
Nicholas baru saja tiba dengan menumpangi mobil. Ia sedang memarkirkan mobil. Tidak lama ia turun dan berjalan menuju Caffenya. Ia mendapat pesanan kopi yang harus diambil pagi. Jadi ia harus lebih awal datang untuk mempersiapkan semuanya.
Nicholas melihat layar ponselnya. Ia memeriksa pesan yang dikirim Sherlyn sebelum pergi. Karena sudah janji pada pelanggan, Nicholas terpaksa membiarkan Sherlyn pergi sendiri. Dan ia berencana menyusul setelah pesanan kopi diambil.
"Nico ... " panggil seseorang yang berlari tergesa-gesa ke arah Nicholas.
Nicholas berbalik, "Ana, bukannya kamu mau pulang?" tanya Nichoals menghentikan langkah menatap Anastasia.
Anastasia menggelengkan kepala, "Tidak mau. Aku mau di sini." jawab Anastasia.
"Apa maksdumu mau di sini? Hari ini Caffe tidak buka, tapi aku punya ada pesanan. Kalau kamu mau mampir, masuklah." Kata Nicholas. Ia melanjutkan berjalan menuju pintu Caffe.
Anastasia mengikuti Nicholas masuk ke dalam Caffe. Karena ia hanya akan menyiapkan pesanan pelanggan yang akan diambil, ia tidak membalik papan nama yang menggantung di pintu. Dan mebiarkan tirai tetap tertutup.
"Kamu mau ke mana? kepa tidak buka?" tanya Anastasia.
Nicholas bertanya, apakah Anastasia tidak dapat kabar tentang hari pernikahan Audrey dan Hansen? Ia mengatakan, ia tutup karena akan pergi setelah menyiapkan pesanan.
Anastasia menganggukkan kepala, ia menjawab kalau ia tahu tentang itu. Dan Anastasia mengajak Nicholas pergi bersama.
"Mau pergi bersamaku?" tanya Anastasia.
"Kenapa kamu harus mengajakku?" tanya Nicholas.
Anastasia mengerutkan dahi, "Dasar tidak peka. Aku mengajakmu ya karena ingin menempel padamu. Huh, menyebalkan!" kata Anastasia melipat dua tangan ke dada sembari menggerutu.
Nicholas mengerutkan dahi menatap Anastasia, "Wanita ini kenapa? apa dia ada masalah atau sudah hilang akal karena tidak bisa mendapatkan Hansen?" batin Nicholas.
Nicholas pun kembali fokus membuat pesanan kopi. Anastasia memalingkan pandangan menatap Nicholas. Ia pemasaran apa yang dilakukan pria itu sampai tidak bersuara.
Melihat Nicholas sibuk, Anastasia pun mengajukan diri membantu. Ia bertanya pesanan kopinya ada berapa gelas? Dan ternyata pesananya banyak, dua puluh lima gelas yang akan diambil sekitar satu jam lagi.
Nicholas tidak menolak bantuan Anastasia. Dan Anastasia membantunya tanpa keluhan ini dan itu. Bahkan langsung tahu setelah diberi tahu sekali. Kedatangan Anastasia ternyata sangat membantu Nicholas.
"Awas, hati-hati panas." kata Nicholas memegang tangan Anastasia agar tidak menyiku kopi yang ada di meja.
"Ah, maaf, maaf. Hampir saja terjadi masalah karenaku. Akan ku perhatikan," kata Anatsasia.
Nicholas tersenyum, "Bukan masalah kopinya, tapi aku takut saat terguling tumbah kena tangan dan kakimu. Kulitmu bisa melepuh. Tuan putri cantik kan harus menjaga diri," kata Nicholas.
Deg ... Anastasia terdiam. Wajahnya pun memerah. Entah mengapa ia berdebar karena perkataan Nicholas.
"Apa ini? kenapa perkataan pria ini membuatku berdebar?" batin Anastasia.
Anastasia yang malu pun langsung berbalik ingin pergi. Pada saat yang sama kakinya tiba-tiba tidak imbang dan Anastasia pun hampir jatuh. Untungnya Nicholas segera membantu, ia memeluk pinggang, lalu manarik tangan Anastasia ke dalam pelukannya.
Anastasia terkejut sampai tidak bisa berkata-kata. Ia takut sekaligus bersyukur. Jantungnya bergemuruh hebat.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Nicholas melepas pelukan. Ia menatap Anastasia.
"Ti-tidak apa-apa. Terima kasih sudah membantuku," kata Anastasia malu-malu.
Nicholas menunduk, "Pakai ini dulu. Langkahmu tidak nyaman karena kamu pakai sepatu dengan hak tinggi. Ini dapur, bukan karpet merah, Nona." kata Nicholas.
Anastasia langsung melepas sepatunya dan mengenakan sandal dari Nicholas. Ia pun merasa jadi sangat pendek dan merasa tidak percaya diri.
"Kenapa? sepertinya kamu tidak suka pakai sandalku," kata Nicholas.
"Aku kan jadi kelihatan sangat pendek," gumam Anastasia.
Nicholas tersenyum mengusap kepala Anastasia, "Memangnya kenapa kalau pendek. Kamu tetap cantik," sahut Nicholas memuji. Ia ingin Anastasia senang dan tidak murung lagi.
Wajah Anastasia kembali memerah, "Ah, dasar! jangan terus berkata aneh-aneh. Aku kan jadi malu. Menyebalkan," kata Anastasia yang lansung memalingkan pandangan.
Nicholas merasa aneh. Ia senang juga canggung. Ia tidak pernah dekat ataupun akrab dengan wanita lain selain Sherlyn yang sudah dikenalnya lama, dan juga Audrey yang sudah dikenalnya selama tujuh tahun. Meski kenalpun ia harus bersikap hati-hati karena tidak ingin perkataan atau tindakannya menyakiti hati Sherlyn atau Audrey.
Berbeda dengan saat bertemu Anastasia. Ia bisa langsung menjawab tanpa ragu, sampai mengatakan perkataam sedikit pedas pada Anastasia. Yang bahkan tidak pernah bisa ia katakan pada Sherlyn ataupun Audrey. Anehnya, Nicholas justru merasa puas dan Anastasia pun tampak biasa saja, meski mengomel, tapi tidak kelihatan marah.
***
Alvaro sedang minum wine sendirian di kamarnya. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamarnya. Alvaro berdiri dari duduknya di sofa dan berjalan ke pintu untuk melihat siapa yang datang ke kamarnya malam-malam.
"Siapa?" tanya Alvaro membuka pintu.
Alvaro kaget, saat tahu yang mengetuk pintu kamarnya adalah Sherlyn.
"Sherlyn?" gumam Alvaro.
"Hai, Al. Kamu belum tidur, kan? Hm ... aku tidak mengantuk dan butuh teman bicara. Mau mengobrol denganku?" tanya Sherlyn yang memang terlihat bosan.
"A-apa tidak apa-apa kalau kita mengobrolnya di kamarku?" tanya Alvaro ragu.
"Oh, tentu saja tidak apa-apa. Kalau kamu mengizinkan aku masuk," jawab Sherlyn.
Alvaro lantas mempersilakan Sherlyn masuk ke dalam kamarnya. Sherlyn melihat Alvaro sedang minum wine, ia pun tersenyum karena ia juga sedang minum wine.
"Wah, ternyata kamu juga sedang minum, ya. Tadi aku juga minum bersama Audrey. Karena dia itu tidak tahan minum, dia pamitan tidur. Ah ... maaf, kalau aku menganggumu." kata Sherlyn.
Alavaro berdiri tepat di belakang Sherlyn, "Apa kamu mau minum lagi?" tanya Alvari menawari.
Sherlyn berbalik, ia menatap Alvaro dan menganggukkan kepala. Alvaro meminta Sherlyn menunggu, ia akan keluar mengambil gelas dan kembali lagi ke kamar. Setelah berkata seperti itu, Alvaro pun langsung pergi dari kamar.
Sherlyn meraba dadanya yang bergemuruh, "Gilaaaa! Dia tampan sekali," batin Sherlyn senang.
Sherlyn duduk di sofa menunggu Alvaro. Dan tidak lama Alvaro masuk dalam kamar membawa gelas dan potongan buah. Alvaro berjalan mendekati sofa, meletakkan gelas dan piring berisi potongan buah ke atas meja.
Alvaro menuang wine ke dalam gelas, lalu memberikan gelas pada Sherlyn. Ia juga menuang wine untuk dirinya sendiri. Alvaro duduk di samping Sherlyn, mereka berdua bersulang dan minum bersama.
Sherlyn ingin Alvaro menceritakan pengalamannya selama tinggal di luar negeri. Sebenarnya itu hanya alasan, ia ingin pria tampan di sampingnya itu lebih banyak bersuara. Entah sejak kapan, Sherlyn tak hanya kagum pada wajah tampan Alvaro, tetapi juga menyukai suara pria itu.