
Audrey dan Hansen berada di ruang tamu dan berbincang. Sedangkan Cello dan Cella bermain di dalam kamar. Audrey meminta si kembar untuk tidak keluar kamar sebelum pembicaraannya dengam Hansen selesai.
"Kamu bilang apa? kamu membawa anak-anak ke rumah sakit untu menjalakan tes DNA?" sentak Audrey, yang langsung menatap tajam pada Hansen.
"Ya, itu aku lakukan karena aku punya alasan sendiri. Aku mau meresmikan hubungan kita dan membawamu, juga anak-anak pada orang tuaku. Tanpa hasil tes DNA mereka hanya akan berpikir aku membohongi mereka." jawab Hansen.
"Apa kamu gila? kamu melakukan itu tanpa izinku? aku ini Mama mereka. Dan lagi, siapa yang mau kamu bawa. Jangan berharap," kata Audrey kesal.
Hansen mendekatkan wajahnya ke wajah Audrey, "Apa kamu tidak mau bertanggung jawab atas apa yang terjadi semalam? Kamu lupa, kalau kamu sudah ... " kata-kata Hansen terhenti.
Audrey membekap mulut Hansen dengan tangannya. Audrey tidak ingin ucapan Hansen sampai terdengar oleh si kembar.
Hansen tersenyum, ia menjilat telapak tangan Audrey dan membuat Audrey tersentak kaget. Wajah Audrey memerah, ia merasa aneh karena tepalak tangannya dijilat Hansen.
Audrey memang tidak ingat apa-apa setelah bangun tidur. Pada saat ia mandi dan melihat banyaknya tanda merah di tubuhnya, ia pun sadar ia sudah melakukan sesuatu dengan Hansen. Bayangan kejadian semalam masih berputar di kepala Audrey.
"Aku memang sudah gila. Bisa-bisanya aku terjebak ke lubang yang sama dengan pria ini. Hahh ... " batin Audrey menghela napas panjang. Ia memijit pangkal hidungnya perlahan.
"Sudahlah. Jangan keras kepala dan terima saja apa yang akan aku berikan. Memang aku tidak ingat awal pertemuan kita dulu. Karena aku masih belum ingat apa-apa. Aku hanya berharap kamu tidak pergi lagi setelah malam kedua kita, Audrey." kata Hansen menatap lekat pada Audrey.
"Bagaimana kalau hal tidak diinginkan terjadi. Bagaiamana kalau orang tuamu ternyata tidak menyukai kami. Apa yang akan kamu katakan pada orang tuamu? Pada Cello dan Cella?" cecar Audrey mengerutkan dahinya.
Audrey berpikir, bisa saja kejadian buruk tejadi. Bukan hal tidak mungkin kalau orang tua Hansen menolak dan tak mau mengakui si kembar sebagai cucu. Dan Audrey sebagai Menantu.
Terlebih Hansen sudah akan ditunangkan dengan wanita cantik bernama Anastasia. Apa yang akan dipikiran Anastsia, saat tahu Hansen ternyata sudah memiliki anak?
"Dan lagi ... aku tidak mau menyerahkan si kembar. Jadi kalau orang tuamu menolakku, dan mau merebut si kembar dariku, maka kita hanya akan menjadi musuh, Hans." kata Audrey khawatir.
Audrey kembali membayangkan. Apa yang terjadi kalau hak asuh di kembar direbut dan Hansen menikah dengan Anastasia. Wanita jahat dan licik itu pasti akan menyakiti Cello dan Cella yang hanya anak tiri dan memperlakukan anak-anaknya dengan buruk.
Audrey menggelengkan kepalanya, "Tidak, tidak! apapun yang terjadi, aku tidak mau melepas anak-anakku. Kamu mengerti itu? Aku tidak akan biarkan Cello dan Cella hidup dengan Ibu tiri jahat bak penyihir itu." kata Audrey.
Hansen mengusap punggung Audrey, "Hentikam imajinasi konyolmu itu. Aku sejak tadi bicara, kamu sibuk melamun dan berpikir yang tidak-tidak." kata Hansen.
"Oh, maaf. Aku memang terlalu banyak berpikir. Apa yang kamu katakan? Bisakah kamu ulangi?" tanya Audrey.
"Aku memang tidak tahu isi pikiran Papaku. Tapi aku bisa jamin kalau Kakekku akan mendukungku. Satu-satunya orang yang bisa menentang Papaku di dunia ini hanya Kakekku seorang. Jadi kalau Papaku menolaknmu dan tidak merestui kita, kita minta bantuan saja pada Kakek. Lagipula aku tidak yakin Papaku menolakmu. Kamu itu tipe menantu idamannya. Aku cukup yakin," kata Hansen mejelaskan.
"Menantu idaman? memang ada ya yang seperti itu?" kata Audrey bingung.
"Begini ... Papaku itu punya kriteria sendiri soal memilih menantu. Dan jujur saja, Papaku suka seni sepertimu. Bukankah kamu yang merupakan kurator ini sudah lebih dari cukup untuk dikatakan menantu idaman? bisa jadi kalian justru akan akrab." kata Hansen.
Audrey masih tidak yakin dengan ucapan Hansen, tapi ia mencoba percaya. Memang sudah waktunya juga bagi Cello dan Cella mengenal keluarga dari Papanya.
***
Hansen datang ke Galeri Audrey dengan membawa buket bunga mawar. Sembaru menunggu kesayanganya, ia berkeliling melihat-lihat isi Galeri.
Beberapa pengunjung wanita yang datang menatap ke arah Hansen. Mereka berbisik-bisik, memuji ketampanan pria itu. Mereka terpukau oleh ketampanan seorang Hansen Lexius.
"Hans ... " panggil seseorang menghampiri Hansen. Seseoranh itu tak lain adalah Audrey.
Hansen tersenyum menatap Audrey dan memberikan bukeg bunga yang dipegangnya, "Hai, Bu Kurator. Apakah pekerjaan Anda sudah selesai?" tanya Hansen menggoda Audrey.
Audrey menerima buket bunga dari Hansen, "Ya, sudah. Kita langsung pergi saja menjemput anak-anak pulang sekolah." kata Audrey.
Audrey memeluk dan langsung merangkul lengan Hansen. Ia sengaja melakukan itu karena kurang suka dengan tatapan lekat beberapa wanita yang tertuju pada Hansen.
"Kenapa kamu seperti ini? ini kan bukan gayamu," tanya Hansen.
"Lain kali kalau datang langsung ke ruanganku saja. Jangan berkeliaran dengan tampang seperti itu," kata Audrey mengingatkan.
"Memangnya ada apa dengan tampangku? Kenapa juga kamu tiba-tiba kesal begini?" tanya Hansen tidak mengerti.
Audrey menghentikan langkahnya dan menatap Hansen. Ia mengatakan, jika wajah Hansen itu terlalu mencolok. Ia kesal kalau Hansen ditatap lekat wanita lain.
"Ah, begitu. Jadi kamu cemburu?" tanya Hansen tersenyum. Ia senang Audrey cemburu.
"Ce-ce ... apa? Aku tidak ... ah, sudahlah. Ayo, kita harus begegas pergi." kata Audrey yang langsung pergi meninggalkan Hansen.
Hansen menatap dengan tersenyum kepergian Audrey yang melangkah dengan terburu-buru. Ia senang, dengan ini ia tahu, bahwa sebenarnya Audrey tertarik dan memiliki rasa padanya.
"Lain di Hati, lain di bibir. Itu kamu, Audrey ... " gumam Hansen, lalu melangkah pergi untuk menyusul Audrey.
***
Di sekolah. Semua dibuat kaget dengan kedatangan Hansen dan Audrey. Selama ini, guru-guru tidak pernah melihat seperti apa Papa Cello dan Cella. Tapi hari itu semua bisa melihat pemandangan langka, yang mana ternyata Papa si kembar sangatlah tampan penuh pesona. Bahkan beberapa orang tua lain pun ikut menatap Hansen penuh rasa penasaran.
Cello dan Cello tampak bangga. Kini tidak akan ada lagi teman-teman nakalnya yang mengatai mereka anak-anak yang tidak punya Ayah.
"Papa kita keren sekali," bisik Cella.
"Apa benar itu Papa? aku masih belum percaya ini nyata," gumam Cello.
"Itu Papa kita, Cello. Papa kita!" kata Cella menyakinka saudara kembarya.
"Aku punya Papa keren dan tampan, ya." batin Cello senang dan tersenyum.
Cello dan Cella berteriak memanggil Hansen dan Audrey. Mereka senang, ini kali pertama Papa dan Mama mereka bersama-sama menjemput ke sekolah.