
Anastasia merasa bangga, ia melihat Audrey tidak mau lavi berebut dengannya. Baru saja ia tersenyum senang, ia mendengar seseorang nenawar dengan harga lima kali lipat dari harga penawaran Anastasia. Dan tentu saja itu mengeutkan semua tamu undangan. Seseorang itu tidak lain adalah Hansen.
Audrey menatap Hansen, "Gila! dia membelinya seharga sebuah mansion?" batin Audrey heran tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Audrey sebenarnya bukan tidak mampu membeli lukisan itu. Tapi ia perlu memperhitungkan pengeluaran dan pendapatan yang ia terima. Meski ia juga berasal dari keluarga berada yang juga mempunyai reputasi bagus, ia tidak mau menghamburkan uang terlalu berlebihan. Baginya mendapatkan tiga lukisan saja sudah membuatnya puas.
Anastasia yang kesal ingin menawar lagi. Tapi tiba-tiba seseorang datang menghampirinya. Seseorang itu adalah asisten pribadi Papa Anastasia. Asisten itu berbisik, jika Anastasia harus menerima panggilan dari sang Papa detik itu juga karena ads hal penting yang mau dibicarakan. Mau tak mau Anastasia pun pergi. Ia harus menelepon Papanya.
Setelah barang terakhir terjual, acara lelang pun disudahi. Pembawa acara mengingatka para tamu untuk kembali datang esok hari sampai lusa karena acara lelang masih tersisa dua hari lagi. Juga mengucapkan terima kasih untuk partisipasi para tamu sekalian yang hadir.
***
Hansen berjalan beriringan dengan Hansen. Mereka akan kembali ke kamar mereka masing-masing. Di perjalanan kembali ke kamar Audrey sedikit mengeluh tentang ia yang tak bisa memiliki lukisan yang terakhir terjual.
"Sayang sekali sebenarnya. Meski begitu aku tidak boleh gegabah dan hanyut dalam keinginan pribadiku. Besokkan masih ada lagi, lusa juga." kata Audrey.
"Kamu sangat suka lukisan itu?" tanya Hansen.
"Ya, itu kan lukisan dari pelukis yang aku idolakan. Ia menyelesaikan lukisan itu tepat sebelum ia meninggal, sekaligus menjadi lukisan terakhir." jawab Audrey.
"Kalau begitu, kamu mau melakukan penawaran denganku? Aku akan biarkan kamu memilikinya dengan harga setengahnya kalau kamu mau." kata Hansen.
Audrey melebarkan mata, "Kamu serius? mau, mau ... aku mau membelinya." jawab Audrey langsung.
"Aku akan berikan diskon tujuh puluh lima persen, jika kamu mau berkencan denganku. Bagaimana?" tanya Hansen berbisik.
Audrey memukul tangan Hansen. Ia kesal merasa dipermainkan. Audrey pun mengomel dan mengerutu sepanjang jalan. Ia merasa kecewa.
"Mimpi saja sana. Siapa juga yang mau berkencan denganmu." gumam Audrey.
Keduanya sampai di depan pintu kamar masing-masing. Hansen kembali merayu Audrey, mengatakan kalau penawarannya akan tetap berlaku tanpa batas waktu. Hansen harap Audrey mau memikirkan penawarannya.
Audrey menatap Hansen, meminta Hansen menyimpan saja lukisan itu di kamar Hansen. Karena ia tidak berniat berkencan dengan Hansen.
"Aku tidak mau berurusan dengan wanita jahat yang dikatakan Anak perempuanku. Setelah melihatnya sendiri, aku tahu kenapa Anakku menyebutnya begitu." kata Audrey.
"Hansen, ayo kita bicara!" kata seseorang yang tiba-tiba datang menghampiri Hansen.
Seseorang itu tak lain adalah Anastasia. Melihat pria pujaannya dengan Audrey, membuat Anastasia kesal. Anastasia sangat tidak menyukai Audrey, bahkan ia menuduh Audrey yang tidak-tidak.
"Kamu ... " kata Anastasia menatap Audrey.
"Kamu kenapa ada di sini. Ini kan kamar tempat calon tunanganku menginap. Kamu itu mau menjual dirimu, ya?" kata Anastasia.
Audrey menatap kesal, "Jaga ucapanmu! Kamu kira hanya calon tunanganmu yang mampu menyewa suite room? Hahh ... (menghela napas) aku tidak tahu, ya. Kamu ini pura-pura bodoh atau memang sungguhan bodoh. Di mana-mana sekarang, banyak orang memiliki uang dan kekuasaan, tapi orang-orang itu tidak sepicik kamu. Mengerti? Dan, ya ... aku tidak kekueanga uang sampai harus menjual tubuh." kata Audrey.
Anastasia kaget, ia sampai melongo melihat apa yang terlihat oleh matanya. Ia merasa malu karena sepertinya sudah merendahkan orang yang salah, tapi ia berusaha untuk tetap bersikap biasa-biasa saja.
Hansen tidak menghiraukan Anastsia. Ia juga masuk ke dalam kamarnya dan buru-buru menutup pintu sebelum ketahuan Anastasia. Dalam kamar, Hansen tertawa. Ia puas melihat Anastasia dipermalukan oleh Audrey.
Tidak lama dari luar pintu kamar Hansen diketuk-ketuk. Ternyata Audrey nenyadari Hansen yang buru-buru masuk ke dalam kamar. Anastasia meminta Hansen keluar kamar karena mau bicara. Karena malas mendengar keributan, Hansen pergi menuju kamar mandi. Ia mau berendam untuk menenangkan pikirannya
***
Di kamar Audrey. Audrey selesai mandi da berganti pakaian. Ia melihat kedua anaknya sudah tidur. Karena ia harus menghadiri acara, ia tidak bisa membacakan cerita tidur pada anak-anaknya. Untung saja Cello dan Cella mau mengerti. Itulah yang membuat Audrey bangga dan semakin sayang pada mereka.
Ponsel Audrey di atas nakas berdering ia mendapatkan panggilan dari nomor asing tidak dikenal. Karena malas, Audrey pun mengabaikannya. Setelah beberapa saat diam, ponselnya kembali berdering. Audrey segera membawa ponselny keluar kamar dan menerima panggilan itu.
"Hallo ... " jawab Audrey.
"Kamu sedang apa? mau minum bersama di bar?" tawar seseorang yang suaranya tidak asing.
"Hansen. Kamu ... bagaimana bisa kamu tahu nomor ponselku?" tanya Audrey melebarkan mata.
"Apa yang tidak bisa aku dapatkan? semua bisa dilakukan, asal ada uang, kan. " jawab Hansen.
"Jangan katakan kamu membeli informasi terkait denganku. Jawab?" sentak Audrey.
Audrey mengerutkan dahi, "Sejauh mana dia tahu tentangku?" batin Audrey.
"Aku di depan pintu. Keluarlah dan kita minum bersama," kata Hansen yang langsung menutup panggilan begitu saja.
"Hallo ... ha ... ahhh, dasar pria gila!" kata Audrey kesal.
Audrey jadi penasaran. Sejauh mana Hansen tahu tentangnya. Dan apa yang sebenarnya Hansen inginkan dengan informasi tentangny yang sudah didapatkannya. Karena itu ia langsung buru-budu ganti pakaian, mengenakan jaket dan pergi.
***
Di depan pintu kamarnya Hansen berdiri. Ia tersenyum sambil menunduk. Ia berbohong tentang tahu semua tentang Audrey, karena ia belum memeriksa dokumen yang diberikan Asistsnny secara keseluruhan. Hansen hanya menyalin nomor ponselnya saja ke dalam ponselnya.
"Dia akan keluar, kan? melihat kepribadiannya, dia pasti akan keluar dan langsung menginterogasiku macam-macam. Dia pasti aka mengomel dan bertanya, Apa maksudmu?, Apa yang kamu rencanakan, Apa yang kamu inginkan? hahaha ... " Batin Hansen tertawa setelah menirukan gaya Audrey.
Benar saja dugaan Hansen. Tidak beberapa lama Audrey keluar kamar. Baru saja keluar, Audrey sudah mengomel. Ie berjalan mendekati Hansen dan mencecar Hansen dengan pertanyaan-pertanyaan yang sebelumnya sudah Hansen perkirakan.
"Apa maksud ucapanmu? bagaimana bisa kamu mencaei informasi tentangku? apa yang kamu rencanakan, Hans? jawab, apa yang kamu inginkan dengan menggali informasi tentangku?" cecar Audrey memojokkan Hansen ke dinding.
Hansen tersenyum, "Aku mau memilikimu," bisik Hansen yang mencium pipi Audrey dan berjalan pergi.