
Audrey bingung. Ia tidak tahu harus bicara mulai dari mana. Ia pun berpikir, sebaiknya bicara secukupnya dan akam menjelaskan secara langsung apabila Papa dan Mamanya berkenan datang mengunjunginya.
Tidak terdengar suara apa-apa dari putrinya, membuat sang Papa memanggil-manggil.
"Hallo, Re. Rere ... " panggil sang Papa.
Audrey tersentak kaget, "Oh, ya, Pa. Maaf ... Rere melamun." jawab Audrey.
"Melamunkan apa? dan apa yang akan kamu bicarakan dengan Papa? katakan saja, Papa akan dengar," kata sang Papa.
"Pa, Rere ingin minta maaf. Kalau Rere meminta Papa dan Mama datang ke sini, apa Papa dan Mama mau datang? ada sesuatu hal penting yang ingin Rere sampaikan secara langsung. Rere tidak bisa bicara lewat telepon, Pa." Jelas Audrey pada Papanya.
Papa Audrey diam tidak menjawab. Sepertinya sedang berpikir, apa yang sudah terjadi pada putrinya. Kenapa tiba-tiba ingin dikunjungi. Padahal sebelumnya sangat keras menolak kedatangan Papa dan Mamanya.
Meski begitu, Papanya tidak lagi mendesak putrinya bicara. Ia mengiakan permintaan putrinya dan berkata akan datang berkunjung dalam bulan tersebut. Karena ada banyak pekerjaan yang masih harus diselesaikan dan rapat yang tidak bisa diwakilkan. Setelah menyelesaika semua urusan, barulah Papa dan Mama Audrey berangkat.
"Tidak apa-apa, kan?" tanya sang Papa.
"Ya, Pa. Tidak apa-apa. Jangan memaksakan diri bekerja terlalu keraz, Pa. Rere tidak ingin Papa kelelahan dan sakit. Jangan hanya karena Rere, Papa jadi kesusahan." kata Audrey sedih. Ia tidak mau sampai Papa atau Mamanya kenapa-kenapa.
"Ya, ya. Papa akan camkan kata-katamu. Kenapa kamu belum tidur? di sana kan sudah tengah malam," tanya sang Papa.
"Ah, itu ... ya, aku tidak bisa tidur saja. Aku merindukan Papa. Hahaha ..." jawab Audrey menggoda Papanya.
Audrey pun menjelaskan alasannya tidak bisa tidur. Meski demikian, Papa Audrey meminta Audrey tetap mencoba tidur dan berhenti bermain ponsel. Tidak ingin membuat Papanya khawatir, Audrey menurut dan berpamitan. Panggilan pun berakhir. Audrey langsung meletakkan ponsel di nakas dan menghela napas panjang.
Ia berbaring, manatap langit-langit kamarnya. Audrey memikirkan, bagaimana nantinya ia menghadapi Papa dan Mamanya. Yang ia harapkan hanya satu, orang tuanya tidak membenci si kembar.
Saat memikirkan dua anaknya, Audrey memikirkan Hansen juga. Tidak ada yang tahu wajah Hansen selain Audrey. Sekalipun itu Sherlyn. Karena Sherlyn hanya tahu nama depan Hansen tanpa tahu nama keluarganya. Itu karena Audrey ingin menghindari kemungkinan terburuknya. Bisa saja Sherlyn melakukan sesuatu kalau sampai tau detail tetang Hansen.
***
Tepat di akhir bulan. Papa dan Mama Audrey datang. Mereka dijemput oleh Audrey dan Sherlyn di bandara. Sekian lama tak berjumpa sang Putri tercinta, membuat Papa dan Mama Audrey menangis bahagia bercampur rindu. Kini mereka bisa melihat kembali wajah cantik Audrey, putri kesayangan mereka.
"Sayangku, Rere ... " panggil Rose, Mama Audrey.
"Iya, Ma. Ini Rere. Apa Mama sehat?" tanya Audrey tersenyum cantik melihat Mamanya.
Rose mengusap wajah cantik Audrey. Bagi Rose, kecantikan putrinya tidak pernah luntur sedikitpun. Sekarang yang terlihat, Audrey justru semakin cantik dan anggun dibanding sebelumnya.
"Apa benar ini putri kita, sayang? lihatlah ... dia semakin cantik dan anggun." tanya Rose menatap Andrew.
"Benarkah? aku terlihat lebih baik ternyata. Haha ... " kata Audrey tersenyum.
Audrey senanga, saat Papa dan Mamanya memujinya. Sudah lama sejak terakhir kali ia dipuji. Meski begitu, ia tidak bisa menutupi rasa gugup dan gelisahnya. Membuatnya tidak fokus pada Papa dan Mamanya. Audrey memikirkan bagaimana reaksi Papa dan Mamanya, saat tahu ia sudah melahirkan dua anak, sebelum menikah.
Sherlyn yang tahu apa isi pikiran Audrey pun mengalihkan perhatian Andrew dan Rose. Sherlyn mengajak orang tua Audrey untuk pulang. Saat Sherlyn menatap Audrey sebagai tanpa persetujuan, Audrey pun menganggukkan kepala. Ia sudah siap dengan semua resiko yang ada. Untuk sekarang ia hanya perlu jujur pada Papa dan Mamanya, tanpa menyembunyikan rahasia apapun. Kecuali tentang siapa Ayah si kembar. Karena dalam pikiran Audrey, orang yang ingatannya hilang, akan sulit menerima kenyataan tentang ingatan terdahulu.
***
Setibanya di rumah Sherlyn. Andrew dan Rose disambut oleh Diana, yang sedang mengasuh Cello dan Cella di ruang tengah. Andrew dan Rose mengira Diana adalah Mama Sherlyn, dan dua anak yang diasuh Diana adalah anak sherlyn.
"Apa kamu sudah menikah, Lyn? kamu punya anak kembar?" tanya Rose penasaran.
"Oh, itu ... umh ... " gumam Sherlyn bingung. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Audrey yang sudah tidak bisa menahan diri lagi akhirnya mengakui. Dan memberitahu Papa juga Mamanya, jika kedua anak kembar yang tidur di box adalah anak-anaknya.
"Ma, itu bukan anak Sherlyn. Itu anakku, cucu Mama dan Papa." kata Audrey menatap Mamanya.
Rose terkejut. Ia melebarkan mata menatap Audrey. Rose pun bertanya, apa maksud dari ucapan Audrey. Audrey terdiam, ia bingung harus menjelaskan dari mana dulu.
Melihat suasana yang memanas, Diana pun turun tangan. Ia memperkenalkan diri, dan meminta rose dan Andrew duduk terlebih dahulu.
"Tolong dengarkan dulu penjelasan dari Rere, putri kalian. Kita hanya bisa menilai segala sesuatu setelah tahu apa yang terjadi, kan." kata Diana.
Diana mendudukkan Audrey, "Nah, sekarang kamu bisa ceritakan apa yang sebenarnya terjadi, Re. Jangan takut. Papa dan Mamamu perlu tahu, dan mereka pasti akan mengerti kalau ada penjelasan darimu." kata Diana. Meminta Audrey bercerita.
Audrey menunduk. Ia memejamkan matanya dan mengepalkan kedua tangannya. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskan napas perlahan.
"Ya, aku akan ceritakan." kata Audrey pelan.
Rose dan Andrew tampak kebingungan dan tegang. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, karena tidak ada yang memberitahu mereka tentang keadaan Audrey yang sesungguhnya. Yang mereka tahu, Audrey ingin menata hidup dan tinggal sementara di luar negeri karena kejadian tidak mengenakkan waktu itu. Di mana ia dijual oleh Alvaro demi membayar hutang berjudi Alvaro, Adik kembar Audrey.
Keduanya saling bertatapan. Mereka berpegangan tangan menunggu Audrey bercerita. Belum apa-apa saja tangan Rose sudah basah karena berkeringat. Tangan Andrew juga terasa dingin.
Audrey menatap Papa dan Mamanya, lalu mulai bercerita. Awal mula kejadiannya memang karena Alvaro. Audrey yang tidak tahu apa-apa diminta datang menjemput Alvaro yang mengaku mabuk disebuah kamar di Hotel. Kebiasaan Alvaro saat mabuk memang buruk, Alvaro sering merepotkan Audrey. Selalu minta dijemput pulang Audrey. Hal itu tentu saja hanya menjadi rahasia antara Audrey dan Alvaro tanpa diketahui siapapun, termasuk Rose dan Andrew.
Tidak hanya itu saja kebiasan buruknya, Alvaro sering kali meminjam uang pada Audrey dengan berbagai macam alasan. Sebelum kejadian itu, Alvaro hendak meminja uang, tapi Audrey tidak memberi karena jumlah uang yang dipinjam jauh lebih banya daripads jumlah uang yang sebelum-sebelumnya dipinjam. Karena itu juga keduanya sempat bertengkar dan beradu mulut.