One + One (One Night Stand)

One + One (One Night Stand)
One + One (42)



Andrew dan Rose terkejut. Keduanya mengaku tidak akan pernah tahu, jika Audrey tidak jujur bicara. Mereka benar-benar mengira Audrey tidak tahu siapa pria malam itu.


Setelah mendengar alasannya, Andrew dan Rose mengerti. Tidak ada yang bisa disalahkan baik itu Hansen maupun Audrey.


"Ya, mau bagaimana lagi. Orang yang tidak ingat mana bisa dipaksa." kata Andrew.


"Maaf, Paman. Tolong jangan marah pada Audrey. Anda bisa memarahi saya," kata Hansen.


Andrew menatap Hansen, "Apa alasanku memarahimu? apa hilang ingatan itu kemauanmu? atau kamu memang sengaja hilang ingatan? aku juga tidak bisa salahkan putriku. Dia takut kami orang tuanya akan marah dan lebih memilih berbong dan pergi." kata Andrew.


"Jadi, pertemuan ini? kalian ingin memberitahu kami, kalau kalian akan menikah?" tanya Rose.


Audrey menganggukkan kepala, "Ya, Ma. Aku tidak bisa mengabaikan kebahagiaan anak-anak, kan? mereka juga butuh Hansen yang adalah Papa kandungnya. Mama tenang saja, kami menikah bukan karena terpaksa karena Cello dan Cella. Kami ... hm, kami ...  kami juga sudah saling menyukai." jelas Audrey malu-malu dengan wajah memerah.


Rose dan Andrew saling menatap heran. Mereka sepertinya mengerti, pasti ada sesuatu yang terjadi sebelum mereka datang.


Andrew mengatakan, ia sebagai orang tua hanya berharap putrinya bahagia. Mau dengan siapapun pilihan putrinya. Andrew juga meminta pada Hansen, untuk bisa bertanggung jawab penuh dan membahagiakan putrinya. Rose pun meminta Hansen agar bisa bertemu orang tua Hansen. Bagaimanapun, para orang tua harus bertemu dan saling kenal, meski akan manjadi besan.


Hansen mengiakan permintaan Rose. Ia mengatakan, ia akan mengatur pertemuannya setelah memperkenalkan Audrey dan si kembar pada orang tuanya. Rose dan pun Andrew setuju apa yang Hansen katakan


Mereka berbincang banyak hal. Sampai Cello dan Cella mengantuk. Si kembar pergi ke mamar ditemani Rose. Karena sudah larut malam, Hansen pun berpamitan. Andrew sempat meminta Hansen untuk tinggal dan menginap, tetapi Hansen menolak halus.


"Saya harus pulang dan membicarakan pertemuan kami besok, Paman." jawab Hansen.


"Ah, begitu rupanya. Baiklah. Apa katamu saja. Hati-hati pulang, ya." kata Andrew.


"Papa masuklah ke kamar dan istirahat. Aku mau antar Hansen dulu," kata Audrey.


"Ya, sayang." jawab Andrew.


Hansen menatap Andrew, lalu berpamitan. Ia lantas pergi diikuti Audrey yang hendak mengantar sampai depan rumah. Andrew tersenyum menatap punggung Hansen dan Audrey. Ia berbalik dan pergi menuju kamarnya untuk istirahat.


***


Keesokan harinya ....


Hansen datang menjemput Audrey dan si kembar. Mereka langsung berangkat menuju restoran tempat janji temu. Cello dan Cella tampak senang, ia tidak sabar bertemu Kakek dan Nenek mereka yang lain.


"Papa, Papa ... kita akan bertemu Kakek dan Nenek di mana?" tanya Cella.


"Kita akan pergi ke restoran enak. Kalian pasti suka makanan di sana," jawab Hansen.


Cella menganggukkan kepala. Ia kembali duduk diam melihat jalan lewat kaca mobil.


Hansen menatap Audrey sekilas, "Kenapa diam saja?" tanya Hansen.


"Aku tegang sekali. Bagaiamana kalau Papa dan Mamamu tidak menyukaiku?" tanya Audrey.


"Mana mungkin tidak suka. Percaya padaku, semua akan baik-baik saja." kata Hansen menyakinkan Audrey.


***


Di restoran ....


Audrey dan si kembar dihadapkan dengan dua orang paruh baya yang tidak lain adalah Papa dan Mama Hansen.


"Hallo, Paman, Bibi. Salam kenal, saya Audrey Shawn. Senang bertemu Anda berdua," sapa Audrey tersenyum cantik dengan gayanya yang anggun.


Frederik menatap Audrey dengan seksama, lalu menatap dua anak yang ada di antara Audrey dan Hansen. Melihat suaminya yang diam saja, Mariana pun membalas sapaan Audrey. Ia tidak mau Audrey merasa tidak enak atau terbebani karena merasa tidak dianggap.


"Oh, Hallo, Nak. Aku Mariana, Mama Hansen. Ini suamiku yang juga merupakan Papa Hansen, Frederik. Salam kenal juga. Senang mengenalmu," sapa Mariana tersenyum cerah.


Mariana menyiku lengan suaminya. Berharap suaminya peka dan mau bicara agar suasanannya tidak canggung.


"Duduklah!" perintah Frederik.


Mariana mengerutkan dahi menatap suaminya, "Dia ini. Bisa-bisa bicara begitu. Dasar Pak Tua tidak punya perasaan," batin Mariana.


"Papa, jangan terlalu kasar. Kalau Audrey sampai lari, selamanya aku tidak akan menikahi wanita manapun." kata Hansen menatap Papanya.


Suasana hening. Frederik berdehem dan mengatakan sesuatu yang mengejutkan. Ia langsung bertanya, kapan rencana Hansen dan Audrey menikah? Karena ia tidak ingin cucu-cucunya terus menyandang nama belakang sang Ibu. Dengan kata lain, Frederik menerima Audrey sebagai menantu dan si kembar sebagai cucu-cucunya.


"Ya?" Kata Audrey terkejut.


"Hm, kamu pasti terkejut, ya. Kalau kamu datang menenuiku untuk menjelaskan apa yang terjadi, aku rasa tidak perlu lagi. Jujur saja, aku sudah tahu semuanya. Karena aku diam-diam sudah mencari tahu." kata Frederik menatap Audrey.


"Papa! kenapa Papa tidak bilang padaku kalau diam-diam mencari tahu. Apa selama ini Papa menempatkan mata-mata?" tanya Hansen.


"Kalau kamu tidak bersikap mencurigakan, aku tidak akan bertindak jauh sampai mnecari tahu semuanya, Hans. Untunglah, kamu tidak sadar Papa menempatkan mata-mata. Jadi ya mudah saja untuk tahu apa saja yang kamu lakukan di sana." jawab Frederik.


Sebenarnya Frederik sudah menyelidiki Audrey sejak lama. Ia penasaran, kenapa Putra kesayangannya terus menerus menyibukkan diri di luar negeri. Padahal urusan di sana sudah selesai. Bahkan selalu membuat alasan untuk menolak perjodohan dengan Anastasia.


Frederik menatap Cello dan Cella, lalu memberikan pada cucunya masing-masing sekotak cokelat.


"Ini hadiah pertemuan kita. Kakek senang bertemu dan melihat kalian lagsung." kata Frederik.


Cello dan Cella saling menatap, lalu berdiri dari duduk mereka dan mendekat pada Frederik. Mereka pun menerima pemberian sang Kakek. Mereka menunduk dan mengucapkan terima kasih.


"Terima kasih, Kakek." kata Cello dan Cella bersama-sama.


Frederik mengusap kepala Cello dan Cella bergantian. Ia berterima kasih pada dua cucunya karena sudah mau datang menemuinya.


Mariana mendekati Cello dan Cella, "Hallo cucu-cucuku yang cantik dan tampan. Apa kalian senang bertemu Nenek dan Kakek? maaf, ya. Kalian tadi pasti terkejut karena Kakek kalian terlihat seram, kan. Sebenarnya Kakek bukan berniat seperti itu. Hanya saja Kakek kalian tidak pandai bicara dan berekspresi. Kalian bisa memahaminya, kan?" kata Mariana menjelaskan. Ia tidak ingin dua cucunya salah paham.


Cello dan Cella menganggukkan kepala bersama dan tersenyum menatap Mariana, juga Frederik. Mariana memeluk kedua cucunya erat-erat. Tidak lama melepaskan pelukan dan mencium pipi si kembar bergantian.


"Kalian sangat menggemaskan," kata Mariana tersenyum cantik.