
Hansen dan Audrey sedang berciuman. Mereka berada di kamar Hansen. Audrey sangat bersemangat, entah mengapa ia menjadi lebih mengebu dibandingkan Hansen.
"Tu-tunggu ... tidakkah kamu memastikan anak-anak dulu? kita lanjutkan nanti lagi," kata Hansen.
Audrey mengerutkan dahi, "Kenapa? kamu tidak mau melanjutkannya? hmm ... baiklah, aku akan tidur saja." kata Audrey berbalik dan mau pergi.
Hansen memeluk Audrey, "Bukan itu makasudku. Begini saja, kamu tunggulah di sini. Biar aku yang memeriksa anak-anak. Berika kartu kamarmu padaku," kata Hansen.
Audrey mengabaika Hansen. Ia berjalan menuju tempat tidur. Hansen mencari-cari kartu kamar Audrey, ia menggeledah dan meraba-raba saku celana yang dikenaka Audrey, tapi tidak menemukan apapun. Hansen pun bergerak, memungut jaket Audrey dan menggeledah saku jaket. Untungnya kartu kamar Audrey segera ditemukan. Hansen pun bergegas pergi, meninggalkan Audrey sendirian di kamarnya.
Audrey menatap kepergian Hansen, tidak lama ia berbaring. Ia memeluk bantal, membenamkan bantal itu ke wajahnya.
"Aromannya menempel di sini. Dia pakai paefum apa, ya?" gumam Audrey. Yang kemudian berguling-guling dengan memeluk bantal.
***
Tidak lama Hansen kembali setelah memastikan di kembar baik-baik saja. Ia masuk ke dalam kamarnya lagi dan melihat hal yang mengejutkan. Audrey sedang mengacak-acak isi lemarinya.
"Audrey, apa yang kamu lalukan?" tanya Hansen mendekati Audrey.
"Di mana gaun tidurku? di sini tidak ada," gumam Audrey.
"Jelas saja tidak ada. Ini kan kamarku. Kamu mau pakai kemejaku?" tanya Hansen.
Audrey menganggukkan kepala. Hansen mengambil kemeja putih miliknya dan memberikannya pada Audrey. Tanpa menunda, Audrey pun langsung membuka kausnya dihadapan Hansen. Membuat Hansen tercengang.
"A-apa yang kamu lakukan? ke-kenapa ganti di sini?" kata Hansen dengan wajah memerah karena malu.
Audrey menatap Hansen, "Memangnya kenapa? aku malas ke kamar mandi. Oh, ya. Aku harus buka pakaian dalamku dulu. Bisa bantu?" kata Audrey yang langsung memunggungi Hansen.
"A-apa? ini ... apa yang dibuka?" kata Hansen kaget. Ia sampai tidak bisa berkata-kata karena Audrey melakukan hal yang tidak biasa dihadapannya.
"Ini, pengaitnya. Ayo cepat ... " kata Audrey meraba-raba pengait pakaian dalamnya, tetapi tidak sampai.
Hansen ragu-ragu, tapi akhirya ia memegag pengait pakaian dalam Audrey. Hansen melihat punggung Audrey yang putih mulus tanpa goresan, membuatnya ingin menciumnya.
"Hans ... cepat." kata Audrey bersuara seksi.
Hansen semakin tidak terkendali. Ia membuka pengait pakaian dalam Audrey dan langsung mencium punggung Audrey.
"Mmhh ... Hans ... " gumam Audrey menggeliat merasa geli.
"Kamu cantik," bisik Hansen di telinga Audrey.
Hansen mencium leher Audrey, tangannya mulai berkelana mencari tujuan. Audrey merasa aneh, terus saja bergumam dan melengkuh. Rasany tubuhnya geli seperti digelitik.
Audrey berbalik, ia manatap Hansen. Tangan Audrey meraba dada bidang Hansen yang masih mengenakan kemeja. Audrey melepas satu per satu kancing kemeja. Hansen. Tidak mau hanya diam, Hansen pun menciumi bahu dan leher Audrey, ia menyibakkan rambut hitam panjang Audrey ke sisi lain, agar ia bisa leluasa.
"Katakan padaku. Apa dulu kita begini?" bisik Hansen.
Audrey menggeleng, "Dulu kamu terlalu bersemangat. Dan itu membuatku sakit, karena itu kali pertama untukku." jawab Audrey.
Audrey tersenyum, "Ya, pertama kali. Kamulah pria pertamaku, Hans. Dan aku tidak pernah berhubungan dengan pria lain selain kamu." ucap Audrey dengan suara serak.
"Lalu, anak-anak? Siapa Papa mereka?" tanya Hansen.
Audrey memeluk Hansen, "Bodoh! Tentu saja mereka anakmu." kata Audrey.
Dalam keadaan mabuk, Audrey dengan mudahnya mengungkap semuanya tanpa ragu. Pada akhirny ia meberitahu Hansen dengan mulutnya sendiri, jika Cello dan Cella adalah anak Hansen.
Mendengar jawaban Audrey, Hansen pun syok. Ia memang merasa adanya keterikatan dengan si kembar, tapi tidak menyangka juga kalau si kembar adalah anak-anaknya.
"Kenepa kamu tidak bilang padaku sejak awal? kalau mereka anakku?" tanya Hansen lagi.
Audrey menatap Hansen, "Aku sudah mendatangimu, tapi kamu lupa padaku. Akhirya aku pergi," kata Audrey.
Deg ... Hansen semakin terkejut. Ternyata dugaannya benar. Saat tujuh tahun lalu Audrey datang menemuinya ke rumah sakit, bukan tanpa alasan. Audrey ingin menyampaikan kabar adanya anak-anak lucu itu padanya.
"Ah, sial! harusnya aku mencegahnya pergi saat itu," gumam Hansen merasa bersalah.
Hansen memeluk Audrey, "Maafkan aku. Harusnya aku menahanmu saat itu. Aku memang bodoh," kata Hansen.
Audrey menepuk punggung Hansen, "Apa kamu tahu? aku terkadang memikirkanmu. Bayangamu malam itu memenuhi seluruh isi kepalaku. Wajah tampanmu, rambutmu yang berantakan. Dada bidangmu, dan aromamu ... semua masih aku ingat jelas" kata Audrey.
Pelukan terlepas, Hansen menatap Audrey dan mengusap wajah cantik Audrey. Ia mencium kening, turun ke hidung, dan dahu Audrey, lalu mengecup kilas Bibir Audrey.
"Sama sepertimu. Aku juga sering memimpikammu. Suaramu, bibirmu dan tahi lalat ini (menyentuh tahi lalat di dagu Audrey) sayang sekali wajahmy tidak terlihat. Tapi sekarang, aku dengan jelas melihatnya. Semua bagian tubuhmu, aku melihatnya." kata Hansen.
Hansen mendekatkan wajahnya ke wajah Audrey dan mencium lembut bibir Audrey. Kedua tangan Audrey mengalung ke leher Hansen, agar ciuman mereka semakin dalam.
Puas berciuman, Hasen mulai menciumi bagian lain dari wajah Audrey. Tangannya bahkan sudah melepaskan celana dan dalaman yang dikenakan Audrey. Ciuman Hansen semakin turun, turun dan turun sampai ke perut Audrey.
"Hhh ... Hans ... " kata Audrey mengusap kasar kepala Hansen.
Puas menciumi bagian bawah dan meninggalkan jejak ciuman, Hansen kembai menciumi bagian atas. Ia membalik tubuh Audrey dan menciumi punggung sampai turun ke pinggang Audrey. Di sana Hansen juga meninggalkan jejak ciumannya.
Sementara itu Audrey terus mengerang dengan menggeliatkan tubuh seksinya. Membuat Hansen semakin diburu oleh keinginan segera memiliki Audrey.
"Apa aku boleh melakukannya?" tanya Hansen.
Audrey menganggukkan kepala, "Ya, cepat lalukan. Cepat, Hans ..." pinta Audrey. Sepertinya Audrey juga sudah tidak tahan lagi menahan keinginanya.
Mendengar permintaan yang tidak bisa ditolak, Hansen segera menyerang Audrey. Kali ini bermain lembut, ia tidak ingin menyakiti Audrey. Mereka berdua pada akhirnya kembali mengulang malam panas. Hanya saja kali ini berbeda. Mereka melakukan di tempat berbeda. Jika malam itu Hansen yang mabuk, kali ini Audrey lah yang mabuk. Jika malam itu Audrey yang lebih diam, kali ini Audrey lebih liar sampai-sampai Hansen dibuatnya tidak berdaya.
***
Pukul tiga dini hari. Hansen terbangun dan tidak bisa tidur lagi. Ia melihat Audrey lelap tertidur di sampingnya. Hansen tersenyum, ia menyibakkan rambut yang nenutupi wajah Audrey ke belakang telinga.
Hansen teringat dengan si kembar. Ia segera bangun dari posisi berbaring dan berdiri, lalu pergi. Hansen ingin melihat si kembar.