
Audrey terkejut. Ia pun berjalan cepat menyusul Hansen yang pergi begitu saja mendahuluinya, padahal ia masih belum mendengar jawaban apa-apa.
Keduanya masuk ke dalam lift bersama-sama. Mereka turun ke lantai bawah. Hansen dan Audrey saling diam. Audrey sibuk dengan ponselnya. Ia membalas pesan Sherlyn dan Nicholas.
Tidak lama pintu lift terbuka. Ada beberapa orang masuk dan mereka juga ingin turun. Karena salah seorang hendak menabrak Audrey, dengan cepat Hansen menukar posisi Audrey dengannya. Audrey terkejut, karena ia dipojokkan ke dinding lift dan didekap Hansen.
Keduanya saling memandang. Fokus Audrey bukan lagi pada ponsel, tapi pada pria dihadapannya. Hansen tersenyum tampan, ia mengusap wajah Audrey yang cantik dengan lembut. Jantung Audrey berdegup kencang. Begitu juga Hansen yang berdebar sampai wajahnya memerah.
Pintu liff terbuka. Audrey dan Hansen sampai dilantai yang mereka tuju. Hansen menggandeng tangan Audrey keluar dari lift. Mereka berjalan bersama menuju bar.
***
Di bar. Hansen dan Audrey memesan minuman yang berbeda. Audrey minta dibuatkan minuman dengan kadar alkohol rendah. Karena ia punya dua anak yang harus diurus, ia tidak boleh terlalu mabuk.
Hansen meminum minuman dengan kadar alkohol tinggi. Berbeda dengan Audrey, Hansen malah ingin puas minum sampai mabuk.
"Apa kamu baik-baik saja, minum itu?" tanya Audrey khawatir.
"Ya, kalau nanti aku mabuk, mohon bantuannya, Bu Kurator." kata Hansen tersenyum.
Audrey tersenyum, "Enak saja. Aku tidak mau membantumu. Aku akan minta bantuan salah satu pekerja di sini untuk membawamu kembali ke kamarmu. Oh ... kamu belum jawab pertanyaanku yang tadi." kata Audrey berharap mendapatkan jawaban.
Hansen bercerita, jika ia memang meminta Asistennya mencari ingormasi terkait Audrey. Itu ia lakukan hanya untuk memastikan saja, apakah Audrey sebelumnya memang ads hubungan dengannya atau tidak sebelumnya.
"Lalu, apa yang kamu temukan?" tanya Audrey. Ia sudah siap kalau dengan semua keadaan.
"Entahlah. Aku hanya menyalin nomor ponselmu dan melihat pekerjaanmu saja. Sisanya belum aku baca," jawab Hansen.
Audrey minum minumanya, ia merasa lega karena itu artinya Hansen belum tahu banyak tentangnya.
"Apa ada yang ingin kamu pastikan? katakan saja langsung padaku, aku akan jawab." kata Audrey menatap Hansen.
Hansen menatap Audrey, "Jangan berbohong. Terakhir kali aku bertanya, kamu mengabaikanku dan malah mengusirku pergi." kata Hansen.
"Tidak akan. Kali ini akan aku jawab," kata Audrey.
"Kalau begitu jawablah satu hal ini. Apakah kita pernah berhubungan di atas tempat tidur?" tanya Hansena menatap Audrey dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.
Audrey meletakkan gelas di atas meja, "Ya, kita melakukannya sekali." jawab Audrey.
Hansen melebarkan mata, "Benarkah itu? jadi benar kamu wanita yang selalu hadir dalam mimpiku?" tanya Hansen lagi.
"Entahlah. Soal itu aku tidak yakin. Bisa saja wanita lain. Aku kan tidak tahu, kamu pernah tidur bersama siapa saja." jawab Audrey.
Hansen menimum minumannya yang sisa sedikit dengan sekali teguk. Ia membantah ucapan Audrey, yang mengira Hansen adalah seorang maniak. Hansen dengan yakin mengtakan, jika ia tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun. Setelah ia membuka mata dari pingsannya karene kecelakaan tujuh tahun lalu.
"Bagaimana dengan sebelum kecelakaan?" tanya Audrey.
Hansen terdiam. Ia bingung harus menjawab apa. Ia merasa hanya ada satu wanita yang tak asing baginya, dan mungkin saja itu adalah Audrey.
"Tidak bisa menjawab?" tanya Audrey.
"Bukan begitu. Aku pernah bertanya pertanyaan yang sama pada Dion, Asistenku. Dan dia menjawab kalau aku tidak pernah terlihat olehnya sedang berkencan atau berhubungan dengan wanita. Mamaku juga berkata hal yang sama. Katanya aku selalu sibuk bekerja. Dan disuruh menikahi pekerjaanku saja." jelas Hansen.
"Apa dia meminum obat? Jangan-jangan ... " batin Audrey.
Baru saja ia akan menebak-nebak apa yang terjadi, Hansen mengejutkannya dengan menepuk bahunya.
"Ah, i-iya ... kamu memanggilku?" tanya Audrey menatap Hansen.
"Apa ada yang kamu pikirkan? kenapa melamun? sedang memikirkan anak-anak?" tanya Hansen.
Audrey menggelengkan kepala, "Tidak, tidak. Bukan itu. Aku hanya memikirkan hal lain. Maaf, ya. Apa yang kamu bicarakan saat aku tak sadar melamun?" tanya Audrey.
"Aku bertanya, siapa Ayah si kembar. Bagaimana dia? kenapa kamu dan dia tidak menikah?" tanya Hansen.
Audrey mengambil gelas minuman yang dipegang Hansen dan meminumnya dalam sekali teguk. Ia meletakkan gelas di meja dan menatap Hansen.
"Apa kamu sangat ingin tahu?" Tanya Audrey.
Hansen terkejut. Ia tidak bisa mencegah Audrey yang meminum minumannya. Padahal sisa minuman dalam gelasnya cukup banyak, sehingga tidak semestinya langsung ditegak.
"Apa kamu baik-baik saja minum minumanku sekaligus? kamu bisa minum, kan? minuman ini bisa sangat kuat, bisa-bisa kamu mabuk, Audrey." kata Hansen.
"Boleh minta lagi?" tanya Audrey tersenyum menatap Hansen. Sepertinya Audrey mulai mabuk.
"Tidak boleh," jawab Hansen tegas.
Audrey merangkul lengan Hansen dan memohon, "Sekali lagi saja. Sedikit saja. Aku mohon," kata Audrey dengan tatapan mata penuh keinginan.
Hansen mengambil minuman Audrey dan diberikan pada Audrey, "Minum ini saja," kata Hansen.
Audrey menerima dan langsung menghabiskan minumannya. Ia segera menunjukkan gelas kosongnya dan meletakkan di meja.
"Punyaku sudah habis. Berikan punyamu," kata Audrey.
Hansen diam saja tidak menuruti. Tiba-tiba Audrey mengatakan sesuatu yang membuat Hansen tertarik.
"Jika kamu membagi minumammu. Maka aku akan beri kamu hadiah," kata Audrey.
"Hadiah? Hm ... boleh aku minta dua? satunya nanti saja," jawab Hansen.
Audrey menganggukkan kepala cepat. Ia bertanya apa yang diingnkan Hansen. Dengan tersenyum Hansen mengatakan, jika Audrey harus menciumnya dulu. Kalau mau diberikan minumannya. Hansen sengaja menggoda Audrey, karena ia yakin Audrey pasti tidak mau menciumnya.
Baru saja ia berpikir begitu, nyatanya yang terjadi adalah sebaliknya. Audrey mendekatkan wajahnya dan langsung mencium lembut pipi Hansen. Membuat Hansen melebarkan mata sampai tidak bisa berkata-kata.
"Mana? aku kan sudah menciummu," kata Audrey.
Karena Audrey sudah memenuhi permintaannya, Hansen tidak bisa mengelak lagi. Ia menuang minuman dari botol ke dalam gelasnya dan diberikan pada Audrey. Hansen mengisi setengah rendah gelasnya. Ia tidak mau Audrey sampai mabuk berat.
"Minum ini. Setelah ini kita kembali, ya?" kata Hansen khawatir.
Audrey tidak mendengarkan. Ia meninum sedikit sedikit sampai habis minuman yang diberikan Hansen. Melihat gelasnya kosong, Audrey menatap Hansen dan minta Hansen mengisinya lagi. Hansen menolak, tapi ia kembali mendapatkan ciuman di pipi sebagai bayaran kalau diberi minuman. Hansen tidak bisa menolak dan memberikan Audrey satu gelas lagi.