
Hari Pernikahan pun datang. Semua tamu sudah hadir dan menanti berlangsungnya kedua mempelai mengikat janji suci.
Hansen sudah menunggu di depan Altar. Ia merasa tegang dan gugup. Ia tidak mengira tiba akan tiba waktunya untuk mengenakan stelan jas berwana putih dan menyatakan sumpah pernikahan.
Pengantin wanita datang bersama sang Papa. Andrew mendampingi Audrey berjalan menuju Altar. Audrey tampak cantik, berjalan anggun menuju Hansen yang sudah menunggunya.
Hansen tersipu, meski ia tahu Audrey memanglah cantik, tetap saja ia tidak bisa menolak pesona yang dipancarkan Audrey.
"Cantik sekali," batin Hansen.
Hansen pun bersiap menyambut pengantinnya. Ia dan Audrey berhadapan, dan keduanya saling melempar senyuman.
"Aku titipkan putriku padamu, Hans. Tolong jaga dia untukku," kata Andrew memberikan tangan Audrey pada Hansen.
"Dengan senang hati, Pa. Aku bersumpah demi apapun. Akan setia dan akan membuat Audrey dan anak-anak kami bahagia selamanya," jawab Hansen dengan penuh keyakinan.
"Semoga selalu bahagia, sayang." bisik Andrew ditelinga Audrey.
"Terima kasih, Pa." jawab Audrey tersenyum.
Andrew melangkah pergi meninggalkan Hansen dan Audrey. Ia ingin cepat-cepat duduk agar bisa menangis diam-diam.
Hansen memegang tangan Audrey melangkah maju mendekati pemuka agama yang akan memberkati pernikahan mereka. Dan acara permberkatan pun dimulai. Hansen dan Audrey melakukan sumpah setia sehidup semati dengan disaksikan para tamu.
***
Semua tamu bertepuk tangan, setelah mendengar kedua mempelai melakukan sumpah setia. TerlihatĀ Sherlyn duduk di samping Alvaro, mereka mulai dekat sejak malam itu. Mungkin lebih tepatnya Sherlyn lah yang dengan berani menunjukkan perasaanya. Pada saat Sherlyn minum bersama Alvaro dua hari lalu, ia bahkan dengan terang-terangan mencium Alvaro tanpa tahu malu. Alvaro tidak menolak, karena ia sebenarny merasakan perasaan yang sama dengan Sherlyn. Hanya saja ia ragu, apakah ia layak untuk Sherlyn? karena itu ia lebih memilih bersikap biasa saja, untuk bisa menutupi perasaannya.
Di meja yang sama, ada Nicholas dan Anastasi. Mereka juga tampak akrab. Sepertinya Anastasia tidak lagi peduli pada Hansen. Ia justru lebih peduli pada Nicholas. Dan sebaliknya, Nicholas pun merasa biasa-biasa saja, saat tahu Sherlyn menyukai Alvaro. Jika ia yang sebelumnya, sudah pasti akan sedih karena merasa patah hati. Namun setelah kehadiran Anastasia yang menggangu, pikirannya pun teralihkan, bahkan mungkin hatinya juga teralihkan pada Anastasia.
Andrew dan Rose terharu sampai menangis, begitu juga Mariana. Frederik terlihat senang dengan mata memerah walau tak sampai menangis. Ferdinard, Kakek Hansen pun ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh cucu kesayangannya. Terlebih Ferdinard sekarang sudah memiliki dua cicit yang menggemaskan. Ia bahkan membangga-banggakan Cello dan Cella kepada teman-temannya. Ia merasa senang, di hari tuanya banyak kebajagiaan yang datang.
Acara selanjutnya adalah menangkap buket bunga dari mempelai wanita. Semua wanita bersiap, mereka berharap akan mendapatkan buket bunga dan segera menyusul jejak Audrey.
Audrey menghitung sampai tiga, lalu melempar buket bunga ke belakang. Dan buket itu melambung tinggi sebelum akhirnya jatuh perlahan. Dan dua orang pun berhasil bersama-sama menangkapnya. Yakni Sherlyn dan Anastasia. Saat Audrey berbalik, ia terkejut karena dua wanita yang tidak asing baginya mendapatkan buket bunganya.
"Wah, apa ini? kalian segera menyusul, ya." kata Audrey tersennyum.
Sherlyn dan Anastasia tampak malu-malu. Mereka saling melempar tatapan pada pria yang disukai masing-masing. Anastasia menatap Nicholas, dan Sherlyn menatap Alvaro. Kedua pria itu tersenyum pada masing-masing wanita yang mereka juga sukai.
Hansen mendekati Audrey, "Apa aku salah lihat? Anastasia menatap temanmu dengan wajah memerah dan malu-malu? Itu bukanlah gaya seorang Anastasia." bisik Hansen.
Audrey tersenyum, "Aku rasa selama ini terjadi sesuatu pada mereka. Jangan-jangan mereka setelah ini akan menyebar undangan juga," jawab Audrey berbisik.
"Sepertinya tidak hanya Anastasia dan Nicholas. Lihatlah Alvaro. Dia dan teman baikmu juga terlihat sangat dekat." bisik Hansen lagi.
Audrey menganggukkan kepala. Jujur saja ia juga terkejut saat Sherlyn tiba-tiba mengatakan, kalau Sherlyn menyukai Alvaro. Dan mengklaim perasaannya adalah cinta pada pandangan pertama. Audrey melihat Alvaro pun memiliki ketertarikan pada Sherlyn. Hanya saja malu atau mungkin memang tidak mau mengakui. Apapun itu, baik Nicholas dan Anastasia ataupun Adikkya dan Sherlyn. Audrey betharap mereka semua mendapatkan akhir kisah yang bahagia sepertinya.
Tiba-tiba dahi Audrey berkerut. Ia merasa mual dan pusing. Tubuhnya pun terasa lemah sampai ingin jatuh.
Audrey menatap Hansen, "Aku mual dan pusing. Apa karena tadi aku makan sedikit, ya? aku takut gaunnya tidak muat jadi menahan diri tidak makan apa-apa lagi setelah sarapan." jawab Audrey.
Hansen memapah Audrey agar bisa duduk istirahat. Ia meminta bantuan pelayan menyiapkan hidangan untuk sang Istri. Hansen tampak khawatir, hanya dengan melihat wajah pucat sang istri.
Audrey berpikir. Ia pun ingat sesuatu dan terkejut. Matanya melebar mengusap perutnya. Ia terdiam tidak bisa berkata-kata. Melihat Audrey yang sampai mengusap perut, Hansen berpikir Audrey sudah sangat lapar.
"Sayang, apa kamu sangat lapar? Tunggulah sebentar lagi, aku sudah minta pelayan menyiapkansesuatu untukmu," kata Hansen.
"Sayang ... " panggil Audrey.
"Ya?" jawab Hansen duduk di samping Audrey. Ia menatap Istrinya yang masih menunduk.
"Bagaiamana kalau kita akan punya anak lagi?" tanya Audrey menatap Hansen.
"A-apa? Apa maksudmu?" tanya Hansen terkejut sampai matanya membulat.
"Sepertinya aku hamil. Setelah aku pikirkan aku belum datang bulan sampai sekarang. Meski begitu sebaiknya kita harus melakukan tes dan memeriksakannya ke Dokter kalau memang benar." kata Audrey.
Hansen terdiam sampai tidak bisa berkata-kata. Matanya langsung memerah, ia pun menunduk dan menangis tanpa suara. Melihat Hansen seperti itu, Audrey pun panik. Ia bertanya apakah suaminya itu baik-baik saja atau tidak. Hansen menatap Audrey, ia berkata ia sangat bahagia.
"Terima kasih sayang. Ini adalah hadiah terindah untuk pernikahan kita," kata Hansen.
Audrey menyeka air mata Hansen, ia tersenyum pada suaminya. Ia juga merasa senang, bercampur kaget. Sesaat ia lupa, kalau setelah bertemu Hansen mereka sering menghabiskan waktu bersama dan melakukan hubungan tanpa pengaman apa-apa. Jadi tidaklah heran kalau sekarang Audrey mengandung.
Pesta berjalan lancar sampai akhir acara. Setelah semua tamu pulang, tersisa anggota keluarga dan tamu terdekat seperti, Nicholas, Sherlyn dan Anastasia. Tidak bisa menunda lagi, Hansen pun berpamitan pada semua orang untuk membawa Audrey ke rumah sakit. Ia menitipkan Cello dan Cella pada orang tuanya dan kedua mertua, juga Kakeknya.
Semua orang bingung, kenapa Hansen ingin membawa Audrey ke rumah sakit. Mereka hanya bisa saling bertanya satu sama lain tanpa tahu jawaban pastinya.
***
Di rumah sakit. Hansen dan Audrey menunggu hasil pemeriksaan di ruang tunggu. Mereka bahkan ke rumah sakit masih dengan mengenakan pakaian pengantin dan dilihat banyak orang.
Tidak lama seorang perawat datang dan menyerahkan hasil pemeriksaan. Hansen menerima dan segera membaca apa yang tertulis di sana. Wajah Hansen langsung berseri, ia pun memeluk istrinya dengan gembira.
"Sayang, kamu mengandung anak kembar lagi." kata Hansen tersenyum.
"Hah? Lagi?" kata Audrey terkejut.
Perawat tersenyum, "Selamat, Tuan dan Nyonya." kata perawat.
Hansen yang sudah tidak sabar pun memberikan kabar baik pada Papanya melalui telepon. Setelah menghubungi Papanya, ia mengajak Audrey segera pulang agar bisa berbagi kebahagiaan bersama di rumah. Hansen berpikir, Cello dan Cella akan senang kalau tahu mereka akan punya dua adik kembar.
Audrey tersenyum tipis dalam perjalanan pulang. Ia merasa heran, tidak menyangka akan mengandung dua janin kembar lagi. Jika dulu ia melahirkan dan membesarkan Cello dan Cella sendirian hanya ditemani Sherlyn dan Nicholas. Maka keadaannya yang sekarang akan berbeda. Ada orang tuanya, kedua mertua, Kakek, suami dan dua anak kembarnya yang akan menemaninya. Audrey tiba-tiba meneteskan air mata, ia pun menangis bahagia.
~Tamat~