
Setelah beberapa hari dirawat dan dipastikan baik-baik saja, Audrey diperbolehkan pulang. Hanya saja si kembar masih harus tinggal untuk diawasi dan masuk ke inkubator, karena lahir prematur. Meski diizinkan pulang, setiap hari Audrey datang berkunjung untuk memberikan Asi dan melihat si kembar. Ia berharap dua anaknya secepatnya diperbolehkan pulang.
Setiap datang melihat anaknya, Audrey selalu bertanya tentang kondisi dan keadaan si kembar. Dokter mengatakan, tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena si kembar sehat dan baik-baik saja. Jika keadaan keduanya terus stabil, maka dalam waktu dekat akan diperbolehkan pulang. Mendengar penjelasan Dokter, membuat hati Audrey lega. Sebagai seorang ibu, hatinya terus gelisah berada jauh dari buah hatinya.
***
Satu minggu kemudian. Gracello dan Gracella akhirnya diperbolehkan pulang, setelah dipastikan kesehatan dan kondisi keduanya baik-baik saja. Diana, Sherlyn dan Nicholas datang menjemput Audrey. Nicholas mengemudika mobil, Diana menggendong Cella, dan Sherlyn menggendong Cello. Mereka bersiap untuk pulang ke rumah.
Dalam perjalanan. Diana bertanya pada Audrey, apa yang yang Audrey butuhkan.
"Katakan apa saja yang kamu inginkan. Atau ... kamu butuh bantuan tenaga pengasuh mungkin," kata Diana.
Audrey menggeleng, "Tidak perlu, Ma. Aku sendiri yang akan merawar mereka. Lagipula ada Sherlyn yang membantuku nanti," jawab Audrey.
"Ya, baiklah kalau begitu. Untuk sementara ini kamu fokuslah pada Cello dan Cella. Soal Galeri Mama yang akan urus," kata Diana.
"Ya, Ma. Terima kasih. Mama jangan terlalu memaksakan diri. Nanti aku akan hubungi Elly, agar dia bisa mengingatkan Mama makan tepat waktu dan tidak lembur bekerja." kata Audrey.
Diana tersenyum, "Mama akan makan teratur dan tidak lembur. Jadi jangan minta Elly menggacau," sahut Diana.
Diana menyakinkan Audrey, ia akan menepati ucapannya. Sebagai anak, walaupun hanya anak angkat, Audrey merasa khawatir akan kesehatan Diana. Meski terkadang diingatkan, Diana bersikeras menolak dan membuat Audrey juga Elly sampai tidak bisa berkata-kata.
***
Malam itu Diana menginap di rumah Sherlyn. Ia ingin membantu Audrey menjaga kedua cucunya. Diana tidur bersama si kembar, sedangkan Audrey tidur sendiri. Diana ingin Audrey juga bisa istirahat dengan tenang dan nyaman. Setelah melahirkan, pasti tubuh Audrey merasa lelah.
"Tidurlah, ini sudah hampir larut malam." kata Diana mengusap kepala Audrey yang duduk persis disebelahnya, di tepi tempat tidur.
"Ya, Ma. Mama juga tidurlah. Nanti kalau anak-anak bangun, Mama pasti terganggu." kata Audrey.
"Tidak apa-apa. Mereka bangun pasti lapar. Jadi tinggal diberi asi saja. Oh, ya, Re. Mama seharian ini lihat wajahmu murung. Ada apa?" tanya Diana. Menyadari ada yang dipikirkan oleh putri angkatnya.
Audrey menatap Gracello dan Gracella bergantian. Ia tersenyum melihat kedua anaknya terlelap tidur. Melihat putrinya yang seperti itu, membuat Diana semakin penasaran. Diana memegang tangan Audrey, dan mengusap punggung tangannya.
"Mama tidak tahu, apa yang kamu pikirkan. Jika terlalu berat dipikirkan sendiri, maka berbagilah dengan Mama. Dua orang berpikir lebih baik daripada sendirian, kan." kata Diana.
Audrey menatap Diana, "Ma, Mama melihatku sebagai anak yang seperti apa? apa aku anak yang buruk?" tanya Audrey dengan wajah sedih.
Diana mengusap wajah cantik Audrey, "Apa yang kamu katakan, Nak. Kamu bukan anak yang buruk. Kamu bisa membantu Mama di Galeri. Kamu juga pasti bisa menjadi Ibu yang baik nantinya untuk si kembar. Jangan memikirkan pandagan orang lain. Sudut pandang dari setiap orang berbeda, Re. Tidak semua orang suka, tidak semua juga membenci. Begitulah hidup," jawab Diana. Ia menguatkan hati putrinya untuk tidak berpikir negatif pada diri sendiri.
"Aku ingin menghubungi Papa dan Mamaku, lalu mengatakan apa yang sebenarnya. Bagaimana menurut Mama? mungkin dulu aku tidak punya keberanian, sehingga memilih melarikan diri. Tapi sekarang aku ingin menghadapinya, Ma." kata Audrey menjelaskan niatannya.
"Kalau memang itu yang kamu inginkan. Maka lakukanlah, Nak. Mama yakin, mereka berdua akan senang saat tahu mereka memiliki cucu yang tampan dan cantik seperti si kembar ini. Mama senang dengan niatmu, dan mendukungmu. Bila diperlukan, Mama akan membantumu bicara pada orang tuamu." kata Diana menanggapi niatan Audrey.
"Bagaimana nanti kalau Papa dan Mama tidak mau dengar penjelasanku, Ma? apa yang harus aku lalukan saat Papa dan Mama tanya di mana Ayah si kembar?" tanya Audrey lirih.
"Rere dengar. Apapun yang terjadi nantinya, kamu harus menghadapinya. Katakan sejujurnya dan jangan ada yang disembunyikan. Soal Ayah si kembar, kamu bisa katkan kalau kamu tidak mengingat wajahnya atau alasan lainnya. Akan repot juga kalau sampai Papamu dan Mamamu tahu Hansen hilang ingatan." jawab Diana menjelaskan dan memberikan saran.
Audrey melepas pelukan. Ia menatap Diana lekat-lekat. Sungguh, ia sangat bersyukur bisa bertemu Diana dan mengenal Diana, sampai menjalin hubungam keluarga dengan Diana.
"Terima kasi, Ma. Mama memang yang terbaik," puji Audrey.
"Ya, sama-sama. Pergilah tidur, ini sudah malam." kata Diana meminta putri angkatnya pergi dari kamar.
Audrey mengiakan kata-kata Mamanya dan berpamitan. Ia berjalan perlahan meninggalkan kamar. Meninggalkan dua anak kembarnya dijaga oleh Diana. Audrey berjalan menuju kamarnya, ia melihat Sherlyn dengan membawa nampan berisi teko air dan gelas berjalan dari arah dapur.
"Oh, Rere ... " panggil Sherlyn.
"Lyn, apa yang kamu lakukan?" tanya Audrey.
"Aku mau ke kamar Mama Diana dan mau mengantarkan ini," kata Sherlyn.
"Oh, begitu. Pergilah. Aku juga mau ambil air minum," kata Audrey menunjukkan nampan yang dipegangnya.
"Ya, aku pergi dulu. Selamat malam, Re. Selama tidur," ucap Sherlyn tersenyum.
"Selamat malam juga untukmu. Selamat tidur," jawab Audrey.
Sherly lanjut berjalan menuju kamar tamu. Sedangkan Audrey berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum.
***
Di kamar. Audrey yang sudah berbaring, nyatanya tidak bisa tidur. Pikirannya terus memikikan niatannya. Ia melihat ponselnya, jam diponsel sudah menunjukkan waktu tengah malam. Yang artinya di negara asalnya masih pukul tujuh malam. Perbedaan waktunya lima jam.
Audrey memegang erat ponselnya. Ia mencoba untuk menghubungi Papanya. Panggilannya tersambung, tapi belum diterima oleh sang Papa. Audrey menunggu panggilannya dijawab, tapi ternyata tidak ada jawaban. Audrey mencoba lagi dan panggilan Audrey pun terjawab. Terdengar suara sang Papa di ujung panggilan.
"Hallo, Re. Ada apa, Nak?" tanya sang Papa.
"Papa sibuk?" tanya Audrey.
"Oh, maaf. Ponsel Papa tertinggal di ruang kerja. Apa ada sesuatu, Nak?" tanya sang Papa lagi.
Audrey pun meminta waktu pada Papanya untuk bicara. Tentu saja Papanya berkenan. Meski tidak tahu apa yang akan putrinya bicarakan.