Papa Nico?" tanya Cella.


Dahi Hansen berkerut, "Papa Nico? siapa itu? Kekasih Mama?" tanya Hansen.


Hansen masih bingung dengan penjelasan Cella. Tapi ia lega, saat tahu Nico bukanlah kekasih Audrey. Meksi begitu ia masih ingin tahu, siapa itu Nico. Hansen berniat bertanya tentang Nico pada Audrey saat nanti Audrey bangun.


"Hm ... Cella, yang Paman maksud bukan Papa yang seperti itu. Bagaimana ya menjelaskannya." kata Hansen bingung.


Cella menatap Hansen yang kebingungan. Setelah diam beberapa saat, Hansen pun memberanikan diri bicara.


"Begini ... bagaimana kalau Paman ini sebenarnya adalah Papa Cella. Apa Cella mau punya Papa seperti Paman?" tanya Hansen.


Cella terkejut, "Apa benar? Paman adalah Papaku dan Cello? Sungguh?" tanya Cella dengan wajah serius menatap Hansen.


"Iya, Paman adalah Papa Cella. Papa yang selama ini dikatakan Mama pergi jauh untuk mencari uang." jawab Hansen.


Hansen lantas membuat cerita yang sekiranya akan dipahami Cella. Ia tidak menjabarkan panjang lebar kejadian apa yang terjadi. Intinya Hansen membenarkan ucapan Mamanya. Dan memberitahu kalau ia mengalami kecelakaan dan hilang ingatan sehingga tidak ingat Audrey, Cella dan Cello.


"Mama kalian tidak bilang apa-apa karena Mama marah pada Papa," tambah Hansen.


"Papa ... " panggil Cella.


Cella langsung memeluk Hansen. Cella terus memanggil Hansen dengan sebutan Papa karena senang.


***


Matahari sudah meninggi. Audrey baru bangun dari tidurnya. Ia membuka mata perlahan dan mengusap lembut matanya.


"Cello, Cella, kenapa tidak bangunkan Mama. Jam berapa ini?" kata Audrey yang masih belum sadar, jika ia berada di kamar Hansen.


Audrey mengerutkan dahi. Ia sudah memanggil dua anaknya, kenapa tidak ada jawaban. Suasana hening dan tenang. Audrey membuka selimut, dan kaget saat ia mengenakan kemeja laki-laki. Ia mihat sekeliling kamar tidur dan sadar kalau itu bukalah kamarnya.


Audrey buru-buru turun. Ia keluar dari kamar tidur dan pergi ke ruang tamu. Ia kembali melihat sekeliling, kamar yang sama dengan kamarnya. Audrey pun keget.


"Jangan bilang ini kamar Hansen?" gumamnya.


"Apa yang aku lakukan di sini. Ke-kenapa aku tidur di sini?" kata Audrey bingung. Ia mengacak-acak rambutnya.


Baru saja Audrey ingin berpikir. Pintu kamar terbuka, Hansen dan si kembar masuk ke dalam. Audrey kaget, melihat Cello, Cella dan Hansen.


"Ka-kalian ... " kata Audrey sampai tidak bisa berkata-kata.


"Mama, mama ... mama sudah bangun?" tanya Cella.


"Mama, kenapa wajah Mama berantakan." tanya Cello.


Keduany meliha Mamanya aneh. Hansen mendekati Audrey, mengecup kening Audrey dan memberi ucapan selamat pagi dengan mesra.


"Selamat pagi, sayang. Apa tidurmu nyenyak?" tanya Hansen.


Audrey kaget, "Hei, kamu kenapa menciumku? Itupun depan anak-anak," tanya Audrey.


Hansen diam tidak menjawab. Cello dan Cella bercerita, jika habis diajak jalan-jalan oleh Papa. Mendengar kata "Papa" membuat Audrey bertanya, apa maksud dari Cello dan Cella.


"Mama jangan marah lagi pada Papa, ok. Papa sudah jelaskan pada kami semuanya dan meminta maaf tadi," kata Cello.


"Ya, Ma. Tolong mamafkan Papa, ya?" sambung Cella.


Mata Audrey membulat, "Apa ini maksudnya?" batin Audrey.