One + One (One Night Stand)

One + One (One Night Stand)
One + One (20)



Enam Tahun Kemudian.


Kabar duka datang dari Diana. Wanita paruh baya yang juga Ibu angkat Isobelle itu meninggal dunia karena sakit keras. Meski sudah mendapatkan perawatan intensif selama satu tahun penuh, nyatanya takdir berkehendak lain.


Pemakaman Diana diiringi banyak teman dan kenalan yang memang dekat dengan Diana semasa hidup. Sebagai anak angkat, Audrey sangatlah sedih. Ia bahkan sampai beberapa kali pingsan saat di rumah sakit dan proses pemakaman.


"Mama ... " batin Audrey menangis. Ia tidak sanggup melihat foto yang tertanam di batu nisan Diana.


Audrey berlutut dan menuduk, "Mama ... " panggil Audrey menangis tersedu-sedu.


Bagaimana bisa Audrey menghilangkan kenangan indah yang ia buat bersama Diana? baginya Diana adalah sosok Ibu kedua yang sangat disayanginya dengan tulus. Keduanya selalu berbagi suka dan duka. Selalu mencari solusi bersama, saat dalam masalah atau keadaan genting.


Diana tak hanya peduli dan menyayangi Audrey. Mendiang juga sangat menyayangi dua cucu kembarnya. Yakni, Cello dan Cella. Si kembar sering diajak bepergian di dalam, maupun luar kota, bahkan sampai ke luar negeri oleh Diana.


Melihat sahabatnya terpuruk, Sherlyn pun ikut berlutut dan memeluk Audrey. Ia juga menangis, turut merasakan kehilangan mendiang Diana. Baginya Diana juga adalah sosok Ibu.


"Kuatkan hatimu, Re. Kamu tahu kan, bukan ini yang diinginkan Mama Diana," bisik Sherlyn.


Audrey menggelengkan kepala, "Aku tidak sanggup, Lyn. Mama selalu bersamaku setiap hari bahkan ... bahkan ... sampai detik-detik terakhir pun kami bersama. Aku tidak bisa kehilangannya, tidak!" kata Audrey berderai air mata.


"Aku tahu. Pasti sangat berat. Tapi kamu harus ingat, kamu punya Cello dan Cella yang pasti akan sedih melihat Mamanya seperti ini. Lihatlah, mereka terus menatapmu dengan perasaan bingung." kata Sherlyn.


Audrey menyeka air matanya. Ia memalingkam wajah menatap Cello dan Cella yang sedang bersama Nicholas tak jauh darinya. Isobelle pun tersenyum. Ia merentangkan kedua tangan untuk menyambut dua anak kembarnya.


"Cello, Cella ... kemarilah, Nak." kata Audrey.


Cello dan Cella saling menatap, lalu menatap Nicholas bersamaan. Nicholas mengusap kepala Cello dan Cella. Meminta keduanya segera menghampiri Audrey.


"Pergilah. Temui Mama kalian," pinta Nicholas.


Cello dan Cella menganggukkan kepala. Segera keduanya berjalan perlahan mendekati Audrey dan memeluk Audrey yang masih berlutut.


Audrey mendekap kedua anaknya, "Maafkan Mama, sayang. Kalian pasti terkejut melihat Mama yang seperti ini. Maaf," kata Audrey.


Cello melepas pelukan, "Tidak, Ma. Mama sedih kan karena Nenek tiada. Kami juga begitu," kata Cello, menyeka air mata Audrey.


"Mama jangan sedih lagi, ya. Kami juga nanti menangis," sambung Celle berkaca-kaca ingin menangis.


Audrey tersenyum menatap kedua anak kembarnya bergantian. Ia merasa terhibur dengan perkataan dari dua anaknya itu.


Audrey menyeka air matanya, "Kalian lihat, kan. Mama sudah tidak menangis lagi." sambung Audrey.


Cello dan Cella kembali bersama-sama memaluk Audrey. Mereka sangat sayang pada Audrey melebihi apapun di dunia ini. Mereka juga sangat menghormati dan patuh pada Audrey. Bagi Cello dan Cella, Mamanya adalah Ibu Peri yang turun ke bumi untuk menjadi Mamanya.


"Nah, ayo berdoa dan berpamitan pada Nenek. Kita akan pulang setelah ini," kata Audrey melepas pelukan meminta dua anaknya berdoa untuk mendiang Diana.


Cello dan Cella menutup mata dan berdoa. Mereka berdua punya permohonan yang sama, yakni meminta kepada Tuhan agar memberikan sebuah rumah yang paling bagus untuk mendiang Diana.


Begitu juga Audrey, Sherlyn dan Nicholas yang juga ikut berdoa untuk mendiang Diana. Mereka berdoa untuk ketenangan Diana di atas sana.  Setelah selesai, mereka semua berpamitan dan pulang ke rumah.


***


Sehari sebelum meninggal, Diana meminta Audrey untuk mau melanjutkan mengelola Galeri dan seluruh asetnya. Diana mewariskan semua harta kekayaan pada Audrey, karena hanya Audrey satu-satunya keluarga. Meski hanya seorang putri angkat. Diana bahkan langsung meminta pengacaranya untuk menjadi saksinya dalam melimpahkan wewenang dan tanggung jawab Galeri pada Audrey. Diana berpesan pada pengacaranya, jika kelak Audrey kesulitan, pegacaranya harus membantu Audrey. Karena Audrey anak yang berharga.


Audrey sempat menolak, ia tidak ingin apapun. Yang ia inginkan hanya kesembuhan Diana. Dengan senyuman Diana memberikam nasihat terakhirnya, jika Audrey harus tetap kuat, ada atau tanpa adanya dirinya di sisi Audrey.


"Kamu adalah bintang kecil, yang nenyinari gelapnya malamku, Re. Sebelum bertemu denganmu, aku hanya sibuk bekerja dan bekerja, tanpa tahu rasanya menikmati kehidupan. Setelah bertemu denganmu, setiap detik di hidupku berubah. Kamu membuatku tahu dan mengerti, kalau hidup ini indah. Banyak hal yang kita temui selain hanya mengumpulak uang dan bekerja di balik layar komputer. Kamu juga selalu mengeluh kalau aku lenbur, kan. Mengomel tidak jelas sampai terkadang marah-marah. Haahh ... (menghela napas) banyak hal yang aku alami, tapi aku tidak bisa menyebutnya satu per satu." kata Diana panjang lebar.


"Mama cepat sembuh. Aku tidak bisa apa-apa tanpa Mama," kata Audrey memeluk tangan Diana.


"Kamu harus bisa, sayang. Ada atau tidaknya aku di sisimu, kamu harus kuat dan bisa bertahan dari keadaan apapun. Ingat, ada dua malaikat kecil yang masih butuh perlindunganmu. Mama yakin, Rere kesayangan Mama ini bisa mengubah masa depan Galeri dan mengelolanya dengan baik. Mama percaya padamu. Jangan menolak permintaan Mama, ya. Hanya ini yang bisa Mama berikan untukmu." kata Diana.


Audrey tidak bisa berkata-kata. Ia terus menangis karena memang ia tidak ingin kehilangam sosok Diana. Melihat Audrey yang sedih dan menangis sampai tidak mengeluarkan suara, membuat Diana ikut sedih. Akan tetapi ia juga sudah tidak mampu lagi bertahan karena sudah mencapai batasannya. Diana mengusap-usap kepala Audrey dengan tangan kiri. Ia berdoa untuk masa depan Audrey, Cello dan Cella. Berharap putri dan dua cucunya selalu tersenyum bahagia.


***


Malam harinya. Usai membacakan buku cerita dan menunggu dua anaknya tertidur, Audrey pergi meninggalkan kamar si kembar untuk kembali ke kamarnya. Baru saja ia menutup pintu, Audrey dipanggil oleh Sherly yang mengajaknya minum wine.


"Apa anak-anak sudah tidur?", tanya Sherlyn yang ternyata menunggu di depan kamar si kembar.


"Ya, sudah. Kamu menunggu di sini? sejak kapan?" tanya Audrey.


"Tidak lama. Sekitar lima menit yang lalu. Kamu mau langsung tidur? mau minum wine denganku, tidak?" tawar Sherlyn dengan mata berbinar.


Audrey tersenyum, "Apa aku bisa menolak tawaranmu yang bicara dengan wajah seperti itu? ayo, kebetulan aku juga ingin minum." jawab Audrey menerima tawaran Sherlyn.


Sherlyn bersorak senang. Ia berhasil membuat Audrey luluh hanya dengan tatapan matanya yang berbinar. Sebenarnya Sherlyn punya tujuan lain. Ia ingin Audrey tidak merasa kesepian dan kembali larut dalam kesedihan saat kembali masuk ke dalam kamar. Karena itu ia mengajak Audrey minum, agar ia bisa sedikit memberi penghiburan pada Audrey.