
Enam bulan kemudian. Audrey yang berada di kantor sendirian merasakan adanya kontraksi. Awalnya rasa sakit yang dirasanya hilang timbul dengan jeda waktu yang lama. Setelah beberapa jam dibiarkan, rasa sakitnya bertahan dan Audrey tidak mampu lagi menahan rasa sakitnya.
"Aaa ... tolong. Elly ... Elly ... " teriak Audrey sembari mengerang kesakitan.
Elly bergegas datang dan melihat Audrey sudah bersimpuh dilantai dekat meja kerjanya. Elly membantu Audrey berdiri dan mendudukan Audrey di kursi.
"Nona, apa yang terjadi? Anda baik-baik saja?" tanya Elly khawatir.
Audrey menggelengka kepala. Ia mengatakan ia mengalami kontraksi dan meminta bantuan Elly, (Manager Galeri) untuk segara diantar ke rumah sakit. Elly terlihat panik, tapi berusaha tetap tenang. Ia meminta Audrey untuk bertahan sampai tiba di rumah sakit. Elly segera memapah Audrey keluar dari Galeri menuju parkiran. Ia memanggil supir pribadi Diana untuk membantunya membuka pintu. Elly dan Audrey sudah masuk ke dalam mobil. Tidak lama mobil berjalan meninggalkan parkiran menuju rumah sakit atas perintah Elly.
Dalam perjalanan ke rumah sakit, Elly menghubungi Diana. Ia memberi kabar kalau Audrey mengalami kontraksi dan kemungkinan akan segera melahirkan. Ia juga menyampaikan rumah sakit tujuannya. Diana berpesan untuk Elly bisa menjaga Audrey. Setelah berbincang panggilan pun diakhiri oleh Elly.
"Bersabarlah, Nona. Kita akan sampai di rumah sakit," kata Elly, Manager Galeri.
"Aaahh ... ini sa-kit. Mmmhh ... " gumam Audrey memegangi perutnya.
Elly mengusap perut Audrey. Ia berharap Audrey bisa bertahan dan tidak terjadi sesuatu yang membahayakan kandungan juga Ibunya. Melihat Audrey yang terus merengek kesakitan, ia merasa khawatir. Pikiarannya kacau, hanya memikirkan kapan mobil yang ia tumpangi bersama Audrey cepat sampai di rumah sakit.
"Pak, maaf. Apakah Anda bisa membawa mobil lebih cepat sedikit?" kata Elly mencoba bicara pada supir yang mengemudikan mobil.
"Baik, Bu. Saya akan menambah kecepatannya." jawab si supir.
Mobil bergerak sedikit lebih cepat dari sebelumnya. Elly menatap Audrey, menyeka keringat yang sudah membanjiri wajah cantik Audrey.
"Aahh ... ohhh ... hhh ... " erang Audrey meremat pakaiannya sendiri sampai kusut.
Audrey merasa sakit yang teramat. Perutnya rasanya seperti berguncang. Ia tidak menyangka akan melahirkan sebelum tiba waktu hari persalinan.
***
Setibanya di rumah sakit. Audrey langsung mendapatkan penanganan khusus. Elly segera mengurus segala sssuatu yang diperlukan untuk Audrey. Saat ditanya Dokter tentang keluarga atau wali pasien, Elly menjawab, jika wali pasien sedang dalam perjalanan.
Enny gelisah. Ia menunggu kabar tentang Audrey sekaligus menunggu kedatangan Diana. Ia cemas, berdoa agar tidak ada sesuatu hal buruk yang terjadi.
"Semoga semua baik-baik saja," batin Elly.
Tiba-tiba ada yang datang tergesa-gesa menghampiri Elly. Mereka adalah Diana, Sherlyn dan Nicholas. Sherlyn yang saat itu sedang bersama Nicholas mendapat panggilan dari Diana. Memberitahukan jika Audrey mengalami kontraksi dan sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Saat menghubungi Sherlyn, posisi Diana juga sedang dalam perjalanan setelah membatalkan janji temu yang cukup penting. Ketiganya bertemu secara tak sengaja di parkiran dan akhirnya masuk bersama-sama ke gedung rumah sakit.
"Elly, bagaimana keadaan Audrey?" tanya Diana panik.
"Masih di dalam. Tadi Dokter mencari wali pasien. Saya mengatakan Anda sedang dalam perjalanan," jawab Elly.
Diana menatap ke dalam ruangan dengan wajah suram. Ia gelisah karena tidak menyangka akan mendapatkan kabar yang mengejutkan.
"Bukankah perkiraan persalinan masih kurang lebih delapan minggu lagi? apa Audrey akan melahirkan prematur?" batin Diana khawatir.
"Apa wali pasien sudah datang?" tanya Dokter.
"Sa-saya, Dok. Saya Mama angkatnya. Mama dan Papanya ada di luar negeri. Jadi saya yang bertanggung jawab mengurusnya." jawab Diana.
Dokter menatap Diana, "Di mana suaminya? apa beliau sibuk?" tanya Dokter itu ingij tahu.
"Dia ... " gumam Diana bingung harus mengatakan apa. Pasalnya Audrey memang seorang Ibu tunggal, belum menikah dan tengah mengandung.
"Dia juga di luar negeri, Dok. Sedang dalam perjalanan bisnis," sahut Sherlyn.
Dokter mengangguk, lalu memberikan penjelasan. Jika Audrey yang sebelumnya mengalami kontraksi, saat diperiksa sudah pecah ketuban. Mau tidak mau, Audrey harus melahirkan sebelum waktunya.
Dokter meminta Diana mengurus prosedur yang sudah ditentukan rumah sakit guna kelancaran penanganan. Diana mengerti, ia segera pergi ke bagian administrasi ditemani Elly yang selumnya sudah mengurus pendaftaran masuknya Audrey ke rumah sakit. Seperti mengisi identitas pasien dan lainnya, yang bisa ia urus.
Setelah memberikan penjelasan, Dokter pun kembali masuk kerena harus menyiapkan segala sesuatunya untuk proses persalinan.
Sherlyn dan Nicholas menunggu di ruang tunggu. Sherlyn tampak tegang, ia gelisah memikirkan bagaiaman keadaan sahabatnya. Sebagai teman yang peduli, Nicholas mencoba menghibur. Ia mengatakan pada Sherlyn, jika segala sesuatunya pasti akan baik-baik saja.
"Percayalah pada Audrey. Dia wanita yang kuat dan hebat. Pasti dia bisa melewati masa persalinan dengan lancar. Semua akan baik-baik saja," Kata Nicholas.
Sherlyn menganggukkan kepala, "Ya, aku harap begitu. Semoga saja persalinannya lancar. Audrey dan anak-anaknya selamat, juga sehat." jawab Sherlyn dengan mengutarakan harapannya.
Doa terus dipanjatkan oleh Sherlyn dan Nicholas yang sedang duduk menunggu di ruang tunggu. Mereka menampik pikiran negatif dan memikirkan hal-hal positif tentang Audrey yang tengah berjuang.
Setelah selesai mengurus segala sesuatunya. Diana dan Elly kembali. Mereka bergabung dengan Sherlyn dan Nicholas yang sedang menunggu proses persalinan Audrey.
***
Setelah berjuang susah payah, Audrey melahirkan dua malaikat kecil. Satu laki-laki dan satu lagi perempuan. Air mata Audrey keluar begitu saja, saat ia pertama kali mendengar dua bayinya menangis keras. Audrey bahagia, ia tidak bisa berkata-kata dan hanya bisa bersyukur atas hadiah yang Tuhan berikan padanya.
Kedua bayi yang baru lahir itu didekatkan pada Audrey. Dokter mengucapkan selamat atas kelahiran dua buah hati Audrey.
"Selamat, Nyonya. Atas kelahiran dua bayi kembar yang lucu," kata Dokter ramah.
"Selamat, Nyonya. Anda menjadi seorang ibu dari dua bayi yang cantik dan tampan." kata salah seorang perawat yang menggendong anak kembar Audrey.
Audrey tersenyum, "Te-terima kasih. Bagaimana keadaan mereka? Me-meraka sehat, kan?" tanya Audrey menatap Dokter dan perawat yang masing-masing menggendong bayinya.
"Keduanya sehat. Kami akan segera bersihkan dan membawanya ke ruangan bayi. Anda juga akan segera dipindahkan setelah ini," jawab Dokter.
Dokter meminta dua perawat yang mendampinginya segera mengurus bayi kembar Audrey untuk dibersihkan. Dokter kembali memeriksa kondisi Audrey. Memastikan segala sesuatunya baik-baik saja setelah proses persalinan.
Audrey menatap langit-langit ruanga. Ia bersyukur atas apa yang ia terima. Mendapatkan dua bayi kembar adalah anugerah terbesar baginya. Hanya saja tiba-tiba ia teringat seseorang yang samar, yakni Hansen. Ia mengingat laki-laki yang adalah Ayah kedua bayinya.