
Anastasia sudah sampai ke Hotel tempat Hansen menginap. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan pria pujaan hatinya itu. Diperjalanan menuju kamar Hansen, ia berteleponan dengan Mama Hansen.
Anastasia mengeluhkan perjalanan jauh yang harus ia tempuh demi Hansen. Meski demikian, ia tidak menyesal karena rasa rindunya akan segera terobati. Mama Hansen meminta Anastasia memberitahunya, jika sudah sampai di kamar Hansen.
"Bibi ... aku sudah sampai di depan kamar Hansen," kata Anastasia berdiri di pintu kamar Hansen.
"Oh ... Aku akan hubungi dia dulu. Kamu tunggu saja di situ dan jangan ke mana-mana, ok." kata Mama Hansen.
Anastasia mengiakan kata-kata Mama Hansen. Ia bersedia menunggu sampai pintu dibuka oleh Hansen. Panggilan Anastasia dan Mama Hansen pun berakhir.
***
Sementara itu. Mariana menghubungi putra kesayangannya. Ia meberitahukan jika Anastasia datang dan memihta Hansen untuk meluangkan waktu menemani Anastasia.
Hansen langsung menolak. Ia menegaskan, jika ia pergi bukan untuk jalan-jalan ataupun bersantai. Ia bekerja, meski hanya memenuhi undangan.
"Mama jangan mendesakku lagi. Suruh saja dia pergi," kata Hansen tidak senang.
"Hans ... jangan seperti itu. Dia sudag jauh-jauh datang. Temuilah setidakny sebentar saja," kata Mariana.
"Ma, Mama tahu, kan. Kalau aku sama sekali tidak menyukainya, bahkan tertarik pun tidak sama sekali. Apa harus aku bersikap baik padanya?" kata Hansen mengeluarkan keluhannya.
"Mama tahu, Hans. Tapi ini kan bukan Mama yang menjodohkan kalian, tapi Papamu. Mama juga tidak bisa melawan Papamu, atau Mama akan kena marah. Kamu mengerti, kan? Apapaun yang kamu rasakan, temui saja dia. Entah kamu suka ataupun tidak suka. Selanjutnya lakukan saja sesukamu. Mama tidak akan melarangmu lagi." kata Mariana.
Hansen terdiam sesaat, lalu bicara. Ia mengatakan akan langsung mengusir Anastasia sesaat setelah bertemu. Mariana mengiakan perkataan putranya itu. Ia juga merasa tidak tega, kalau harus terus mendesak putranya menyukai sesuatu yang tidak disukai.
Setelah itu panggilan berakhir. Dan Hansen langsung pergi menuju pintu kamar, lalu keluar.
Di depan pintu. Hansen dan Anastasia bertemu. Melihat pria tampan yang dicintainya, Anastasia pun langsung ingin memeluk Hansen. Dengan sigap Hansen menghindar, ia sebisa mungkin menjaga jarak agar tidak berkontak fisik dengan Anastasia.
"Pergilah! aku sibuk," kata Hansen dingin.
Anastasia mengerutkan dahi, "Sibuk apa? bukankah kamu ke sini hanya karena undangan pesta? apakah aku boleh datang ke pesta itu juga?" kata Anastasia menatap Hansen penuh harap.
"Tidak. Pergilah!" jawab Hansen dan mengusir Anastasia.
Anastasia pun bersikeras tidak mau pergi. Ia merengek minta ditemani Hansen. Ia mengeluh lelah setelah perjalanan jauh. Sikapnya sangat kekanak-kanakan. Bahkan Anstasia sampai mengancam Hansen akan menghubungi Papa Hansen kalau permintaannya tidak dituruti.
Hansen lelah melihat pemandangan yang sama, setiap ia bertemu Anastasia. Baginya Anastasia adalah wanita yang hanya membuatnya repot dan sakit kepala.
"Kamu tidak mendengarku?" tanya Anastasia menatap Hansen.
"Apa yang harus aku dengar? apa itu hal penting?" jawab Hansen tidak mau tahu apapun.
Anastasia kesal dan langsung mengambil ponselnya. Ia berkata akan langsung menghubungi Papa Hansen.
Hansen tertawa, "Hahaha ... apa kamu pikir aku akan langsung menurut begitu saja? hahh .... (menghela napas panjang) dengar, ya ... Aku sudah sangat lelah menghadapimu. Terserah mau kamu adukan atau apapun itu. Aku tidak peduli!" kata Hansen menatap Anastasia dengan tatapan dingin yang menusuk.
Anastasia kaget. Ia tidak percata trik yang ia biasa gunakan tidak mempan lagi. Ia pun menangis, ia berharap Hansen luluh dengan itu.
Hansen mengusap wajahnya kasar. Ia semakin kesal karena Anastasia semakin bertingkah menyebalkan. Ia pun berbalik mengancam Anastsia. Ia berkata akan memanggil keamanan Hotel agar Anastasia diusir secara tidak hormat.
"Pergilah selagi aku memintanya baik-baik. Jangan sampai aku memanggil keamanan dan meminta mereka mengusirmu." kata Hansen kembali menelan kesabaran.
"Kenapa kamu tidak pernah sekalipun menatapku, Hans? padahal aku sudah berusaha untuk bisa menjadi seperti yang kamu mau. Apa aku kurang cantik? atau ... jangan-jagan kamu puny simpanan? jawablah!" Kata Anastasia menatap tajam kepada Hansen.
"Apa aku pernah memintamu melakukannya? tidak, kan. Aku tidak menatapmu karena aku tidak suka. Kamu bukan wanita yang aku idamkan. Mau sekeras apapun kamu berusaha, aku tidak akan pernah mengalihkan pandanganku padamu. Pergilah jangan buat aku terus mengataka hal yang sama berulang kali." Kata Hansen yang akhirnya meluapkan isi hatinya selama ini pada Anastsia.
Plakkk ....
Tamparan keras dari Anastsia mendarat mulus di pipi Kiri Hansen. Karena terlampau emosi, Anastasia juga tidak bisa mengendalikan diri lagi.
"Dasar pria sampah! Tidakkah kamu punya perasaab? aku tidak menyangka kamu akan menjawab seperti itu. Setidaknya pikirkan perasaanku sebelum kamu mengatakan hal-hal yang menyakinkan seperti itu, Hans. Aku kecewa padamu," kata Anastasia dengan mata berkaca-kaca.
"Kecewalah! Aku harap tamparan ini bisa membuatmu semakin menjauhiku. Ini peringatan terakhir dariku, Ana. Jangan pernah lagi kamu muncul atau terlihat di depan mataku." kata Hansen. Mengusap lembut pipinya yang ditampar Anastsia.
Anastasia mengepalkan dua tangan, "Baiklah. Terserah apa katamu. Tapi ingatlah satu hal, kamu ataupun aku pada akhirnya akan tetap bertunangan dan menikah. Itu adalah bayaran atas kerja sama keluarga kita, kan. Jangan lupa, kalau masalah ini melibatkan bisnis, Hansen!" kata Anastasia yang langsung pergi meninggalkan Hasen.
Hansen menarik napas dalam-dalam, lalu menghela napas. Ia ingin masuk ke dalam kamarnya, tapi ia merasa sedang diawasi. Ia pun berbalik dan melihat ke arah pintu kamar yang ditinggalin Audrey dan dua anak kembarnya.
Benar saja, ada Cello dan Cella yang mengintipnya dari celah pintu. Hansen pun menghampiri pintu dan berlutut satu kaki di depan pintu. Ia memanggil Cello dan Cella.
"Hai, kalian sedang apa?" tanya Hansen tersenyum.
Cella membuka pintu lebar, ia langsung menangis memeluk Hansen. Membuat Hansen bingung, karena tidak tahu penyebab Cella menangis.
Hansen mengusap punggung Cella, "Ada apa, sayang? apa ada yang menyakitimu?" bisik Hansen di telinga Cella.
Cella menggeleng, "Bukan aku yang sakit, tapi Paman." kata Cella melepas pelukan dan mengusap pipi kiri Hansen yang merah bekas tamparan Anastasia.
"Oh, ini bukan apa-apa. Tidak sakit," kata Hansen membuju Cella agar tidak sedih.
"Apa Paman mencoba membodohiku? Aku memang masih kecil, tapi aku tidak bodoh. Pipi Paman merah dan ada goresan seperti cakaran. Ini pasti sakit sekali," kata Cella.
Hansen terkejut, ia tidak sangka gadis kecil dihadapannya ternyata sangat mengkhawatirkannya.
"Apa Cella khawatir pada Paman?" tanya Hansen memastikan.
Cella menganguk dan kembali menangis masih dengan tangannya yang memegang pipi Hansen. Karena tidak tega melihat Cella menangis, Hansen pun kembali memeluk dan menggendong Cella. Ia mencoba menenangkan gadis kecil manis itu.