
Audrey sedang duduk termenung di sebuah caffe. Di atas meja, ada jus jeruk dan cake kesukaannya. Audrey bingung, apa yang harus ia lalukan sekarang.
"Oh, apa aku masih simpan kartu namanya, ya ..." gumam Audrey. Yang langsung menatap tasnya.
Dibukanya dan dicarinya kartu nama Hansen yang ia simpan. Setelah beberapa saat, ia menemukannya. Catatan yang ditinggalkan Hansen juga masih disimpan oleh Audrey.
"Tidak, tidak." batin Audrey menggelengkan kepala perlahan saat menatap kartu nama Hansen.
"Bagaimana bisa aku langsung menemuinya dan mengatakan aku mengandung anaknya? apa yang akan dia pikirkan tentangku nanti. Bisa saja aku langsung diusir dan dikatai sebagai pembohong. Ahh ... bisa-bisanya aku seceroboh ini." batin Audrey merasa putus asa.
Ponsel Audrey bergetar. Ia menatap layar ponsel dan melihat Mamanya menelepon.
"Hallo, Ma ... " jawab Audrey.
"Sayang, kamu di mana? Mama dan Papa sepertinya tidak bisa pulang beberapa hari ke depan. Kami langsung pergi ke luar kota karena urusan mendesak. Apa kamu tidak masalah sendirian di rumah?" tanya Rose khawatir.
"Tidak apa-apa, Ma. Ada Bibi Nana dan pelayan lain di rumah. Papa dan Mama tidak perlu khawatir, bekerja saja dengan tenang." jawab Audrey tersenyum.
"Wah, anak Mama sudah semakin dewasa, ya. Sedang apa sekarang? Mama dengar dari Bibi, kamu tidak memakan dengan benar sarapanmu pagi ini. Apa ada sesuatu?" tanya Rose.
Audrey mengernyitkan dahi, "Ti-tidak apa-apa, Ma. Ha-hanya malas saja. Aku tidak selera makan," jawab Audrey beralasan. Karena hanya itu alasan yang dipikirkan oleh Audrey.
"Oh, begitu. Meski tidak selera, kamu harus tetap maka dengan benar agar tidak jatuh sakit, Nak. Ah ... sepertinya Mama harus tutup panggilannya, ada hal penting yang ingin Papamu diskusikan dengan Mama. Jaga kesehatanmu sayang, sampai jumpa saat Papa dan Mama kembali." kata Rose berpamitan.
"Ya, Ma. Mama dan Papa juga jaga kesehatan. Hati-hati di jalan," jawab Audrey.
Panggilan diakhiri oleh Rose. Audrey terdiam menatap layar ponselnya. Tangannya erat menggenggam ponsel seakan ingin meremukkan ponselnya.
"Maaf, Ma. Audrey harus berbohong. Maaf ... " guman Audrey.
Audrey kembali terdiam. Ia masih berpikir apa yang harus ia lakukan kedepannya. Ia juga mempertimbangkan untuk pergi menemui Hansen lebih dulu, sebelum mengambil keputusan yang tepat. Bagaimanapun Audrey juga ingin tahu apa pendapat Hansen tentang kehamilannya. Jika Hansen tidak menanggapi dengan baik, barulah Audrey akan bertindak.
Audrey ingin makan dessert. Tiba-tiba ponselnya kembali berdering. Saat melihat layar ponselnya, mata Audrey membulat. Alvaro menghubungi Audrey setelah lama tidak ada kabar.
"Alvaro ... " gumam Audrey.
Audrey bimbang. Apakah ia harus menerima panggilam Alvaro atau tidak. Jika diabaikan, takut itu adalah panggilan penting yang darurat. Audrey lantas menggeser panel hijau untuk menerima panggilan Alvaro.
"Hallo, Rere .. "panggil seseorang diujung panggilan.
"Hm, ada apa?" tanya Audrey.
"Apa kamu sehat?" tanya Alavaro mengejutkan Audrey sampai Audrey tertegun.
"Apa kamu salah minum obat? untuk apa juga kamu ingin tahu kabarku?" tanya Audrey.
"Haha ... tidak apa-apa hanya ingin saja. Hm, begini. Ada sesuatu hal yang ingin aku sampaikan padamu." kata Alvaro ragu-ragu.
Audrey menarik napas, lalu mengembuskan napas perlahan. Ia ingin cepat mengakhiri pembicaraannya dengan Alvaro.
"Ya, katakan saja apa yang ingun kamu sampaikan. Aku sibuk," kata Audrey tidak senang.
Audrey mengernyitkan dahi, "Aku tidak bisa membantumu, Al. Hukuman tetap harus kamu jalani, mau sesulit dan setidak enaknya itu." jawab Audrey menolak.
Alvaro terus memohon. Ia bahkan sampai menjelaskan bagaimana kehidupannya setelah dikirim Papanya ke luar negeri. Ia sama sekali tidak nyaman dan bisa menjalani hidup dengan tenang. Ia terus merengek ingin kembali.
Audrey semakin kesal. Setelah ditolak dan dijelaskan, harusnya Alvaro semakin mengerti. Bukan semakin merengek tidak jelas. Audrey meminta Alvaro berhenti merengek dan memohon. Menegaskan pada Alvaro, jika meski Alavaro menangis darah pun, ia tidak akan berkenan membantu Alvaro.
Mendengar kata-kata kejam dari suadarinya, membuat Alvaro marah. Ia pun mengatai Audrey sebagai saudari yang kejam.
"Dasar jahat. Kamu sangat kejam, Re. Aku akan ingat kata-katamu ini." kata Alvaro.
Tanpa aba-aba, Audrey pun mengakhiri panggilan dari Alavro. Ia merasa tidak perlu lagi baginya untuk mendengarkan omong kosong dari Alvaro.
***
Setelah beberapa hari berpikir, Audrey akhirnya membulatkan tekatnya pergi menemui Hansen. Bagaimanapun juga, Hansen asalah Ayah dari janin yang dikandungnya, ia tidak bisa bertindak tanpa diskusi.
Dengan membawa catatan dan kartu nama Hansen, Audrey datang ke kantor Hansen. Setelah bertemu resepsionis, Audrey dipersilakan menemui Sekretaris pribadi CEO.
Di ruang tunggu Audrey menunggu. Perasaanya campur aduk. Bingung, gelisah, gugup dan tegang. Ia berusaha tenang sambil melihat-lihat sekeliling ruang tunggu.
"Huhh .... "
Audrey mengembuskan napas perlahan, "Tenang, Re. Semua akan baik-baik saja. Kamu hanya perlu bertemu dengannya dan mengatakan keadaanmu yang sebenarnya. Bagaimanapun, dia berhak tahu tentang anak-anaknya ini," batin Audrey mengusap perutnya lembut.
Tok ... tok ... tok ....
Suara pintu diketuk dari luar. Pintu terbuka dan seorang wanita cantik berpenampilan rapi pun masuk ke dalam ruangan.
"Maaf, Nona. Saya sudah membuat Anda menunggu. Apakah ada sesuatu yang Anda butuhkan?" tanya Sekretaris itu berjalan mendekati sofa dan duduk di hadapan Audrey.
"Ma-maaf, saya datang tanpa membuat janji terlebih dulu. Bisakah saya bertemu Pak Hansen Lexius?" tanya Audrey.
Sekretaris terkejut, "Nona, apakah Anda belum tahu kabar tentang beliau? jika ingin bertemu karena urusan mendesak, Anda seharusnya ke rumah sakit." jawab Sekretaris itu.
"Apa?" tanya Audrey kaget. "Rumah sakit?" sambungnya bergumam.
Sekretaris menganggukkan kepala perlahan, "Ya, Nona. Dua minggu yang lalu beliau mengalami kecelakaan saat dalam perjalanan pulang dari luar kota." jelas Sekretaris memberitahu.
"Apa terjadi sesuatu? Bagaimana keadaannya?" tanya Audrey ingin tahu. Ia mulai panik.
"Untuk itu ... silakan Anda datang ke rumah sakit saja sekalian bertemu beliau. Saya kurang tahu pasti apa yang terjadi dan bagaimana keadaan beliau karena saya tidak diberitahu apa-apa. Yang paling tahu adalah Asisten beliau, Pak Dion. Maaf, Nona." jelas Sekretaris itu.
"Ah, aku mengerti. Aku akan ke rumah sakit sekarang. Terima kasih untuk informasinya, Nona. Saya permisi," pamit Audrey.
"Tidak masalah, Nona. Saya senang bisa membantu Anda." kata Sekretaris.
Audrey lantas pergi setelah menerima informasi lokasi rumah sakit tempat Hansen dirawat. Perasaanya tidak enak, firasatnya kuat mengatakan, jika akan terjadi sesuatu hal yang buruk. Dengan menumpangi taksi, Audrey pergi menuju rumah sakit.