One + One (One Night Stand)

One + One (One Night Stand)
One + One (7)



Di rumah sakit. Setelah bertanya pada perawat, Audrey akhirnya bisa bertemu dengan Dion. Audrey merasa gugup, tapi ia tidak bisa mundur lagi karena memang harus bertemu Hansen.


"Maaf, apa Anda mencari saya?" tanya Dion menghampiri Audrey.


Melihat seorang wanita tidak dikenal datang mencarinya sampai ke rumah sakit, membuat Dion sedikit terkejut.


Audrey menatap Dion, "Hallo, apakah Anda Dion? Asisten Pak Hansen Lexius?" tanya Audrey memastikan.


"Ya, benar. Anda siapa?" tanya balik Dion.


"Oh, itu ... sa-saya teman Hansen. Kami tidak seberapa akrab, hanya sesekali bertemu. Kebetulan ada hal yang ingin saya sampaikan padanya. Apakah saya boleh menemuinya?" tanya Audrey penuh harap.


Dion diam sesaat. Ia seperti kebingungan untuk menjawab keinginan Audrey bertemu Bossnya. Melihat Dion yang diam, membuat Audrey kembali bertanya, apakah ia boleh menemui Hansen atau tidak.


"Apakah beliau tidak boleh ditemui?" tanya Audrey.


Dion menatap Audrey, "Maaf, Nona. Kalau boleh tahu, ada urusan apa Anda ingin menemui Pak CEO? jika tidak keberatan, biarkan saya yang akan sampaikan pesan Anda kepada beliau." kata Dion.


"Maaf, Pak. Saya harus menyampaikannya secara pribadi. Saya tidak akan menyita banyak waktu," jawab Audrey.


"Begini ... sebenarnya Pak CEO tidak dalam keadaan baik-baik saja. Cidera akibat kecelakaan, membuat beliau kehilangan ingatannya." jelas Dion.


"A-apa?" guman Audrey terkejut.


"Tidak mungkin!" batin Audrey.


Seketika kakinya lemas, ia hampir jatuh. Untungnya Dion segera memapah Audrey dan membantunya duduk. Tubuh Audrey pun gemetaran.


"Nona, Anda baik-baik saja?" tanya Dion khawatir.


Audrey menunduk, ia menahan agar air matanya tak jatuh. Setelah mengatur napasnya, ia kembali meminta izin pada Dion untuk bertemu Hansen.


"Tolong izinkan saya bertemu beliau. Saya mohon," mohon Audrey memelas.


Dion bingung. Tidak tahu harus apa. Ia tidak mengenal siapa Audrey dan apa niat Audrey menemui Hansen. Bisa saja Audrey orang yang berbahaya bagi Hansen. Melihat Audrey yang memelas, membuat Dion tidak tega.


"Baiklah, silakan ikut saya." jawab Dion.


Audrey berdiri dari posisi duduk. Ia berjalan mengikuti Dion. Sepanjang jalan ia berpikir, apa yang harus ia lakukan, jika memang Hansen hilang ingatan. Pikiran Audrey kembali kacau.


"Apa dia benar-benar hilang ingatan? dia tidak sedang berpura-pura, kan? bagaimana ini?" batin Audrey semakin tidak tenang.


Dion dan Audrey telah sampai di depan kamar tempat Hansen di rawat. Dion mengetuk pintu dan masuk, ia meminta Audrey menunggu sebentar di luar. Tidak lama Dion keluar dan mempersilakan Audrey masuk. Dion memberikan waktu pada Audrey dan Hansen untuk berbincang.


"Silakan masuk, Nona." kata Dion.


"Oh, ya. Terima kasih," jawab Audrey.


Dengan langkah pelan Audrey berjalan mendekati Hansen yang sedang berbaring. Terlihat kepala Hansen diperban. Tangan, kaki juga diperban. Ada beberapa memar di wajah tampan Hansen. Keadaan Hansen memang terlihat tidak baik.


Hansen melihat Audrey, "Kamu ... siapa?" tanya Hansen dengan suara lemah.


Hansen mengerutkan dahi, "Apa kamu mengenalku?" tanya Hansen.


Audrey terdiam, lalu menganggukkan kepala. Hansen diam, ia mengamati Audrey. Hansen tidak mengingat Audrey, tapi suara Audrey tampak tak asing ditelinganya.


"Siapa wanita ini? Suaranya terdengar tidak asing, dan aku tidak merasa tidak nyaman dengan kedatangannya. Dibandingkan dengan Anastasia di sampingku, wanita ini lebih baik." batin Hansen.


"Maaf, mungkin kamu sudah tahu apa yang terjadi padaku. Aku sama sekali tidak mengingatmu. Namamu, bahkan apa hubungan kita. Apa kita berteman? rekan kerja, atau apa?" tanya Hansen ingin memastikan.


"Kita ... " gumam Audrey terdiam. "Hubungan kita bahkan lebih dari teman, meski status kita bukan kekasih. Bolehkah aku bicara seperti ini?" batin Audrey.


"Kamu sungguh tidak mengingatku? kamu meninggalkan sebuah catatan dan kartu nama. Kamu memintaku datang menemuimu," jawab Audrey. Ia sengaja menyinggung kertas catatan dan kartu nama yang ditinggalkan Hansen di Hotel.


"Catatan dan kartu nama?" batin Hansen bingung, sampai mengerutkan dahi berusaha mengingat.


Meski berusaha mengingat, nyatanya Hansen tidak berhasil mengingat apapun terkait kartu nama dan catatan yang dimaksud Audrey.


"Maaf, aku tidak ingat apapun. Boleh aku tahu namamu? Dan apa maksud dari catatan dan kartu nama itu? Apa aku menjanjikanmu sesuatu?" tanya Hansen ingin tahu lebih banyak tentang maksud Audrey.


Mendengar ucapan Hansen, membuat hati Audrey sedih. Hansen sama sekali tidak ingat apa-apa tentangnya.


Audrey menggelengkan kepalanya perlahan, "Tidak, tidak. Lupakan saja. Aku sudah bertemu denganmu dan melihat keadaanmu. Aku masih ada hal lain yang harus diurus. Aku pamit pulang," jawab Audrey berpamitan.


"Kamu sudah mau pergi? apa benar tidak ada apa-apa? jika kamu memberitahuku, aku akan tahu apa maksud dari ucapanmu." kata Hansen.


"Tidak perlu. Aku sudah tidak memikirkannya lagi. Melihatmu saja sudah cukup. Lekas pulih dan jaga baik-baik dirimu. Permisi," jawab Audrey yang langsung pergi meninggalkan ruangan Hansen.


Audrey berlari dengan mata berkaca-kaca. Saat bertemu Dion pun ia tidak menghiraukan dan terus berlari.


Audrey pergi ke kamar mandi, ia masuk ke salah satu bilik dan menangis di sana. Kali ini ia sedang tidak baik-baik saja. Pikirannya kacau, perasaannya hancur.


"Kenapa? kenapa? kenapa hal tidak baik selalu menghampiriku? apa salahku?" batin Audrey menangis sesenggukan.


Audrey memegang perutnya, "Apa yang harus aku lakukan denganmu?" gumam Audrey bingung.


Cukup lama Audrey termenung di bilik kamar mandi. Seteleh menenangkan diri dan berpikir keras, ia pun memutuskan untuk pergi ke luar negeri dan menetap sementara di sana.


"Aku tidak bisa menggugurkan kandunganku. Satu-satunya jalan, aku harus bertahan, melahirkan dan membesarkan mereka. Hahhh ... (hela napas Audrey) aku terpaksa harus berbohong pada Papa dan Mama. Aku merasa sangat bersalah dan berdosa, jika seperti ini. Maaf, Pa, Ma ... " batin Audrey.


***


Setah makan malam, Audrey memberanikan diri bertemu Papa dan Mamanya. Ia meminta izin untuk bisa pergi dan tinggal sementara di luar negeri dengan alasan ingin melanjutkan belajar.


Awalnya Andrew dan Rose keberatan, ia tidak mengizinkan putrinya untuk pergi. Audrey sempat putus asa, tetapi ia tidak menyerah untuk membujuk Papa dan Mamanya sampai akhirnya mendapatkan izin.


Audrey berbaring di tempat tidurya, "Ahhh ... lelah sekali. Cukup sulit membujuk Papa dan Mama, ya." batin Audrey.


Ia mengusap lembut perutnya, "Kita akan baik-baik saya, Nak. Meski tanpa Papa kalian, Mama harap kalian bisa merasakan kebahagiaan nantinya. Mama akan berusaha sekuat tenaga demi kalian. Teruslah sehat dan bertumbuh di perut Mama, ya." batin Audrey tersenyum.


Ia memejamkan matanya dan terlelap tidur. Ia harus bangun lebih awal keesokan harinya untuk segera berkemas agar bisa langsung berangkat.