One + One (One Night Stand)

One + One (One Night Stand)
One + One (31)



Malam harinya ....


Setelah penyelanggara acara memberikan sambutannya, acara lelang amal pun resmi di buka. Acara kali ini tidak terbuka untuk umum, hanya yang mendapatkan undangan saja yang diperbolehkan hadir.


Hansen yang sebelumnya sengaja bertukar tempat denga tamu lain, akhirnya berhasil duduk satu meje dengan Audrey. Ditatapnya wanita cantik dihadapannya itu sampai ia tak berkedip.


"Cantik sekali," batin Hansen mengagumi.


Baru saja ia mengagumi kecantikan Audrey, ia dibuat kaget oleh seseorang yang tiba-tiba memanggilnya dan langsung memeluk lehernya dari belakang. Siapa lagi yang berani melakukan itu, kalau bukan Anastasia.


"Hans ... akhirnya aku menemukanmu. Aku mencari-carimu sejak tadi," kata Anastasia dengan manja.


Hansen mengerutkan dahi. Ia langsung melepaskan kedua tangan Anastasia yang memeluk lehernya. Ia meminta Anastasia menjaga sopan santun dan tata kramanya.


"Jangan beerindak di luar batas, Anastasia!" kata Hansen dengan suara dingin.


Audrey yang melihat juga dibuat kaget. Tiba-tiba saja seorang wanita muncul dan langsung memeluk Hansen dari belakang dengan begitu erat. Ia merasa tidak nyaman melihat pemandangan tak menyenangan di hadapannya.


"Apa dia wanita yang dikatakan Cella sebagai "Wanita Jahat" dan seorang yang tadi menampar Hansen?" batin Audrey bertanya-tanya.


Hansen dan Anastasia kembali berdebat. Anastasia membela diri, mengatakan jika apa yang ia lakukan bukan hal yang salah. Sebagai calon tunagan Hansen. Ia juga tidak terima dikatai tidak sopan oleh Hansen.


Mendengar Anastasia terus tak mau disalahkan. Hansen pun pada akhirnya mengabaikannya. Ia yang sedang berdiri, kembali duduk. Ia tidak mau pusing dengan wanita gila di sampingnya, ia ingin menikmati acara.


Anastasia menatap Audrey, "Hei, kamu. Ayo kita tukar tempat. Mejaku di sana (menunjuk meja yang ada di belakang) aku mau duduk di sini." pinta Anastasia seenaknya pada Audrey.


"Apa-apaan kamu, Ana?" tanya Hansen manatap Anastasia.


Anastasia menatap Hansen, "Apa lagi? kamu tidak lihat dan tidak dengar apa yang aku katakan. Aku minta bertukar tempat dengan wanita ini. Kenapa?" jawab Anastasia santai.


"Ja ... " kata-kata Hansen terpotong oleh Audrey yang menjawab.


"Maaf, Nona. Saya tidak bisa!" jawab Audrey dingin menatap Anastasia dengan senyuman tipis.


"Wanita ini mengesakan sekali. Kenapa dia seenak hatinya memerintah orang. Apa dia merasa bak Putri Negeri dongeng? Dasar ... " batin Audrey kesal.


Karena permintaannya di tolak, Anastasia pun kesal. Ia merasa malu, padahal ia berpikir kalau Audrey mau memberikan tempat duduk untuknya dan memakai tempat duduknya.


"Aku akan membayarmu. Berapa yang kamu minta?" tanya Anastasia dengan mata tajam menatap Audrey.


Anastasia tersenyum lagi, "Kalau Anda merasa banyak uang, belilah meja dan letakkan di depan meja ini. Mudah, kan? Tolong jangan mengganggu tamu lain. Saya punya batas kesabaran, Nona." kata Audrey mulai kesal.


Seseorang itu menatap Anastasia. Meminta Anastasia duduk kembali ke tempatnya karena sudah mengganggu tamu lain. Sebagai penyelenggara acara ia berhak menegur langsung siapa tamu yang tidak bersikap layaknya tamu di acaranya.


Anastasia terkejut, pasalnya ia hanyalah rekan tamu undangan. Bukan tamu yang diberi undangan khusus seperti Hansen dan Audrey. Takut kalau-kalau diusir dan tak bisa mengikuti acara lelang amal, Anastasia pun akhirnya pergi dan kembali ke tempatnya duduk. Meski dengan hati yang dongkol.


"Apa kamu baik-baik saja? maaf, kedatanganku terlambat sehingga membuatmu tidak nyaman." kata wanita paruh baya itu pada Audrey.


"Tidak apa-apa, Bu. Saya merasa terhormat Anda langsung turun tangan membantu saya." jawab Audrey merasa sangat terbantu akan datangnya seseorang itu, yang akhirnya berhasil mengusir Anastasia si pembuat onar dari sisinya.


"Tidak perlu sungka. Aku adalah teman lama Mamamu. Oh, ya, aku menyapa tamu lain dulu. Silakan menikmati acaranya. Langsung katakan saja kalau ada yang kamu butuhkan atau inginkan." kata wanita itu lagi.


Audrey berterima kasih. Wanita itu pun pergi dari pandangan Audrey. Hansen yang memerhatikan bertanya apa hubungan Audrey dengan wanita itu? dan Hansen mengunhkapkan rasa kagumnya pada Audrey. Ia memuji Audrey.


Audrey meminta Hansen diam, karena acara lelang sudah dimulai. Audrey berkata, lain waktu urusannya harusnya diselesaikan sampai tuntas. Agar tidak mengganggu kenyamanan orang lain.


Hansen mengerti maksud Audrey. Ia merasa bersalah dan hanya bisa diam. Hansen lega karena penyelenggara acara langsung turun tangan dan menyelesaikan masalah Anastasia yang minta ingin pindah tempat duduk.


Hansen dan Audrey, juga semua tamu menikmati acara. Pembawa acara langsung menjual satu per satu barang lelang. Dan barang-barang terbeli oleh beberapa tamu. Audrey sendiri, membeli tiga lukisan yang nantinya akan ia pajang di galeri utamanya. Lukisan yang ia beli adalah lukisan yang sudah lama ia inginkan. Audrey bahkan sampai rela menggunakan tabungan pribadinya sendiri untuk membeli lukisan itu.


Sedangkan Hansen lebih tertarik dengan satu set perhiasan, yang terdidi dari anting, kalung, gelang dan cincin. Perhiasan itu adalah edisi khusus dan dibuat hanya satu set saja. Perhiasan itu adalah barang kedua termahal di acara lelang.


Anastasia tidak mau kalah. Ia juga membeli perhiasan dan lukisan lain. Ia ingin menunjukkan pada orang-orang, jika ia juga bisa membeli barang lelang. Sayangnya Anastasia tidak tahu apa yang dibelinya seperti nilai seni yang terkandung di dalamnya. Ia hanya asal membeli demi gengsinya semata.


Barang terakhir di perlihatankan. Sebuah lukisan yang sangat cantik. Tentu saja harga jualnya begitu fantastis. Lukisan itu adalah barang termahal pertama sekaligus barang terakhir yang ada di hari itu.


"Wah, lukisan itu dikeluarkan hari ini, ya. Semoga aku bisa mendapatkannya," batin Audrey senang.


Hansen tersengum, "Dia sangat menyukai lukisan, ya? apa aku beli saja ini untuknya?" batin Hansen.


Sementara itu dibelakang, Anasatasia juga berniat ikut menawar kalau Audrey menawar nanti. Ia punya pikiran, barang terakhir harua menjadi miliknya.


Harga jual disebutkan. Dan penawaran pun dibuka. Beberapa menawar dengan harga sedikit lebih tinggi dari yang ditawarkan. Tidak mau melewatkan kesempatan. Audrey langsung mengangkat papan bertulisakan angka dan mneyebut nominal penawarannya. Penawaran yang disebutkan Audrey cukup tinggi, dua kali lipat dari penawaran harga yang ditawarkan.


Anastsia juga melakukan penawaran. Ia menawar dengan harga diatas harga Audrey. Tidak ingin melepaskan lukisan berharga itu, Audrey kembali menawar dengan nominal diatas tawaran Anastasia.


Audrey dan Anstasia terus saja berperang dingin. Mereka satu sama lain tidak bisa merelakan lukisan tersebut dengan alasan berbeda. Sampai Anstasia yang kesal menyebut dua kali lipat dari harga yang ia tawaran terakhir kali.


Audrey mengerutkan dahi. Ia pada akhirnya menyerah. Ia berpikir ia belum berjodoh memiliki lukisan itu. Ia juga bukan orang bodoh yang harus merelakan semua uang hanya demi satu lukisan.