One + One (One Night Stand)

One + One (One Night Stand)
One + One (37)



Sepulang dari menjemput Cello dan Cella. Audrey mengajak Hansen pergi ke Caffe milik Nicholas. Audrey juga sudah mengundang Sherlyn datang. Ia ingin memperkenalkan Hansen secara resmi pada dua sahabat baiknya.


Seperti biasa, Cello dan Cella menikmati kue kesukaan mereka dengan pendamping jus strawberry yang segar. Hansen tersenyum senang, melihat betapa lahap kedua anaknya makan kue.


"Pelan-pelan makan," bisik Hansen.


Cello dan Cella menganggukkan kepala. Mereka bahkan menyuapi Hansen kue kepunyaan mereka karena ingin berbagi melihat kedekatan Hansen dan si kembar, Audrey tahu apa itu kekuatan hubungan darah. Meski jarak memisahkan Ayah dan dua anak itu, nyatanya saat bertemu mereka akan saling mengasihi dan menyayangi satu sama lain.


"Mereka akur sekali," bisik Nicholas yang tiba-tiba muncul.


Audrey kaget, "Ah, kamu membuatku kaget. Apa pekerjaanmu sudah selesai? waktumu luang?" tanya Audrey.


"Ya, aku luang sekarang. Jadi, apa yang ingin kamu sampaikan." tanya Nicholas.


Karena saat datang Nicholas sibuk. Audrey menunda perkenalan dan memilih menunggu. Sekarang Nicholas senggang, Audrey pun langsung memperkenalkan Hansen pada Nicholas.


"Niko, ini Hansen. Dia Papa anak-anak. Hans, ini Nicholas. Temanku, dan juga Papa asuh anak-anak. Kalian aku kenalkan karena sudah sepantasnya kenal. Aku harap kalian bisa akur dan berteman baik, ya." kata Audrey tersenyum.


"Hallo, aku Nicholas." sapa Nicholas.


"Hallo, Hansen. Senang mengenalmu. Dan aku berterima kasih karena sudah banyak membantu audrey. Meski ini sudah sangat terlambat, aku harap kamu menerima ketulusaku." kata Hansen.


Nicholas tersenyum, "Jujur aku terkejut. Tapi, ya ... aku senang karena bisa bertemu Papa kandung dari anak-anak asuhku. Aku tulus membantu Audrey, dan aku juga tulus menyayangi anak-anak. Aku harap kamu tidak salah paham padaku. Aku dan Audrey tidak ada hubungan lain selain pertemanan. Audrey sudah seperti Adikku." jelas Nicholas.


Dari sini Hansen tahu dan mengerti kata-kat Cella saat di Hotel. Nicholas memanglah sosok yang baik dan hangat. Hansen yakin Nicholas memang bukan pesaingnya. Tatapan Nicholas yang mengarah pada Audrey memang bisa disebut tatapan kasih seorang Kakak pada Adiknya.


"Mana mungkin aku salah paham. Jangan membuatku terlihat jahat," jawab Hansen tersenyum.


"Hahaha ... bukan itu maksudku. Aku hanya takut kamu berpikir yang tidak -tidak saja tentangku dan Audrey. Lagipula, aku yakin sekali kamu adalah tipe idaman Audrey, yang tidak akan bisa membuatnya berpaling." kata Nicholas.


Nicholas menggoda Audrey. Ia sejak tadi memperhatikan Audrey yang hanya terus memandang Hansen dengan tersenyum malu-malu. Wajah Audrey juga merona.


Mendengar ucapan Nicholas, Audrey tersentak kaget. Ia mengerutkan dahi menatap tajam ke arah Nicholas.


"Hei, jaga bicaramu! Jangan mengatakan omong kosong," kata Audrey.


Hansen menatap Audrey, "Ya, aku rasa ucapanmu benar, Niko. Dia tidak akan pernah bisa berpaling dariku," kata Hansen dengan penuh rasa percaya diri dan senyuman tampan.


Nicholas langsung tercengang, "Wah, gila! Aku pria, tapi di hadapanku ada pria setampan ini? Bagaimana bisa ada pria sepertinya, ya. Kalau saja aku wanita, pasti aku akan langsung jatuh cinta." batin Nicholas.


"Dia makan dan minum apa bisa setampan itu? aku sudah sering melihatnya, tapi ini membuatku gila!" batin Audrey.


Jantung Audrey berdegup kencang begitu melihat senyum tampan pria di sampingnya. Bahkan Cello dan Cella pun ikut terpesona oleh senyuman Papanya.


Hansen mengerutkan dahi menatap semua orang di sekelilinggnya. Ia merasa aneh karena ditatap lekat.


"Ehemmm ... aku haus. Bisa pesan minuman?" kata Hansen mengalihkan suasana.


"Oh, ya. Tentu bisa. Mau minum apa?" tanya Nicholas.


"Apa saja yang kamu berikan," kata Hansen tidak bisa berlikir ingin pesan minum apa.


"Ada apa? kamu bahkan gugup memilih menu minumanmu," bisik Audrey.


"Itu karena semuanya nenatapku tadi. Aku tidak nyaman," bisik Hansen.


Tidak beberapa lama Sherlyn datang dengan membawa kotak berisi roti gulung keju kesukaan Audrey. Sherlyn minta maaf, karena terlambat datang.


"Maaf, aku terlambat." kata Sherlyn.


"Mama Elyn ... " sapa Cella.


"Hallo sayangku, Cella yang cantik, dan Cello yang tampan. Dan ... " kata-kata Sherlyn terhenti saat melihat Hansen.


"Apa dia aktor?" batin Sherlyn tertegun.


"Hai, Lyn. Maaf aku tiba-tiba mengirim pesan padamu. Padahal aku tahu kamu sibuk. Terima kasih sudah datang, ya." kata Audrey.


"Ya, tidak apa-apa. Re ... dia?" tanya Sherlyn menatap Audrey.


"Ini Hansen. Pria yang aku ceritakan itu," jawab Audrey.


Sherlyn melebarkan mata, "Wahh ... keren! panatas saja anak-anakmu cantik dan tampan. Gen tidak pernah menipu." kata Sherlyn memuji.


Hansen tersenyum, "Hai, terima kasih pujianmu. Tapi aku rasa ucapanmu berlebihan." kata Hansen merasa canggung terus dipuji tampan.


"Ah, maaf. Kamu pasti tidak nyaman karena kami terus memperhatikanmu, ya. Jujur saja aku baru kali ini bertemu pria setampan kamu, Hans. Aku Sherlyn, panggil saja, Lyn, atau Elyn seperti anak-anak." kata Sherlyn.


"Ya, Lyn. Terima kasih sudah meluangkan waktu datang," kata Hansen.


"Tidak masalah. Lagipula aku sudah beberapa hari tidam pulang dan merindukan anak-anakku. Hehe ... oh, ya, aku mendengar banyak tentangmu sejak Audrey datang pertama kali. Meski aku tidak diberitahu siapa orang yang membuat Audrey harus datang ke sini saat itu. Aku juga tidak bisa menyalahkanmu, karena kamu kehilangan ingatanmu dan lupa pada Audrey. Kalau ingin menyalahkan, kita hanya harus menyalahkan waktu, kan." kata sherlyn panjang lebar.


Sherlyn menceritkan kejadian-kejadian dulu. Kesulitan Audrey, dan seperti apa kessharian mereka. Sherlyn mengatakan, jika ia senang bisa membantu Audrey.


Hansen berterima kasih. Sebagai ucapan rasa terima kasihnya, Hansen pun memberikan kartu nama dan meminta Sherlyn untuk tidak sungkan menghubunginya kalau butuh bantuan.


Kartu nama diterima Sherlyn. Saat melihat kartu nama Hansen, Sherlyn pun baru ingat sesuatu.


"Ah, kamu salah satu pemilik BigMall bukan? Maaf kalau salah, ya. Aku pernah melihat fotomu dipajang bersama pemilik lain." tanya Sherlyn.


"Ya, benar." jawab Hansen.


Audrey mengerutkan dahi, "BigMall? memangnya ada terpampang fotomu? kenapa aku tidak melihatnya?" tanya Audrey.


"Itu sudah lama. Awal mula pembukana BigMall. Setelah beberapa hari foto itu dilepas dan diganti foto lain. Aku ingat karena dari mereka Hansen lah yang termuda. Sayangnya aku tidak tahu namanya, karena tidak ditulis di fotonya." jelas Sherlyn.


"Ah, begitu." jawab Audrey menganggukkan kepala.


Nicholas datang dengan membawa pesanan Hansen. Ia juga sekalian membawa minuman untuk Audrey dan Sherlyn, juga untuk dirinya sendiri. Mereka lanjut berbincang.


Ditengah-tengah perbincangan, Hansen mengumumkan kabar baik. Bahwa ia akan menikah dengan Audrey. Berharap Sherlyn dan Nicholas datang ke pernikahan mereka nantinya.