
Audrey baru selesai rapat. Ia berjalan perlahan kembali menuju ruang kerjanya diikuti Stella. Audrey bertanya pada Stella, apa saja jadwal penting yang harus diperhatikan.
"Apa ada jadwal penting? misalnya pertemuan atau apapun itu?" tanya Audrey.
"Itu, Bu. Ada undangan lelang amal. Apakah Anda berkenan hadir?" Tanya Stella.
"Lelang amal? kapan itu?" tanya Audrey menatap Stella.
Stella memeriksa undangan lewat tablet yang didekapnya Ia memberitahukan, jika lelang amal akan di selenggarakan pada akhir bulan.
"Akhir bulan ini, Bu. Lokasinya diluar kota. Dan diadakan selama tiga hari berturut-turut karena mengundang tamu VIP dari luar negeri juga. Begitu yang dijelaskan pihak Manager penyelenggara acara lelang," jawab Stella menjelaskan.
"Akhir bulan, ya? Hm ... " gumam Audrey mengernyitkan dahi.
Audrey mengingat-ingat jadwal diluar pekerjaan pada akhir bulan. Dan karena ia lupa, ia pun memeriksa ponselnya untuk memperjelas semuanya.
Stella menatap Audrey yang sibuk dengan ponsel. Ia tidak tahu, atasannya itu sedang apa.
"Apa ada sesuatu, Bu?" tanya Stella.
"Ah, maaf. Aku sedang memeriksa jadwal anak-anakku. Aku takut ada jadwal yang sama, ternyata tidak." jawab Audrey.
"Oh, ya, Bu. Saya lupa menyampaikan, Anda mendapatkan undangan VIP." kata Stella.
"Hahh ... (menghela napas) kalau diundang sebagai tamu VIP, bagaiamana bisa aku menolaknya?" gumam Audrey.
Mendengar gumaman Audrey, Stella lantas bertanya, apa maksudnya? seolah Audrey tidak berkenan menghadiri undangan lelang amal tersebut.
Audrey pun menjelaskan. Bukan dia tidak berkenan hadir. Jika waktu yang diselenggarakan tiga hari dan diundang sebagai VIP, maka mau tak mau harus menghadiri sampai selesai. Tamu VIP itu adalah bintang dalam acara lelang amal. Sebuah kehormatan baginya diundang sebagai tamu VIP, hanya saja ia khawatir pada si kembar. Apakah bisa ditinggal selama waktu tersebut? Audrey takut Cello dan Cella akan bosan dan mencarinya.
"Kamu pasti tahu, bagaimana si kembar. Mereka tidak akan bisa tidur tanpa dibacakan buku cerita olehku. Sherlyn tak akan bisa menangani mereka berdua saat mereka mengamuk," jelas Audrey.
"Hahaha ... benar juga, ya. Lalu bagaimana, Bu? Apa tidak sebaiknya Anda mengajak mereka saja?" kata Stella memberikan saran.
Audrey membuka pintu ruangan dan berjalan menuju meja kerjanya. Ia menarik kursi dan duduk. Stella meletakan setumpuk berkas di atas meja kerja Audrey dan berdiri di sisi Audrey.
"Entahlah. Aku akan coba tanya pada mereka nanti. Oh, ya, Stella. Aku akan pulang setelah ini. Apakah ada hal penting lain selain menandatangani berkas-berkas ini?" tanya Audrey.
"Tidak ada, Bu. Kala sudah selesai menandatangani, silakan tinggalkan saja di meja kerja Anda. Saya yang akan memberikannya pada Bu Elly nanti. Silakan Anda pulang dan menikmati waktu bersama si kembar yang menggemaskan," kata Stella tersenyum.
"Kamu sangat menyukai Cello dan Cella rupanya," kata Audrey.
"Tentu saja. Kalau Anda berkenan, bawalah mereka lagi ke Galeri, Bu." pinta Stella.
Audrey menganggukkan kepala, "Ya, lain waktu aka aku ajak. Mungkin saat libur sekolah. Agar kamu puas bermain seharian bersama mereka," jawab Audrey.
"Yeah ... Bu Audrey memanglah yang terbaik. Ya, sudah kalau begitu, Bu. Saya kembali bekerja dulu. Permisi," pamit Stella yang langsung pergi meninggalkan Audrey di dalam ruangan.
Audrey tersenyum manis. Ia senang melihat Stella yang semakin hari semakin ceria dan giat dalam pekerjaannya. Dibandingkan saat pertama kali, Stella tampak murung dan lebih sering melamun.
Audrey pun mengalihkan pandangannya dan mengambil sebuah berkas dokumen ditumpukan, di atas mejanya. Ia menbaca dan menandatangani berkas tersebut. Ia harus segera menyelesaikan pekerjaannya agar bisa cepat pulang.
***
Di caffe. Cello dan Cella duduk menikmati dessert kesukaan mereka. Nicholas membuatkan jus strawberry untuk kedua anak asuhnya sebagai pendamping makan dessert.
Suasana Caffe ramai, Sherlyn pun membantu melayani pengunjung yang ingin memesan. Dan mengantar pesanan yang sudah dibuat. Melihat Sherlyn sibuk, Nicholas menghentikan Sherlyn dan meminta Sherlyn untuk duduk bersama si kembar.
"Tidak apa-apa. Aku juga lelah kalau hanya duduk saja. Di butik duduk, di caffe pun duduk. Jadi, tolong biarkan aku bergerak. Ok," jawab Sherlyn.
Melihat Sherly yang bersikeras membuat Nicholas tidak bisa berkata-kata lagi. Ia pun mengalah, membiarkan Sherlyn melakukan apa yang disukainya.
Sherlyn melihat ada tamu yang memanggil, "Oh, ya, sebantar." kata Sherlyn yang langsung mendatangi tamu tersebut.
Nicholas pun pergi membawa nampan ke dapur. Dari balik meja kasir Nicholas mengintip dua anak asuhnya. Ternyata si kembar sedang sibuk belajar.
"Apa kalian ada pekerjaan rumah?" tanya Nicholas.
"Ya, kami diminta menggambar anggota keluarga oleh Bu Guru." jawab Cella.
Nicholas menganggukkan kepala, "Oh, begitu. Baiklah kalau begitu. Papa sibuk bekerja dulu, ya. Kalian harus buat gambar yang bagus, ok." kata Nicholas.
"Ya, Papa. Semangat," jawab Cella.
"Papa, papa ... apa Mama mengirim pesan?" tanya Cello.
Nicholas mengambil ponsel di saku celana dan melihat layar ponsel. Nicholas menyimpan kembali ponselnya, lalu menjawab pertanyaan Cello, jika Mamanya tidak mengirim pesan.
Cello menganggukkan kepala, meminta Nicholas kembali bekerja. Ia dan saudari kembarnya Cella melanjutkan gambar yang masih setengah jadi.
Saat Cella selesai menggambar Mama, Cella pun terdiam. Ia menatap Cello dan bertanya tentang Papa.
"Apa kita perlu menggambar Papa?" tanya Cella.
"Ya, tentu saja. Papa Nico kan keluarga kita." jawab Cello.
"Bukan Papa Nico. Papa kita, Cello." kata Cella menekankan.
"Papa kita? Memangnya kita punya Papa lain selain Papa Nico?" tanya Cello.
"Entahlah. Mungkin Mama punya fotonya. Kita minta pada Mama saja nanti," kata Cella.
"Terserah kamu saja. Aku mau lanjut menggambar," jawab Cello.
Cella menatap gambarnya. Ia pun melanjutkan tugas menggambarnya. Cella menggambar Sherlyn dan Nicholas bersebelahan, lalu mewarnainya. Karena ada tempat kosong disamping gambar Mamanya, Cella pun menggabar seseorang disebalah Mamanya dan memberikan nama "Papa" diatas kepala gambar tersebut.
Cello melihat gambar Cella, "Kamu menggambar Papa lain?" tanya Cello.
Cella menganggukkan kepala, "Ya, karena ada tempat kosong disebelah Mama maka aku menggambar Papa. Kenapa?" tanya Cella.
"Imajinasimu bagus sekali. Kamu menggambar Papa lebih tampan dari Papa Nico." kata Cello.
"Ah, itu karena dalam bayanganku Papa sangat tampan dan keren." jawab Cella.
Cello berpikir saat melihat gambarnya, "Hmm ... apa aku juga sebaiknya menggambar Papa kita, ya?" kata Cello bimbang.
"Gambar saja. Itu disamping Mama masih masih ada tempat." kata Cella.
Cello masih berpikir. Tidak lama ia mengambil pensil dan mulai menggambar Papa, lalu mewarnainya. Dalam bayangan Cello, sosok Papanya juga tampan. Sehingga ia menggambar Papa tampan disebelah gambar Mamanya.
Setelah menghias dan memberi nama juga kelas, akhirnya tugas menggambar mereka pun selesai. Cella dan Cello saling bertukar gambar. Keduanga mengamati gambar yang dipegang masing-masing.