NOVEMBER RAIN

NOVEMBER RAIN
ANEH



"Tenang aja Kak, Bun. Bentar lagi Andara akan memilih siapa yang bakal ada di sampingnya. Gak akan lama kok sampai Andara menyadari semuanya dan memilih siapa yang bisa memberinya kenyamanan dan keamanan. Makanya aku mau sabar nunggu Andara di posisi ini. Gak lama lagi Andara yang dateng ke aku." Kenzo berkata penuh dengan kejemawaan.


Willy dan Bunda Rania melihat Kenzo dengan melongo. Bunda Rania merasakan ada sesuatu yang berbeda dari omongan Kenzo.


"Dia percaya diri banget ya Bun? Kalau ditolak Andara nangis kejer tuh. Dasar bocah!! Sok banget!!" Willy geleng-geleng kepala.


"Will, Bunda matiin dulu ya teleponnya, Bunda mau ngasi penataran dulu sama Kenzo. Kamu hati-hati di sana ya? 2 minggu lagi balik kan? Bawain Bunda mantu yang cantik ya." Bunda menimpali. Tersenyum menggoda pada Willy.


Tak lama, sambungan telepon terputus. Pandangan Bunda beralih pada Kenzo. Bunda menatap Kenzo lekat. Mencari keraguan pada tatapannya.


"Maksudnya gimana Ken? Ayo masuk dulu. Duduk dulu yuk." Bunda menggiring Kenzo duduk di ruang tamu.


Kenzo yang tidak sengaja hampir mengucapkan kebenarannya, mendadak tersadar dengan omongannya.


"Ya gitu deh Bun, hehe.." Kenzo terpaksa tertawa, menutupi kegelisahannya.


"Bunda tau kamu menutupi sesuatu. Ayo cerita aja sama Bunda, ada apa sebenarnya sama kalian?" Bunda mendesak Kenzo. Sejak Kenzo berkata tadi, Bunda Rania sudah merasa ada sesuatu yang disembunyikan remaja itu.


Kenzo terlihat berpikir. Ia memutuskan tidak akan menjelaskan pada Bunda Rania keadaan sebenarnya.


"Hmm jadi Kenzo pernah tengkar sama Vano di sekolah Dara Bun. Pukul-pukulan sampai babak belur." Kenzo hanya menjelaskan singkat.


"Astagaaaa Kenzo.. Terus siapa yang menang?" Bunda bertanya.


"Aku dong Bun." Kenzo menjawab dengan penuh percaya diri.


"Tapi Dara belum mau sama aku. Dia masih jalan sama Vano. Tapi tenang aja Bun, bentar lagi Dara bakal sama aku kok. Karena yang terbaik yang akan menang." Kenzo menambahi penuh jemawa.


Bunda Rania ingin mendesak Kenzo untuk terus berbicara, namun hatinya masih ragu, apakah ini cara yang baik untuk mencari tahu informasi yang sangat ingin diketahuinya.


Tak berapa lama saat Kenzo masih berbincang dengan Bunda Rania, terdengar suara mobil memasuki halaman. Semua mata melihat ke arah datangnya suara.


"Aku pamit ya Bun." Kenzo bersuara setelah dia mengetahui siapa yang datang. Ia segera berdiri, mencium tangan Bunda Rania dan keluar dari rumah.


Bunda Rania menggangguk, mengusap kepala dan punggung Kenzo dengan lembut, seakan memberinya kekuatan.


"Kamu di sini Ken?" Andara bertanya, selepas ia keluar dari mobil Vano. Tampak wajahnya cerah dan terukir senyum hangat di bibirnya.


"Hmm.. Tadinya mau minta makan sama Bunda, tapi mendadak langsung kenyang. Lagian Bunda belum selesai masak, ya kan Bun?" Kenzo menjawab asal sambil memandang Bunda Rania dan berjalan mendekati Andara.


Bunda Rania mengangguk kemudian memperhatikan interaksi ketiga remaja di hadapannya. Andara tampak bahagia meski sekarang wajahnya bingung mendengar perkataan Kenzo. Vano memasang muka datar, tapi nampak sangat terganggu karena kehadiran Kenzo. Sedangkan Kenzo, meski ada rasa sakit di hatinya, ia berusaha menutupinya dengan guyonan yang dia ucapkan.


Mata Andara kembali menatap bingung pada Kenzo. Saat Kenzo sudah semakin dekat dengan tempat Andara berdiri, tiba-tiba kedua tangannya menyentuh pipi Andara.


"Ngelihat kamu bahagia dan senyum secerah ini aja aku udah kenyang sayang." Ujar Kenzo sambil mengusap pipi Andara dengan lembut.


Semua membeku. Mata Bunda Rania membelalak menyaksikan kejadian di depannya. Wajah Vano sudah dipenuhi amarah, alisnya menyatu dan dahinya berkerut. Tampak sangat menyeramkan. Andara hanya bisa diam, dia sangat terkejut dengan perlakuan Kenzo yang tiba-tiba di hadapan Vano dan Bunda Rania.


Braaakk..


Seketika terdengar suara pintu tertutup dengan sangat keras. Vano yang sedari tadi masih berdiri di ambang pintu mobilnya segera menutup pintu mobil dengan sangat keras. Semua melonjak. Terkejut dengan suara benturan keras. Tiga pasang mata langsung memandang ke arah sumber suara.


Kenzo tersenyum lebar melihat respon Vano. Bunda Rania segera berjalan lebih dekat dengan para remaja di hadapannya. Andara yang terkejut segera melepaskan tangan Kenzo dari pipinya.


Vano segera berjalan mendekati Kenzo, namun langkahnya ditahan Bunda Rania.


"Boys, ayolah. Bunda paling gak suka ya ada kekerasan di rumah ini. Ayo masuk, kita ngobrol di dalem aja." Bunda Rania berkata dengan lembut, berusaha melerai pertikaian yang akan terjadi.


"Ken, kamu apaan sih? Vano tuh udah jelasin semuanya, dan aku bisa menerimanya. Aku mau mengerti dan menunggunya. Kamu ga perlu sampai kayak gini deh Ken. Ini hubunganku sama Vano. Kamu ga berhak mencampuri." Andara berteriak di depan Kenzo.


Kenzo terkejut melihat perlakuan Andara. Seketika dirinya ingin berteriak mengatakan semua kebenaran. Tetapi, jika aku mengatakan kebenarannya, apa yang akan terjadi? Apakah Andara bisa menerima? Apa Andara bisa menerimaku? Atau mungkinkah masih mau menerima Vano? Batin Kenzo bergejolak.


"Kamu yakin dengan ucapanmu sayang? Kamu yakin bisa menerima dan menunggu dia?" Tanya Kenzo tegas sambil jarinya menuding Vano.


"Cukup Ken!! Ini pilihanku. Aku akan selalu bersamanya." Teriak Andara, matanya mulai berkaca-kaca.


Terdengar suara mobil lain mendekat dan parkir di halaman rumah Andara. Tampak Ayah Josh keluar dari mobil dalam keadaan bingung melihat istri dan anaknya dalam keadaan tegang.


"Wow pada nyambut Ayah semua nih? Duh jadi terharu Ayah." Ayah Josh berjalan mendekat, memeluk dan mencium pipi istrinya.


"Ehm pada diem aja, kasih sorakan kek biar rame, Ayah udah gabung malah pada kicep semua. Ada apa sih sayang? Dari baunya sih cinta segitiga ya? Pada mau adu jotos gt? Nih bawain tas Ayah Bun, Ayah mau jadi wasitnya ah." Ayah Josh masih terus berbicara sambil tersenyum, berusaha mencairkan suasana.


Bunda Rania langsung mencubit gemas lengan suaminya.


"Dih sayang nih, pada mau tengkar malah dikasih semangat. Yang bener aja, anak orang pada bonyok ntar kita disalahin tau." Bunda Rania melotot pada Ayah Josh.


Kenzo tersenyum. Sejak hari pertama dirinya datang ke rumah Andara, dia selalu saja merasa terhibur dengan kelakuan kedua orang tua gadis yang disukainya itu. Dirinya merasa seperti berada di rumahnya sendiri, nyaman dan tenang. Dia merasa beruntung dapat mencintai Andara dan mengenal keluarganya.


"Kenzo pamit pulang dulu aja deh Yah, khawatir gangguin Ayah sama Bunda yang lagi mesra-mesraan gitu. Kapan-kapan Kenzo main ke sini lagi ya. Numpang makan, hehe.." Kenzo pamit pada orang tua Andara.


"Aku ga izinin kamu main ke sini lagi Ken." Ujar Andara ketus.


"Orang aku ke sini mau nemuin Bunda sama kak Willy kok, ya kan Bun?" Kenzo balas menjawab.


"Iya, semua boleh kesini. Siapa aja. Yang penting bukan maling yang ke sini." Jawab Bunda dengan mimik wajah yang lucu.


"Kenapa gak masuk terus makan malem sama-sama aja sih? Kan enak tuh rame-rame. Ayah pengen denger kalian mempermasalahkan apa sebenarnya." Ajak Ayah Josh.


Kenzo menggeleng, ia pun pamit, mencium tangan kedua orang tua Andara. Balik badan dan melangkah keluar. Ketika tepat berada di depan Andara, dia berhenti. Diusapnya pucuk kepala Andara dengan lembut.


"Sampai ketemu lagi sayang."


"Apaan sih." Andara menepis tangan Kenzo sambil memandang ke arah Vano. Vano hanya diam, memperhatikan kepergian Kenzo.


"Cemburu ceritanya ya sayang? Gemes banget sih liat anak remaja pacaran, kayak kita dulu ya sayang, ada manis-manis asemnya." Bisik Ayah Josh lirih ditelinga Bunda Rania.


"Kamu tuh yang bau asem sayang. Mandi dulu sana." Bunda menyikut lengan Ayah.


"Mandiin sayang.." Ayah merayu Bunda Rania yang langsung dihadiahi tatapan tajam.


Andara berjalan menuju Vano, menggandeng dan mengajaknya masuk ke rumah. Ketika semua berbalik dan akan masuk ke dalam rumah terdengarlah suara dari arah depan. Kenzo yang belum sepenuhnya keluar dari halaman rumah Andara berteriak nyaring.


"Hei Van!! Entah sejauh mana yang kamu ceritain ke Andara hari ini, tapi makasi ya, hari ini aku masih bisa melihat senyumnya yang indah. Tapi, ketika datang hari dimana Andara mengetahui semua kebenaran yang kamu tutupi, maka hari itu aku sendiri yang akan datang padamu, membuat perhitungan padamu. Ingat itu Van!!" Kenzo mengeluarkan ancaman dalam kata-katanya dengan lembut.


Semua mata memandang Kenzo.