
Hansen, Audrey dan si kembar sudah sampai di rumah orang tua Audrey. Mereka turun dari dalam mobil dan berdiri menatap rumah mewah di hadapan mereka.
"Wah, bagus sekali. Apa ini rumah Kakek dan Nenenk Shawn?" tanya Cello.
"Ya, ini rumah Kakek dan Nenek kalian. Juga rumah Mama dulu sebelum kalian lahir di dunia ini. Apa kalian suka? mau masuk dan menyapa Nenek juga Kakek? kita akan beri kejutan," kata Audrey menatap Cello dan Cella.
"Mau, mau ... " jawab Cella.
"Mau, Ma." jawab Cello.
Audrey menatap Hansen, "Bagaimana denganmu? mau ikut masuk dan memperkenalkan diri atau besok saja?" tanya Audrey.
"Apa boleh aku mampir sekarang? besok giliranmu ke rumahku." jawab Hansen.
"Baiklah kalau begitu. Ayo, kita masuk." ajak Audrey.
"Anak-anak, ayo masuk dan menyapa Nenek juga Kakek kalian." ajak Hansen.
Hansen menggendeng Cello, Audrey menggandeng Cella. Mereka berjalan perlahan menuju pintu rumah utama.
Sesungguhnya Hansen gugup dan tegang, tapi ia berusaha tenang. Ia berharap kedatangannya disambut dan keberadaannya diakui. Ia akan berusaha menyakinkan kedua orang tua Audrey, jika ia serius dan sungguh-sungguh ingin mejaga dan melindungi Audrey juga si kembar.
Tak hanya Hansen, Audrey pun juga gugup. Ia menekan bell rumah dengan tangan gemetar. Ia berharap Papa dan Mamanya bisa menyambut kedatangan Hansen dan tidak terlalu kaget saat tahu siapa Hansen.
Bell rumah ditekan dua kali oleh Audrey. Tidak beberapa lama pintu rumah terbuka dan seseorang muncul, yang ternyata adalah kepala pelayan rumah.
Kepala pelayan terkejut, saat melihat kedatangan Nona kesayangannya. Ia pun langsung memeluk dan menangis tersedu-sedu.
"Bibi sehat?" tanya Audrey mengusap punggung Bibi pelayan.
Pelukan terlepas. Bibi pelayan menjawab, jika ia sehat-sehat dan selalu menunggu kepulangam Audrey.
"Nona sehat? eh ... siapa dua anak lucu dan Tuan muda yang bersama Anda?" tanya Bibi pelayan, menatap si kembar dan Hansen.
Audrey berbisik. Ia memberitahu, jika Hansen adalah calon suaminya dan anak-anak itu adalah anak-anaknya dengan Hansen. Bibi pelayan kaget, ia bingung dengan jawaban Audrey.
"Apa maksudnya calon suami, tapi Ayah dari anak-anak Nona? Bibi tidak mengerti," kata Bibi pelayan dengan dahi berkerut.
"Aduh, Bibi. Begitu saja tidak mengerti. Ya, intinya dia itu Ayah dari dua anak ini dan kami akan menikah. Ok," jelas Audrey.
"Ah, iya. Silakan masuk. Saya akan panggilkan Tuan dan Nyonya." kata Bibi pelayan mempersilakan Audrey, Hansen dan si kembar masuk.
"Apa Papa pergi bekerja, Bi?" tanya Audrey, berjalan masuk dalam rumah.
"Beliau ada di ruang kerja," jawab Bibi pelayan.
Hansen mengikuti Audrey dan Anak-anaknya masuk ke dalam rumah. Begitu kakinya menginjak ruang tengah, Mata Hansen terpaku pada sebuah foto berukuran raksasa yang dipajang di ruang tengah kediaman.
"Hah ... itu kan ... " gumam Hansen.
Audrey menatap Hansen, "Ada apa?" tanya Audrey penasaran, kenapa Hansen terlihat kaget.
Hansen berpikir. Dahinya berkerut. Ia menatap Audrey, lalu bertanya, apakah Audrey putri Andrew Shawn?
"Paman Andrew, beliau Papamu?" tanya Hansen.
Audrey kaget, "Kamu mengenal Papaku? bagaimana bisa?" tanya Audrey.
"Ah, itu ... aku ... " belum sampai kata-kata Hansen selesai terucap. Rose muncul dan bertanya pada Bibi pelayan siapa yang datang.
"Sayang, keluarlah. Lihat siapa yang datang." Kata Rose.
Cella dan Cello langsung berlari memeluk Nenek mereka. Rose memeluk erat kedua cucunya, ia berkata sangat merindukan kedua cucu kesayangangannya. Pelukam terlepas, Rose mencium kening si kembar bergantian.
Andrew keluar dari ruang kerjanya. Ia bertanya ada apa, dan siapa yang datang pada istrinya. Andrew terkejut lalu tersenyum senang melihat cucu-cucunya datang. Andrew memeluk kedua cucunya bergantian.
Andrew menatap Audrey, lalu menatap Hansen. Andrew pun menyapa Hansen dan bertanya, kenapa bisa tahu rumahnya?
"Kamu kan pemuda yang waktu itu. Bagaimana kamu tahu tempat tinggalku?" tanya Andrew menatap Hansen.
"Eh, aku kira aku salah lihat. Kamu Hansen, kan?" tanya Rose.
"Hallo, Paman, Bibi. Kalian berdua sehat?" tanya Hansen tersenyum.
"Ya, kami sehat. Kamu bagaimana?" Tanya Rose menghampiri Hansen.
"Saya juga sehat," jawab Hansen.
Audrey bingung. Ia tidak mengerti situasi yang terjadi. Ia pun bersuara, lalu bertanya.
"Tu-tunggu, tunggu ... ini ada apa sebenarnya? Papa dan Mama kenal Hansen?" tanya Audrey menatap Papa dan Mamanya bergantian.
"Kamu sendiri, juga kenal Hansen?" Tanya balik Andrew.
"Tentu saja aku kenal. Dia kan datang memang ingin bertemu Papa dan Mama karena ada urusan," jawab Audrey.
"Urusan apa? tanya Andrew penasaran.
Rose mempersilakan Hansen duduk. Ia meminta pelayan membuat minuman untuk Audrey, Hansen dan si kembar. Andrew dan Rose menyusul duduk. Mereka duduk berdampingan di hadapan Audrey dan Hansen. Si kembar Cello dan Cella duduk di sisi Andrew dan Rose.
"Jelaskan dulu padaku, Pa, Ma. Bagaimana Papa dan Mama kenal Hansen?" tanya Audrey sangat penasaran.
"Oh, soal itu. Hansen menolong Papamu saat tiba-tiba pingsan di jalan dan membawa Papamu.ke rumah sakit. Boleh dikatakan Hansen menyelamatkan nyawa Papamu, Re." jawab Rose.
"Itu berlebihan, Bibi. Saya hanya kebetulan lewat dan beruntung membawa mobil. Itu saja," jawab Hansen.
"Terima kasih, Hans. Aku akan selalu berterima kasih padamu dan berutang budi." kata Andrew.
"Tidak, Paman. Itu bukan apa-apa, sungguh ..." jawab Hansen.
"Jangan seperti itu. Berkatmu aku masih sehat sampai sekarang, kan. Aku bisa melihat cucu-cucuku," kata Andrew.
Audrey terkejut mendengar cerita Papa dan Mamanya, sekaligus bersyukur. Berkat Hansen yang menolong Papanya tepat waktu, sampai sekarang Papanya sehat. Audrey tidak tahu akan berkata apa, yang jelas ia berterima kasih pada Hansen.
"Putriku bilang tadi, kamu ada urusan dengan kami. Ada apa?" tanya Andrew.
"Pa ... " kata-kata Audrey terputus karena Hansen menyela.
"Saya datang sebenarnya untuk memperkenalkan diri secara resmi kepada orang tua Audrey, tapi saya tidak menyangka bahwa itu Anda berdua. Paman dan Bibi yang pernah saya temui." jawab Hansen tegang.
"Maksudmu? coba jelaskan singkatnya. Jangan buat orang tua ini banyak berpikir, Nak." jawab Amdrew.
Saat Hansen ingin menjawab. Audrey meminta Hansen diam dulu. Audrey ingin menjelaskan agar Papa dan Mamanya mengerti maksud kedatangan Hansen.
Audrey pun menjelaskan pada Andrew dan Rose. Jika sebenarnya, Hansen adalah Ayah kandung Cello dan Cella. Audrey mengaku, ia telah berbohong dengan mengaku tidak tahu siapa orang yang sudah menghabiskan malam dengannya. Ia pun menjelaskan alasannya, jika itu karena Hansen kecelakaan dan hilang ingatan. Saat ditemui di rumah sakit, ternyata Hansen tidak mengenali Audrey.
Audrey mau tak mau harus pergi. Karena ia juga tidak bisa membung janin yang tidak berdosa. Ia meminta maaf pada Papa dan Mamanya karena tidak bicara jujur.